Search

Jann'sektarian'__ nehh Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Month

August 2016

Tentunya memang bukan sesuatu yang baru ketika hadir dalam konteks keindonesiaan dan iman kristen dianggap hal yang luar dan bisa berhadapan dengan aqidah ajaran dalam rumusan yang bisa bertentangan. Sekedar menegaskan akan iman sebagai penyertaan pribadi ? Dan tentu pemulihan untuk percaya akan iman kepada sang Kalam, Kristus ! Sesuatu yang merasa memulihkan dengan ortodoksi ajaran itu memang harus berhadapan dengan kondisi yang ada.

Jann'sektarian'__ nehh Blog

Reformed yang selam ! Ngapain Lagi ?

dont hate me because Im Reformed baptist

Inisiasi Reformed sebagai penjelasan identitas adalah, laku keimanan yang memperbaharui kondisi diabad 16, sebuah masa dibelahan bumi sana; tepatnya di eropa, dimana agama yang mendominasi, yakni agama gereja yang dirasa dan dilihat ‘terlalu belok’ dan oleh para penginisiasi Reformasi–kerap disebut para “Reformator”,  diyakini perlu ada pembaharuan untuk sesuai dengan azas dari identitas dan kembali “lurus”.

Pembaharuan terkait dominasinya itu, semakin berkembang. Dan dalam prinsip “Sola Scriptura”, sebagai bagian dari sola-sola yang lain, kita mengenal dan mengetahuinya dengan 5 Sola. Adalah padanan dengan Alkitab.

Laku ‘agamanya’ terkait dengan sangat mendasar yakni salah satunya dari pangkal yang menunjukan tentang makna itu secara harafiah. Dasar dari tulisan ini mencoba menghadirkan dengan menguatkan sebuah identitas yang mendasar ketika tetap persoalan itu dianggap sebagai kebutuhan pokok, apa yang bisa disebut sebagai kebutuhan pokok dari masalah terkait dengan identitas ? Hal yang rasanya tidak aneh, ketika sekarang mencuat, yaah

View original post 744 more words

Advertisements

948192_10264907062015_ruangpublik160911-1

Secuil ruang publik yang sedikit maksa. 

Ruang publik (public space) meminjam pengistilahan dengan penjelasan Wikipedia ini adalah ruang sosial yang terbuka dan terakses untuk orang. Karenanya juga menjadi bahasa yang umum dan meluas, dengan lebih lagi Wikipedia ini menjelaskan bahwa ruang publik bukanlah tempat kumpul  (gathering place).

Maka apa yang ‘diatur’ wikipedia dengan bahasan yang cukup luas tersebut  menjelaskan definisi-definisi yang lain. Setidaknya ketika sadar kita ada dan perlu bukan semata dari individu-individu.Maka ruang terbuka yang tanggung tersebut, mengingat tidak ada ukuran yang pasti akan ruang yang terbuka dan terakses, menjadi perlu untuk ‘dipaksa’. Yaah bisa lapangan olah raga, yaah bisa sekedar kumpul melingkar. Unsur pemaksaan inilah yang bisa menjadikan dua hal; baik pemaksaan dengan ‘otoritas’ warga sendiri atau otoritas ‘penguasa’ secara lokal.

Mempertahankan ruang terbuka dan terakses itulah yang dirasa sebagai basa-basi terlebih jika dianggap sebagai dan sekedar fungsi sosial. Akan tetapi ruang publik sangat berperan dalam identitas yang lain, selain yang utama 1470202983253memang fungsi sosial. Berfungsi apa ? mmmhhh bagaimana jika ruang publik tersebut berfungsi sebagai penunjukan identitas. Terutama untuk identitas olah raga yang memang sekedarnya ini ? Maka inilah yang dirasa perlu. Kekuasaan untuk menghadiran ruang publik tersebut. Sebenarnya tidak terlalu baru dan bisa jadi sesuatu yang latah untuk warga bisa terlibat. Ruang  terbuka, yang selalu ditandai dengan ruang yang juga asri dan outdoor kerap melabelkan sebagai “ruang terbuka hijau”. Sebagai yang lazim akan tetapi niat yang tanpa pamrih ini yang seharusnya juga lazim.

Hal yang privat–sesuatu yang berlawanan dengan publik ketika dikembalikan kepada ruang terbuka tentu menjadi tidak lazim dan membutuhkan kesediaan dari yang berotoritas. Atas nama ruang basa basi ini, kita memberi kerelaan untuk senggang. Akan jauh ketika hal ini berhubungan dengan beberapa bahasan filsafat sekaliber Harbermas dengan teori “public sphere”, hal yang lebih dari sekedar konstruksi bangunan atau fisik. Tapi percayalah ini cuma soal petakan yang secuil dan berharap bisa menjadi ruang publik, ruang bersama yang basa-basi itu.

 

JPS

 

Lapangan Tanggung “Palamanis Serong”…

1470202983253

Lapangan itu, eks-anggota DPR yang menohok, Gerbang kota kabupaten dan  siapa yang menginisiasinya ?

*Tentang pemugaran lapangan warga dan mempertahankan ruang publik

Lapangan adalah sarana kewargaan dan bukti bahwa itu diperuntukan dan dalam kesediaan warga untuk beraktifitas, yang standar tentu sepakbola dengan agak menciut menjadi futsal, juga yang telah lama adalah bola volley. Maka ketika itu tidak ada bisa menjadi pertanyaan juga apakah warga dan penghuninya ada ? wow kasar sekali ?! Akan tetapi penanda ini menjadi penting,    setidaknya sudah tergantikan dengan anak-anak yang akan memfungsikannya.

Inilah yang terjadi, sebuah niat untuk memfungsikan kembali lapangan warga .’Petakan’ tanah kosong yang terletak di jalan sena V dan jalan yang tidak terlalu diakui tapi tertera dengan wisnumurti I lingkungan palamanis dan komplek Bekang 1469841798588tersebut mengalami pengalihan fungsi untuk dikatakan tidak hilang sebagai lazimnya lapangan tanggung.  Maka niat gotong royong warga, juga kenangan sebagian dari penghuni disekitaran lapangan harus diwujudkan, manakala lapangan adalah berfungsi kembali sebagai lapangan.  Karena itu kenangan dan niat bertemu dengan panitia yang berharap bisa mengerjakan dengan rampung, cepat dan difungsikan. Alhasil agak lama dan tetap saja bisa rampung yang sungguh sayangnya tidak difungsikan ketika sarana warga dalam perayaannya yang sangat ketahuan yakni; tujuh belasan, dimana hal ini justru tidak terselanggara. Venue yang ada untuk hajat meriah bersama malah tidak terjadi, seputar event-event ‘kolosal’ dari jatuh-jatuhan dikarung, hingga kita tahu bahwa kelereng masih berfungsi juga kerupuk terasa lain jika terhidang dengan tali. Sesuatu yang memang ‘baku’ khas perayaan warga, akan tapi justru alpa bersama lapangan yang telah terwujud tersebut.

Kembali ke lapangan yang terwujud tersebut. Tak ada korporasi (baca: perusahaan) yang terlibat ketika ketahanan warga sanggup memberdayakan. Ancang-ancang yang besar ketika korporasi yang sedianya bisa memberi bantuan agak sulit dan kehilangan daya untuk warga berharap. Maka inisiasi lapangan itu menjadi menarik, mengapa menarik ? Karena kesanggupan untuk menunjukan identitas dari warga yang tentu membutuhkan ruang rehat bersama.  1469848602762Dengan sangat paham ketika 1469849291971sarana warga, tentunya juga lapangan  bisa diklaim. Siapa yang mau mengklaim sarana warga ? Berada disebuah wilayah dan juga ibukota kabupaten tentu, sekalipun tidak terlalu kerasa, menjadikan hiruk pikuk yang lumayan. Salah diantaranya adalah hiruk pikuk politik. Agak  silam memang, ketika janji-janji dalam kampanye telah diniatkan. Janji yang memang tidak besar, akan tetapi harapan untuk terlibat membantu lapangan tidak tersedia; akan halnya berbeda dengan janji yang dahulu, ini tentunya lebih kecil.  Bahkan untuk sekedar paham sedikit, juga agak menjauh.

“Tahu ngga gajinya sebagian besar para penghuni komplek itu berapa sekarang ? ”

Demikian diketuskan oleh seseorang eks anggota DPRD yang gagal jadi caleg level nasional. Ketika disodorkan proposal awal.   Maka lapangan yang telah menjadi identitas ini tetap menjadi dan bahkan telah berlangsung untuk warga, perihal keberlangsungan ini yang memang tersembunyi akan tetapi cukup ketara sebagai niat warga. Bahwa mantan anggota DPR lokal  yang menohok tersebut menjadikan selalu pertanyaan apa yang diupayakan dalam sarana kewargaan ? Hal yang memang dirasa terlalu kecil, setidaknya fungsi legislasinya dulu ketika seharusnya memfungsikan dan mempertahankan ikon-ikon ruang terbuka, sarana ‘rekreasi’ umum atau ruang rehat bersama tersedia pada land mark kota kabupetan, seharusnya ! 18072_photo Ini yang terjadi justru Mall premium yang berbarengan dengan Gerbang kabupaten pemda. Hal yang diidentikan dengan sentra niaga untuk menjadi penanda ? sebuah sarana yang memang tetap berfungsi juga untuk jalan-jalan dengan berpendingin ruangan. Maka disinilah kita mendapati sarana kewargaan yang kecil tetap perlu, hal yang sejatinya memang diupayakan oleh warga dengan minus pendingin ruangan tersebut.

Tersebut kisah mantan anggota DPR tersebut pernah berjanji lebih dengan tak terpenuhinya akan janji tersebut. Juga sedikit penurunan fisik yang membuat keengganan jauh apakah si mantan anggota DPR yang gagal untuk level yang lebih itu, acapkali menjadi sukar dipahami dalam tuturan katanya yang sewenang-wenang. Bahwa lapangan itu mendekati rampung, adalah inisiasi warga, 1470202966898hal yang menguatkan juga kesukaran dipahami; ketika sejatinya lapangan yang untuk warga memang untuk warga semata.

Jadi kalau eks anggota Dewan itu datang dengan janji dan ruang terbuka semakin tergerus, karena pemdanya yang abai dan tergantikan oleh sentra niaga nan megah berpendingan ruangan yang mungkin dianggap sebagai ciri khas kemajuan, kami tahu betul akan konsekuensinya untuk tetap punya kebanggan akan lapangan yang tanggung ini. Semoga kebanggan kami akan lapangan dan secuil taman sisa yang rencana  akan dipugar ini bisa menular kepada komunitas warga yang lain, dengan tambahan yang meramaikan mantan anggota DPRD yang gagal jadi caleg ke nasional dan dimaklumi ketika kata-katanya menohok. Serta tetap bertanya kebanggaan apa dengan sentra niaga premium digerbang kabupaten ketika DPRD dan pemetintah periode lalu terlibat ? sekali lagi sesuatu yang diinisiasi warga dan untuk warga semata. Hidup warga.  Titik !

Jann Pees

Cat.

Penamaan “Palamanis Serong” adalah sebutan dan inisiasi penulis sendiri dengan kontribusi total warga RT setempat. Tertarik dukungan untuk rencana lanjutan  pemugaran taman yang tanggung dari lapangan palamanis serong ini  hub. 0838-9495-4900

 

 

 

 

 

Mempertahankan ruang terbuka dan terakses itulah yang dirasa sebagai basa-basi terlebih jika dianggap sebagai dan sekedar fungsi sosial…

Tumpahan Ciliwung & Jogging Track  Buat Si Kurwo ?

 

1471305767220

BPLS ciliwung dan cisadane yang menggawangi perairan darat dengan 2 aliran sungai yang menggenangi bagian Jakarta. Jelasnya ada pasokan dengan situ-situ atau resapan. Akan tetapi apa hubungannya dengan situ gedong diwilayah bagian bekang antara kelurahan cibinong dan cirimekar ? Tapi itu tentu lain soal, mengapa dan harus ditilik dengan jelas bahwa aliran dari arusnya yang menetap, jelasnya tidak terhubung dengan brand nama yang menjadi unit pengelolaan sentra dari alat negara yang berurusan dengan 2 sungai yang kerap harus diperhatikan karena debitnya yang bisa menjadi masalah dimusim hujan, secara khusus tentu ciliwung. Akan tetapi tidak tersambung dan tetap tidak ada titik temunya dengan situ Gedong yang dipugar.

Kurwo tidak menganggap seuatu yang special, sekalipun Situ Gedong ada tempat berlari dengan paving block nyata-nyata dari beberapa hari setelah peresmian, tetap terkelupas bagian pasir pengerasnya, sekalipun tentu uji ketahanannya akan tetap berlangsung lama. Apa yang menarik dari sarana kewargaan yang kerap justru menjadi fasilitas yang menarik untuk pemasaran hunian mewah ? jogging track ! Ketersediaan tempat bejalan dan berlari santai, segera juga pemangsa jalanan; motor akan menggunakan. Apa artinya itu bagi kurwo warga di kampung dekat situ gedong yang lebih suka berenang dengan teman tetangganya yang tetap saja takut akan ular.

“Awas-awas ada ula lu “

“Iya yang ngeri ma ula welang”

Kurwo menyahut setelah sedikit terbawa arus.

Akan tetapi apakah pemugaran situ gedong hanya untuk bocah yang kerap kali ingusan sesudah berenang dibagian aliran Dam bawah situ gedong ? Jelas harus dipikirkan yang lain, dipikirkan kedepan. Betapa butuhnya akan ruang terbuka hijau ! Tentunya akan dihaturkan terima kasih, sarana eksresi dan rekreasi kewargaan yang sudah semakin sedkit dan kerap kali tidak murah untuk dikatakan tidak gratis ! Akan tetapi mengapa sub direktorat setingkat nasional berlabel dua sungai yang rasanya juga dibagian mana bertemu dengan aliran sungai ciliwung ?

“Wo cepet pulang wo, ngga hujan juga basah-basahan, ketahuan mandi di situ lu”

Kata seorang teman kurwo yang sudah cukup lama menjagai sendalnya kurwo yang berserakan diatas Dam. Bisa ditebak, kurwo pun ngacir !

JPS

Ortodoksi & pembiaran…

untitled-149

Hal yang telah terlewat. Mengapa ? Ada yang tidak disoal dengan penting . Berangkat dari akar kata, sejauh dari apa yang bisa kita lihat dan menemukan bahwa; orto & doksa, padanan yang pasnya memang bukan dari bahasa indonesia.

Sekarang dengan ajaran yang lurus tersebut, sesungguhnya apa yang ingin diketengahkan ?  Ortodoksi seakan hanya ingin mengetengahkan tentang keteguhan sikap. Maka, sebuah bagian lain dari sikap kisah  “Perumpamaan orang samaria yang baik hati” (Luk 10:25-37) tidak menyoal tentang ajaran, sebuah ketaatan yang memang tanggap. Belakangan ini menjadi menarik ketika kutipan seorang tokoh politik menyebutkan ‘artian’ dari  perumpamaan ini adalah negara yang menyediakan sebagaimana terwakili oleh orang samaria tersebut, tuntutannya pada entitas “negara”, entitas akan ‘state’, semacam kondisi baku dari kewilayahan yang terbentuk, dalamm hal ini mungkinkah administratif kekuasaan yang ada.

Pembahasan akan pengabaian seakan menarik, bahwa ada yang lain yang tersedia. Dengan deskripsi kecil bahwa program sosial bukan menjadi prioritas gereja, akan tetapi bukankah untuk  ini gereja itu hadir ?

Karenanya masih meyakinkan ketika suatu klaim berasal dengan ortodoksi, maka hal yang sekitar dalam perhatian dan kepedulian. Jadi ortodoksi tetap bisa berangkat dengan keteguhan sikap yang tidak mungkin dikontraskan dengan kepedulian kepada yang tersisih. Apa dasar ketika sebuah kesalehan social, hal yang menjadi moto wilayah administrative (baca: kekuasaan), secara khusus sebuah kutipan dari misi kabupaten bogor[1]. Dengan dipertanyakan tentu dasarnya ? Juga menjadi tantangan akan ortodoksi, atau keteguhan sikap akan keyakinan yang lain dalam hal ini gereja. Sebuah kehadiran yang kerap dipertentangkan dan dicurigai.

Ortodoksi menilik kepada hati, hati yang dipulihkan, sampai disini memang membutuhkan pengurain yang panjang juga hal yang terkait dengan ajaran yang diserap kedalam hati–waah bisa panjang memang! Jadi ortodoksi tetap bisa berangkat dengan keteguhan sikap yang tidak mungkin dikontraskan dengan kepedulian kepada yang tersisih. Apa dasar ketika sebuah kesalehan sosial tidak berangkat dari hati ? Tapi seyogyanya itu menjadi tanggung jawab “state”, akan tetapi soal “state” ini tidak berdasar pada keyakinan dan juga mengurusi dengan lebih jauh akan ortodoksinya.

Maka menjadi menggelisahkan ketika dua hal; negara atau “state”yang abai dan juga ortodoksi yang abai ? Ngeri memang !

 

Jann ‘sektarian’__nehh

 

 

 

[1] Hal yang mungkin menjadi terkait dengan kondisi sekitar dimana selalu didengungkan oleh Bupatinya https://www.bogorkab.go.id/index.php/post/detail/2837/bupati-bogor-ingin-peringatan-maulid-nabi-muhammad-harus-bisa-menghasilkan-dampak-signifikan#.V6c8ZxJ1TMw

 

 

Reformed yang selam ! Ngapain Lagi ?

 

dont hate me because Im Reformed baptist

Inisiasi Reformed sebagai penjelasan identitas adalah, laku keimanan yang memperbaharui kondisi diabad 16, sebuah masa dibelahan bumi sana; tepatnya di eropa, dimana agama yang mendominasi, yakni agama gereja yang dirasa dan dilihat ‘terlalu belok’ dan oleh para penginisiasi Reformasi–kerap disebut para “Reformator”,  diyakini perlu ada pembaharuan untuk sesuai dengan azas dari identitas dan kembali “lurus”.

Pembaharuan terkait dominasinya itu, semakin berkembang. Dan dalam prinsip “Sola Scriptura”, sebagai bagian dari sola-sola yang lain, kita mengenal dan mengetahuinya dengan 5 Sola. Adalah padanan dengan Alkitab.

Laku ‘agamanya’ terkait dengan sangat mendasar yakni salah satunya dari pangkal yang menunjukan tentang makna itu secara harafiah. Dasar dari tulisan ini mencoba menghadirkan dengan menguatkan sebuah identitas yang mendasar ketika tetap persoalan itu dianggap sebagai kebutuhan pokok, apa yang bisa disebut sebagai kebutuhan pokok dari masalah terkait dengan identitas ? Hal yang rasanya tidak aneh, ketika sekarang mencuat, yaah eksistensi akan identitas tersebut, tetap eksis yang penting dari siapa yang eksis tersebut. Sesuatu yang beroleh penyederhanaan memang, tetapi lazim ketika media sosial berkembang dan dianggap bukti dari eksistensi tersebut. Untuk bentuk keagamaan yang paling ekslusif pun tetap merasa perlu hadir dengan tampilan media sosial. Saksi Yehuwa yang suka menyimpangkan akhir jaman dan modofikasi dari Arianisme jadul yang anti Trinitarian pun eksis di facebook !

Tidakkah itu kemunculan disaat itu saja ?

Ini yang kerap jadi pertanyaan, pasalnya pembaharuan tindakan konversi keimanan (baca:pertobatan) dalam laku agamanya seturut dengan makna penyelaman diri yang harafiah, sesuatu yang dilakukan dan diniatkan sebagai baptisan selam (baptizein, baptis; tercelup) yang selalu bisa diperdebatkan dan kerap terpancing untuk itu.

Sebuah tindakan dalam iman percaya pribadi yang memang berakar, sementara  dalam pada itu, apa yang disebut sebagai tindakan radikal dalam gerakan Reformed atau pembaharuan tersebut. Adalah gerakan harafiah dari tindakan pembaptisan tersebut, sebagai tindakan konversi keimanan (baca:pertobatan). Karenanya sebagai sebuah tindakan radikal untuk tidak kompromi dengan ajaran lama.

Jadi Reformed selam semacam ingin kembali kepada ortodoksi ajaran yang bisa diketakan demikian ketika identitas menjadi penting, apa  yang dipahami sebagai identitas kewilayahan ketika periode setelah Reformasi, dimana setelah Martin Luther adalah Yohanes Kalvin, secuil gambaran dari beberapa tokoh terkemuka saja, dengan pelafalan yang jauh lebih pas dibanding lazim “John Calvin”  dalam rumusan keyakinan perihal Allah yang pribadi dalam pokoknya sebagai kemahakuasaan yang berdaulat. Hal mana terkait dengan pokok ajaran “predestinasi” penegasan ini memang yang lebih ketara oleh Yohanes Kalvin. Jadi sebatas cuma ini ? Ketika tendensinya hanya pada penegasan identitas dari ‘ritual’ keimanan penyertaan dengan secara harafiah wiliam carey baptismbaptisanpercaya ? Hal yang terkesan ingin me-mixkan 2 pokok prinsip ajaran. Sebagaimana diketahui seakan menjadi riwayat historis adalah identitas yang telah menjadi wilayah berkuasa dari saat itu, Reformed Geneva Kalvin dan beberapa wilayah lain, hal yang juga menyebabkan terjadinya pergolakan dan beberapa peperangan dalam kurun waktu itu.

Maka kemunculan pemberontakan kaum petani dalam kurun waktu setelah Luther yang justru tidak berbagian pandangan dengan Yohanes kalvin yang membakukan akan pokok ajaran tentang Reformasi dalam “institutio”, menjadi menarik akan Reformasi yang tidak utuh terkait dengan sisa warisan dari pemercikan bayi-bayi. akan tetapi jelas tidak dari sini itu dimulai, azas dari Reformed yang secara harafiah justru menjdi keniscayaan pada Reformasi kaum puritan Inggris raya terkait dominasi dalam wilayah publik karena pemberlakukan hukum agama.

Hal real yang telah dahulu dimunculkan terkait identitas dalam iman percaya ini karenanya dengan semangat akan pokok iman percaya yang pribadi dan tetap meyakini akan prisnip kedaulatan Allah menjadi pokok dalam persekutuan orang percaya. Landasan yang penting sebagai ‘separatis’, hal mana terpisah dari otoritas sipil baik juga otoritas kerajaan.

Jadi apa yang dilakukan oleh Reformed selam ketika memunculkan ini ? semakin membuat akan identitas menjadi urusan yang sangat kokoh dalam pertobatan pribadi untuk membangun jemaat bersama,  hal yang memang harafiah dari prinsip akan pemeliharaan Tuhan bagi umat pilihan dengan tanda penyataan diri akan baptisan percaya.

Hanya pada agenda ortodoksi ajaran atau adakah  yang lain ? 

Jadi apakah Reformed yang tidak selam kurang ortodoks ? menjadi tidak tegas akan pokok ajaran ? Disnilah menjadi kebergantungan pada pemeliharaan Tuhan oleh karena firmanNya, sebuah kebergantungan dan ketaatan untuk kita menjalankan. Disinilah menjadi menarik ketika menjalankan ajaran menjadi wakil Tuhan “terang dan garam” bagi realita sekitar. Sesuatu yang kembali berbagian dengan tugas seluruh orang percaya sebagai gereja yang kelihatan didunia ini–kutipan khas dari doktrin Kalvin tentang gereja.

Tidakkah prinsip kalvin untuk menegaskan akan pemercikan bayi sejalan sebagai kegenapan dari penggantian sunat ? pokok-pokok ini akan tetap bergulir dan kita bisa mendapati dengan lengkap dilaman ini http://www.reformedreader.org/history/list.htm. Sesuatu yang tetap beroleh penentangan dengan identitas dari Reformed Selam ini, yang selalu saja terkait dengan keabsahan sejarah dan penamaan beroleh respon balik. Reformed kok Baptis ? Hal yang sejalan dan kembali ke konteks saat itu ketika kalvin kurang tuntas.

Tentunya memang bukan sesuatu yang baru ketika hadir dalam konteks keindonesiaan dan iman kristen dianggap hal yang luar dan bisa berhadapan dengan aqidah ajaran dalam rumusan yang bisa bertentangan. Sekedar menegaskan akan iman sebagai penyertaan pribadi ? Dan tentu pemulihan untuk percaya akan iman kepada sang Kalam, Kristus ! Sesuatu yang merasa memulihkan dengan ortodoksi ajaran itu memang harus berhadapan dengan kondisi yang ada.

 

Jann’sektarian’__nehh

cat. sayangnya memang banyak situs dan laman yang tertulis dalam bahasa Inggris, sangat jarang dan agak sulit untuk dikatakan tidak ada yang berbahasa Indonesia. Beberapa ide, pemikiran (baca:teologia) dan identitas pelayanan yang terkait Teologia Perjanjian (Covenant Theologia). https://en.wikipedia.org/wiki/Covenant_theology

Entah penting atau tidak dan masih menyoal tentang identitas tersebut, menarik, sayang dalam bahasa inggris http://themelios.thegospelcoalition.org/article/the-abrahamic-covenant-in-reformed-baptist-perspective

 

 

 

 

 

Sangat Secuil Tentang Cessationist dan Continuanist itu…

Terkait sebagai praktek dan laku tindakan, maka kekristenan yang ngeroh itu, harus mengejawantahkan akan kerohaniannya tersebut.  Dan menjadi tidak mudah dan tidak sederhana memang. Apa maksudnya ngeroh ? yaah menegaskan akan aspek rohaninya yang terlihat.

Dalam pengertian umumnya “cessationist dan continuanist” adalah pembeda tentang karunia-karunia Roh, kuasa spesifik tentang kesembuhan dan mujizat-mujizat hanya menjadi kekushusan pada kurun waktu tertentu atau hal yang tetap berlangsung. singkatnya memang menjadi identitas juga. Terkait yang terutama tentu dengan identitas “Doktrin anugerah”

Maka, apa yang terjadi dengan kepenuhan Roh kudus ? Terus terang sebuah pengalaman yang tentu harus beroleh kesesuaianya. Dimulai dari pengalaman yang memang sudah lazim bahwa pelayanan dari identitas pengalaman kharismatik ini, sudah sangat lazim bukan ? Adalah sebuah tahapan yang sangat rohani.

Hal ini menjadi menarik dalam pengertian akan doktrin anugerah tersebut, pokok ajaran akan Allah yang berdaulat akan keselamatan dan pemeliharaan bagi  orang percaya. Doktrin anugerah bagi calvinist basah, yang rumusan pengakuan iman bukan hanya pokok yang kecil akan tetapi rumusan dasar tentang pokok Allah yang berdaulat dan wahyu mengenai Allah—sangat lazim dengan 3 rumusan dasar pokok pengakuan iman yakni; Heidelberg, Belgic dan Doordrecht serta 1 pengajaran yang cukup lengkap untuk wilayah anglo-saxon yang berbahasa inggris yakni westminster, kekhasan rumusan pengakuan iman dalam wilayah yang ada. Dimana azas sola scriptura menegaskan akan landasan dari tanda-tanda yang menyertai orang percaya (Luk 24: 47-49) dianggap telah terhenti (Cease), istilah yang bisa dipakai juga untuk cease-fire ketika saya mengidentikannya dengan genjatan senjata, seakan penghentian sementara, juga yang memulai untuk tidak berlakunya gencatan bersenjata tersebut dianggap musuh bersama !?

Lantas jika cesationist ini apa yang tergencat dari karunia dan tanda mujizat yang supra natural jika digunakan untuk peperangan, semacam mesiu yang memang penting. Ini memang penggambaran sesaat ketika menjelaskan bahwa respon yang ada justru adalah bersifat keberlangsungan. Disinilah muara dari perdebatan tersebut. Menjadi monoton dan tidak seru jika terhenti memang ? Akan tetapi bukankah justru seru, jika kecukupan Alkitab tetap ditegaskan. Menjadi tetap dengan sola scriptura itu, begitu bukan ?

JPS

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑