(Perihal keyakinan akan keselamatan)

Bersyukur karena memang hari yang lumayan cerah, ketidakpastian cuaca memang menjadi kerap terjadi. Dari dulu sudah menjadi umum, bahwa, sesudah februari; akan halnya sebagai hal yang umum bahwa hujan masih berlangsung, bahwa tidak mungkin tiba-tiba muncul terik, bahwa itu memang dulu, yang sekarang telah menjadi berubah. Sekarang adalah sekarang !

Konsep waktu selalu mengaitkan dengan banyak hal.  Dalam banyak hal yang mengaitkan dengan ingatan-ingatan masa lalu. Dan dalam banyak hal yang harus diupayakan kedepan. Masa lalu – ke depan, lantas sekarang kekinian. Saya harus lugas disini ! Hal yang telah lewat, hal yang akan datang, akan banyaknya hal, akan banyaknya perubahan ? Saya mengawalinya dengan bersyukur.

Karena itu ” Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku”. (Mzm 118:21) tidak sedang menjelaskan keanekragaman perubahan dan hal yang telah dilewati.

Kutipannya memaknai dalam pengucapan syukur, ketika “Engkau…telah menjadi keselamatanku” kutipan bersyukur yang saya yakini berdasar dan menjelaskan atas alasan waktu yang ada.

Kalaupun diuraikan sebagai hal yang utuh, kita mendapati keselamatan dari pemaknaan waktu yang sia-sia, jelasnya menjadi tidak bermakna.

kesia-siaan punya dasar atas pemaknaan waktu kita, kesia-siaan karena kita terhilang dari pencipta kita.

Saya tidak bisa mengabaikan hal ini dalam apa yang saya kesankan sebagai bersyukur. Saya bersyukur karena didapati oleh pencipta saya. Saya orang berdosa dalam niatan terkecil dan imajinasi terbesar, begitu tak berdaya dan rapuh terhadap perubahan yang ada.

Saya bersyukur atas pencipta saya. Dahulu, sekarang dan akan datang; hal yang telah lewat, kekinian, dan yang akan datang.

Saya orang berdosa diselamatkan oleh anugerah dalam Kristus.

Saya bersyukur, lebih dari sekedarnya, memaknai perubahan yang ada.

Advertisements