Search

Jann'sektarian nehh'__ Indie Ripom Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Month

July 2016

Tentang Doktrin Anugerah yang Mengecilkan ?*

*uraian edisi Nopember 2013

(Hal yang didapat dari Roma 5:17)

Mengenal Allah melalui doktrin anugerah, seakan mengecilkan bahwa Allah yang melampaui dan biasanya kita mengenal sebagai wahyu dari Allah yang menyatakan diriNya dimengerti dari ketidakmampuan manusia. Maka sekarang hanya dengan pengertian ketidakmampuan manusia tersebut dianggap mencukupkan dan juga menjadi pembeda,  yang untuk dianggap menjelaskan secara keseluruhan sebagai Allah Alkitab ? Allah yang dinyatakan oleh Alkitab—sumber dari pengertian kita.  Ayat yang menegaskan, dan terkesan menjadi kecil ini  berasal dari ayat  Roma 5: 17 . Dimana  terkait sebagai penjelasan mengenai sejarah. Apa yang harus kita ketahui adalah tentang kita yang berdosa. Pengenalan Allah dalam hal ini dan sejarah kita yang terpisah karena dosa oleh Adam. Sejarah untuk kita mengenal maut dari dosa tersebut (Rm 5:12)

***

Prinisp anugerah adalah melihat hal ini, hal  yang sepertinya mengecilkan. Doktrin anugerah, kerap dikenal dalam istilah yang ‘import’ —terhubung dengan istilah yang merangkum akan 5 pokok calvinism, bukan tata pelayanan dengan model hervorm calvinis belanda yang menjadi ciri kekristenan kolonial yang justru dikaitkannya tidak esensial !? Maka dengan ini kesetiaan kita pada pengertian bukan pada istilah, karena semacam kekuatiran akan jejaknya yang ‘import’, apalagi dianggap terhubung dengan kolonial atau penjajahan. Sehingga penjelasan menjadi tertera nyata, kata anugerah dalam arti dan tertera literal adalah sangat sedikit didapati, akan tetapi jelas terhubung kepada pokok yang utama yakni; Kristus. Pokok  yang memegang peranan terutama dan terpenting dalam iman percaya—sesungguhnya karena membuat tidak ada yang bisa datang kepada Allah, kecuali Allah yang terlebih dahulu. Paulus menjelaskan hal yang jadi pembanding secara sejarah. Dan anugerah itu tertuju kepada Kristus. Hal yang dari Allah dan adalah Allah sendiri.

Dengan Doktrin anugerah kita melihat kepastian keselamatan yang membenarkan, dengan ini kepastian yang menuntut kita untuk “berbuat baik”. Prinsipnya “bukan perbuatan baik yang membenarkan kita, melainkan kita dibenarkan oleh iman  kepada Kristus untuk berbuat baik” sesuatu yang memandang pada korban Kristus dalam kematian dan kebangkitannya.(Rm 3:24,28; Gal 2:16-17)

***

Lalu kita harus serius menggumuli hal ini. Keselamatan dengan mengetahui keberdosaan, keselamatan yang dihinggapi dengan sadar akan kesia-siaan hidup yang dijalani (mzm 94:11;108:1;pkh 1:2;Rm1:21), “menjadikan maut telah berkuasa”  . Maka dalam Kristus, itu permulaan sebagai yang sulung (Rm 8:29; 1kor 15:20), Adam  yang ‘kemudian’ yang oleh-Nya kita diselamatkan dari kesia-siaan dan maut tersebut (Rm 5:14-15, 1 kor 15:45). Karenanya anugrah menjadi pemerolehan keselamatan dalam permulaanNya untuk hanya Kristus yang membenarkan, permulaan yang bersifat kekal, permulaan yang menghidupi dalam kenyataan kita hidup; permulaan dari kita sadar diciptakan sebagai manusia baru (Ef 2:15; 4:24) permulaan yang indah yang kita mendapati “selalu baru,..sebab itu aku berharap padaNya” (Rat 3:23-24). Sadar akan hal ini adalah kebenaran dalam dan hanya Kristus sebagai anugerah yang dari Allah. Apakah Kritus itu ? Anugerah ! siapakah Kristus ? Anugerah Allah.

Tidak ada kebenaran tanpa anugerah, tidak ada kebenaran tanpa mengenal sejarah untuk seharusnya kita mengetahui  kebenaran  akan keterpisahan dari Allah. Tidak ada kebenaran  tanpa dosa dan kesia-siaan hidup yang sadar itu diluar dari firman yang menjadi manusia, yakni Kristus (yoh 1:1,4,16) . “Kalam” sang khalik adalah Kristus, Dia terang yang dari Allah. Karena Allah yang berkehendak hadir.

Karenanya pengertian mengenai anugerah menegaskan akan Kristus. Sehingga pengertian anugerah diluar Kristus adalah sebuah kebohongan. Pengertian itu khusus dan hanya untuk Kristus. Berpaut hanya kepada Kristus untuk kita mengetahui bahwa diri kita beroleh pembenaran. Penjelasan dari yang ‘secuplik’ tersebut yang menegaskan akan pokok anugerah  adalah menjelaskan hal ini. Pengertian itu khusus dan hanya untuk Kristus. Berpaut hanya kepada Kristus untuk kita mengetahui bahwa diri kita beroleh pembenaran. Penjelasan dari yang ‘secuplik’ tersebut yang menegaskan akan pokok anugerah  untuk menjelaskan hal ini. Secuplik yang terlihat kecil.

Ketika sepertinya Kristus disederhanakan hanya pada pengenalan dan keselamatan dari dosa, sesungguhnya itu bukanlah hal yang sederhana. Itulah anugerah, seorang yang terlalu canggih dan yakin dengan perilakunya tidak akan bisa melihat ‘kesederhanaan’ ini. Iman percaya bukan masalah sederhana melainkan masalah anugerah. Sehingga makna yang didapat tentang “dibenarkan” dalam Kristus untuk ‘berbuat baik’ adalah melihat dalam keutuhan pengenalan  Allah yang agung, tetunya karena anugerah kita bisa mendapatiNya. Pengenalan akan Kristus dalam prinsip anugerah berbuah pada tindakan—disini hal tersebut dijelaskan. Tidak ada yang terputus dan memisahkan mengenai ini.  Kita menjadi bagian yang dalam Kristus kita dimampukan.

Terbesit selalu bahwa pembeda yang dalam Kristus adalah mengerti dari khususnya anugerah tersebut. Kristus yang ‘permulaan’ dan Kristus yang terutama harus menjadi yang mendasari pengertian kita. Adanya sebuah penambahan seakan membuat menjadi kesan, tapi  karena yang mendalam adalah tentang pengertian maka dengan Kristus adalah pengertian dan itu mencukupi untuk tidak adanya penambahan untuk membuat sesuatu yang menambahi kesan. Adalah terjadi karena tidak yakin dengan kecukupan berita Kristus yang ‘permulaan’ dan Kristus yang mendasari.

Dengan doktrin anugerah kita melihat dosa, adalah ketidakpercayaan yang diwariskan ?  Inilah hal mengenal Allah dan sungguhkah ketidakpercayaan ini melekat dalam diri kita ? sebuah pilihan dianggap bisa mengaburkan karena iman percaya kita yang tersisa. Seakan itu menjadi yang tersisa dan bisa diandalkan. Paulus sungguhpun sempat ragu, akan tetapi melihat yang utuh sebagai dirinya yang berdosa, “celakalah aku siapakah yang dapat menyelamatkan…” (1 Kor 9:16) dengan melihat adanya respon “syukur…” mengapa karena berbagian dalam surat ini.

Ketidakpercayaan tentunya menyangkali Allah. Ini bertumpu dan menjadi ringkasan dari begitulah kita membangun kehidupan dan menyatakan bahwa diri kita dengan yang ada selalu, jika ditegaskan adalah penyangkalan yang memang ada pada kita,  maka terlebih lagi berurusan dengan Allah adalah menjadikan ”…tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Rm 3:11b) dengan lebih lanjut berbuah kepada “keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan dijalan mereka”(Rm3:16); ditegaskan sebagai penjelasan mengenai dosa. Sebuah keberadaan kita dengan ketidakpercayaan yang sudah ada dan seumur dengan setiap kita yang pernah ada ini—hal yang bisa dibayangkan tentunya jika hal ini dianggap bodoh dengan memberi penilaian bahwa ketidakpercayaan dan penyangkalan menjadi ‘melekat’ dan diwariskan kepada kita. Karenanya apa yang diteguhkan sebagai kejatuhan kita adalah keterpisahan kita dengan Allah. Dimana ini juga dinyatakan, sebagai penyangkalan kita dapati  dalam banyak hal sebagai penjelasan dari keterpisahan tersebut, penjelasan akan kejatuhan kita. Kejatuhan yang karenanya kita menyangkal Allah.

Kita yang menyangkal Allah harus mau mengakui ini ! Kita, jika hidup dalam iman percaya sekarang, mengakui pernah berada dalam kondisi ini.  Betapa sulit mengakui dan tampaknya seperti menyederhanakan. Apa yang paling mengkhawatirkan adalah prinsip sederhana tentang kejatuhan yang seakan gagal dalam melihat permasalahan. Pokok dari kejatuhan tersebut dengan tetap menegaskan akan manusia yang tidak dengan sendirinya. Manusia yang harusnya bertanggung jawab kepada penciptaNya. Nilai manusia yang telah jatuh apa artinya ini ? Tidakkah dia bisa bangun lagi ? sebuah kemanusiaan yang diletakkan  mengapa harus melihat kejatuhan manusia? Banyak hal yang bisa dimunculkan dan menjadi pertanyaan mengenai hal ini.   Akan tetapi kedalaman pengertian kita biar bagaimanapun, dilatih dengan nalar yang paling kritis sekalipun, harusnya diletakkan dengan dasar ini. Akan sangat berbuah jika dibangun dengan dasar ini. Dengan dasar pengertian akan keterpisahan kita terhadap Allah pencipta kita.

***

Doktrin anugerah memiliki uraian untuk juga mengenal akan Allah yang menjadi khusus. Kekhususan untuk menjamin orang percaya didalam Kristus. Jadi akan halnya yang khusus sebagai dasar yang tidak didapati dari yang lain, ketika kita berupaya maka satu-satunya yang menjadi berita bukan warisan yang diimpor, hal yang terkait sebagai penjelasan mengenai sejarah  menjadi penjelasan yang khusus dan mencukupi mengenai Kristus, juga menyadarkan akan ketidak percayaa kita.

Doktrin anugerah memuliakan Allah. Jika ini menjadi penjelasannya maka pastilah kita akan selalu dan sedang dalam pengenalan akan Allah, mengapa ? karena  ketika kita percaya hanya melalui Kristus kita dibenarkan. Sebuah kutipan yang dengan sangat sembrono pernah diutarakan bahwa “…yang lama telah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang…” hal itu sungguh berani dikatakan ketika terhubung dengan sebuah partai politik yang beriklan. Mengapa berani memberikan penilaian sebagai penilaian yang sembrono ? karena pastilah menjauh dari pengertian yang dimaksud. Dalam pengertian dasarnya menjadi dikeruhkan, sebagaiman hal yang mengeruhkan dari pokok dasarnya akan doktrin anugerah yang bukan warisan kolonial.   Jadi, doktrin anugerah jelasnya mengecilkan ? kekeruhan dari warisan kolonial, menantang pergumulan untuk kembali kepada yang memurnikan, salah sangka yang sudah terlalu lama membutuhkan tuntunan Roh Kudus. Karena ada yang bukan warisan kolonial.   Pujian hanya bagi nama Allah dalam keagungannya karena kita mengenal dan bertumbuh dalam pokok ajaran anugerah.

JPS

Advertisements

Proposisi Buku Komunitasinjili Press 2012; “Nature Agama Dan Kebenaran…” Bab I

Religion Nature and Truth

I. Harus Diakui Permulaan Itu Berdasar Pada Anugerah !

Apa yang menarik ketika membahas keyakinan, hal yang telah lazim dan menjadikannya punya peran hingga menyatakan salah satu bagian yang menjadi identitas. Menarik untuk membandingkan dari pengisahan-pengisahannya, karena umumnya telah tersaji secara cerita atau kisah. Mengisahkan dalam peran untuk menjadikannya jelas akan kehidupan itu sendiri.

Penggalan dari cerita yang mengaitkan manusia dengan hal-hal yang menjelaskan tentang berkuasa dan berwenangnya atas kehidupan. Bahwa kemudian cerita tersebut menjadi wahyu yang selanjutnya mendasari untuk menjadi tatakelola manusia. Mengurai, melepaskan dan membuat objek tentang bahasan anugrah dalam hal, ketika bahasan tersebut, lebih dari sekedar asumsi; bahwa anugrah tidaklah mungkin menjadi bahasa agama. Agama tidak bertaut dengan anugerah dengan menjadi permulaan dalam mengaitkannya ketika tema akan agama yang tidak bertaut dengan anugerah itu diperluas.

Tidakkan bisa ! Asumsi yang mengetengahkan akan agama dalam asumsi Berger sebatas menjadi ‘sacreed canopy’ sebuah tudung dari penunjukan akan identitas dimana tetap dibutuhkan dalam kecanggihan dan modernitas itu sendiri. Ada sebuah sisi yang tidak terjelaskan dan agama cukup transenden untuk ‘sekedar’ mengisi. Agama tetap hadir dalam modernitas dan sebuah era dari kecanggihan. Agama tidak selesai, ketika yang terkubur dengan tabu dan dianggap misteri telah terungkap .

Lantas anugerah, menjelaskan kebaikan tetinggi dan pengertian pemberian. Karenanya manusia yang mengetengahkan tentang anugerah harus berurusn dengan pengertian-pengertian yang dianggap tidak ‘terbukti’ atau memenuhi ketentuan dari sebuah bukti. Sebagaimana agama sekedar memaknai untuk mengisi akan kebutuhan terhadap transendensi tersebut.

Moralitas, keyakinan dan pesoalan mendasar.

Persoalan mendasar untuk tidak mengakui anugerah, kerap diletakkan pada persoalan keyakinan. Seakan dimampukan untuk merendahkan dan mencibir bahwa hal yang bergerak dari keyakinan adalah bergerak dari pemahaman tentang pembuktian hal yang mengukuhkan perihal “moralitas”—meletakkan pada sisi kebaikan atau hal yang dianggap “bajik”, “mulia”. Argument moralitas menjadi tersendiri untuk tetap menunjukan bahwa Allah dan sisi kebaikan yang kita lihat adalah menunjukan tentang diriNya. Tetapi seberapa jauh ketika realita dan faktanya, justru ada hal yang tidak bermoral, hal yang jauh dari penerimaan kebaikan.

Permulaannya memang seakan menjadi pertanyaan, sekaligus menjawab. Ketika yang memulai justru berpangkal pada jawaban anugerah. Problematika yang disederhanakan dari jawaban anugerah, dengan selalu menyadari kompleksitas—hal yang terkait dan beragam, hal yang kompleks yang seakan ‘penyederhanannya’ didapat oleh agama.

Akan tetapi sisi kebaikan dari kompleksitas permasalahan justru didalam perwujudannya seakan tidak menyederhanakan dari kebaikan tersebut. Apa yang pada kandungannya sebagai penilaian kebaikan dari ruwetnya permasalahan yang dilami sesorang ? Tidak bisa diabaikan bahwa selalu saja ada masalah, hal yang tidak terpecahkan baik kita mengupayakan ataupun menuntutnya. Sisi baik dengan pengertian bahwa itu menandakan akan aspek moral dari keberadaan kita yang punya salah. Selalu menimbulkan pertanyaan Dengan tidak terelakan kita menyadari akan yang salah tersebut, kerangka bernasyarakat yang melindungi kita dari berbuat dan bertindak salah dengan pelarangan melalui konsekuensi. Lazim memaknai ini sebgai aturan dan norma, membatasi ketika kesalahan itu merugikan dan berdampak tidak berkenan kepada banyak orang. Jelas bukan anugerh melainkan kerap dimengerti sebagai hukum.

Dalam masyarakat menjadi nampak dan pengaturannnya memilki konsekuensi dan membatasi. Makna anugerah menjadi tidak dapat ditindaklanjuti, karena respon dan pandangan umumnya akan perbuatan yang mendapatkan ganjaran. Pengupayaan dalam pemberlakuannya adalah setiap orang menjadi obyek hukum .

Pertanyaan selanjutnya akan mengerucut pada permasalahan-permasalahan yang dianggap mengganggu dan tidak umum. Seseorang dan invidu-individu yang memilki permasalahan. Permasalahan kita menjadi sangat beragam, permasalahan dengan kondisi ketika apa yang dialami dimulai; cuaca menjadi tidak cocok, hal yang biasa menjadi tidak biasa, jalanan lengang yang biasa kita lalui sekarang menghadapi perbaikan yang membuat kita akan tersendat dalam berjalan. Permasalahan mencakup sisi penghidupan dan ekonomi, dari kecukupan-kecukupan yang ada, kompleksitasnya yang sangat meluas. Sungguhkan kita harus meniadakan permasalahan ? dengan tetap hadirnya keyakinan, eksis pada keyakinan itu dan maksud yang berperan adalah anugerah yang dipahami.

***

Kompleksitas dari sisi kebaikan tentunya menjadi agak rancu ketika diyakini, permasalahan adalah sisi baik yang juga melekat. Apa baiknya ? Dengan mempertegas ketika memang harus mempertanyakan ketika justru ketidakbaikan yang dihadapi, dengan ini kompleksitas dari ketidakbaikan.

Mempertajam dengan pengertian moral sebagai yang baik, maka penilaian diri kita sebagai yang bermoral seakan menuntut sebuah kelayakan dalam diri kita. Tuntutan kebaikan untuk menegaskan aspek moral yang ada. Dan inilah agama sebagai mengasumsikan sesuatu yang bermoral tersebut.

Hal yang dididentikan agama menunjuk kepada hal berkeyakinan. Dan permasalahan manusia harus dijawab dengan moral tersebut, harus dijawab dengan hal yang diidentikan sebagai keyakinan tersebut. Pengantar sederhana dari hal yang tidak bisa diabaikan, betapa kebaikan yang diuapayakan berurusan dengan anugerah sebagai pertanda dari ketidakmampuan.

Uraian dari permasalahan manusia yang membutuhkan jawaban dari keyakinan. Melihat dari kompleksitas permasalahan suungguhkah agama menjawab ? juga perlunya untuk dipahami ketika hal yang sama anugerah dalam kaitan dan hal apa ? sungguhkan agama menjadi penunjukan akan yang ultim ? Allah yang keberadanNya yang mendapati pengenalannya justru pada kebaikan manusia dan menjawab komlpleksitas permasalahan. sisi komplesksitas ini menjadi argumen yang disadari akan permasalahan yang tidak dimudahkan dengan problem beragama.

Sehingga, bermula dari anugerah menjawab kompleksitas dari permasalahan yang dialami. Anggapan anugerah yang berangkat dari bahasa agama. Sisi baik dari permaslahan manusia, adalah sisi baik yang terkait bahwa manusia diluar dari anugerah—spesifik pada hal yang tidak bisa diupayakan manusia tersebut.

Tuntutan moral dari kebaikan tidak bisa diupayakan manusia, dengan mendasari sebagai sebuah pernyataan. Tuntutan dalam menyadari apa yang dalam anggapanannya baik, bahwa manusia haruslah tetap berupaya untuk selalu baik. Ini menjadi awal dalam bergerak dan mengembangkannya, permasalahan akan kompleksitas dengan ini agama merespon terhadap yang kompleks. Tidak akan menjadi sederhana dan tetap menarik.

Klaim sebagai keyakinan.

Tidak bisa diartikan lain bahwa ini berangkat dari asumsi, karenanya hal yang juga terkait dengan keyakinan tersebut, mengasumsikan dalam berkeyakinan perihal anugerah yang jelas-jelas tidak akan bisa diupayakan. Bagaimana masa depan dari keyakinan itu sendiri ? Apa yang akan terjadi dari waktu kedepan ketika klaim-kaim dari keyakinan dianggap sudah tidak memadai ? Dan anugerah bertumpu pada penjelasan spesifik dari lebih sekedar persepsi bahasa agama dan penjelasan berkeyakinan, sebagai serangan yang acapkali; bahwa bertumpu sekedar pengupayaan yang tidak dari kemampuan manusa, sekalipun menjelaskannya hanya dalam bahasa yang dapat dimengerti hanya perihal berkeyakinan. Bahasa yang acapkali dianggap hanya pada penjelasan beragama perihal anugerah.

Titik yang bermula sekalipun untuk menganggapnya sebagai kesamaan dengan obyek akan agama itu sendiri. Perihalnya beragama, beberapa ulasan yang mengkritisi seperti menyamaratakan semua keyakinan, akan bakunya dalam istilah yang akan sering digunakan adalah formalnya keyakinan yang disebut sebagai agama tersebut; ataupun meletakkanya pada sebuah pengaturan akan tata kelola beragama dengan tetap hanya mengakui pada yang “resmi”. Permasalahan yang lain ketika agama tetap saja ada dan apa yang menyatakannya, bobot dari agama tersebut, tidaklah berdasar kepada pengertian sebagai anugerah.

Adakah sebuah era dari pasca-agama , dimana pertentangan dan penolakan agama ataupun segala hal yang tidak dapat dijelaskan melalui kerangka dari pengertian-penegrtian dan prinsip yang dianggap nyata. Seakan menjadi sebuah era dari terbebasnya manusia menuju taraf yang empiris dan nyata menjadi penjelas dari segala sesuatu. Misteri yang telah terungkap, dimana jikalau masih ada dan belum terungkap adalah kekuarangan dari daya dan upaya manusia sendiri.

Jika memulai dari anugerah, maka obyektifikasinya menjadi terduga hanya sekedar mempromosikan sesuatu yang memang sudah baku. Akan tetapi menariknya dengan anugerah dalam proposisinya menyatakan dan berhubungan dengan banyak hal dan terkait dengan realita yang ada.

Referensi

Peter L Berger “The sacred canopy, elements of a sociological theory of religion” Anchor books 1969

Phlip Yancey “Keajaiban kasih karuia”, Interaksara 1999

Philip Yancey “Menemukan Tuhan ditempat yang tidak terduga” Interaksara 2000

Richard swinburne”The existence of God” OUP 1979

                                                         (Hal. 3-8)

 

catatan

Info pemesanan 0838-9495-4900, harga Rp 45.000 (print fisik & ongkir)

Hibah bagi lembaga dan perpustakaan publik yang punya bahasan atau katalog krtik agama atau filsafat agama. 

Charles Spurgeon dan Secangkir Teh Sebagai Penghangat Siang yang singkat…

Charles SpurgeonSaya tidak ingin terlibat lebih banyak, tetapi ada yang tetap mendorong untuk diketahui. Percakapan yang mengetengahkan tentang identitas, sesuatu yang konon tetap menjadi penting.

Charles spuregon ?

“yeah, He is genius”

Melewatkan sebuah masa dan kurun waktu maka kita akan berkenalan dengan sosok yang menyertakan sebuah semangat yang menjadi banyak panutan. Siang itu tidak ada percakapan yang lain. Juga ketika tetap harus diketahui bahwa jaraknya sudah sangat terentang panjang.

Apa sebab ? disebuah kurun waktu keantusiasan untuk beribadah menjadi sangat kentara, hal yang tentu tidak didapati dalam kondisi sekarang ditempat spurgeon berada. Sebuah momen dari terbakarnya  gedung ibadah dimana spurgeon berkotbah, menajdi penjelasan akan keantusiasan dari orang-orang saat itu, bahwa Spurgeon lalai dalam memperhatikan keselamatan dari orang-orang yang entah pengunjung dari sebentuk penganan kerohanian dari mimbar dimana Spurgeon berkotbah, atau sungguh terlibat sebagaimana pelayanan yang berdedikasi. Bukankah di era sekarang lebih banyak pengunjung itu, bahkan menjadi sangat tidak penting untuk menyambangi ketika ‘hiburan’ dan pemenuhan akan yang rohani bisa didapatkan dengan diam ditempat.

Akan tetapi. Sebentar ! Tidakkah atau masakan spurgeon hanya berkotbah sendiri ? Bisa dipahami dengan keantusiasan yang tinggi  ketika memang dianggap tidak ada hiburan yang lain ? Maksudnya  ? Dengan jelas pada era spurgeon, pengkotbah yang dengan bulat-bulat diterjemahkan sebagai “pengkotbah rakyat” itu. Kerumunan masa yang mendatangi tersebut dianggap terjebak pada kondisi ketiadaan ‘hiburan’ ?

Kondisi dari wilayah dunia yang berbahasa inggris. Dimana iman Kristen dianggap telah banyak membantu dalam perubahan. Maka identitas iman menjadi kelayakan untuk spurgeon muda mengalami pergumulan yang sungguh total. Warisan anglo-saxon dan kemunculan gerakan kemurnian dalam warisan iman Kristen, telah membuat spurgeon dalam keresahannya menginginkan kemurnian tersebut. Pertobatan diusia belia dan jarak pendidikan yang membuatnya tidak masuk ke jenjang seminari. Membuat dia dengan keawamannya tersebut yang bukan rohaniawan menjadi sangat terdidik dan mumpuni untuk otodidak menjadi seorang komunikator.

Pesan yang sangat lugas dan kontribusi charity-nya mengalir. Pilihan sebagai warisan kemurnian non-comformist membuat spurgeon ikon dari keantusiasan rohani, sekaligus juga olok-olok dunia Kristen berbahasa inggris pada masanya yang dianggap sangat konservatif alias sangat kaku.

Beberapa buku spurgeon telah banyak diterbitkan kedalam bahasa Indonesia, juga sebuah seloroh yang pernah dilontarkan akan kerohanian spurgeon ketika foto dirinya, lebih tepat gambar visual dirinya yang sedang menghisap cangklong rokok. Tunggu-tunggu bukankah itu tanda ketidakrohanian ? Hal yang justru menambahi beban kesehatannya, spurgeon wafat diusia 57 tahun.

buku spurgeon 2

Dengan ribuan kotbah bertemakan dan berasaskan warisan Reformasi Calvin dari metropolitan tarbenacle-nya di pusat kota London dan juga dukungannya pada hampir semua misi yang tidak didanai anggaran Negara, mengingat era kolonialisme saat itu.  Menjadi manusiawi untuk mengenal spurgeon yang pernah mengalami depresi dan efek kebakaran hebat yang menghanguskan bagian gedung dari tempat dia rutin berkotbah.

Sebuah sisi manusiawi dari pengkotbah yang bergumul dan tidak menjadikan previlese khusus untuk dirinya, mengingat ada yang mengemukakan jika spurgeon sangat spesial. Karena hampir seminggu, menulis tema dan menyusunkotbah dan menerbitkannya dengan nyaris hampir 6 edisi bersamaan perminggu, kebayang sehari 1 dan membaca untuk berkorespondensi dengan banyak utusan misi.  Sebuah telaah yang berada dalam tingkatan akreditasi teologis yang suka meneliti dan mengkaji pernah dikemukakan terkait  makna ortodoksi teks Alkitab ? wow ?* bukan hanya pengkotbah rakyat akan tetapi juga cendekiawan yang berdiri atas pangkal doktrin anugerah tersebut. Sebuah kontribusi yang membuat spurgeon agak abai dengan kesehatan dirinya, tampaknya, juga jauh dari kesanggupan untuk memperkaya diri sendiri.

Apa yang jenius dari tokoh rohani tersebut ?

Jika bisa dipertegas sebagai sebuah pertanyaan untuk kemudian beroleh jawaban yang memuaskan, dan lagi dimana kejeniusan itu  jika dikaitkan dengan lagi-lagi hanya soal iman percaya ?

Tersiar kabar juga untuk dipahami bahwa pengkotbah spurgeon ini melawan perbudakan. Kepemilikan budak dikalangan rohaniawan Baptis selatan, kalangan yang tentunya berbahasa inggris juga, membuat spurgeon kehilangan simpatik dan dukungan. Hal yang memang cukup pelik, mengingat hak asasi yang mendasar dan selalu terpikir dalam kondisi kita, kok bisa ada perbudakan ? menjangkiti para rohaniawan kristen kulit putih ini, hal yang tidak bisa bahkan sukar untuk diperhalus; meskipun dianggap sekedar pekerja domestik tetap keasasiannya yang mendasar telah dilanggar. Karenanya Spurgeon sangat mendukung Reformator sosial dari william wilberforce yang sangat moncer dan intens untuk hal yang dianggap sangat tidak memadai untuk iman percaya yang bukan hanya dimasa mereka.

buku spurgeon 3

Kita bisa mendapati kotbah-kotbahnya yang tertulis dengan sangat luas dari situs-situs ini http://www.spurgeon.org/, juga arsip dan tayangan video kisahnya, hingga film dokumenter tentang dirinya.

Kembali ke siang dengan pilihan untuk minum teh dengan seorang yang dari belahan bumi lain. Dibandingkan dengan kopi, jelasnya sebuah kejeniusan yang dimaksud juga adalah kelurusan sikap. Bagaimana spuregon pada era sekarang ? Ketika pilihan dan hiburan menjadi banyak. Baiknya kita siapkan minum teh yang lain !

 

JPS

*penjelasan  lanjut dari telaah krtis seorang pengkotbah sekaliber Charles Spurgeon yang harusnya hanya melayani tenang sebagai pendeta dengan ortodoksinya bisa dilihat disini http://www.standardbearers.net/uploads/New_Testament_Textual_Criticism_Ministry_CH_Spurgeon__JET__2014.pdf Hal yang menempatkan Spurgeon dalam telaah lanjut bahasan teologi dengan standar kritis dan tetap terkait dengan pelayanan penggembalaannya. Hal kritis yang tidak membuang iman injili dengan doktrin anugerahnya tersebut.

easter03

(seri eksposisi terkait “Getsemani” Mt 26:36-46, Yh 14:15-31,  16:4b-15)

 

Pengajaran dalam iman percaya kita adalah mengenai Allah, perihal mengenai Allah adalah berada dalam pengertian yang harus diajarkan dan bersifat pokok. Pengajaran itu didapat dalam salah satunya yang mengajarkan ketika saatnya adalah Kristus akan menyudahi, maksudnya ? kristus akan menuntaskan dengan kematian di kayu salib dan juga kebangkitanNya,  akan tetapi justru para muridnya tetap tidak paham. Menarik dan sangat pokok bahwa bagian dari pengajaran ini ketika kita membaca berurutan justru berada ditengah (Yoh 14), bahkan berada diakhir (Mat26:36-46;Mrk14:32-42;Lk22:39-46). Tidakkah seharusnya bersifat pengajaran awal ? karena bersifat pengenalan, bersifat pokok sekali untuk mengenal Allah. Akan tetapi itulah pegajaran ini sebagai sebuah kisah dan pengajaran ini menyentuh hal yang sangat mendalam, menyentuh hal yang bersifat pribadi dari Allah yang berkenan hadir.

Saat terakhir inilah yang justru dipakai. Padanan yang kita ambil dari Yohanes ini tidak kita dapatkan dalam penjelasan di injil sinoptik lain, injil yang menjadi kisah hidup Kristus yakni matius, markus dan Lukas. Hal yang menjadi jelas adalah; bahwa murid tidak akan ditinggalkan ada  yang tetap bersama dengan para murid tersebut. Hal ini yang membuat kita bisa bertanya, Pertama kita bisa membaca bahwa secara keseluruhan mengapa tema ini justru berada dibagian agak akhir ketika justru menyatakan dari Allah sendiri. Sebagian kita menjadi sudah mengenal dengan pengertian akan Roh Kudus. Lazimnya tentu sebagai sebuah kelanjutan dari Allah yang harus menyatakan diriNya, menyatakan pribadiNya (Kel 14:4, 17, Mzm 77:14, Yoh1:18;2:11).

 

Kedua, dengan sangat luas kita bisa terhubung dengan kondisi yang sudah lazim dari pengenalan kepada kristus, dengan terbiasa kita sudah melihat dalam kenyataan bahwa Roh Kudus adalah Roh yang ‘menjiwai’ para murid dan seterusnya para murid itu menjadi lazim untuk dikenal akan yang menjadi sumber utamanya, perihal Kristus dan pengenalan kepadaNya sebagai sumber utama. Roh kudus membuat orang sadar siapa murid Kristus yang dijiwainya itu.

Mengapa lazim ? karena yang dikaitkan selalu dengan Roh kudus ini adalah; keramaian dan keriuhan. Karena seakan bagian dari momen ini yang harus menjadi tanda. Maksudnya jelas tanda dari Roh kudus ini menjadi tanda yang dikedepankan. Seakan tanpa tanda ini dianggap tidak ada Roh kudus. Maka ketika Roh kudus adalah perihal ‘menjiwai’ para muridNya Kristus memaklumatkan pengenalan kepada Kristus. Hal itu dianggap terlalu ‘mendasar’ dan lazim. Maskudnya ? hal yang dianggap mengecilkan, karena haruslah disertai kuasa. Perihal kuasa ini yang selalu dikedepankan, maksud dari kuasa yang dikedepankan menjadi jelas dan terlihat sangat demonstrativ, sangat dikedepankan dan dinampakan. Karena dengan jelas-jelas bahwa itu tertulis.

Maka, ketika membawa  pengenalan yang sesungguhnya kepada Allah, kita justru mendapati pengenalan yang sangat pribadi. Jadi apa yang paling pribadi jika tidak melalui hal  ini ? penelusuran-penelusuran yang lain diluar wahyu Alkitab—sebagaimana Roh kudus yang mengingatkan akan perkataan Yesus, untuk juga dipakai  (Yoh 14:26).sesuatu yang pribadi yang diwahyukan adalah sesuatu yang mengingatkan, maksudnya kita menerima begitu saja akan hal yang diingatkan kepada kita ? perkataan yesus menjadi otoritas untuk kita tidak bisa melalaikan.  Maka dengan perkataan ini kita mengenal siapa yang mengatakannya. Sesuatu yang tetap dan akan sangat pribadi.

***

Sekarang adalah tema tentang “perjanjian baru” ketika pribadi, yang dalam hal ini akan sifat dan kerja dari Roh Kudus adalah “penghibur” (Yoh 14:26;15:26; 16:7). Apa gerangan selanjutnya yang seakan menjadi cerita duka ? menjadi sesuatu yang sangat membutuhkan penghiburan, karena keadaan apa yang membutuhkan penghiburan ini ?  Menjadi menarik bagi kita,  seakan kebutuhan penghiburan adalah kebutuhan pokok yang berada dalam situasi yang tidak mengenakan, tapi apakah itu akan berlangsung terus ?

***

Hal yang justru nyata-nyata dalam perikop ini adalah “damai sejahtera” (Yoh 14:27-31) sesuatu yang terkait ketika Kristus menjelaskan; kata ini kalau coba-coba ditelusuri memang menjadi perlambang dari hadirnya Roh kudus tersebut. Mengenai yang ini tentu berdasar dengan  ini “damai sejahtera kutinggalkan kepadaMu”( yoh 14:27), saat yang memang tidak terpisahkan akan tetapi justru seakan dalam perpisahan bahwa para murid ditinggalkan dengan damai sejahtera, bagaimana bisa ? ini jelas menjadi sebuah cerita pribadi yang membawa pengertian.

Jadi roh kudus adalah roh damai sejahtera. Sangat pribadi sekali akan makna yang didapat. Menjadi pribadi adalah sosok pembawa damai sejahtera tersebut. Kata damai sejahtera adalah “erirene” hal yang memang melekat dengan pengertian ini adalah tentang firman (kis 10:34) dan firman itu bersumber dan adalah pribadi melampaui permulaan karena berkenan telah menjadi manusia—selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh justru penolakan kepada firman. Kita haruslah paham disini sebuah “eirene” yang bersumber kepada Kristus. Bersumber karena berasal dari firman tersebut.  Damai sejahtera itu yang selalu diingatkan dalam surat-surat pengembalaan. Bersifat pribadi dari damai sejahtera yang ditinggalkan Allah, dengan maksud bahwa Allah tetap menyertai.

Adakah makna yang berubah dari penghibur ? sang penghibur sejati justru mengingatkan akan perkataan kristus. Ketika berbicara mengenai penebusan sangat jelas, penggenapan bagi kristus. Terang injil dalam kristus. Sementara seakan ‘mengecilkan’ kita bisa tahu kelanjutan karya penebusan adalah Kristus akan tetapi ‘penghibur” ini , maka seakan kita jadi paham akan berita dan kondisi yang  mengakibatkannya, yakni  kondisi duka yang dialami.  Penghibur ada karena adanya kedukaan. Bagian yang dengan sangat lugasnya berada dalam pengertian akan “penghibur” yang juga “menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:7-11). Inilah penghiburan itu.

Gereja yang mengaku percaya sejatinya dituntun oleh kemutlakan Roh penghibur ini, ada banyak kaitannya dengan perkataan kristus. Disaat itu para murid tidak paham, karena kita membacanya dari matius 26 dan penjelasan yohanes 14 ini adalah penjelasan yang justru ‘pribadi’. Hal yang pribadi menjadi sangat mulia karena menjelaskan mengenai Kristus sebagai pribadi dan kelanjutannya. Sebuah kelanjutan karena sesuai dengan hakekatnya kristus kemudian yang dinayatakan akan “menyertai sampai akhir jaman” (mat 28:20).

Jadi penghiburan menjadi pokok karena penyertaan sang Kristus dan Roh kudus dalam memuliakan Bapa disorga sebagaimana diingatkan kembali bahwa Kristus yang tuntas memuliakan Allah. Sebagaimana dimengerti Allah memuliakan diriNya dan berkenan memakai diri kita yang disertai Roh kudus Allah. Teologi mendasar sebagai pengetahuan tentang Allah yang menuntun kita dari pribadi Allah penghibur yang menyertai kita. Orang percaya menjadi tergugah dengan pengetahuan ini. Pengetahuan mengenai Tuhan Allah yang menuntun dan memerdekakan (Rm8:2)

Sekarang dimana “kuasa” itu menjadi bagian dari penjelasan akan Roh penghibur (parakletos), kita sadar sekali ini berbagian dan pokok dalam mengenal Allah. Garis besarnya tetaplah Allah yang akan menyertai kita. Penghibur seakan itu menjadi hal yan primer. Hal yang memang sangat pokok. Apa yang pokok untuk kita ketahui sebagai kebutuhan ? itu mnjadi terpinggirkan. Kita jadi trcegang seberapa butuh kita pnghiburan ini.

Makna “dunamis” sangat  melekat ketika kita mengetahui, bahwa ini bersoal tentang mujizat, hal yang dijanjika sebagai kuasa oleh Kristus sendiri. aKan tetapi kita mengenalnya sebagai “dinamis” dan “dinamika” atau sesuatu yang ‘meledak’ untuk artian dari dunamis  yakni benda “dinamit”

Menjadikan  Roh kudus hanya sebatas kuasa

Membuat Roh Kudus yang justru adalah esensi dari pengenalan kepada Allah sendiri menjadi hanya sebatas kuasa, justru mengecilkan ketika hanya “dinamit” yang dimaksud adalah letupan dan ledakan. Daya tarik kepada kuasa inilah adalah  bukan “aliran dari air hidup…”(Yoh7:38) sesuatu yang berdasar dari iman percaya kita, karena dikerjakan Allah.

Sekarang kita menerimanya sebuah pengajaran yang harusnya membawa pengealan kepada Kristus, ayat pengenalan ini yang sebenarnya sangat jelas. Akan tetapi lazimnya kuasa akan terus dan tidak terhenti. Pengajaran Roh kudus yang justru membukakan adalah kekuatan atau kuasa. Tidakkah seharunya berbicara tentang kuasa pengenalan ?

Tulisan dan petunjuk pengenalan kepada Kristus yang tidak mengenal Dia sebagaimana maksudnya semula, terkait dosa dan penginsafan kita, jelasnya tidak berasal dari Roh Kudus. Pengajaran yang sangat pribadi dari kristus kepada muridnya ini seakan tertutupi. Kemeriahan sebagai tanda roh pertobatan dan Kristus dalam maksudnya yang semula jelas menjadi berbeda dan bisa jadi asing.

Kita seakan telah membuat ini menjadi lain, karena otoritas wahyu itu adalah karena Roh kudus, kehadiran Allah yang tetap menyertai kita. Menjadi jelas bahwa otoritas itu bagi kita. Jadi apa yang memang sungguh-snggug menjadi pertanyaan ? sungguh-sungguh membuat kita ingin mencari tahu.

Berharap roh kudus mempertobatkan, menjadi sangat rohani memang. Dalam setiap detil  dan pokok yang kita bisa baca, kita menemukan dengan sangat prinsip sekali. Saat-saat pribadi bersama para murid adalah saat-saat yang bersifat pengajaran. Saat yang menyatakan kepada pengenalan akan Allah sendiri. Kita akan diberkati dengan ini.

***

Perenungan kita menjadi semakin dalam, setidaknya saya mengajak untuk itu. Karena berkenalan dengan pribadi adalah mengenal pribadi itu sendiri. Pribadi yang membawa kita untuk mengenal pribadi, kita menjadi mengenali pribadi tersebut. Memang seakan menjadi ‘pelik’ karena selalu untuk diingatkan bahwa ini adalah membawa pengenalan kepada Allah. Dan sepertinya menjadi teramat sangat bertele-tele, mengingat rumusan pengenalan kepada Allah dalam kesatuannya adalah firman. Lantas bagaimana dengan ketritunggalan ? sekedar rumusan keyakinan ?   Kita berkeyakinan tentang ketritunggalan Allah karena itu diwahyukan oleh Rohkudus, jadi sungguhkah pengenalan ini yang dinyatakan kepada kita ? lantaran kuasa justru menyatakan kepada Allah yang sesungguhnya harus dikenal. Yang terjadi dan sangat pokok adalah pengenalan kepada Allah tersebut. Pengenalan akan pribadi ketritunggalan Allah yan suci dan seturut wahyu yang kudus.  Roh kudus yang penghibur memberi wahyu dan pengenalanNya. Roh kudus pribadi Allah yang menyatakan kekudusan Allah. Kekudusan dari sang Firman, Kristus anak Allah.

Apa yang terjadi sekarang dengan ketiadaan kuasa ? sebuah buku menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah Roh pemberitaan Injil, kuasa itu adalah susah dan senang dalam pemberitaan Injil, ketika saya bisa mengartikannya lebih. Ketika kita dalam segala kondisi memang selayaknya menggunakan secara verbal, sesuatu yang diutarakan, sesuatu yang dikomunikasikan.  Bahkan sekarang sudah menjadi lazim akan kata-kata yang bertuah dan kuasa. Tanpa kuasa Roh kudus jelas ketiadaan pengenalan itu akan mendera kita.  Jadi semakin berbobotkah makna Injil yang harus disertai dengan kuasa ? secara lebih hal yang terkait dengan kemujaraban. Segala kuasa merujuk kepada kuasa kebangkitan, hal yang diingatkan secara tertulis dan penggenapan mujizat ini yang harus diberitakan (Fil 3:10). Akan kuasa kebangkitan, kuasa pemberita Injil dan kuasa pertobatan inilah yang menyertai orang percaya setelah dengan kuasa yang tertulis itu menjadi genap. Wahyu Alkitab adalah kuasa dari pekerjaan Roh kudus yang sepertinya menjadikan iman Kristen sama dengan iman agama lain ? Sebuah penjelasan menjadi jelas dalam menuntun kita keyakinan dari yang bersumber dari Roh Kudus Allah perihal wahyu tertulis  sebagaimana tertera dalam pengakuan iman  baptis 1689  “Hakim tertinggi  dimana semua perselisihan agama (keyakinan) harus diputuskan  dan semua keputusan dewan,  pendapat para penulis kuno, ajaran manusia , dan ucapan-ucapan Roh melaui orang perseorangan, harus diperiksa , dan dengan patuh keputusanNya wajib kita terima, tidak lain adalah Roh kudus, yang bersabda dalam Alkitab(Mat 22:29, 31, 32; Ef 2:20, Kis 28:23) .

Kuasa dalam susah dan senang, apakah maksudnya itu ?

Maka sekarang terkait dengan makna kuasa, yang bisa jadi menjauh dari pengenalan pribadi guna menjadi murid, jelasnya sukar untuk dipahami. Problem kita dalam merenungkan ini adalah gagal untuk memahami. Jadi inilah ketiadaan kuasa itu. Dengan ini kuasa menjadi melekat, bahwa kesaksian itu adalah tentang Kristus. Rupa-rupa mujizat yang saat itu, memang menjadi penggenapan. Sekarang adalah kuasa itu, yang dalam segala keadaan itu meneguhkan Kristus sebagai sumber utama. Penyataan Allah berkenan karena kuasa Roh kudus. Jadi memang bisa ditebak, bahwa sepertinya kuasa hanya pada saat itu ? hal yang sepertinya menjadi sangat mengecilkan karena terjadi pada suatu masa saja. Akan tetapi kita paham betul dan seturut kehendak Roh kudus, mengingat perkataan kristus menjadi kesaksian. (kol 3:16)

Kita menjadi paham dengan sumber pengetahuan Alkitab, keseluruhan tulisan yang diilhamkan Allah (2 Tim3:16) dan otoritas kuasa tersebut mencukupkan sebagai pengetahuan. Jadi kuasa menjadi pengetahuan ? jelas bukan kesitu. Ada sebuah ketidaksanggupan untuk mengetahui dan mengenal Allah yang ada pada diri manusia, maksudnya ini jelas pengetahuan yang diwahyukan Roh Kudus seturut kesaksian fiman yang ‘mengikatnya’ dan ketidaksanggupan itu adalah ketiadaan kuasa. Masak sih ? ketiadaan kuasa adalah ketiadaan mujizat ? ketiadaan aksi-aksi yang mujarab dan spektakuler tersebut. Allah sanggup dan bukankah klaim yang ada “oleh-oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” pengenalan kepada Allah tentu disertai dengan penunjukan yang spektakuler tersebut.

Maka baiknya kita juga membaca dari keseluruhan kisah itu ada. Menjadi sangat-sangat spesifik ketika kuasa Roh kudus itu, selalu memberi pengetahuan tantang Allah akan karya-karya mujizat yang dibuatnya. Akan tetapi ketika justru ada kesusahan dan penindasan, apakah diartikan ketiadaan kuasa dan kalaupun dianggap sebagai pribadi tentu menjadi pribadi yang tidak berkuasa. Karena sungguhpun menjadi sebuah perenungan untuk mengenal Allah dalam sebuah pengecualian.

Perihal yang ditegaskan sebagai pengetahuan terlebih lagi dengan sangat intens. Tapi justru aspek itu yang diabaikan, maksudnya diabaikan ? tidak ketara sebagai penegasan yang seharusnya. Kuasa menjadi penyertaan Allah dan bentuk lain dari yang serupa sebagai bergantung dan berserah kepada Allah.

Jadi adakah susah juga dalam apa yang dialami Paulus , petrus dan rasul-rasul lain adalah kuasa Allah juga (kis 9:16; Rm2:9) ? tidakkah ini justru menjadi berbeda dengan yang sekarang kita hadapi ? pribadi Roh kudus yang mengingatkan akan pribadi Kristus dalam penyertaan pribadi Bapa. Sebuah pokok dari hal yang pribadi. Hal yang tidak mungkin bisa dipahami oleh iman agama yang mati.

Dalam pengertian akan Roh Kudus sebagai pribadi, dengan sangat khas sebagai wahyu Allah yang dinyatakan kepada kita, dinyatakan untuk kita selalu menjadi murid yang bergantung kepada Allah. Maka tidak ada penjelasan untuk doa dan percakapan pribadi yang ditujukan kepada Roh kudus. Dengan sesadar-sadarnya ini bukan pengabaian akan yang pribadi. Sebagaimana pernah sebuah buku seakan menjadi sebuah wahyu yang mencengangkan.  Mengapa mencengangkan ? karena sanggup bercakap-cakap dengan Roh kudus sebagai sungguh dalam itikad dan kelakuan yang manusiawi. Hal yang justru lebih banyak dengan pemaksaan penglihatan dan kesan positif. Sangat jauh untuk menegaskan akan pemberitaan Injil yang mengalami penderitaan (2 kor 6:4;7:4; Fil 3:10;Kol 1:24)

Pokok yang bisa disimpulkan:

Pertama, Mempelajari Roh kudus adalah mengenal Allah sendiri betapa jelasnya menjadi sebuah pengajaran. Mengenal akan Allah yang pribadi adalah juga mengingat akan perkataanNya (Yoh16:13).  Dengan ini perihal Roh kudus yang pribadi membawa pengenalan yang pribadi bagi diri kita secara pribadi, melalui firman Kristus. Menjadi tertulisnya kesaksian perkataan kristus bagi kita.

 

Kelanjutannya dari mengenal Allah ketika menyusuri bukit-bukit dan tempat-tempat guna Injil terberitakan untuk tempat-temat yang rasanya sukar. Maksud yang selalu ingin bergegas untuk Allah dimuliakan, dengan ini InjilNya terberitakan, semoga. Tidak ada pengupayaan dan kebajikan tertinggi yang bisa diupayakan manusia. Jadi yang membawa pengenalan adalah seturut wahyu. Mungkinkah tanpa Allah sendiri ? sebuah kepribadian untuk menyatakan akan Allah yang pribadi tersebut. Injil yang memang dan tetap harus diberitakan dari penyataan akan pribadi Allah. Tindakan ini, sesuangguhnya dalam iman menarik kita untuk mengenal Allah. Termasuk ketika kesungguhannya dalam melihat, meyakini dan mempermasalahkan untuk upaya Injil yang terberitakan yang rasanya sukar untuk beberapa tempat tertentu. Dalam kondisi dan masanya benarkah ini sebuah bagian dari rencana Allah dimana pengenalan juga adalah pemberitaan ?  masa yang sangat pribadi sekali untuk dijalani.

 

Bayangkan penggenapan dari pengenalan Kristus tanpa pribadi Roh kudus yang menginsafkan dan menyertai kita ? menjadi jatuh  hanya pada sebuah agama yang yakin penginsafan itu tanpa korban yang dari Allah. Pokok-pokok ini menjadi khas dan dituliskan dalam ilham Roh kudus, dituliskan kemudian untuk kita. Karena penggenapan dan iman percaya kita bagi Kristus. Menuliskannya secara tuntas dan memberitakan apa yang tertulis tersebut. Mnjadi bagian dari ini adalah sebuah ajakan untuk semakin memuliakan Dia. Kita tidak melihat kristus akan tetapi karya iman dari Roh kudus yang membuat kita percaya.

 

Sebuah masa yang sebenarnya dipenuhi oleh “kemudahan”. Ketika tidak lagi sendirian, karena pengenalan kepada Allah dengan umatNya yang juga terlibat dalam pemberitaan Injil tersebut. Maka kemudahan itu juga disertai dengan kesusahan-kesusahan. Pribadi yang mengungkap Kristus, lebih dari sekedar hembusan angin yang menjadi ciri dari apa yang namanya ruach tersebut—lafal yang digunakan oleh akar keyakinan yudaisme yang pasti menyangkali kemesiasan Kristus.

 

Kedua, Dinamika Roh kudus adalah ‘kuasa’ yang sekalipun tidak dikecilkan membuat kehendak dan kebebasan Allah, karena penyertaan Allah ini kita mengalami hal yang paling tidak mengenakan pun tetap dalam rencana Allah. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm8:28). Jadi kekristenan itu menjadi kecil ketika kita tidak mengecap segala sesuatunya dalam penyertaan dan pemeliharaan Allah. Tidakah pokok-pokok ini  ditegaskan sebagaimana lazimnya hanya sebagai ‘berkat biasa’. Karenanya kita menjadi sadar betul, betapa berbicaranya pokok-pokok ayat menjadi penegasan pengajaran bagi kita. Maksudnya ? ada sesuatu yang otentik yang mencirikan pribadi Allah. Allah yang harus dimuliakan dalam segnap hidup kita. Dinamika Roh kudus adalah pemeliharaan yang ilahi dari Allah untuk Allah dimuliakan. Kita menjalaninya untuk Allah dimuliakan !

 

***

Menangkap pesan ini membuat kita paham akan kesedihan Kristus (mat 26) Saat-saat terakhir yang justru mengungkap banyak hal dan kelanjutan dari Kristus yang memang akan terus menyertai, sekalipun ada kesedihan dan berbagi dukacita, karenaNya Roh kudus menyertai kita.

Perihal yang pribadi tentang murid-murid bersama dengan Dia, justru mengungkap akan pengenalan kepada Allah. Adalah pertolongan dari Roh Kudus, sebagaimana hakekatNya dan kita dianugrahi pengertian akan hal ini yang membawa kepada pengenalan yang pribadi kepada Kristus. Kita diingatkan selalu akan perkataan sang Firman, Kristus. Dengan penjelasan yang sangat pribadi ini justru pengenalan kepada Allah menjadi terang. Terang yang sungguh bahwa kita disertai oleh karena penyertaan Allah Tritunggal.

 

Akhir April, 2016

JPS

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑