Semangat kekristenan yang mengindentifikasi kemutlakan anugrah tak ayal lagi, merupakan gema dari ‘buah pikiran’ Calvin. Sejatinya adalah, sesuatu yang mengemuka dengan teologi, akan tetapi benarkah hanya teologi yang kita dapati dari seorang Yohanes Calvin ?

Reformasi bukan sekedar benturan agama dan konsekuesi yang menjadi pembeda, melainkan menemukan kembali yang memang dikuatkan dengan asumsi-asumsi kedaulatan dari institutio Calvin, sebagai teks dan ‘buah tangan’ yang untuk itu menjadi sebuah identifikasi bagi generasi sesudahnya. Sebabnya, hermenetik yang muncul terhadap alkitab, juga hermenetik terhadap hermentik sendiri. Mendapati dan menguji pegangan dari pengakuan akan Allah yang berdaulat. Lantas setelah 500 tahun adakah yang bisa kita dapati sebagai pengaruh dan yang terberitakan, yang untuk itu kontrsuksi harafiahnya adalah Calvinisme; kebergantungan dan kedaulatan yang absolut bagi Allah.

Periode yang mengglobal dari konteks sekarang adalah, sebuah periode yang menguat tanpa batas dan kepercayaan terhadap individu, bertumpu kepada individu untuk meyakini kemajuan. Dan calvinisme menggantungkan hanya pada ortodoksi agama yang menggantungkan pada Allah yang berdaluat. Tritunggal suci dalam natur esensial yang berdaulat.

Bangga dengan Calvinisme ?

Ketika memang menjadi soal kebanggaan adalah juga mempertanyakan hal yang dilihat secara obyektif bahwa; apa yang membanggakan adalah kebanggan akan sebuah eksplorasi dari kemajuan.

Dan hal yang menjadin aktual adalah bahwa memunculkan kembali, atau tepatnya untuk kenisacayaan mengaktualkan kembali apa yang dikenal sebagai calvinisme. Keniscayaan yang tepat ? Yohanes calvin, eksponen utama dalam pembaharuan gereja yang mencelikan untuk mengenal ‘Pokok ultimat’ dalam Allah seakan menjadi baku hanya dikenali dalam literatur kegerejaan.

Masihkah kita dapati keabsahan pengajaran institutio dan dasar dari kesetiaan akan wahyu Alkitab ?  Atau justru santer hanya pada bentukan tata-kelola kegerejaan ? Hal yang selalu mengena pada Calvin. Ini yang coba ingin dihadirkan lain. Setidaknya, sebuah eksplorasi yang dibutuhkan.

Membentang dalam lintasan sejarah, Yohanes calvin, teolog, rohaniawan, warga masyarakat; terlepas dari kemudian kita mengenal Calvinisme yang harus dikenali dan sebuah andil untuk mengenalinya yang berdampak, adalah 500 tahun sejak seorang laki-laki lahir di Noyon, Perancis. Pada 10 juli 1509, apa pengaruhnya ? Untuk tidak dianggap berlebihan, kekinian yang terkait dengan kemajuan.

Soli Deo Gloria

Advertisements