Demokrasi menjadi titik nadir ! Mengganti pertautan ide yang menjelaskan akan sejarah dengan identifikasi kelas hanya merunut kepada fakta ekonomi.

kemudian sumbangan pemikiran dengan memberi artian yang lain, yakni pengelolaan kekuasaan; sehingga pertautan idenya adalah demokratis atau tidak demokratis.

Fukuyama merisalahkan hal tersebut, bahwa pertautan ide menyoal demokratis dan tidak demokratis mengarah kepada hegemoni dari demokrasi barat liberal “…but the end of history as such: that is, the end point of mankind’s ideological evolution and the universalization of Western liberal democracy as the final form of human government.” (Fukuyama;1992)

Mempertautkan dengan ide yang lain, tampaknya menyoal pada tampilan kekuasaan. ketika absurdivitas kekuasaan menjadi hal yang menarik dan ‘imbuhan’-nya adalah menyoal tentang keindahan.

Betapa sepi rasanya ketika keindahan dinafikan dalam kekuasaan.

sesuatu yang telah menjadi umum ketika demokrasi telah menjadi trend, sehingga mempertanyakan kembali dimana yang indah dari yang telah menjadi trend.

problem keindahan yang menarik dalam mengaitkan dengan aspek demokrasi. semoga menjadi uraian yang berkembang.

26 Mei 2011

Soli Deo Gloria

Advertisements