Religion Nature and Truth

I. Harus Diakui Permulaan Itu Berdasar Pada Anugerah !

Apa yang menarik ketika membahas keyakinan, hal yang telah lazim dan menjadikannya punya peran hingga menyatakan salah satu bagian yang menjadi identitas. Menarik untuk membandingkan dari pengisahan-pengisahannya, karena umumnya telah tersaji secara cerita atau kisah. Mengisahkan dalam peran untuk menjadikannya jelas akan kehidupan itu sendiri.

Penggalan dari cerita yang mengaitkan manusia dengan hal-hal yang menjelaskan tentang berkuasa dan berwenangnya atas kehidupan. Bahwa kemudian cerita tersebut menjadi wahyu yang selanjutnya mendasari untuk menjadi tatakelola manusia. Mengurai, melepaskan dan membuat objek tentang bahasan anugrah dalam hal, ketika bahasan tersebut, lebih dari sekedar asumsi; bahwa anugrah tidaklah mungkin menjadi bahasa agama. Agama tidak bertaut dengan anugerah dengan menjadi permulaan dalam mengaitkannya ketika tema akan agama yang tidak bertaut dengan anugerah itu diperluas.

Tidakkan bisa ! Asumsi yang mengetengahkan akan agama dalam asumsi Berger sebatas menjadi ‘sacreed canopy’ sebuah tudung dari penunjukan akan identitas dimana tetap dibutuhkan dalam kecanggihan dan modernitas itu sendiri. Ada sebuah sisi yang tidak terjelaskan dan agama cukup transenden untuk ‘sekedar’ mengisi. Agama tetap hadir dalam modernitas dan sebuah era dari kecanggihan. Agama tidak selesai, ketika yang terkubur dengan tabu dan dianggap misteri telah terungkap .

Lantas anugerah, menjelaskan kebaikan tetinggi dan pengertian pemberian. Karenanya manusia yang mengetengahkan tentang anugerah harus berurusn dengan pengertian-pengertian yang dianggap tidak ‘terbukti’ atau memenuhi ketentuan dari sebuah bukti. Sebagaimana agama sekedar memaknai untuk mengisi akan kebutuhan terhadap transendensi tersebut.

Moralitas, keyakinan dan pesoalan mendasar.

Persoalan mendasar untuk tidak mengakui anugerah, kerap diletakkan pada persoalan keyakinan. Seakan dimampukan untuk merendahkan dan mencibir bahwa hal yang bergerak dari keyakinan adalah bergerak dari pemahaman tentang pembuktian hal yang mengukuhkan perihal “moralitas”—meletakkan pada sisi kebaikan atau hal yang dianggap “bajik”, “mulia”. Argument moralitas menjadi tersendiri untuk tetap menunjukan bahwa Allah dan sisi kebaikan yang kita lihat adalah menunjukan tentang diriNya. Tetapi seberapa jauh ketika realita dan faktanya, justru ada hal yang tidak bermoral, hal yang jauh dari penerimaan kebaikan.

Permulaannya memang seakan menjadi pertanyaan, sekaligus menjawab. Ketika yang memulai justru berpangkal pada jawaban anugerah. Problematika yang disederhanakan dari jawaban anugerah, dengan selalu menyadari kompleksitas—hal yang terkait dan beragam, hal yang kompleks yang seakan ‘penyederhanannya’ didapat oleh agama.

Akan tetapi sisi kebaikan dari kompleksitas permasalahan justru didalam perwujudannya seakan tidak menyederhanakan dari kebaikan tersebut. Apa yang pada kandungannya sebagai penilaian kebaikan dari ruwetnya permasalahan yang dilami sesorang ? Tidak bisa diabaikan bahwa selalu saja ada masalah, hal yang tidak terpecahkan baik kita mengupayakan ataupun menuntutnya. Sisi baik dengan pengertian bahwa itu menandakan akan aspek moral dari keberadaan kita yang punya salah. Selalu menimbulkan pertanyaan Dengan tidak terelakan kita menyadari akan yang salah tersebut, kerangka bernasyarakat yang melindungi kita dari berbuat dan bertindak salah dengan pelarangan melalui konsekuensi. Lazim memaknai ini sebgai aturan dan norma, membatasi ketika kesalahan itu merugikan dan berdampak tidak berkenan kepada banyak orang. Jelas bukan anugerh melainkan kerap dimengerti sebagai hukum.

Dalam masyarakat menjadi nampak dan pengaturannnya memilki konsekuensi dan membatasi. Makna anugerah menjadi tidak dapat ditindaklanjuti, karena respon dan pandangan umumnya akan perbuatan yang mendapatkan ganjaran. Pengupayaan dalam pemberlakuannya adalah setiap orang menjadi obyek hukum .

Pertanyaan selanjutnya akan mengerucut pada permasalahan-permasalahan yang dianggap mengganggu dan tidak umum. Seseorang dan invidu-individu yang memilki permasalahan. Permasalahan kita menjadi sangat beragam, permasalahan dengan kondisi ketika apa yang dialami dimulai; cuaca menjadi tidak cocok, hal yang biasa menjadi tidak biasa, jalanan lengang yang biasa kita lalui sekarang menghadapi perbaikan yang membuat kita akan tersendat dalam berjalan. Permasalahan mencakup sisi penghidupan dan ekonomi, dari kecukupan-kecukupan yang ada, kompleksitasnya yang sangat meluas. Sungguhkan kita harus meniadakan permasalahan ? dengan tetap hadirnya keyakinan, eksis pada keyakinan itu dan maksud yang berperan adalah anugerah yang dipahami.

***

Kompleksitas dari sisi kebaikan tentunya menjadi agak rancu ketika diyakini, permasalahan adalah sisi baik yang juga melekat. Apa baiknya ? Dengan mempertegas ketika memang harus mempertanyakan ketika justru ketidakbaikan yang dihadapi, dengan ini kompleksitas dari ketidakbaikan.

Mempertajam dengan pengertian moral sebagai yang baik, maka penilaian diri kita sebagai yang bermoral seakan menuntut sebuah kelayakan dalam diri kita. Tuntutan kebaikan untuk menegaskan aspek moral yang ada. Dan inilah agama sebagai mengasumsikan sesuatu yang bermoral tersebut.

Hal yang dididentikan agama menunjuk kepada hal berkeyakinan. Dan permasalahan manusia harus dijawab dengan moral tersebut, harus dijawab dengan hal yang diidentikan sebagai keyakinan tersebut. Pengantar sederhana dari hal yang tidak bisa diabaikan, betapa kebaikan yang diuapayakan berurusan dengan anugerah sebagai pertanda dari ketidakmampuan.

Uraian dari permasalahan manusia yang membutuhkan jawaban dari keyakinan. Melihat dari kompleksitas permasalahan suungguhkah agama menjawab ? juga perlunya untuk dipahami ketika hal yang sama anugerah dalam kaitan dan hal apa ? sungguhkan agama menjadi penunjukan akan yang ultim ? Allah yang keberadanNya yang mendapati pengenalannya justru pada kebaikan manusia dan menjawab komlpleksitas permasalahan. sisi komplesksitas ini menjadi argumen yang disadari akan permasalahan yang tidak dimudahkan dengan problem beragama.

Sehingga, bermula dari anugerah menjawab kompleksitas dari permasalahan yang dialami. Anggapan anugerah yang berangkat dari bahasa agama. Sisi baik dari permaslahan manusia, adalah sisi baik yang terkait bahwa manusia diluar dari anugerah—spesifik pada hal yang tidak bisa diupayakan manusia tersebut.

Tuntutan moral dari kebaikan tidak bisa diupayakan manusia, dengan mendasari sebagai sebuah pernyataan. Tuntutan dalam menyadari apa yang dalam anggapanannya baik, bahwa manusia haruslah tetap berupaya untuk selalu baik. Ini menjadi awal dalam bergerak dan mengembangkannya, permasalahan akan kompleksitas dengan ini agama merespon terhadap yang kompleks. Tidak akan menjadi sederhana dan tetap menarik.

Klaim sebagai keyakinan.

Tidak bisa diartikan lain bahwa ini berangkat dari asumsi, karenanya hal yang juga terkait dengan keyakinan tersebut, mengasumsikan dalam berkeyakinan perihal anugerah yang jelas-jelas tidak akan bisa diupayakan. Bagaimana masa depan dari keyakinan itu sendiri ? Apa yang akan terjadi dari waktu kedepan ketika klaim-kaim dari keyakinan dianggap sudah tidak memadai ? Dan anugerah bertumpu pada penjelasan spesifik dari lebih sekedar persepsi bahasa agama dan penjelasan berkeyakinan, sebagai serangan yang acapkali; bahwa bertumpu sekedar pengupayaan yang tidak dari kemampuan manusa, sekalipun menjelaskannya hanya dalam bahasa yang dapat dimengerti hanya perihal berkeyakinan. Bahasa yang acapkali dianggap hanya pada penjelasan beragama perihal anugerah.

Titik yang bermula sekalipun untuk menganggapnya sebagai kesamaan dengan obyek akan agama itu sendiri. Perihalnya beragama, beberapa ulasan yang mengkritisi seperti menyamaratakan semua keyakinan, akan bakunya dalam istilah yang akan sering digunakan adalah formalnya keyakinan yang disebut sebagai agama tersebut; ataupun meletakkanya pada sebuah pengaturan akan tata kelola beragama dengan tetap hanya mengakui pada yang “resmi”. Permasalahan yang lain ketika agama tetap saja ada dan apa yang menyatakannya, bobot dari agama tersebut, tidaklah berdasar kepada pengertian sebagai anugerah.

Adakah sebuah era dari pasca-agama , dimana pertentangan dan penolakan agama ataupun segala hal yang tidak dapat dijelaskan melalui kerangka dari pengertian-penegrtian dan prinsip yang dianggap nyata. Seakan menjadi sebuah era dari terbebasnya manusia menuju taraf yang empiris dan nyata menjadi penjelas dari segala sesuatu. Misteri yang telah terungkap, dimana jikalau masih ada dan belum terungkap adalah kekuarangan dari daya dan upaya manusia sendiri.

Jika memulai dari anugerah, maka obyektifikasinya menjadi terduga hanya sekedar mempromosikan sesuatu yang memang sudah baku. Akan tetapi menariknya dengan anugerah dalam proposisinya menyatakan dan berhubungan dengan banyak hal dan terkait dengan realita yang ada.

Referensi

Peter L Berger “The sacred canopy, elements of a sociological theory of religion” Anchor books 1969

Phlip Yancey “Keajaiban kasih karuia”, Interaksara 1999

Philip Yancey “Menemukan Tuhan ditempat yang tidak terduga” Interaksara 2000

Richard swinburne”The existence of God” OUP 1979

                                                         (Hal. 3-8)

 

catatan

Info pemesanan 0838-9495-4900, harga Rp 45.000 (print fisik & ongkir)

Hibah bagi lembaga dan perpustakaan publik yang punya bahasan atau katalog krtik agama atau filsafat agama. 

Advertisements