Charles Spurgeon dan Secangkir Teh Sebagai Penghangat Siang yang singkat…

Charles SpurgeonSaya tidak ingin terlibat lebih banyak, tetapi ada yang tetap mendorong untuk diketahui. Percakapan yang mengetengahkan tentang identitas, sesuatu yang konon tetap menjadi penting.

Charles spuregon ?

“yeah, He is genius”

Melewatkan sebuah masa dan kurun waktu maka kita akan berkenalan dengan sosok yang menyertakan sebuah semangat yang menjadi banyak panutan. Siang itu tidak ada percakapan yang lain. Juga ketika tetap harus diketahui bahwa jaraknya sudah sangat terentang panjang.

Apa sebab ? disebuah kurun waktu keantusiasan untuk beribadah menjadi sangat kentara, hal yang tentu tidak didapati dalam kondisi sekarang ditempat spurgeon berada. Sebuah momen dari terbakarnya  gedung ibadah dimana spurgeon berkotbah, menajdi penjelasan akan keantusiasan dari orang-orang saat itu, bahwa Spurgeon lalai dalam memperhatikan keselamatan dari orang-orang yang entah pengunjung dari sebentuk penganan kerohanian dari mimbar dimana Spurgeon berkotbah, atau sungguh terlibat sebagaimana pelayanan yang berdedikasi. Bukankah di era sekarang lebih banyak pengunjung itu, bahkan menjadi sangat tidak penting untuk menyambangi ketika ‘hiburan’ dan pemenuhan akan yang rohani bisa didapatkan dengan diam ditempat.

Akan tetapi. Sebentar ! Tidakkah atau masakan spurgeon hanya berkotbah sendiri ? Bisa dipahami dengan keantusiasan yang tinggi  ketika memang dianggap tidak ada hiburan yang lain ? Maksudnya  ? Dengan jelas pada era spurgeon, pengkotbah yang dengan bulat-bulat diterjemahkan sebagai “pengkotbah rakyat” itu. Kerumunan masa yang mendatangi tersebut dianggap terjebak pada kondisi ketiadaan ‘hiburan’ ?

Kondisi dari wilayah dunia yang berbahasa inggris. Dimana iman Kristen dianggap telah banyak membantu dalam perubahan. Maka identitas iman menjadi kelayakan untuk spurgeon muda mengalami pergumulan yang sungguh total. Warisan anglo-saxon dan kemunculan gerakan kemurnian dalam warisan iman Kristen, telah membuat spurgeon dalam keresahannya menginginkan kemurnian tersebut. Pertobatan diusia belia dan jarak pendidikan yang membuatnya tidak masuk ke jenjang seminari. Membuat dia dengan keawamannya tersebut yang bukan rohaniawan menjadi sangat terdidik dan mumpuni untuk otodidak menjadi seorang komunikator.

Pesan yang sangat lugas dan kontribusi charity-nya mengalir. Pilihan sebagai warisan kemurnian non-comformist membuat spurgeon ikon dari keantusiasan rohani, sekaligus juga olok-olok dunia Kristen berbahasa inggris pada masanya yang dianggap sangat konservatif alias sangat kaku.

Beberapa buku spurgeon telah banyak diterbitkan kedalam bahasa Indonesia, juga sebuah seloroh yang pernah dilontarkan akan kerohanian spurgeon ketika foto dirinya, lebih tepat gambar visual dirinya yang sedang menghisap cangklong rokok. Tunggu-tunggu bukankah itu tanda ketidakrohanian ? Hal yang justru menambahi beban kesehatannya, spurgeon wafat diusia 57 tahun.

buku spurgeon 2

Dengan ribuan kotbah bertemakan dan berasaskan warisan Reformasi Calvin dari metropolitan tarbenacle-nya di pusat kota London dan juga dukungannya pada hampir semua misi yang tidak didanai anggaran Negara, mengingat era kolonialisme saat itu.  Menjadi manusiawi untuk mengenal spurgeon yang pernah mengalami depresi dan efek kebakaran hebat yang menghanguskan bagian gedung dari tempat dia rutin berkotbah.

Sebuah sisi manusiawi dari pengkotbah yang bergumul dan tidak menjadikan previlese khusus untuk dirinya, mengingat ada yang mengemukakan jika spurgeon sangat spesial. Karena hampir seminggu, menulis tema dan menyusunkotbah dan menerbitkannya dengan nyaris hampir 6 edisi bersamaan perminggu, kebayang sehari 1 dan membaca untuk berkorespondensi dengan banyak utusan misi.  Sebuah telaah yang berada dalam tingkatan akreditasi teologis yang suka meneliti dan mengkaji pernah dikemukakan terkait  makna ortodoksi teks Alkitab ? wow ?* bukan hanya pengkotbah rakyat akan tetapi juga cendekiawan yang berdiri atas pangkal doktrin anugerah tersebut. Sebuah kontribusi yang membuat spurgeon agak abai dengan kesehatan dirinya, tampaknya, juga jauh dari kesanggupan untuk memperkaya diri sendiri.

Apa yang jenius dari tokoh rohani tersebut ?

Jika bisa dipertegas sebagai sebuah pertanyaan untuk kemudian beroleh jawaban yang memuaskan, dan lagi dimana kejeniusan itu  jika dikaitkan dengan lagi-lagi hanya soal iman percaya ?

Tersiar kabar juga untuk dipahami bahwa pengkotbah spurgeon ini melawan perbudakan. Kepemilikan budak dikalangan rohaniawan Baptis selatan, kalangan yang tentunya berbahasa inggris juga, membuat spurgeon kehilangan simpatik dan dukungan. Hal yang memang cukup pelik, mengingat hak asasi yang mendasar dan selalu terpikir dalam kondisi kita, kok bisa ada perbudakan ? menjangkiti para rohaniawan kristen kulit putih ini, hal yang tidak bisa bahkan sukar untuk diperhalus; meskipun dianggap sekedar pekerja domestik tetap keasasiannya yang mendasar telah dilanggar. Karenanya Spurgeon sangat mendukung Reformator sosial dari william wilberforce yang sangat moncer dan intens untuk hal yang dianggap sangat tidak memadai untuk iman percaya yang bukan hanya dimasa mereka.

buku spurgeon 3

Kita bisa mendapati kotbah-kotbahnya yang tertulis dengan sangat luas dari situs-situs ini http://www.spurgeon.org/, juga arsip dan tayangan video kisahnya, hingga film dokumenter tentang dirinya.

Kembali ke siang dengan pilihan untuk minum teh dengan seorang yang dari belahan bumi lain. Dibandingkan dengan kopi, jelasnya sebuah kejeniusan yang dimaksud juga adalah kelurusan sikap. Bagaimana spuregon pada era sekarang ? Ketika pilihan dan hiburan menjadi banyak. Baiknya kita siapkan minum teh yang lain !

 

JPS

*penjelasan  lanjut dari telaah krtis seorang pengkotbah sekaliber Charles Spurgeon yang harusnya hanya melayani tenang sebagai pendeta dengan ortodoksinya bisa dilihat disini http://www.standardbearers.net/uploads/New_Testament_Textual_Criticism_Ministry_CH_Spurgeon__JET__2014.pdf Hal yang menempatkan Spurgeon dalam telaah lanjut bahasan teologi dengan standar kritis dan tetap terkait dengan pelayanan penggembalaannya. Hal kritis yang tidak membuang iman injili dengan doktrin anugerahnya tersebut.

Advertisements