Quo Vadis Teologi ?  Sebuah Ruang Untuk Ortodoksi.

Oleh : Jannus P. Sihombing

Ortodoksi agama seakan menjadi momok dan entitas yang tidak memberikan kontribusi bagi partisipasi individu, betapa terhalanginya ketika sumbangsih dalam akselerasi bersama harus terbatasi dengan sakralisasi ?  Pemikiran yang melandasi dan partisipasinya bagi masyarakat menjadikan dan melihat entitas agama sebagai capaian dari modifikasi atau sekedar eksistensi tanpa arah.

Dan Teologi sebagai diskursus tidakkah hanya menyoal dalam wilayah internal ? Sebagai wilayah yang membuat terbungkamnya produkstifitas kritik karena disadari ‘kegetiran’ berdialog dengan yang sacral; internalitas yang membuatnya ekslusif. Sebuah ruang untuk ‘tuhan’ dan sebuah wilayah untuk teologi dengan mencermati siapakah manusia dan untuk apakah keberadaanya ? Jikalau problem eksistensi yang dihadapi, dengan mempertanyakan perihal menjadi ‘ada’ ?

Kristisme dan  Kesetaraan Ilmu

Pada galibnya seorang manusia yang berpikir dengan tentunya mengaitkan dengan aspek pengalaman adalah  keniscayaan manusia, lantas terbangun ruas pemikiran dan cara pandang dengan sedapat mungkin meyakini adanya otonomi; bahwa manusia terikat dengan sebuah kemandirian, yang memang bergerak dalam ruang lingkup manusia tersebut. Pelaku utama dari sebuah otonomi, berlangsung terus dalam pengupayaan manusia. Menjadi nampak untuk diurai,   sebuah disiplin ilmu dari keterkaitan dengan pemikiran yang dalam hal ini keterkaitan untuk  objeknya adalah manusia.

Karenanya dalam periode sebuah keyakinan berhadapan dengan telaah yang ‘mengumbar’ sebuah kritisisme, seakan melesatkan hubungan pertentangan ini. Dengan menempatkan bagian dari titik pangkal secara rasional, karena asumsi dan otonomisasi yang menjadi gambaran nyata dilekatkan pada manusia. Berpikir secara kritis dianggap hakekat yang ada dan dianggap juga menjadi pangkal keutamaan.

Penalaran kritis yang merupakan bangunan dari deskripsi filsafat (Magnis; 1987) dianggap menjadi pencapaian dari argumentasi yang padanannya adalah dengan pemahaman rasio, bahwa rasio terkait dengan pemahaman dan menjadi melekat pada fungsinya; tarikan kesimpulan untuk menyepadankan rasio dan kritisisme.

Sesuatu yang dihasilkan dari tulisan ini adalah kerja dari rasio, dengan juga melihat apa maksudnya adalah juga kerja dari rasio. Berfungsi kritis pada rasio tidaklah diartikan menjauh dari keyakinan religiusitas (Fergusson; 2003), karena dianggap menjadi agenda  bagi pengedepanan individualitas yang kritis.  Dalam pada ini konstruksi yang terbangun untuk mengaitkan aspek yang ‘melampaui’ manusia dianggap menggeser otonomisasi dan pencapaian taraf telaah kritis tersebut.

Pemilahan kepada displin dari manusia yang berpikir, segera menjadi bagian dari deskripsifitas yang mengaitkan sebuah performasi dari keberadaan, untuk itu dianggap penggambaran dari keberlangsungan itu sendiri.   Menjadi masuk pada bagian yang dikenali, intensitas dari penguapayaan dan dengan tidak cangung untuk dikatakan; juga sebagai,  rasionalitas yang diupayakan. Disiplin ilmu terbangun secara rasional dan dikenali dengan fungsi kritis. Manusia yang berlajar, manusia yang berpikir dalam nature nyata sebuah pencapaian yang lebih baik. Tentunya untuk nampak-kasat mata

Benarkah pencapaian untuk tidak mengakui ada ketegasan yang berbungkus pengakuan ? Sebuah akhiran dengan diteguhkan sebagai keyakinan. Tercemarkah kebebasan dengan ortodoksi yang selalu dianggap hanya berurusan dengan klaim superioritas agama ?

Insentif Bagi Kebebasan

Apa yang bisa diberikan bagi nature manusia dengan serta merta, kehendak bebas yang termanifestasikan. Wujud konkrit manusia terbentur dengan manifestasi agama yang seakan tidak termuati oleh kritisisme disiplin ilmu. Dimana sekularisasi sebagai pengenyahan yang kudus tampil dan sungguhkah insentif bagi  kebebasan itu didapat ? Repetisi yang termanifestasikan dengan konstruksi wacana untuk tetap positifistik kontra ortodoksi, karena tetap berurusan dengan apa yang nampak.  Seakan untuk dinyatakan bertarung, bahwa kritisisme rasional tidak akan memberi tempat bagi religiusitas.

Ortodoksi sekedar menawarkan penghiburan dalam pengharapan dan terkait dengan simpul-simpul historis dalam alur perjalanan hidup individu-manusia. Jikalau tetap harus dikaitkan dengan keutamaan, tidakkah mungkin kritisisme yang berpangkal dari ortodoksi ?  Dimana sederet inisialisasinya seperti kredo, teks kitab, ritual. Ortodoksi yang hadir dan bersifat partisipatif, siapakah manusia dan dengan apa kebergantungannya benarkah koneksi mutual untuk kebebasan didapat   ?

Dimana terbuka dengan kritisisme bahwa manusia tidak bebas sepenuhnya, tentunya ortodoksi yang tidak dienyahkan dan  lagi-lagi sebuah pengujian yang mungkin terlalu menjauh  jikalau ‘jatuh’ pada keyakinan; karena itu teologi menjadi punya tempat dalam merujuk pencapaian manusia yang bebas, didapati sebagai hal yang tidak bebas dari keyakinan.

Lagi-lagi menyoal pada kritisisme dan pencapaian disiplin ilmu, jikalau semangatnya ternyata adalah ortodoksi-teologis. Sungguhkah hal yang mengerikan ?  Mengaitkan dengan sumbangsih bagi kebebasan dari mansia yang ‘tidak bebas’, apakah mungkin kritisisme dapat membuat kita menemukan ?  Seraya itu juga kritisisme untuk menemukan Tuhan sang khalik yang seakan menjadi klaim teologis,  tentunya terbuka untuk pengujian  dan taraf insentif kebebasan bagi ruang ortodoksi dalam masyarakat kita. Semoga !

Jannus P Sihombing

Advertisements