Search

Jann'sektarian'__ nehh Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Month

March 2011

Dari arsip lama (Bag. 2)…”Tuh kan bener ngga terjadi !”

Mengapa Saya Tidak Percaya Dengan Transformasi Indonesia 2005 !!!!!
(Mana Transformasinya ?)

Oleh : Jannus P. Sihombing
( Komunitasinjili Cibinong)

Suatu perubahan yang digerakan secara supranatural akan mengubah bangsa Indonesia. Momentum yang digunakan adalah Tahun 2005 yang entah dimaksud dari awal atau pertengahan, atau pada akhir. Mencontoh fakta yang ada dari negara yang konon juga mengalami kemujaraban perubahan dengan upaya ilahi(supranatural) ini, dapatlah dikatakan demikian, yakni; Uganda, tetapi akhir Maret lalu mengalami kerusuhan dan epidemi Aids konon juga tetap saja ada, padahal dengan Transformasi yang terjadi di negeri itu banyak mujizat yang menyembuhkan penderita Aids dan angkanya menjadi turun, untuk tidak dapat dikatakan lenyap sama sekali.

Mencontoh dari fakta yang ada, fakta yang mana ? Oh…Almolonga, sebuah wilayah di Amerika tengah. Sesuatu yang sedang terjadi atau bisa jadi dianggap pernah ? Dimana daerah agraris yang beroleh kemakmuran akibat kuasa doa dan kehidupan masyarakatnya diubahkan, akan tetapi tetap tidak tenar secara umum untuk mengakibatkan efek urbanisasi (daerah yang dituju kota) ataupun ruralisasi (daerah yang dituju desa) yah pokoknya migrasilah-pengertian bakunya, terjadi perpindahan menuju ke Almolonga tersebut; sebagai daerah tujuan hidup dari banyak orang yang tentunya ingin menetap disana. Dokumentasi dan publikasi ini ada dalam bentuk VCD yang menjadi sarana penggerak untuk mau berdoa dan dengan pertanyaan ” Mengapa dikita tidak bisa terjadi ?”.

Pendeknya miniatur surga dapat dibawa kebumi, yang secara lokal ‘percikan-percikannya’ ada didaerah dan beberapa negara tertentu; yang untuk itu dinamakan Transformasi. Sekalipun diupayaan untuk akademis dengan juga berwacana-karena ada buku yang juga mengupas hal ini, harus diakui ada kontribusi untuk mau menggali secara pengertian dan tetap bukan suatu penilaian pukul rata, tetap saja asumsi dasar untuk praktisnya adalah dengan menggerakan segala lapisan gereja untuk berdoa dan menjemput impian di tahun 2005, karena itu dinamakan gerakan Transformasi 2005.

Silahkan wujudkan segala impian yang bagus dan digabungkan menjadi sebuah motif bersama dengan mewujudkan negeri yang damai sejahtera-untuk hal ini juga ada partainya.
Gambaran yang motifnya kesejahteraan yang menyeluruh ini dapat dilihat dari beberapa sumber berikut :
” Dulu kita hanya mengenal mujizat “rohani”, sekarang kita sadar bahwa mujizat Allah dinyatakan untuk setiap bidang dimana kita butuh campurtanganNya. Ada mujizat bisnis bayangkan sebuah perusahaan berhutang 13 juta dolar bisa untung 13 juta dolar dalam waktu beberapa tahun. Ada mujizat politik bayangkan sebuah rancangan dasar negara diubah hanya dalam waktu 24 jam. Ada mujizat pertanian – bayangkan wortel sebesar betis di Almolonga.

acara transformasi 2005 hoax naif itu

Bayangkan mujizat lainnya… Indonesia ada diambang Transformasi. Anda percaya atau tidak, namun gelombangnya sudah beriak kedengaran. Nabi-nabi sudah bernubuat. Hamba-hamba Tuhan sedang bersatu menjadi bagian dalam pegelaran akbar rencana Allah ditengah negeri yang memang sangat butuh jawaban” (warta GKKD3/11/2002)
Untuk dianggap sebagai hal yang baru setelah dampaknya hanya berlaku kepada gereja, pertambahan jumlah, pengunjung kebaktian dan keantusiasan akan kerohanian seperti telah terjadi yang juga dapat diberi judul “Transformasi” yang dialami beberapa kota; pertumbuhan jemaat di Cali, Colombia yang entah kabar terbarunya dari kota yang dikuasai oleh peredaran narkotika ? Hemet, California kehadiran kebaktian meningkat pada tahun 1999 dan banyak anggota Gang yang bertobat, entah dengan dasar keimanan seperti apa ?

Dimana sayangnya tidak menjadi fenomena internasional untuk dikenal umum. Bandingkan dengan kota-kota Reformasi yang memberi sumbangan terhadap peradaban pendidikan dan industri; Geneva & Strasbourg di jaman Calvin, wilayah New England dijaman kaum Puritan yang menjadi cikal bakal kemakmuran Amerika Utara yang sampai dilema kebebasannya dalam kondisi sekarang tidak dapat dipungkiri peran religiusitas dari para pendahulu dan pendirinya yang menjadi peletak dasar tatanan masyarakat.

Akan tetapi tidakkah itu menjadi hal yang diinginkan untuk sesuatu yang nampak menjadi kenyataan, dimana masalah-masalah sosial dapat ditanggulangi. Terlepas dari sebuah perbandingan, inilah hal yang dinginkan untuk kesejahteraan dan kemakmuran terjadi.

Ajakan Yang Indah.
Sebuah ajakan yang indah tentunya yang “orang-orang yang tidak mengenal Allah Alkitab pun” sangat ingin mendapatkannya, pokoknya menyenangkan orang banyak. Oh..ya untuk tidak lupa dalam ‘petisi’ yang mengisyaratkan akan sebuah perubahan total yang akan melanda yang diupayakan dengan kemujaraban dengan doa dan hanya berdoa, ya kalaupun daya tentunya adalah mendayakan doa secara bersama-sama, tidak menegaskan akan konsepsi keimanan yang dipegang sehingga prinsip yang praktis mengurai dasar Alkitabnya pun sangat beragam. Jadi jangan coba-coba mempersoalkan dan mempertanyakan doktrin, dengan klise yang diutamakan adalah kesatuan untuk berdoa dan imbalannya Transformasi.

Tetapi dalam kurun waktu yang telah diupayakan mana Transformasi yang ilahi itu ? Mana perwujudan iman dari mereka yang percaya akan perubahan dengan kalkulasi yang tidak beda dengan cara menghitung togel perihal 2005 dan kesaktian kurun waktu selama 40 tahun ? Sebuah kurun waktu yang dianggap sakral yang juga tertulis di Alkitab yang menjelaskan sebuah kurun waktu tertentu, oleh salah satu pencetus ide Transformasi 2005. (Pdt. Rachmat manullang sering dalam beberapa kotbah)

Sampai dengan memasuki pertengahan tahun 2005 ini mana ? Dengan skeptis, karena memang tidak berdasar dengan keakuratan apa yang Alkitab nyatakan, saya termasuk ‘orang yang tidak punya iman’ untuk konstelasi alam dan fisik yang terlihat secara kasat mata akan diubahkan atau lebih tepatnya berubah dan lebih mengganggap sebagai kepalsuan berita yang dibungkus oleh pesan religius dengan memanfaatkan Alkitab.

Konsekuensinya sayapun harus keluar dari gereja yang getol dengan tersusupi materialisme-mistik seperti ini dan rawan ditunggangi berbagai kepentingan. Bersaamaan dengan ketimpangan yang ada dengan mengemban nama Allah Alkitab dalam penatalayanan, dimana segala kotbah menstimulus hal ini dan juga hal-hal yang lain yang tidak membuat kita bergantung kepada Allah dalam ketekunan pengucapan syukur untuk senantiasa menggurai Alkitab, firman Allah yang berotoritas. Lantaran bukan karena saat ini terjadi transformasinya ? Senantiasa untuk mengingatkan Transformasi apa yang telah terjadi, atau jangan-jangan diundur, bukankah belum habis tahun 2005-nya ???!! Sebuah pencocokan untuk hanya sekedar eksis dengan meminjam Alkitab, dikarenakan mungkin sudah tidak ada tema lagi yang spektakuler dan menjadikan eksis.

Sesuatu Yang Sedang Terjadi.
Diawal tahun tidak ada yang baru. Pagi yang biasa diawal tahun mungkin adalah sebuah keletihan setelah merayakan. Dalam suasana perayaan yang tidak umum sebagai sebuah perayaan pergantian tahun, yang terjadi adalah duka yang ukurannya nasional. Nuansa hedonis karena perayaan yang berkurang lebih dimaknai sebagai pemakluman, karena bencana tsunami yang luarbiasa di Aceh dan sekitarnya .

Berharap adanya Transformasi-tentunya bagi yang mengharapkan yang berdampak kepada mereka yang tidak mengharapkan. Tetapi tidak terjadi apa-apa dan biasa saja, tidak ada gerakan dari lapisan kerak bumi ataupun dari luar jagat bumi yang mengubah secara holistik untuk menjadi lebih baik sebagai mujizat, oh ya sampai lupa untuk yang dimaksud holistik adalah menyeluruh.

Tidak ada tanda-tanda krisis berakhir dengan sedemikian rupa, kalaupun ada hanya upaya pemerintah untuk menanggulangi bencana dan parahnya ditambah BBM naik yang oleh sebagian besar peminat Transformasi 2005 ini tidak didukung dalam kampanyenya yang lalu.

Malahan dukungan diupayakan untuk identitas yang konon membawa kekristenan yang juga peminat Transformasi ini yang tetap saja ada koalisi politik yang tidak diduga sebelumnya dengan kepolosan sikap kerohanian yang munafik, inilah kerawanannya untuk ditunggangi sampai ada yang mengampanyekan melalui kotbah yang tentunya peminat Transformasi 2005. Jadi sebuah gemah rupah lohjinawi yang tentunya semua manusia sangat menginginkan, tetapi mengapa belum terjadi ? Itulah karena salah memilih, oh maaf maksudnya karena kurang partisipasi dukungannya, untuk memilih…oh bukan melainkan untuk berdoa; ya bisa juga tindakan untuk memilih.

Dengan kemakmuran yang diupayakan dengan berdoa ini tentunya banyak yang menginginkan, jadilah sebuah kontribusi orang Kristen dan juga yang identik sebagai Allahnya orang Kristen, tapi mana ? Koq tidak terjadi, apa lantaran karena ada yang meragukan. Sebuah konsekuensi pembuktian yang lazim kalau mujizat terjadi karena iman, sehingga kalau sampai tidak terjadi masalah ada dalam iman yang mengharapkan muzizat tersebut.

Kalaupun itu terjadi tidak menjelaskan akan hekekat dari keberdosaan manusiayang menjadi pemisah dengan Allah yang kudus dan mulia, peradaban yang berubah dan menghasilkan tatanan masyarakat yang baik tetap tidak menjadikan bumi ini sebagai surga. Sekalipun demikian panggilan untuk mengupayakan yang baik bagi keadilan, ketertiban dan kesejahteraan masyarakat luas dengan keberagaman dan keberbedaan agama tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan yang tidak perlu diiming-imingi oleh sebuah kurun waktu.

Jikalau konon katanya ada ‘nubuat’ mengenai pertobatan besar untuk berubah iman percayanya dengan konversi keimanan untuk kuantitas menjadi Kristen yang banyak, jelas sangat asing jikalau iming-iming beritanya tidak menjelaskan hakekat keberdosaan manusia secara individual kepadaAllah.
Pengupayaan yang tidak ada atau tidak terjadi bisa dikarenakan kurang berdoa, yang dengan gampang dapat dikatakan juga mungkin kurang masif dan atraktif. Jadi supaya Transformasi yang wah itu terjadi bagaimana kalau lebih aktraktif lagi ?

Transformasi Itu.
Kita butuh transformasi, memberikan citra yang baik untuk hal yang bernama perubahan, jelas ! Akan tetapi pengertian yang membawa kepada pengupayaannya yang harus dicermati. Hukum positif yang menjadi penopang dalam keberlangsungan kehidupan bermasyarakat perlu dicitrakan dalam suatu kewibawaan dimana keterpurukan karena korupsi yang dianggap sudah merejalela harus disudahi, pengupayaan kepada arah ini dapat menjadi sebuah seruan yang proyeksinya tidak mistik dan momentumnya pada satu kurun waktu. Inilah Transformasi masyarakat-setidaknya kekristenan, dimana manusia-manusia yang diperbaharui oleh Allah Alkitab yang sejati dapat mengupayakan dan berbeperan serta dalam takut kepada Allah untuk menegakan tatanan masyarakat yang hanya diakui berada dalam pemeliharaan Allah.

Transendensi agama melengkapi dalam partisipasi bukan sebagai candu yang memabukan dan memelihara mimpi yang utopis dan tidak realis,sebagaimana kritik klasik dari Karl Marx, melainkan memampukan untuk mau menghadapi kenyataan. Agama yang sejati yang hanya muncul dari kematian dan kebangkitan Kristus memberikan sumbangsih dalam kerelaan untuk mau berkorban dan menghadapai kenyataan yang ada karena pertanggungjawabannya kepada Allah dalam penyertaan dan firmanNya, sementara tidak ada yang berarti yang dapat dianggap mengubah kondisi saat itu, jaman dimana Kristus ada. Akankah diartikan tidak ada peran serta dan pengabaian terhadap kondisi yang ada ? Penelaahan firman yang bertanggungjawab diperlukan dengan keteruraian dari konteks dan bukan memasukan unsur kemujaraban, menjadikan beritanya diminati oleh banyak orang.

Semoga dapat mengupayakan sesuatu yang bertanggungjawab. Menjadi dewasa dengan berputar haluan kepada mandat yang semestinya membuat mau menggunakan momen, karena konon tetap akan ada ‘kumpul-kumpul’ dalam skala nasional, untuk suatu komitmen dengan mengakui kesalahan proyeksi kita terhadap sesuatu yang tidak berdasar.
Seyogyanya hal ini dipakai untuk mengakui kesalahan tafsiran dan ajaran, merumuskan kembali dari hakekat dasar yang kita gunakan dalam panggilan kita mengupayakan hal yang baik dalam tatanan bermasyarakatkita. Sumber yang seyogyanya kita bisa dan tidak akan pernah habis karena pemeliharaan Allah Tritunggal dalam rumusan Alkitab. Semoga yang mengupayakan Transformasi 2005 (karena akan ada ‘kumpul’ nasional akhir Mei 2005) mengakui hal ini, jikalau tidak cermati dan wasapadai bahaya latent (baca: tersembunyi) yang lain dari mereka yang terlibat mengupayakan hal ini, senantiasa berdoa untuk mau mengakui kebergantungan kita kepada Allah. Terpujilah Allah Bapa, Putera & Roh Kudus yang memelihara iman umat pilihanNya.

Jannus P. sihombing
9 Mei 2005.

Dari arsip lama; Shock Of Culture…

Shock of Culture, Calon Independen
Oleh : Jannus P. Sihombing

Kegagapan menanggapi konfigurasi politik situasional ? Nampaknya akan terjadi bahwa proses rekrutmen dan suksesi memasuki sebuah tahapan yang geliatnya cukup dalam intensitas partisipasi masyarakat sipil. Upaya di tingkat judicial review MK UU No. 32 /2004 dalam menggagas keikutsertaan calon independen memunculkan konsetalasi politik yang ‘crowd’-nya tidak sekadar euforia temporal. Sehingga sebuah pencapaian yang sensasional, jikalau memungkinkan untuk disebut revolusioner.

Tanpa harus melalui jalur partai politik, partisipasi individu dapat melibatkan dan dilibatkan, sebagai test case adalah semarak kepala daerah DKI Jakarta. UU PIlkada menjadi regulasi yang perlu ditinjau dan pertaruhan yang menentukan untuk akses ini. Apa yang terjadi jika revisi bergulir dengan penguatan ketetapan MK ? Partisipasi individu dan kesiapan, representasi saluran demokrasi dengan partai politik

Konstruksi partisiaptif yang sepertinya akan melegitimasi koherensi platformitas, karena keniscayaan sebuah sistem politik. Secara mumpuni dengan label Kristen. Dan benarkah iman Kristen termuarakan dalam ambiguitas politik antara status quo dan sektariasnisme picik (narrow sectarianism; jannus 2003. b) tentunya dengan melihat pertimbangan calon independent oleh elemen masyarakat yang menggagas, lantas bagaimana sikap afiliasi dari orang Kresten ?

Postur politik yang tegas dalam kran akses individu memang terbuka dan merujuk pada fakta Aceh yang keberlangsungan pemerintahan gubernurnya dengan calon independent, maka kekristenan sejatinya sebagai instrument yang memainkan pilar demokrasi dari sumbangsih moralitas dan transparansi dapat dewasa; diartikan sebagai sebuah tahapan baru, lantas bagaimana dengan sektarianisme dalam partai ketika untuk ini ada yang berlabelkan Kristen ? .

Pemeliharaan Allah yang berlaku dalam distorsi ritme sekularitas, bahwa hal yang diupayakan sebagai sekularisasi dalam menjamin keberagaman tetap membutuhkan partisipasi iman percaya yang sebenarnya “sacral”; sehingga tetap harus diakui Allah sejati yang memelihara. Representasi individu (baca: independent) berada dalam penyertaan Allah untuk maksimalisasi kebaikan yang tentunya bagi siapapun. Bahaya sektarianisme yang memicikkan, apalagi masifitas dari kaum minoritas yang untuk itu bisa jadi dari kalangan orang Kresten sendiri .

Karena jelas disinilah kedewasaan itu memainkan, kontsruksi masyarakat sipil butuh pertanggung jawaban kepada Allah, daripada simbolisasi dan kepongahan yang “shock” dalam menanggapi bahwa akses untuk siapapun terbuka menjadi pemimpin, sekalipun untuk itu harus terbuka untuk memahami bahwa budaya politik harus berubah dan memang shock of culture ketika regulasi untuk calon independent terakomodasi. Siapkah untuk kualifikasi keungulan individu bagi maksimalisasi kesejahteraan bersama yang untuk itu orang Kresten dapat berpartisipasi tanpa harus melalui klaim partainya orang Kresten !

Jannus P. Sihombing

Bersyukur, sekedarnya dan memaknai perubahan.

(Perihal keyakinan akan keselamatan)

Bersyukur karena memang hari yang lumayan cerah, ketidakpastian cuaca memang menjadi kerap terjadi. Dari dulu sudah menjadi umum, bahwa, sesudah februari; akan halnya sebagai hal yang umum bahwa hujan masih berlangsung, bahwa tidak mungkin tiba-tiba muncul terik, bahwa itu memang dulu, yang sekarang telah menjadi berubah. Sekarang adalah sekarang !

Konsep waktu selalu mengaitkan dengan banyak hal.  Dalam banyak hal yang mengaitkan dengan ingatan-ingatan masa lalu. Dan dalam banyak hal yang harus diupayakan kedepan. Masa lalu – ke depan, lantas sekarang kekinian. Saya harus lugas disini ! Hal yang telah lewat, hal yang akan datang, akan banyaknya hal, akan banyaknya perubahan ? Saya mengawalinya dengan bersyukur.

Karena itu ” Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku”. (Mzm 118:21) tidak sedang menjelaskan keanekragaman perubahan dan hal yang telah dilewati.

Kutipannya memaknai dalam pengucapan syukur, ketika “Engkau…telah menjadi keselamatanku” kutipan bersyukur yang saya yakini berdasar dan menjelaskan atas alasan waktu yang ada.

Kalaupun diuraikan sebagai hal yang utuh, kita mendapati keselamatan dari pemaknaan waktu yang sia-sia, jelasnya menjadi tidak bermakna.

kesia-siaan punya dasar atas pemaknaan waktu kita, kesia-siaan karena kita terhilang dari pencipta kita.

Saya tidak bisa mengabaikan hal ini dalam apa yang saya kesankan sebagai bersyukur. Saya bersyukur karena didapati oleh pencipta saya. Saya orang berdosa dalam niatan terkecil dan imajinasi terbesar, begitu tak berdaya dan rapuh terhadap perubahan yang ada.

Saya bersyukur atas pencipta saya. Dahulu, sekarang dan akan datang; hal yang telah lewat, kekinian, dan yang akan datang.

Saya orang berdosa diselamatkan oleh anugerah dalam Kristus.

Saya bersyukur, lebih dari sekedarnya, memaknai perubahan yang ada.

Realisme Ken Pattern

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑