Terkait sebagai praktek dan laku tindakan, maka kekristenan yang ngeroh itu, harus mengejawantahkan akan kerohaniannya tersebut.  Dan menjadi tidak mudah dan tidak sederhana memang. Apa maksudnya ngeroh ? yaah menegaskan akan aspek rohaninya yang terlihat.

Dalam pengertian umumnya “cessationist dan continuanist” adalah pembeda tentang karunia-karunia Roh, kuasa spesifik tentang kesembuhan dan mujizat-mujizat hanya menjadi kekushusan pada kurun waktu tertentu atau hal yang tetap berlangsung. singkatnya memang menjadi identitas juga. Terkait yang terutama tentu dengan identitas “Doktrin anugerah”

Maka, apa yang terjadi dengan kepenuhan Roh kudus ? Terus terang sebuah pengalaman yang tentu harus beroleh kesesuaianya. Dimulai dari pengalaman yang memang sudah lazim bahwa pelayanan dari identitas pengalaman kharismatik ini, sudah sangat lazim bukan ? Adalah sebuah tahapan yang sangat rohani.

Hal ini menjadi menarik dalam pengertian akan doktrin anugerah tersebut, pokok ajaran akan Allah yang berdaulat akan keselamatan dan pemeliharaan bagi  orang percaya. Doktrin anugerah bagi calvinist basah, yang rumusan pengakuan iman bukan hanya pokok yang kecil akan tetapi rumusan dasar tentang pokok Allah yang berdaulat dan wahyu mengenai Allah—sangat lazim dengan 3 rumusan dasar pokok pengakuan iman yakni; Heidelberg, Belgic dan Doordrecht serta 1 pengajaran yang cukup lengkap untuk wilayah anglo-saxon yang berbahasa inggris yakni westminster, kekhasan rumusan pengakuan iman dalam wilayah yang ada. Dimana azas sola scriptura menegaskan akan landasan dari tanda-tanda yang menyertai orang percaya (Luk 24: 47-49) dianggap telah terhenti (Cease), istilah yang bisa dipakai juga untuk cease-fire ketika saya mengidentikannya dengan genjatan senjata, seakan penghentian sementara, juga yang memulai untuk tidak berlakunya gencatan bersenjata tersebut dianggap musuh bersama !?

Lantas jika cesationist ini apa yang tergencat dari karunia dan tanda mujizat yang supra natural jika digunakan untuk peperangan, semacam mesiu yang memang penting. Ini memang penggambaran sesaat ketika menjelaskan bahwa respon yang ada justru adalah bersifat keberlangsungan. Disinilah muara dari perdebatan tersebut. Menjadi monoton dan tidak seru jika terhenti memang ? Akan tetapi bukankah justru seru, jika kecukupan Alkitab tetap ditegaskan. Menjadi tetap dengan sola scriptura itu, begitu bukan ?

JPS

 

Advertisements