Bisa jadi masalah pengenalan, masalah dari tidak mengetahui dengan persis.

Saya agak muram jadinya, ketika menyaksikan ajakan membantu personil yang akan terlibat dalam keantusiasan akan misi–muram dengan bayangan keantusiasannya adalah juga mungkin penyaluran akan adventurisme.

Muram dalam pengertian dan mengingat misi dengan persebaran keyakinan, berpokok pada pengakuan akan Injil, sesuatu yang mulia dan luhur sebagaimana saya juga melibatkan diri; tak ubahnya dan nyaris seperti sebuah proyeksi dari aktualisasi kegemaran bertualang. Kultur pelibatan Misi yang diwariskan dari “luar sono” menjadikan koneksi yang sangat umum untuk mengajak, seakan seorang yang berpindah dari kehidupan umumnya telah berkorban. Keluhuran  Injil yang disertakan dengan pengorbanan.

Tersebar dengan daya publikasi yang ada dan berharap dukungan serta sokongan demi panggilan yang mulia ini. Semarak publikasi dan media membuat bertambah terserapnya imaginasi untuk membantu–daya publikasi yang menunjukan akan beban dari kehidupan di lingkungan baru. Saya pikir turis juga gemar melakukan ini !

Dengan lugas apa yang membedakan Misi mulia injil dengan adventurisme, bukan hanya masalah jangka waktu. Akan tetapi menyeluruh dalam melihat dan melibatkan, sesuatu yang bukan hanya adaptasi sosial, tetapi tantangan pengakuan iman akan “Degradasi ciptaan” untuk dipertanggungjawabkan kepada pencipta dalam realitas sosial lingkungan yang baru.

Jadi, lupakan eksotisme pegunungan tengah jaya wijaya, dapati dan kembangkan modal sosial yang berkelanjutan setelah iman percaya tersemai secara kuantitas. Berpikir keras untuk pendidikan ethno-cultural dalam penyelarasan–ketika harus pendidikan itu selaras dengan ketentuan penyelenggaraan kekuasaan yang ada, lokal dan nasional; atau mungkin bersifat non-coperative, perlawanan. Minimaliasasi kemapanan yang membuat keekslusifan sebagai “tamu”, setelah penyesuaian hidup dengan  standar hidup umumnya masyarakat perihal kesehatan dan masyarakat. Lupakan, refreshing tahunan untuk mengunjungi Bali. Melebur dalam kesepahaman yang menyeluruh akan kasih yang besar terhadap masyarakat yang ditinggali, jika memungkinkan dan sangat jarang tentunya, pindah kewarga negaraan di negara yang ditinggali yang hampir tidak ada jaminan sosial masa tua. Proyek panjang dengan membangun identitas kultural melampaui mirisnya keterisoliran dan kesendirian.

Saya pikir, era-nya Wiliiam carey yang turut mengembangkan percetakan, micro-agriculture dengan pengelompokan tanaman (Carey dikenal perintis dan “ahli” Botani awal di India), college hingga konfrontasi terhadap budaya biadab “satii”, pembakaran janda bersama dengan mayat suaminya yang dikremasi. Juga, David livingstone yang ingin memutus rantai perdagangan budak dengan merintis penjelajahan bagi akses perdangan komoditi yang lain–sekalipun ada tudingan dari sekularis skeptis sebagai pembuka jalan kolonialisme baru. Tetap merupakan sebuah era, dengan pemberlakukan dan panggilan kepada obyek masyarakat yang dilayani.

Sehingga ‘kemapanan’ dan “habit” dari gaya hidup di tempat terdahulu  berangsur-angsur punah. Berpikir untuk mandiri dengan tidak bergantung pada sokongan dana dari gereja atau lembaga pengutus–sehingga bisa merasakan dan empati dengan melimpahnya angkatan kerja yang masih mengganggur yang mungkin jauh dari amatan secara lokal.

Sehingga dengan aksen agak muram, maaf, saya memberi penilaian sinis terhadap publikasi “seorang yang terpanggil untuk misi” dalam menyebarkan undangan dukungan, dengan selalu menyadari dan mewapadai adventurisme. Hal yang mungkin agak tidak lazim kalau dukungannya, bahkan terakses dan terpublikasi jejaring sosial umum, juga perihal nominal yang sepertinya memaklumi besaran sebagai orang dari “luar sono”.

Mohon maaf kalau saya tidak terbeban bahkan sinis, termasuk dengan publikasi pencitraannya, ketika memang kita dapati fakta epidemi HIV terjangkiti sebagai dampak gaya hidup yang tidak dalam disiplin murid kristus di wilayah yang cukup berjarak dengan keterisoliran dan sulit untuk dihindari jika diidentikan dengan wilayah misionaris bekerja.

Teringat sinisme Langdon Gilkey yang bertahun-tahun mengamati di Shanghai dan telah beralih haluan dari konservativ menjadi liberal “kita punya banyak guru, tenaga kesehatan, perawat dan pengembang jalan. Tapi  dalam masyarakat kita ada status sosial dari kelompok orang yang rasanya tidak berguna, dan apa yang dilakukan tidaklah lebih dari pemuasan hobi semata, yakni : mereka para utusan misi ” (Langdon Gilkey, “Shantung Compound”)

Tentunya ada pembeda yang tegas dari apa yang saya utarakan dan Gilkey keluhkan. Pembeda dari haluan dasar keyakinan saya akan Injil sendiri, terkait juga dengan fakta historis William carey dan David livingstone– pahlawan anti-perbudakan saya.

Saya percaya Injil punya daya yang kuat untuk mengubahkan masyarakat, dengan terserapnya sebuah korban untuk tidak gemar terakses secara publikasi dan terkikisnya gaya hidup yang ‘membedakan’ dengan masyarakat yang ditinggali, serta sekedar eksistensi adventurisme yang terselubung.

Saya agak muram, untuk diketahui sinisme liberal–tidak ada makna ekslusif injil dan hanya demi masyarakat saja– ‘menghigapi’ saya, untuk kemudian mempertanyakan apakah saya  injili atau liberal ? Allah Tritunggal kiranya memurnikan dan mengutus !

Cibinong yang mendung pada, 12 april 2011

Jann