kalisunter pattern

Litografi ? Demikian diistilahkan pada artifisialitas seni yang juga bersinggungan langsung dengan penggiatnya Ken Pattern, tentunya ada komposisi dari mengaktualkan bahasa awam; betapa sukar ketika subyek seni dihadirkan secara umum dan membuat sekat estetitk menjadi gamblang. Gambar yang mengadopsi foto, menyertakan keterampilan teknik. Obyeknya adalah rumah-rumah, pemukiman, ruang public, gedung, tempat. Selang bersamaan saya mengamati ada tambahan pada ketandusan, usainya alam pada unsur hayati yang hilang–sebuah penambahan yang lumayan menggeser pemahaman saya sebelumnya. Obyek hitam-putih yang tentunya ‘terhablurisasi’ berdimensi dua. Detil objek yang melatari dinyatakan dengan proposisi-aktual perihal Jakarta dan tambahan yang bukan hanya jakarta dengan kesan yang tidak layak.

Semacam lukisan tapi tetap eksplorasi estetik tidak liar. Mesjid di pojok jalan tertangkap dalam kepungan gedung, perkampungan kumuh bantaran kali menyudutkan hamparan miris, yang kekumuhan dan ketidaklayakannya menuansakan bias. Akan tetapi mengapa menjadi objek ? Bias yang paradoks dalam artifisialitas itu sendiri. Kelak mesjid, dan warung yang menyempil mungkin akan hilang, kelesuan yang menyendiri dalam konstruksi dan komposisi ruang akan menghilang. Ini yang tidak bisa dilewatkan dan Ken Pattern sebagai ‘outsider’ menangkap itu

Terpukau dan berkenalan dengan ini maka realisme bahasa yang teradopsi dengan alur dokumentasi, kemudian, memindahkan menjadi sebuah linearitas perspektifal dari seni litografis;  dengan konstruksi gambar yang tetap, kekhasan yang menangkap proposisi-proposisi ruang. Kemudian, berupaya untuk presisi  dan konfigurasi dari konstruksi gambar tetap, obyek-obyek dari rumah reot itu tetap, kontras gedung dan  keterpencilan warung itu tetap. Deret kontras yang memang realistis. Adakah yang estetis berurusan dengan yang kontras ? Adakah yang indah dari yang reot ? Adakah pencitraan yang elegan dieksplisitkan dengan keterpencilan ? Dan niatan untuk merekam Jakarta adalah merekam kekontrasan yang memang realistis-selalu nyaris untuk dipertahankan tetap ?   Yang memang Nampak dan tidak bisa diabaikan.

Dalam realism ken pattern, seakan diupayakan manusia-manusia tidak Nampak, ini yang gamblang ditangkap; seakan bertutur  kekumuhan tidak untuk manusia dan hamparan kekontrasan adalah senyap yang tidak bisa didaur ulang dalam pacuan modernisasi—ketika yang terpinggirkan seakan tak terserap, memuai. Dan bukankah realisme menghadirkan pelaku utama yang adalah manusia?  home ciliwung patternSeakan personifikasi ruang dan kebendaan sudah cukup menyedihkan, sehingga tidak diperlukan lagi manusia. Karenanya sebuah kekangan yang atas nama kepatutan ditinggalkan karena berurusan dengan kepantasan. Tidak pantas manusia-manusia mendiami bantaran kali, seakan menjadi latah kalau kepedulian terhadap lingkungan adalah seruan dari realisme itu sendiri, mengingat objek terkini dari kondisi sekitar dan konsumsinya yang telah menjadi pop, intens bergaul dipinggiran jalan Ken Pattern menyayangkan kalau  sudut pandang ini tidak ada.

Karena memang kekumuhan, keterpencilan dan ketandusan manusia, wajah seni yang impresionis menghadirkannya sendiri   dalam menyarukan realisme yang sebenarnya. Hal yang tetap menarik dan memang sayang untuk dilewatkan. Karena tuturan ini juga berbagi ruang dengan riuhnya kehidupan yang lain, sebuah seni memahami dan sisi artifisialitas menukasnya. Sekali lagi tetap sebuah penafsiran atas nama realisme

Dan atas nama realisme  itu sendiri. Saya menangkap kesan yang sama dari yang Ken Pattern lihat, tanpa sebuah tafsir baru atas apa yang namanya kenyataan. “kayanya sih ngga usah sengak ngecap deh, orang udah jelas juga, begitu bukan ? “, begitu ! 

 

JPS

lebih lanjut galeri Ken Pattern  http://www.kenpattern.or.id/gallery.html

Advertisements