untitled-149

Hal yang telah terlewat. Mengapa ? Ada yang tidak disoal dengan penting . Berangkat dari akar kata, sejauh dari apa yang bisa kita lihat dan menemukan bahwa; orto & doksa, padanan yang pasnya memang bukan dari bahasa indonesia.

Sekarang dengan ajaran yang lurus tersebut, sesungguhnya apa yang ingin diketengahkan ?  Ortodoksi seakan hanya ingin mengetengahkan tentang keteguhan sikap. Maka, sebuah bagian lain dari sikap kisah  “Perumpamaan orang samaria yang baik hati” (Luk 10:25-37) tidak menyoal tentang ajaran, sebuah ketaatan yang memang tanggap. Belakangan ini menjadi menarik ketika kutipan seorang tokoh politik menyebutkan ‘artian’ dari  perumpamaan ini adalah negara yang menyediakan sebagaimana terwakili oleh orang samaria tersebut, tuntutannya pada entitas “negara”, entitas akan ‘state’, semacam kondisi baku dari kewilayahan yang terbentuk, dalamm hal ini mungkinkah administratif kekuasaan yang ada.

Pembahasan akan pengabaian seakan menarik, bahwa ada yang lain yang tersedia. Dengan deskripsi kecil bahwa program sosial bukan menjadi prioritas gereja, akan tetapi bukankah untuk  ini gereja itu hadir ?

Karenanya masih meyakinkan ketika suatu klaim berasal dengan ortodoksi, maka hal yang sekitar dalam perhatian dan kepedulian. Jadi ortodoksi tetap bisa berangkat dengan keteguhan sikap yang tidak mungkin dikontraskan dengan kepedulian kepada yang tersisih. Apa dasar ketika sebuah kesalehan social, hal yang menjadi moto wilayah administrative (baca: kekuasaan), secara khusus sebuah kutipan dari misi kabupaten bogor[1]. Dengan dipertanyakan tentu dasarnya ? Juga menjadi tantangan akan ortodoksi, atau keteguhan sikap akan keyakinan yang lain dalam hal ini gereja. Sebuah kehadiran yang kerap dipertentangkan dan dicurigai.

Ortodoksi menilik kepada hati, hati yang dipulihkan, sampai disini memang membutuhkan pengurain yang panjang juga hal yang terkait dengan ajaran yang diserap kedalam hati–waah bisa panjang memang! Jadi ortodoksi tetap bisa berangkat dengan keteguhan sikap yang tidak mungkin dikontraskan dengan kepedulian kepada yang tersisih. Apa dasar ketika sebuah kesalehan sosial tidak berangkat dari hati ? Tapi seyogyanya itu menjadi tanggung jawab “state”, akan tetapi soal “state” ini tidak berdasar pada keyakinan dan juga mengurusi dengan lebih jauh akan ortodoksinya.

Maka menjadi menggelisahkan ketika dua hal; negara atau “state”yang abai dan juga ortodoksi yang abai ? Ngeri memang !

 

Jann ‘sektarian’__nehh

 

 

 

[1] Hal yang mungkin menjadi terkait dengan kondisi sekitar dimana selalu didengungkan oleh Bupatinya https://www.bogorkab.go.id/index.php/post/detail/2837/bupati-bogor-ingin-peringatan-maulid-nabi-muhammad-harus-bisa-menghasilkan-dampak-signifikan#.V6c8ZxJ1TMw

 

 

Advertisements