Namanya Rachel Corrie. Dan dia berbagi cerita tentang pupusnya sebuah harapan, tentang pertalian atas nama hak, ketika pendudukan lebih melesatkan sebuah anggapan yang mendominasi. Sebuah keluarga muslim di gaza yang harus hengkang dan bulldozer caterpillar 9-D yang akan membantu mewujudkan itu-karena zona pendudukan yang tidak bisa berbagi ruang; sehingga, penggusuran rumah-rumah adalah kelazimannya. Atas nama kemanusiaan berusaha ‘menantang’ dan sedikit rasa iba mungkin dapat ditorehkan, Corrie terbaring di sejurus jalur yang bersiap untuk meruntuhkan rumah keluarga muslim yang tidak dia kenal tersebut, lengkap dengan jacket orange yang pasti terlihat kasat mata.

Teriakan yang keras dan konon karena kealpaan si pengemudi caterpillar 9-D tersebut. Rachel corrie terlindas, dengan semangat kemanusiaan yang hampir pasti terselingi ketakutan dan keraguan “Let me stand alone”, demikian dunia mengenalnya. Segera itu menjadi berita, kematian seorang Rachel Corrie pada 16 maret 2003 silam dan gapaian noktah yang berusaha diabaikan ketika konsumsi konfliknya terbentang jauh dari tempat dia hidup di Olympia, Washington sana.

Namanya Rachel corrie. Dan dia menceritakan dengan sebuah kecanggungan yang mengalir, ketika kita dapati dari media akses Yotube. Kepeduliannya terhadap anak-anak yang kelaparan dan hasratnya untuk menjadi dekat dengan mereka. Petuah yang ketika dikelas dasar awal dia utarakan sebagai pidato didepan teman-teman kecil sekolahnya.

Adalah wajar menyukai paradoks kejenakaan dan keanggunan dari Rachel Corrie kecil yang bertutur kepada anak-anak sebayanya. Seakan dedikasi yang ditambatkan, karena memang dia suka anak-anak. Ketika untuk itu dia harus membela wilayah bermukin mereka, melepaskan dari pusara kebencian. Dunia tidak sedang menjadi sederhana, lantaran kebencian menggenangi anak-anak di Gaza dan tepi barat. Kita suka anak-anak sama seperti kita suka tuturan ceria Rachel Corrie kanak-kanak yang kita lihat di youtube.

Namanya Rachel corrie. Potretnya dipampang di dinding jalanan di Ramalah sebagai yang lain “the others”. Diabadikan sebagai sebuah jalan di Rafah-juga sebuah kapal, bersama hamparan potret tersayang anak-anak palestina yang tewas karena selongsongan dan hujanan mesiu Israel. Melalui kurun waktu yang berbeda, serta dengan paranoia yang tidak bertanggung jawab, kalau mereka dianggap disiapkan untuk jadi teroris. Yang lain, karena dia pirang, lumayan agak nyaman diasalnya Amerika; tidak juga bertalian secara keyakinan. Tetapi kenapa dia mau datang ke Rafah ? Tidakkah semi di desanya begitu indah ?

Tapi beberapa waktu yang silam dia datang, dengan kesumat yang luruh pada kemanusiaan yang disisihkan atas ideology Negara. Ingin melihat langsung warga yang terisolir dan berada dalam pendudukan. Berpihak atas dalih solidaritas kepada keluarga-keluarga dan rumah-rumah Palestina itu ! Teringat apa kata Martin Luther King “ seorang baru merasa menemukan hidup, ketika dia menemukan sesuatu hal yang menjadi alasan untuk dia bersedia mati”.

Dan sekarang orang-orang yang terinspirasi olehnya, ditambatkan oleh kemanusiaan dari wilayah yang terblokade berusaha mengirim bantuan; sampai, gemuruh itu datang. Sepasukan komando melabrak mereka, menyisakan protes dari bebarapa belahan dunia karena menewaskan belasan relawan yang berniat sederhana untuk mengakses bantuan bagi Gaza. Namanya Rachel Corrie, sekalipun sudah agak silam, pastilah kita sulit melewatkannya.

Cibinong, 4 juni 2010

Advertisements