Search

Jann'sektarian nehh'__ Indie Ripom Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Month

June 2010

Calvinisme dan Hal yang tersisa ?

 

Semangat kekristenan yang mengindentifikasi kemutlakan anugrah tak ayal lagi, merupakan gema dari ‘buah pikiran’ Calvin. Sejatinya adalah, sesuatu yang mengemuka dengan teologi, akan tetapi benarkah hanya teologi yang kita dapati dari seorang Yohanes Calvin ?

Reformasi bukan sekedar benturan agama dan konsekuesi yang menjadi pembeda, melainkan menemukan kembali yang memang dikuatkan dengan asumsi-asumsi kedaulatan dari institutio Calvin, sebagai teks dan ‘buah tangan’ yang untuk itu menjadi sebuah identifikasi bagi generasi sesudahnya. Sebabnya, hermenetik yang muncul terhadap alkitab, juga hermenetik terhadap hermentik sendiri. Mendapati dan menguji pegangan dari pengakuan akan Allah yang berdaulat. Lantas setelah 500 tahun adakah yang bisa kita dapati sebagai pengaruh dan yang terberitakan, yang untuk itu kontrsuksi harafiahnya adalah Calvinisme; kebergantungan dan kedaulatan yang absolut bagi Allah.

Periode yang mengglobal dari konteks sekarang adalah, sebuah periode yang menguat tanpa batas dan kepercayaan terhadap individu, bertumpu kepada individu untuk meyakini kemajuan. Dan calvinisme menggantungkan hanya pada ortodoksi agama yang menggantungkan pada Allah yang berdaluat. Tritunggal suci dalam natur esensial yang berdaulat.

Bangga dengan Calvinisme ?

Ketika memang menjadi soal kebanggaan adalah juga mempertanyakan hal yang dilihat secara obyektif bahwa; apa yang membanggakan adalah kebanggan akan sebuah eksplorasi dari kemajuan.

Dan hal yang menjadin aktual adalah bahwa memunculkan kembali, atau tepatnya untuk kenisacayaan mengaktualkan kembali apa yang dikenal sebagai calvinisme. Keniscayaan yang tepat ? Yohanes calvin, eksponen utama dalam pembaharuan gereja yang mencelikan untuk mengenal ‘Pokok ultimat’ dalam Allah seakan menjadi baku hanya dikenali dalam literatur kegerejaan.

Masihkah kita dapati keabsahan pengajaran institutio dan dasar dari kesetiaan akan wahyu Alkitab ?  Atau justru santer hanya pada bentukan tata-kelola kegerejaan ? Hal yang selalu mengena pada Calvin. Ini yang coba ingin dihadirkan lain. Setidaknya, sebuah eksplorasi yang dibutuhkan.

Membentang dalam lintasan sejarah, Yohanes calvin, teolog, rohaniawan, warga masyarakat; terlepas dari kemudian kita mengenal Calvinisme yang harus dikenali dan sebuah andil untuk mengenalinya yang berdampak, adalah 500 tahun sejak seorang laki-laki lahir di Noyon, Perancis. Pada 10 juli 1509, apa pengaruhnya ? Untuk tidak dianggap berlebihan, kekinian yang terkait dengan kemajuan.

Soli Deo Gloria

Advertisements

Disiplin Ilmu Dan Kita.

Ada sebuah kengerian sepertinya terlalu berlebihan jikalau dikatakan tidak, bahwa kita menjadi acuh dengan sebuah keharusan yang harus kita milki sebelum terkait dan terselami dengan disiplin ilmu yang ada. Perwujudan cita-cita adalah bahasa umum dari setiap kita.

Saat kita kecil, kita telah memupuk hal ini. Berkeinginan menjadi pilot karena kita melihat, begitu lepasnya melihat objek benda melayang diudara, tertarik  dengan skema mesin pengendali yang dipegang pilot, juga bajunya. Gumam kecil kita menjadi enak sekali membayanmgkan itu terjadi, tanpa kita tahu ada displin ilmu untuk cita-cita tersebut, mau tidak mau harus belajar ! Apakah ada yang salah disini ? terkait dengan batasan pemahaman kita, rasanya tidak.  Jadi berangsur-angsur kita tidak boleh hanya sekedar dengan pemahaman ini.

Dalam jaman kita, kita melihat sesuatu yang nanti kita harus mengemukakan anggapan kita sendiri, yakni;  upaya mencari kemanfaatan. Dalam porsi resmi pembahasannya menjadi pragmatisme atau berbeda dalam sebutan kurun waktu, menurut saya, yakni utilitarianisme.

Seberapa jauh kita melihat kemanfaatan itulah yang kita tempuh terkait dengan apa yang kita cita-citakan, walaupun awalnya kita juga tidak boleh mengabaikan tentang kemanfaatan dari apa yang kita cita-citakan tersebut . Dimana merupakan porsi pemikiran kanak-kanak kita.

Melihat displin ilmu dalam pandangan pragmatisme adalah melihat apa manfaatnya bagi saya ?  Ukuran dari Filsuf William James ini cenderung menaruh porsi keberhasilan dalam penekanan segala tindakan, yang dalam ungkapan lain Garry Collins melihat “ seberapa berhasilnyakah itu maka  sayapun berpandangan hal tersebut sebagai kebenaran” . Tata letak keberhasilan ketika dijadikan sebuah ukuran adalah katidakstabilan dari ukuran itu sendiri, bisakah kita melihat ini sebagai sebuah kebenaran-diyakini sebagai asumsi mutlak oleh karena pengenalan kepada Allah ! Ukuran kemanfaatan dengan keberhasilan  menurut beberapa orang  sangat relatif sekali dan keragaman mengenai hal inipun juga sangat beragam mengenai kemanfaatan.

Kerelatifan dari azaz apa manfaatnya bagi saya  terlihat sekali sebagai tidak melihat secara mendasar.  Apa manfaatnya disiplin ilmu Fisika bagi saya ? Kegunaan apa yang didapat dari pemahaman objek statika-gerak dan dilatasi ruang bagi saya ? Mandirinya, saya tetap tidak tergubris dengan dualisme partikel dan gelombang yang mengemuka  dianggap sebagai telaah puncak dari Fisika Kuantum.

Lantaran sebagai displin ilmu, relatif tentunya untuk menaruh bobot dari azas kemanfaatan, timpangnya ukuran umum sebagai ukuran subyek (subyektif : bagi sendiri), umum yang dijadikan ukuran juga bisa berubah-ubah.

Sebagai kegunaan bahasa bagi diri saya adalah perluasan dari komunikasi umum, lantas bobot lebih apa yang didapat dalam peran lebih menggeluti disiplin yang ‘ berurat akar’ dalam penalaran kebahasaan, mungkinkah setiap peribadi menemukan kemanfatan yang sama. Beberapa pokok lain yang bisa dijelaskan dari pentingnya disiplim ilmu , kita dan azas kemanfaatan adalah sebuah ketidakmenentuan. Tapi jujur untuk diakui tuntutan konkrit untuk apa yang dianggap sebagai kecenderungan jaman ini mendasarkan pada kemanfaatan. Haruskah kita juga mengambil peran yang sama dengan berpandangan kepada ketidakmenentuan ini.

Masuk kedalam wilayah pemikiran dari disiplin ilmu-kesesuaian dari pemahaman peran manusia dalam penggunaan esensi rasionya, dimana penelusuran disiplin ilmu membawa pola-pola, tinggal adakah yang bisa menghubungkan pola-pola ataupun pembatas dalam pengaruh terhadap pola-pola tersebut. Sebatas pemberlakuannya hanya bagi kita. Bermanfaat kepada dan hanya untuk saya.

* * *

Kita tidak bisa dikuatirkan oleh apapun, demikian keberpihakan dari paham humanistik dan eksistensialis. Manusia kuat ! Kata Friederich Nietsche, yang jadi langganan laboratorium kejiwaan Schizophrenik, harus dibudayakan. Dipengaruhi “tuhan” harus dibuat menjadi sebaliknya. Mereka yang menggandrungi humanisme di tiap jaman mengembangkan selalu otoritas manusia yang menjadi penentu. Pola-pola dalam disiplin Ilmu tidak bisa berdalih dari apa yang merupakan ‘sentra’ pengendalinya, yang dalam pandangan humanisme adalah manusia itu sendiri.

Jadi lantaran dari apa yang dikembangkan oleh rasio manusia, maka memang ada hal yang juga harus dikembalikan kepada nilai-nilai yang memang diyakini dalam manusia sendiri, jadi benarlah demikian manusia sebagai pengendali utama ?  Karena secara mandiri harus akui dengan jujur bahwa rasio tidak netral, mandiri dan tidak dapat digubris,  jelas merupakan pertentangan dalam keberadaannya. Apa yang digenapkan untuk memanfaatkan rasio tidak mutlak sebagai prinsip, karena untuk hal yang kontras rasio dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan bisa bersifat memusnahkan dan membinasakan. Sekali lagi pun untuk hal ini kita harus mempertanyakan mengenai manfaat sebagai satuan yang mengukur dan tentunya kebenaran mengenai manfaat sebelum mengaitkan dengan manfaat yang dimaksud.

Jelas harus ada kebenaran itu sendiri, dan rasio manusia harus takluk kepada kebenaran itu, dituntun, digunakan, dimanfaatkan dan bergumul dalam kebenaran itu. Kebenaranlah sebuah porsi yang memaknai dan menuntun dan tidak selalu ukurannya kemanfaatan bagi individu pribadi-diri sendiri. Sekalipun demikian bahwa suatu manfaat yang besar tetap berpijak dari kebenaran  yang jelas bukan individualis  (suatu manfaat hanya bagi orang atau golongan tertentu). Sesuatu yang harus didefinisikan akan tetapi saya telah menggunakan. Pengertian yang ingin dipertanyakan seraya juga digunakan tentunya harus diupayakan untuk didapati pengertiannya.

Disiplin Ilmu bukan segala-galanya,apalagi menjadi penentu atas ukuran yang menegaskan kebenaran, ungkapan meyakinkan yang terkesan mengguruikah  ? Kebenaran tidak terletak pada disiplin ilmu yang menjadi penentu ukuran dan pengujinya, dikarenakan aturan dan kaidah dalam disiplin ilmu menjadi penentu akan kebenaran dan bersinggungan secara utuh dalam pokok-pokoknya.  Ungkapan ini bisa bernada sebuah pertentangan  dan berakibat kepada penilaian tidak tahu diri, dikarenakan kemajuan dari kemudahan yang sekarang kita nikmati adalah hasil dari pencapaian ilmu pengetahuan, yang tentunya telah menjadi sebuah pandangan umum.  Lantas bagaimana ? Sebuah urusan yang mengaitkan kebenaran dengan disiplin ilmu dengan penempatannya pada esensi berpikir yang kita gunakan, yakni; rasio. Tetapi karena sifatnya yang tidak netral maka kitapun mengetahui bahwa rasio perlu diarahkan dan dituntun, untuk anggapan yang menyimpulkan hal ini tentnya harus ada penjabaran dikarenakan pengakuan sebagai penguji menuntut kesesuaian secara displin ilmu.

Adalah benar berada dalam alurnya  disiplin ilmu  yang dalam sejarah dimunculkan, dikembangkan dan digarap oleh rasio manusia, sesuatu yang butuh tuntunan. Sebab tetap dalam kemahakuasaan Tuhan  yang adalah kebenaran itu sendiri untuk bentuk-bentuk disiplin ilmu mengurai kenyatan dan nilai-nilai yang sekarang ada dalam hubungannya dengan kita. Disni mungkin terlihat bahwa kemunculan untuk memasukan suatu fakta dari pernyataan yang memasukan prinsip yang terkait dengan keparcayaan, dikarenakan anggapan yang mendasarnya bahwa kebanaran dari Tuhan. Tidak ada pengabaian akan anggapan dari hal ini. Sekalipun kebenaran mengenai Tuhan akan membuat pertanyaan juga mengenai hal yang dimaksud. Urusan mengenai hal ini ingin mendapati pengertian yang berdisiplin dalam aturan dan hal yang membuat kita dapat menggunakan penalaran kita.

Disiplin ilmu tidak dapat mengabaikan hal ini, sebuah penolakan akan Tuhan adalah sebuah penolakan akan konsep kebenaran. Ketuhanan dalam disiplin ilmu tidak akan terkuak tuntas, tetapi pendekatan dari sifat ilmiah disiplin ilmu  akan mengungkap keterbatasan rasio sehingga dalam batas ini kemutlakan Tuhan menjadi sebuah pengakuan. Fakta akan hal ini tidak berhenti karena identitas ketuhanan perlu diperjelas. Diperjelas dengan kehadiran sebagai sebuah usulan adalah Iman Kristen yang justru mempertegas dalam “kebodohannya” yang kontras akan wahyu mengenai Allah.

Kontras, karena wahyu Allah yang tidak mau dikenali manusia dan justru harus menyetir kearah ini. Sebuah pengenalan oleh karena inkarnasi wahyu Allah didalam Kristus. Kebenaran yang terkait dengan Kristus sebagai klaim keyakinan yang memuati disiplin ilmu yang ada. Sebuah klaim keyakinan yang menjadi keharusan ? Saya harus memunculkan pernyataan ini, dalam identitas inkarnasinya menjadi manusia dalam Kristus, untuk mengijinkan penalaran manusia dalam disiplin ilmu  dan manfaat yang dihasilkannya. Inilah fakta kebenaran itu sendiri, jadi penghubung dari pola-pola yang terkait dengan displin ilmu adalah kebenaran Allah sendiri. Wah,  sesuatu yang menempatkan untuk suatu pengulasan mengenai hal ini.

Kebenaran Allah tidak semata-mata hanya bermanfaat bagi segelintir orang, sesuatu yang luas dalam penyertaan Allah, menggerakan kita untuk bergumul (mempertautkan segala pertimbangan dan ide yang ada) dalam menilai nalar kita bagi kemanfaatan, pemulihan, perbaikan pada: jaman, peradaban, lingkungan, dunia kita.  Tetapi lebih daripada itu, kaitannya  bisa membawa pengenalan kepada Allah.  Sifat yang membawa kepada pengetahuan kebenaran ini, dimana Allah dan oleh karena Allah yang harus ada.

Jannus P. Sihombing

(Dikutip dari naskah “Sebuah keharusan dalam pembelajaran, konsepsi pembelajaran dan panggilan” Bab 2 . cat. segala kutipan harus mereferensikan dari Blog ini !)

Quo Vadis Teologi ? Sebuah Ruang Untuk Ortodoksi.

Quo Vadis Teologi ?  Sebuah Ruang Untuk Ortodoksi.

Oleh : Jannus P. Sihombing

Ortodoksi agama seakan menjadi momok dan entitas yang tidak memberikan kontribusi bagi partisipasi individu, betapa terhalanginya ketika sumbangsih dalam akselerasi bersama harus terbatasi dengan sakralisasi ?  Pemikiran yang melandasi dan partisipasinya bagi masyarakat menjadikan dan melihat entitas agama sebagai capaian dari modifikasi atau sekedar eksistensi tanpa arah.

Dan Teologi sebagai diskursus tidakkah hanya menyoal dalam wilayah internal ? Sebagai wilayah yang membuat terbungkamnya produkstifitas kritik karena disadari ‘kegetiran’ berdialog dengan yang sacral; internalitas yang membuatnya ekslusif. Sebuah ruang untuk ‘tuhan’ dan sebuah wilayah untuk teologi dengan mencermati siapakah manusia dan untuk apakah keberadaanya ? Jikalau problem eksistensi yang dihadapi, dengan mempertanyakan perihal menjadi ‘ada’ ?

Kristisme dan  Kesetaraan Ilmu

Pada galibnya seorang manusia yang berpikir dengan tentunya mengaitkan dengan aspek pengalaman adalah  keniscayaan manusia, lantas terbangun ruas pemikiran dan cara pandang dengan sedapat mungkin meyakini adanya otonomi; bahwa manusia terikat dengan sebuah kemandirian, yang memang bergerak dalam ruang lingkup manusia tersebut. Pelaku utama dari sebuah otonomi, berlangsung terus dalam pengupayaan manusia. Menjadi nampak untuk diurai,   sebuah disiplin ilmu dari keterkaitan dengan pemikiran yang dalam hal ini keterkaitan untuk  objeknya adalah manusia.

Karenanya dalam periode sebuah keyakinan berhadapan dengan telaah yang ‘mengumbar’ sebuah kritisisme, seakan melesatkan hubungan pertentangan ini. Dengan menempatkan bagian dari titik pangkal secara rasional, karena asumsi dan otonomisasi yang menjadi gambaran nyata dilekatkan pada manusia. Berpikir secara kritis dianggap hakekat yang ada dan dianggap juga menjadi pangkal keutamaan.

Penalaran kritis yang merupakan bangunan dari deskripsi filsafat (Magnis; 1987) dianggap menjadi pencapaian dari argumentasi yang padanannya adalah dengan pemahaman rasio, bahwa rasio terkait dengan pemahaman dan menjadi melekat pada fungsinya; tarikan kesimpulan untuk menyepadankan rasio dan kritisisme.

Sesuatu yang dihasilkan dari tulisan ini adalah kerja dari rasio, dengan juga melihat apa maksudnya adalah juga kerja dari rasio. Berfungsi kritis pada rasio tidaklah diartikan menjauh dari keyakinan religiusitas (Fergusson; 2003), karena dianggap menjadi agenda  bagi pengedepanan individualitas yang kritis.  Dalam pada ini konstruksi yang terbangun untuk mengaitkan aspek yang ‘melampaui’ manusia dianggap menggeser otonomisasi dan pencapaian taraf telaah kritis tersebut.

Pemilahan kepada displin dari manusia yang berpikir, segera menjadi bagian dari deskripsifitas yang mengaitkan sebuah performasi dari keberadaan, untuk itu dianggap penggambaran dari keberlangsungan itu sendiri.   Menjadi masuk pada bagian yang dikenali, intensitas dari penguapayaan dan dengan tidak cangung untuk dikatakan; juga sebagai,  rasionalitas yang diupayakan. Disiplin ilmu terbangun secara rasional dan dikenali dengan fungsi kritis. Manusia yang berlajar, manusia yang berpikir dalam nature nyata sebuah pencapaian yang lebih baik. Tentunya untuk nampak-kasat mata

Benarkah pencapaian untuk tidak mengakui ada ketegasan yang berbungkus pengakuan ? Sebuah akhiran dengan diteguhkan sebagai keyakinan. Tercemarkah kebebasan dengan ortodoksi yang selalu dianggap hanya berurusan dengan klaim superioritas agama ?

Insentif Bagi Kebebasan

Apa yang bisa diberikan bagi nature manusia dengan serta merta, kehendak bebas yang termanifestasikan. Wujud konkrit manusia terbentur dengan manifestasi agama yang seakan tidak termuati oleh kritisisme disiplin ilmu. Dimana sekularisasi sebagai pengenyahan yang kudus tampil dan sungguhkah insentif bagi  kebebasan itu didapat ? Repetisi yang termanifestasikan dengan konstruksi wacana untuk tetap positifistik kontra ortodoksi, karena tetap berurusan dengan apa yang nampak.  Seakan untuk dinyatakan bertarung, bahwa kritisisme rasional tidak akan memberi tempat bagi religiusitas.

Ortodoksi sekedar menawarkan penghiburan dalam pengharapan dan terkait dengan simpul-simpul historis dalam alur perjalanan hidup individu-manusia. Jikalau tetap harus dikaitkan dengan keutamaan, tidakkah mungkin kritisisme yang berpangkal dari ortodoksi ?  Dimana sederet inisialisasinya seperti kredo, teks kitab, ritual. Ortodoksi yang hadir dan bersifat partisipatif, siapakah manusia dan dengan apa kebergantungannya benarkah koneksi mutual untuk kebebasan didapat   ?

Dimana terbuka dengan kritisisme bahwa manusia tidak bebas sepenuhnya, tentunya ortodoksi yang tidak dienyahkan dan  lagi-lagi sebuah pengujian yang mungkin terlalu menjauh  jikalau ‘jatuh’ pada keyakinan; karena itu teologi menjadi punya tempat dalam merujuk pencapaian manusia yang bebas, didapati sebagai hal yang tidak bebas dari keyakinan.

Lagi-lagi menyoal pada kritisisme dan pencapaian disiplin ilmu, jikalau semangatnya ternyata adalah ortodoksi-teologis. Sungguhkah hal yang mengerikan ?  Mengaitkan dengan sumbangsih bagi kebebasan dari mansia yang ‘tidak bebas’, apakah mungkin kritisisme dapat membuat kita menemukan ?  Seraya itu juga kritisisme untuk menemukan Tuhan sang khalik yang seakan menjadi klaim teologis,  tentunya terbuka untuk pengujian  dan taraf insentif kebebasan bagi ruang ortodoksi dalam masyarakat kita. Semoga !

Jannus P Sihombing

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑