*uraian edisi Nopember 2013

(Hal yang didapat dari Roma 5:17)

Mengenal Allah melalui doktrin anugerah, seakan mengecilkan bahwa Allah yang melampaui dan biasanya kita mengenal sebagai wahyu dari Allah yang menyatakan diriNya dimengerti dari ketidakmampuan manusia. Maka sekarang hanya dengan pengertian ketidakmampuan manusia tersebut dianggap mencukupkan dan juga menjadi pembeda,  yang untuk dianggap menjelaskan secara keseluruhan sebagai Allah Alkitab ? Allah yang dinyatakan oleh Alkitab—sumber dari pengertian kita.  Ayat yang menegaskan, dan terkesan menjadi kecil ini  berasal dari ayat  Roma 5: 17 . Dimana  terkait sebagai penjelasan mengenai sejarah. Apa yang harus kita ketahui adalah tentang kita yang berdosa. Pengenalan Allah dalam hal ini dan sejarah kita yang terpisah karena dosa oleh Adam. Sejarah untuk kita mengenal maut dari dosa tersebut (Rm 5:12)

***

Prinisp anugerah adalah melihat hal ini, hal  yang sepertinya mengecilkan. Doktrin anugerah, kerap dikenal dalam istilah yang ‘import’ —terhubung dengan istilah yang merangkum akan 5 pokok calvinism, bukan tata pelayanan dengan model hervorm calvinis belanda yang menjadi ciri kekristenan kolonial yang justru dikaitkannya tidak esensial !? Maka dengan ini kesetiaan kita pada pengertian bukan pada istilah, karena semacam kekuatiran akan jejaknya yang ‘import’, apalagi dianggap terhubung dengan kolonial atau penjajahan. Sehingga penjelasan menjadi tertera nyata, kata anugerah dalam arti dan tertera literal adalah sangat sedikit didapati, akan tetapi jelas terhubung kepada pokok yang utama yakni; Kristus. Pokok  yang memegang peranan terutama dan terpenting dalam iman percaya—sesungguhnya karena membuat tidak ada yang bisa datang kepada Allah, kecuali Allah yang terlebih dahulu. Paulus menjelaskan hal yang jadi pembanding secara sejarah. Dan anugerah itu tertuju kepada Kristus. Hal yang dari Allah dan adalah Allah sendiri.

Dengan Doktrin anugerah kita melihat kepastian keselamatan yang membenarkan, dengan ini kepastian yang menuntut kita untuk “berbuat baik”. Prinsipnya “bukan perbuatan baik yang membenarkan kita, melainkan kita dibenarkan oleh iman  kepada Kristus untuk berbuat baik” sesuatu yang memandang pada korban Kristus dalam kematian dan kebangkitannya.(Rm 3:24,28; Gal 2:16-17)

***

Lalu kita harus serius menggumuli hal ini. Keselamatan dengan mengetahui keberdosaan, keselamatan yang dihinggapi dengan sadar akan kesia-siaan hidup yang dijalani (mzm 94:11;108:1;pkh 1:2;Rm1:21), “menjadikan maut telah berkuasa”  . Maka dalam Kristus, itu permulaan sebagai yang sulung (Rm 8:29; 1kor 15:20), Adam  yang ‘kemudian’ yang oleh-Nya kita diselamatkan dari kesia-siaan dan maut tersebut (Rm 5:14-15, 1 kor 15:45). Karenanya anugrah menjadi pemerolehan keselamatan dalam permulaanNya untuk hanya Kristus yang membenarkan, permulaan yang bersifat kekal, permulaan yang menghidupi dalam kenyataan kita hidup; permulaan dari kita sadar diciptakan sebagai manusia baru (Ef 2:15; 4:24) permulaan yang indah yang kita mendapati “selalu baru,..sebab itu aku berharap padaNya” (Rat 3:23-24). Sadar akan hal ini adalah kebenaran dalam dan hanya Kristus sebagai anugerah yang dari Allah. Apakah Kritus itu ? Anugerah ! siapakah Kristus ? Anugerah Allah.

Tidak ada kebenaran tanpa anugerah, tidak ada kebenaran tanpa mengenal sejarah untuk seharusnya kita mengetahui  kebenaran  akan keterpisahan dari Allah. Tidak ada kebenaran  tanpa dosa dan kesia-siaan hidup yang sadar itu diluar dari firman yang menjadi manusia, yakni Kristus (yoh 1:1,4,16) . “Kalam” sang khalik adalah Kristus, Dia terang yang dari Allah. Karena Allah yang berkehendak hadir.

Karenanya pengertian mengenai anugerah menegaskan akan Kristus. Sehingga pengertian anugerah diluar Kristus adalah sebuah kebohongan. Pengertian itu khusus dan hanya untuk Kristus. Berpaut hanya kepada Kristus untuk kita mengetahui bahwa diri kita beroleh pembenaran. Penjelasan dari yang ‘secuplik’ tersebut yang menegaskan akan pokok anugerah  adalah menjelaskan hal ini. Pengertian itu khusus dan hanya untuk Kristus. Berpaut hanya kepada Kristus untuk kita mengetahui bahwa diri kita beroleh pembenaran. Penjelasan dari yang ‘secuplik’ tersebut yang menegaskan akan pokok anugerah  untuk menjelaskan hal ini. Secuplik yang terlihat kecil.

Ketika sepertinya Kristus disederhanakan hanya pada pengenalan dan keselamatan dari dosa, sesungguhnya itu bukanlah hal yang sederhana. Itulah anugerah, seorang yang terlalu canggih dan yakin dengan perilakunya tidak akan bisa melihat ‘kesederhanaan’ ini. Iman percaya bukan masalah sederhana melainkan masalah anugerah. Sehingga makna yang didapat tentang “dibenarkan” dalam Kristus untuk ‘berbuat baik’ adalah melihat dalam keutuhan pengenalan  Allah yang agung, tetunya karena anugerah kita bisa mendapatiNya. Pengenalan akan Kristus dalam prinsip anugerah berbuah pada tindakan—disini hal tersebut dijelaskan. Tidak ada yang terputus dan memisahkan mengenai ini.  Kita menjadi bagian yang dalam Kristus kita dimampukan.

Terbesit selalu bahwa pembeda yang dalam Kristus adalah mengerti dari khususnya anugerah tersebut. Kristus yang ‘permulaan’ dan Kristus yang terutama harus menjadi yang mendasari pengertian kita. Adanya sebuah penambahan seakan membuat menjadi kesan, tapi  karena yang mendalam adalah tentang pengertian maka dengan Kristus adalah pengertian dan itu mencukupi untuk tidak adanya penambahan untuk membuat sesuatu yang menambahi kesan. Adalah terjadi karena tidak yakin dengan kecukupan berita Kristus yang ‘permulaan’ dan Kristus yang mendasari.

Dengan doktrin anugerah kita melihat dosa, adalah ketidakpercayaan yang diwariskan ?  Inilah hal mengenal Allah dan sungguhkah ketidakpercayaan ini melekat dalam diri kita ? sebuah pilihan dianggap bisa mengaburkan karena iman percaya kita yang tersisa. Seakan itu menjadi yang tersisa dan bisa diandalkan. Paulus sungguhpun sempat ragu, akan tetapi melihat yang utuh sebagai dirinya yang berdosa, “celakalah aku siapakah yang dapat menyelamatkan…” (1 Kor 9:16) dengan melihat adanya respon “syukur…” mengapa karena berbagian dalam surat ini.

Ketidakpercayaan tentunya menyangkali Allah. Ini bertumpu dan menjadi ringkasan dari begitulah kita membangun kehidupan dan menyatakan bahwa diri kita dengan yang ada selalu, jika ditegaskan adalah penyangkalan yang memang ada pada kita,  maka terlebih lagi berurusan dengan Allah adalah menjadikan ”…tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Rm 3:11b) dengan lebih lanjut berbuah kepada “keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan dijalan mereka”(Rm3:16); ditegaskan sebagai penjelasan mengenai dosa. Sebuah keberadaan kita dengan ketidakpercayaan yang sudah ada dan seumur dengan setiap kita yang pernah ada ini—hal yang bisa dibayangkan tentunya jika hal ini dianggap bodoh dengan memberi penilaian bahwa ketidakpercayaan dan penyangkalan menjadi ‘melekat’ dan diwariskan kepada kita. Karenanya apa yang diteguhkan sebagai kejatuhan kita adalah keterpisahan kita dengan Allah. Dimana ini juga dinyatakan, sebagai penyangkalan kita dapati  dalam banyak hal sebagai penjelasan dari keterpisahan tersebut, penjelasan akan kejatuhan kita. Kejatuhan yang karenanya kita menyangkal Allah.

Kita yang menyangkal Allah harus mau mengakui ini ! Kita, jika hidup dalam iman percaya sekarang, mengakui pernah berada dalam kondisi ini.  Betapa sulit mengakui dan tampaknya seperti menyederhanakan. Apa yang paling mengkhawatirkan adalah prinsip sederhana tentang kejatuhan yang seakan gagal dalam melihat permasalahan. Pokok dari kejatuhan tersebut dengan tetap menegaskan akan manusia yang tidak dengan sendirinya. Manusia yang harusnya bertanggung jawab kepada penciptaNya. Nilai manusia yang telah jatuh apa artinya ini ? Tidakkah dia bisa bangun lagi ? sebuah kemanusiaan yang diletakkan  mengapa harus melihat kejatuhan manusia? Banyak hal yang bisa dimunculkan dan menjadi pertanyaan mengenai hal ini.   Akan tetapi kedalaman pengertian kita biar bagaimanapun, dilatih dengan nalar yang paling kritis sekalipun, harusnya diletakkan dengan dasar ini. Akan sangat berbuah jika dibangun dengan dasar ini. Dengan dasar pengertian akan keterpisahan kita terhadap Allah pencipta kita.

***

Doktrin anugerah memiliki uraian untuk juga mengenal akan Allah yang menjadi khusus. Kekhususan untuk menjamin orang percaya didalam Kristus. Jadi akan halnya yang khusus sebagai dasar yang tidak didapati dari yang lain, ketika kita berupaya maka satu-satunya yang menjadi berita bukan warisan yang diimpor, hal yang terkait sebagai penjelasan mengenai sejarah  menjadi penjelasan yang khusus dan mencukupi mengenai Kristus, juga menyadarkan akan ketidak percayaa kita.

Doktrin anugerah memuliakan Allah. Jika ini menjadi penjelasannya maka pastilah kita akan selalu dan sedang dalam pengenalan akan Allah, mengapa ? karena  ketika kita percaya hanya melalui Kristus kita dibenarkan. Sebuah kutipan yang dengan sangat sembrono pernah diutarakan bahwa “…yang lama telah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang…” hal itu sungguh berani dikatakan ketika terhubung dengan sebuah partai politik yang beriklan. Mengapa berani memberikan penilaian sebagai penilaian yang sembrono ? karena pastilah menjauh dari pengertian yang dimaksud. Dalam pengertian dasarnya menjadi dikeruhkan, sebagaiman hal yang mengeruhkan dari pokok dasarnya akan doktrin anugerah yang bukan warisan kolonial.   Jadi, doktrin anugerah jelasnya mengecilkan ? kekeruhan dari warisan kolonial, menantang pergumulan untuk kembali kepada yang memurnikan, salah sangka yang sudah terlalu lama membutuhkan tuntunan Roh Kudus. Karena ada yang bukan warisan kolonial.   Pujian hanya bagi nama Allah dalam keagungannya karena kita mengenal dan bertumbuh dalam pokok ajaran anugerah.

JPS

Advertisements