Lapangan Tanggung “Palamanis Serong”…

1470202983253

Lapangan itu, eks-anggota DPR yang menohok, Gerbang kota kabupaten dan  siapa yang menginisiasinya ?

*Tentang pemugaran lapangan warga dan mempertahankan ruang publik

Lapangan adalah sarana kewargaan dan bukti bahwa itu diperuntukan dan dalam kesediaan warga untuk beraktifitas, yang standar tentu sepakbola dengan agak menciut menjadi futsal, juga yang telah lama adalah bola volley. Maka ketika itu tidak ada bisa menjadi pertanyaan juga apakah warga dan penghuninya ada ? wow kasar sekali ?! Akan tetapi penanda ini menjadi penting,    setidaknya sudah tergantikan dengan anak-anak yang akan memfungsikannya.

Inilah yang terjadi, sebuah niat untuk memfungsikan kembali lapangan warga .’Petakan’ tanah kosong yang terletak di jalan sena V dan jalan yang tidak terlalu diakui tapi tertera dengan wisnumurti I lingkungan palamanis dan komplek Bekang 1469841798588tersebut mengalami pengalihan fungsi untuk dikatakan tidak hilang sebagai lazimnya lapangan tanggung.  Maka niat gotong royong warga, juga kenangan sebagian dari penghuni disekitaran lapangan harus diwujudkan, manakala lapangan adalah berfungsi kembali sebagai lapangan.  Karena itu kenangan dan niat bertemu dengan panitia yang berharap bisa mengerjakan dengan rampung, cepat dan difungsikan. Alhasil agak lama dan tetap saja bisa rampung yang sungguh sayangnya tidak difungsikan ketika sarana warga dalam perayaannya yang sangat ketahuan yakni; tujuh belasan, dimana hal ini justru tidak terselanggara. Venue yang ada untuk hajat meriah bersama malah tidak terjadi, seputar event-event ‘kolosal’ dari jatuh-jatuhan dikarung, hingga kita tahu bahwa kelereng masih berfungsi juga kerupuk terasa lain jika terhidang dengan tali. Sesuatu yang memang ‘baku’ khas perayaan warga, akan tapi justru alpa bersama lapangan yang telah terwujud tersebut.

Kembali ke lapangan yang terwujud tersebut. Tak ada korporasi (baca: perusahaan) yang terlibat ketika ketahanan warga sanggup memberdayakan. Ancang-ancang yang besar ketika korporasi yang sedianya bisa memberi bantuan agak sulit dan kehilangan daya untuk warga berharap. Maka inisiasi lapangan itu menjadi menarik, mengapa menarik ? Karena kesanggupan untuk menunjukan identitas dari warga yang tentu membutuhkan ruang rehat bersama.  1469848602762Dengan sangat paham ketika 1469849291971sarana warga, tentunya juga lapangan  bisa diklaim. Siapa yang mau mengklaim sarana warga ? Berada disebuah wilayah dan juga ibukota kabupaten tentu, sekalipun tidak terlalu kerasa, menjadikan hiruk pikuk yang lumayan. Salah diantaranya adalah hiruk pikuk politik. Agak  silam memang, ketika janji-janji dalam kampanye telah diniatkan. Janji yang memang tidak besar, akan tetapi harapan untuk terlibat membantu lapangan tidak tersedia; akan halnya berbeda dengan janji yang dahulu, ini tentunya lebih kecil.  Bahkan untuk sekedar paham sedikit, juga agak menjauh.

“Tahu ngga gajinya sebagian besar para penghuni komplek itu berapa sekarang ? ”

Demikian diketuskan oleh seseorang eks anggota DPRD yang gagal jadi caleg level nasional. Ketika disodorkan proposal awal.   Maka lapangan yang telah menjadi identitas ini tetap menjadi dan bahkan telah berlangsung untuk warga, perihal keberlangsungan ini yang memang tersembunyi akan tetapi cukup ketara sebagai niat warga. Bahwa mantan anggota DPR lokal  yang menohok tersebut menjadikan selalu pertanyaan apa yang diupayakan dalam sarana kewargaan ? Hal yang memang dirasa terlalu kecil, setidaknya fungsi legislasinya dulu ketika seharusnya memfungsikan dan mempertahankan ikon-ikon ruang terbuka, sarana ‘rekreasi’ umum atau ruang rehat bersama tersedia pada land mark kota kabupetan, seharusnya ! 18072_photo Ini yang terjadi justru Mall premium yang berbarengan dengan Gerbang kabupaten pemda. Hal yang diidentikan dengan sentra niaga untuk menjadi penanda ? sebuah sarana yang memang tetap berfungsi juga untuk jalan-jalan dengan berpendingin ruangan. Maka disinilah kita mendapati sarana kewargaan yang kecil tetap perlu, hal yang sejatinya memang diupayakan oleh warga dengan minus pendingin ruangan tersebut.

Tersebut kisah mantan anggota DPR tersebut pernah berjanji lebih dengan tak terpenuhinya akan janji tersebut. Juga sedikit penurunan fisik yang membuat keengganan jauh apakah si mantan anggota DPR yang gagal untuk level yang lebih itu, acapkali menjadi sukar dipahami dalam tuturan katanya yang sewenang-wenang. Bahwa lapangan itu mendekati rampung, adalah inisiasi warga, 1470202966898hal yang menguatkan juga kesukaran dipahami; ketika sejatinya lapangan yang untuk warga memang untuk warga semata.

Jadi kalau eks anggota Dewan itu datang dengan janji dan ruang terbuka semakin tergerus, karena pemdanya yang abai dan tergantikan oleh sentra niaga nan megah berpendingan ruangan yang mungkin dianggap sebagai ciri khas kemajuan, kami tahu betul akan konsekuensinya untuk tetap punya kebanggan akan lapangan yang tanggung ini. Semoga kebanggan kami akan lapangan dan secuil taman sisa yang rencana  akan dipugar ini bisa menular kepada komunitas warga yang lain, dengan tambahan yang meramaikan mantan anggota DPRD yang gagal jadi caleg ke nasional dan dimaklumi ketika kata-katanya menohok. Serta tetap bertanya kebanggaan apa dengan sentra niaga premium digerbang kabupaten ketika DPRD dan pemetintah periode lalu terlibat ? sekali lagi sesuatu yang diinisiasi warga dan untuk warga semata. Hidup warga.  Titik !

Jann Pees

Cat.

Penamaan “Palamanis Serong” adalah sebutan dan inisiasi penulis sendiri dengan kontribusi total warga RT setempat. Tertarik dukungan untuk rencana lanjutan  pemugaran taman yang tanggung dari lapangan palamanis serong ini  hub. 0838-9495-4900

 

 

 

 

 

Advertisements