easter03

(seri eksposisi terkait “Getsemani” Mt 26:36-46, Yh 14:15-31,  16:4b-15)

 

Pengajaran dalam iman percaya kita adalah mengenai Allah, perihal mengenai Allah adalah berada dalam pengertian yang harus diajarkan dan bersifat pokok. Pengajaran itu didapat dalam salah satunya yang mengajarkan ketika saatnya adalah Kristus akan menyudahi, maksudnya ? kristus akan menuntaskan dengan kematian di kayu salib dan juga kebangkitanNya,  akan tetapi justru para muridnya tetap tidak paham. Menarik dan sangat pokok bahwa bagian dari pengajaran ini ketika kita membaca berurutan justru berada ditengah (Yoh 14), bahkan berada diakhir (Mat26:36-46;Mrk14:32-42;Lk22:39-46). Tidakkah seharusnya bersifat pengajaran awal ? karena bersifat pengenalan, bersifat pokok sekali untuk mengenal Allah. Akan tetapi itulah pegajaran ini sebagai sebuah kisah dan pengajaran ini menyentuh hal yang sangat mendalam, menyentuh hal yang bersifat pribadi dari Allah yang berkenan hadir.

Saat terakhir inilah yang justru dipakai. Padanan yang kita ambil dari Yohanes ini tidak kita dapatkan dalam penjelasan di injil sinoptik lain, injil yang menjadi kisah hidup Kristus yakni matius, markus dan Lukas. Hal yang menjadi jelas adalah; bahwa murid tidak akan ditinggalkan ada  yang tetap bersama dengan para murid tersebut. Hal ini yang membuat kita bisa bertanya, Pertama kita bisa membaca bahwa secara keseluruhan mengapa tema ini justru berada dibagian agak akhir ketika justru menyatakan dari Allah sendiri. Sebagian kita menjadi sudah mengenal dengan pengertian akan Roh Kudus. Lazimnya tentu sebagai sebuah kelanjutan dari Allah yang harus menyatakan diriNya, menyatakan pribadiNya (Kel 14:4, 17, Mzm 77:14, Yoh1:18;2:11).

 

Kedua, dengan sangat luas kita bisa terhubung dengan kondisi yang sudah lazim dari pengenalan kepada kristus, dengan terbiasa kita sudah melihat dalam kenyataan bahwa Roh Kudus adalah Roh yang ‘menjiwai’ para murid dan seterusnya para murid itu menjadi lazim untuk dikenal akan yang menjadi sumber utamanya, perihal Kristus dan pengenalan kepadaNya sebagai sumber utama. Roh kudus membuat orang sadar siapa murid Kristus yang dijiwainya itu.

Mengapa lazim ? karena yang dikaitkan selalu dengan Roh kudus ini adalah; keramaian dan keriuhan. Karena seakan bagian dari momen ini yang harus menjadi tanda. Maksudnya jelas tanda dari Roh kudus ini menjadi tanda yang dikedepankan. Seakan tanpa tanda ini dianggap tidak ada Roh kudus. Maka ketika Roh kudus adalah perihal ‘menjiwai’ para muridNya Kristus memaklumatkan pengenalan kepada Kristus. Hal itu dianggap terlalu ‘mendasar’ dan lazim. Maskudnya ? hal yang dianggap mengecilkan, karena haruslah disertai kuasa. Perihal kuasa ini yang selalu dikedepankan, maksud dari kuasa yang dikedepankan menjadi jelas dan terlihat sangat demonstrativ, sangat dikedepankan dan dinampakan. Karena dengan jelas-jelas bahwa itu tertulis.

Maka, ketika membawa  pengenalan yang sesungguhnya kepada Allah, kita justru mendapati pengenalan yang sangat pribadi. Jadi apa yang paling pribadi jika tidak melalui hal  ini ? penelusuran-penelusuran yang lain diluar wahyu Alkitab—sebagaimana Roh kudus yang mengingatkan akan perkataan Yesus, untuk juga dipakai  (Yoh 14:26).sesuatu yang pribadi yang diwahyukan adalah sesuatu yang mengingatkan, maksudnya kita menerima begitu saja akan hal yang diingatkan kepada kita ? perkataan yesus menjadi otoritas untuk kita tidak bisa melalaikan.  Maka dengan perkataan ini kita mengenal siapa yang mengatakannya. Sesuatu yang tetap dan akan sangat pribadi.

***

Sekarang adalah tema tentang “perjanjian baru” ketika pribadi, yang dalam hal ini akan sifat dan kerja dari Roh Kudus adalah “penghibur” (Yoh 14:26;15:26; 16:7). Apa gerangan selanjutnya yang seakan menjadi cerita duka ? menjadi sesuatu yang sangat membutuhkan penghiburan, karena keadaan apa yang membutuhkan penghiburan ini ?  Menjadi menarik bagi kita,  seakan kebutuhan penghiburan adalah kebutuhan pokok yang berada dalam situasi yang tidak mengenakan, tapi apakah itu akan berlangsung terus ?

***

Hal yang justru nyata-nyata dalam perikop ini adalah “damai sejahtera” (Yoh 14:27-31) sesuatu yang terkait ketika Kristus menjelaskan; kata ini kalau coba-coba ditelusuri memang menjadi perlambang dari hadirnya Roh kudus tersebut. Mengenai yang ini tentu berdasar dengan  ini “damai sejahtera kutinggalkan kepadaMu”( yoh 14:27), saat yang memang tidak terpisahkan akan tetapi justru seakan dalam perpisahan bahwa para murid ditinggalkan dengan damai sejahtera, bagaimana bisa ? ini jelas menjadi sebuah cerita pribadi yang membawa pengertian.

Jadi roh kudus adalah roh damai sejahtera. Sangat pribadi sekali akan makna yang didapat. Menjadi pribadi adalah sosok pembawa damai sejahtera tersebut. Kata damai sejahtera adalah “erirene” hal yang memang melekat dengan pengertian ini adalah tentang firman (kis 10:34) dan firman itu bersumber dan adalah pribadi melampaui permulaan karena berkenan telah menjadi manusia—selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh justru penolakan kepada firman. Kita haruslah paham disini sebuah “eirene” yang bersumber kepada Kristus. Bersumber karena berasal dari firman tersebut.  Damai sejahtera itu yang selalu diingatkan dalam surat-surat pengembalaan. Bersifat pribadi dari damai sejahtera yang ditinggalkan Allah, dengan maksud bahwa Allah tetap menyertai.

Adakah makna yang berubah dari penghibur ? sang penghibur sejati justru mengingatkan akan perkataan kristus. Ketika berbicara mengenai penebusan sangat jelas, penggenapan bagi kristus. Terang injil dalam kristus. Sementara seakan ‘mengecilkan’ kita bisa tahu kelanjutan karya penebusan adalah Kristus akan tetapi ‘penghibur” ini , maka seakan kita jadi paham akan berita dan kondisi yang  mengakibatkannya, yakni  kondisi duka yang dialami.  Penghibur ada karena adanya kedukaan. Bagian yang dengan sangat lugasnya berada dalam pengertian akan “penghibur” yang juga “menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:7-11). Inilah penghiburan itu.

Gereja yang mengaku percaya sejatinya dituntun oleh kemutlakan Roh penghibur ini, ada banyak kaitannya dengan perkataan kristus. Disaat itu para murid tidak paham, karena kita membacanya dari matius 26 dan penjelasan yohanes 14 ini adalah penjelasan yang justru ‘pribadi’. Hal yang pribadi menjadi sangat mulia karena menjelaskan mengenai Kristus sebagai pribadi dan kelanjutannya. Sebuah kelanjutan karena sesuai dengan hakekatnya kristus kemudian yang dinayatakan akan “menyertai sampai akhir jaman” (mat 28:20).

Jadi penghiburan menjadi pokok karena penyertaan sang Kristus dan Roh kudus dalam memuliakan Bapa disorga sebagaimana diingatkan kembali bahwa Kristus yang tuntas memuliakan Allah. Sebagaimana dimengerti Allah memuliakan diriNya dan berkenan memakai diri kita yang disertai Roh kudus Allah. Teologi mendasar sebagai pengetahuan tentang Allah yang menuntun kita dari pribadi Allah penghibur yang menyertai kita. Orang percaya menjadi tergugah dengan pengetahuan ini. Pengetahuan mengenai Tuhan Allah yang menuntun dan memerdekakan (Rm8:2)

Sekarang dimana “kuasa” itu menjadi bagian dari penjelasan akan Roh penghibur (parakletos), kita sadar sekali ini berbagian dan pokok dalam mengenal Allah. Garis besarnya tetaplah Allah yang akan menyertai kita. Penghibur seakan itu menjadi hal yan primer. Hal yang memang sangat pokok. Apa yang pokok untuk kita ketahui sebagai kebutuhan ? itu mnjadi terpinggirkan. Kita jadi trcegang seberapa butuh kita pnghiburan ini.

Makna “dunamis” sangat  melekat ketika kita mengetahui, bahwa ini bersoal tentang mujizat, hal yang dijanjika sebagai kuasa oleh Kristus sendiri. aKan tetapi kita mengenalnya sebagai “dinamis” dan “dinamika” atau sesuatu yang ‘meledak’ untuk artian dari dunamis  yakni benda “dinamit”

Menjadikan  Roh kudus hanya sebatas kuasa

Membuat Roh Kudus yang justru adalah esensi dari pengenalan kepada Allah sendiri menjadi hanya sebatas kuasa, justru mengecilkan ketika hanya “dinamit” yang dimaksud adalah letupan dan ledakan. Daya tarik kepada kuasa inilah adalah  bukan “aliran dari air hidup…”(Yoh7:38) sesuatu yang berdasar dari iman percaya kita, karena dikerjakan Allah.

Sekarang kita menerimanya sebuah pengajaran yang harusnya membawa pengealan kepada Kristus, ayat pengenalan ini yang sebenarnya sangat jelas. Akan tetapi lazimnya kuasa akan terus dan tidak terhenti. Pengajaran Roh kudus yang justru membukakan adalah kekuatan atau kuasa. Tidakkah seharunya berbicara tentang kuasa pengenalan ?

Tulisan dan petunjuk pengenalan kepada Kristus yang tidak mengenal Dia sebagaimana maksudnya semula, terkait dosa dan penginsafan kita, jelasnya tidak berasal dari Roh Kudus. Pengajaran yang sangat pribadi dari kristus kepada muridnya ini seakan tertutupi. Kemeriahan sebagai tanda roh pertobatan dan Kristus dalam maksudnya yang semula jelas menjadi berbeda dan bisa jadi asing.

Kita seakan telah membuat ini menjadi lain, karena otoritas wahyu itu adalah karena Roh kudus, kehadiran Allah yang tetap menyertai kita. Menjadi jelas bahwa otoritas itu bagi kita. Jadi apa yang memang sungguh-snggug menjadi pertanyaan ? sungguh-sungguh membuat kita ingin mencari tahu.

Berharap roh kudus mempertobatkan, menjadi sangat rohani memang. Dalam setiap detil  dan pokok yang kita bisa baca, kita menemukan dengan sangat prinsip sekali. Saat-saat pribadi bersama para murid adalah saat-saat yang bersifat pengajaran. Saat yang menyatakan kepada pengenalan akan Allah sendiri. Kita akan diberkati dengan ini.

***

Perenungan kita menjadi semakin dalam, setidaknya saya mengajak untuk itu. Karena berkenalan dengan pribadi adalah mengenal pribadi itu sendiri. Pribadi yang membawa kita untuk mengenal pribadi, kita menjadi mengenali pribadi tersebut. Memang seakan menjadi ‘pelik’ karena selalu untuk diingatkan bahwa ini adalah membawa pengenalan kepada Allah. Dan sepertinya menjadi teramat sangat bertele-tele, mengingat rumusan pengenalan kepada Allah dalam kesatuannya adalah firman. Lantas bagaimana dengan ketritunggalan ? sekedar rumusan keyakinan ?   Kita berkeyakinan tentang ketritunggalan Allah karena itu diwahyukan oleh Rohkudus, jadi sungguhkah pengenalan ini yang dinyatakan kepada kita ? lantaran kuasa justru menyatakan kepada Allah yang sesungguhnya harus dikenal. Yang terjadi dan sangat pokok adalah pengenalan kepada Allah tersebut. Pengenalan akan pribadi ketritunggalan Allah yan suci dan seturut wahyu yang kudus.  Roh kudus yang penghibur memberi wahyu dan pengenalanNya. Roh kudus pribadi Allah yang menyatakan kekudusan Allah. Kekudusan dari sang Firman, Kristus anak Allah.

Apa yang terjadi sekarang dengan ketiadaan kuasa ? sebuah buku menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah Roh pemberitaan Injil, kuasa itu adalah susah dan senang dalam pemberitaan Injil, ketika saya bisa mengartikannya lebih. Ketika kita dalam segala kondisi memang selayaknya menggunakan secara verbal, sesuatu yang diutarakan, sesuatu yang dikomunikasikan.  Bahkan sekarang sudah menjadi lazim akan kata-kata yang bertuah dan kuasa. Tanpa kuasa Roh kudus jelas ketiadaan pengenalan itu akan mendera kita.  Jadi semakin berbobotkah makna Injil yang harus disertai dengan kuasa ? secara lebih hal yang terkait dengan kemujaraban. Segala kuasa merujuk kepada kuasa kebangkitan, hal yang diingatkan secara tertulis dan penggenapan mujizat ini yang harus diberitakan (Fil 3:10). Akan kuasa kebangkitan, kuasa pemberita Injil dan kuasa pertobatan inilah yang menyertai orang percaya setelah dengan kuasa yang tertulis itu menjadi genap. Wahyu Alkitab adalah kuasa dari pekerjaan Roh kudus yang sepertinya menjadikan iman Kristen sama dengan iman agama lain ? Sebuah penjelasan menjadi jelas dalam menuntun kita keyakinan dari yang bersumber dari Roh Kudus Allah perihal wahyu tertulis  sebagaimana tertera dalam pengakuan iman  baptis 1689  “Hakim tertinggi  dimana semua perselisihan agama (keyakinan) harus diputuskan  dan semua keputusan dewan,  pendapat para penulis kuno, ajaran manusia , dan ucapan-ucapan Roh melaui orang perseorangan, harus diperiksa , dan dengan patuh keputusanNya wajib kita terima, tidak lain adalah Roh kudus, yang bersabda dalam Alkitab(Mat 22:29, 31, 32; Ef 2:20, Kis 28:23) .

Kuasa dalam susah dan senang, apakah maksudnya itu ?

Maka sekarang terkait dengan makna kuasa, yang bisa jadi menjauh dari pengenalan pribadi guna menjadi murid, jelasnya sukar untuk dipahami. Problem kita dalam merenungkan ini adalah gagal untuk memahami. Jadi inilah ketiadaan kuasa itu. Dengan ini kuasa menjadi melekat, bahwa kesaksian itu adalah tentang Kristus. Rupa-rupa mujizat yang saat itu, memang menjadi penggenapan. Sekarang adalah kuasa itu, yang dalam segala keadaan itu meneguhkan Kristus sebagai sumber utama. Penyataan Allah berkenan karena kuasa Roh kudus. Jadi memang bisa ditebak, bahwa sepertinya kuasa hanya pada saat itu ? hal yang sepertinya menjadi sangat mengecilkan karena terjadi pada suatu masa saja. Akan tetapi kita paham betul dan seturut kehendak Roh kudus, mengingat perkataan kristus menjadi kesaksian. (kol 3:16)

Kita menjadi paham dengan sumber pengetahuan Alkitab, keseluruhan tulisan yang diilhamkan Allah (2 Tim3:16) dan otoritas kuasa tersebut mencukupkan sebagai pengetahuan. Jadi kuasa menjadi pengetahuan ? jelas bukan kesitu. Ada sebuah ketidaksanggupan untuk mengetahui dan mengenal Allah yang ada pada diri manusia, maksudnya ini jelas pengetahuan yang diwahyukan Roh Kudus seturut kesaksian fiman yang ‘mengikatnya’ dan ketidaksanggupan itu adalah ketiadaan kuasa. Masak sih ? ketiadaan kuasa adalah ketiadaan mujizat ? ketiadaan aksi-aksi yang mujarab dan spektakuler tersebut. Allah sanggup dan bukankah klaim yang ada “oleh-oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” pengenalan kepada Allah tentu disertai dengan penunjukan yang spektakuler tersebut.

Maka baiknya kita juga membaca dari keseluruhan kisah itu ada. Menjadi sangat-sangat spesifik ketika kuasa Roh kudus itu, selalu memberi pengetahuan tantang Allah akan karya-karya mujizat yang dibuatnya. Akan tetapi ketika justru ada kesusahan dan penindasan, apakah diartikan ketiadaan kuasa dan kalaupun dianggap sebagai pribadi tentu menjadi pribadi yang tidak berkuasa. Karena sungguhpun menjadi sebuah perenungan untuk mengenal Allah dalam sebuah pengecualian.

Perihal yang ditegaskan sebagai pengetahuan terlebih lagi dengan sangat intens. Tapi justru aspek itu yang diabaikan, maksudnya diabaikan ? tidak ketara sebagai penegasan yang seharusnya. Kuasa menjadi penyertaan Allah dan bentuk lain dari yang serupa sebagai bergantung dan berserah kepada Allah.

Jadi adakah susah juga dalam apa yang dialami Paulus , petrus dan rasul-rasul lain adalah kuasa Allah juga (kis 9:16; Rm2:9) ? tidakkah ini justru menjadi berbeda dengan yang sekarang kita hadapi ? pribadi Roh kudus yang mengingatkan akan pribadi Kristus dalam penyertaan pribadi Bapa. Sebuah pokok dari hal yang pribadi. Hal yang tidak mungkin bisa dipahami oleh iman agama yang mati.

Dalam pengertian akan Roh Kudus sebagai pribadi, dengan sangat khas sebagai wahyu Allah yang dinyatakan kepada kita, dinyatakan untuk kita selalu menjadi murid yang bergantung kepada Allah. Maka tidak ada penjelasan untuk doa dan percakapan pribadi yang ditujukan kepada Roh kudus. Dengan sesadar-sadarnya ini bukan pengabaian akan yang pribadi. Sebagaimana pernah sebuah buku seakan menjadi sebuah wahyu yang mencengangkan.  Mengapa mencengangkan ? karena sanggup bercakap-cakap dengan Roh kudus sebagai sungguh dalam itikad dan kelakuan yang manusiawi. Hal yang justru lebih banyak dengan pemaksaan penglihatan dan kesan positif. Sangat jauh untuk menegaskan akan pemberitaan Injil yang mengalami penderitaan (2 kor 6:4;7:4; Fil 3:10;Kol 1:24)

Pokok yang bisa disimpulkan:

Pertama, Mempelajari Roh kudus adalah mengenal Allah sendiri betapa jelasnya menjadi sebuah pengajaran. Mengenal akan Allah yang pribadi adalah juga mengingat akan perkataanNya (Yoh16:13).  Dengan ini perihal Roh kudus yang pribadi membawa pengenalan yang pribadi bagi diri kita secara pribadi, melalui firman Kristus. Menjadi tertulisnya kesaksian perkataan kristus bagi kita.

 

Kelanjutannya dari mengenal Allah ketika menyusuri bukit-bukit dan tempat-tempat guna Injil terberitakan untuk tempat-temat yang rasanya sukar. Maksud yang selalu ingin bergegas untuk Allah dimuliakan, dengan ini InjilNya terberitakan, semoga. Tidak ada pengupayaan dan kebajikan tertinggi yang bisa diupayakan manusia. Jadi yang membawa pengenalan adalah seturut wahyu. Mungkinkah tanpa Allah sendiri ? sebuah kepribadian untuk menyatakan akan Allah yang pribadi tersebut. Injil yang memang dan tetap harus diberitakan dari penyataan akan pribadi Allah. Tindakan ini, sesuangguhnya dalam iman menarik kita untuk mengenal Allah. Termasuk ketika kesungguhannya dalam melihat, meyakini dan mempermasalahkan untuk upaya Injil yang terberitakan yang rasanya sukar untuk beberapa tempat tertentu. Dalam kondisi dan masanya benarkah ini sebuah bagian dari rencana Allah dimana pengenalan juga adalah pemberitaan ?  masa yang sangat pribadi sekali untuk dijalani.

 

Bayangkan penggenapan dari pengenalan Kristus tanpa pribadi Roh kudus yang menginsafkan dan menyertai kita ? menjadi jatuh  hanya pada sebuah agama yang yakin penginsafan itu tanpa korban yang dari Allah. Pokok-pokok ini menjadi khas dan dituliskan dalam ilham Roh kudus, dituliskan kemudian untuk kita. Karena penggenapan dan iman percaya kita bagi Kristus. Menuliskannya secara tuntas dan memberitakan apa yang tertulis tersebut. Mnjadi bagian dari ini adalah sebuah ajakan untuk semakin memuliakan Dia. Kita tidak melihat kristus akan tetapi karya iman dari Roh kudus yang membuat kita percaya.

 

Sebuah masa yang sebenarnya dipenuhi oleh “kemudahan”. Ketika tidak lagi sendirian, karena pengenalan kepada Allah dengan umatNya yang juga terlibat dalam pemberitaan Injil tersebut. Maka kemudahan itu juga disertai dengan kesusahan-kesusahan. Pribadi yang mengungkap Kristus, lebih dari sekedar hembusan angin yang menjadi ciri dari apa yang namanya ruach tersebut—lafal yang digunakan oleh akar keyakinan yudaisme yang pasti menyangkali kemesiasan Kristus.

 

Kedua, Dinamika Roh kudus adalah ‘kuasa’ yang sekalipun tidak dikecilkan membuat kehendak dan kebebasan Allah, karena penyertaan Allah ini kita mengalami hal yang paling tidak mengenakan pun tetap dalam rencana Allah. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm8:28). Jadi kekristenan itu menjadi kecil ketika kita tidak mengecap segala sesuatunya dalam penyertaan dan pemeliharaan Allah. Tidakah pokok-pokok ini  ditegaskan sebagaimana lazimnya hanya sebagai ‘berkat biasa’. Karenanya kita menjadi sadar betul, betapa berbicaranya pokok-pokok ayat menjadi penegasan pengajaran bagi kita. Maksudnya ? ada sesuatu yang otentik yang mencirikan pribadi Allah. Allah yang harus dimuliakan dalam segnap hidup kita. Dinamika Roh kudus adalah pemeliharaan yang ilahi dari Allah untuk Allah dimuliakan. Kita menjalaninya untuk Allah dimuliakan !

 

***

Menangkap pesan ini membuat kita paham akan kesedihan Kristus (mat 26) Saat-saat terakhir yang justru mengungkap banyak hal dan kelanjutan dari Kristus yang memang akan terus menyertai, sekalipun ada kesedihan dan berbagi dukacita, karenaNya Roh kudus menyertai kita.

Perihal yang pribadi tentang murid-murid bersama dengan Dia, justru mengungkap akan pengenalan kepada Allah. Adalah pertolongan dari Roh Kudus, sebagaimana hakekatNya dan kita dianugrahi pengertian akan hal ini yang membawa kepada pengenalan yang pribadi kepada Kristus. Kita diingatkan selalu akan perkataan sang Firman, Kristus. Dengan penjelasan yang sangat pribadi ini justru pengenalan kepada Allah menjadi terang. Terang yang sungguh bahwa kita disertai oleh karena penyertaan Allah Tritunggal.

 

Akhir April, 2016

JPS

Advertisements