Dari Arsip Lama

Ironi persimpangan, sebuah siang disemarang…

Ini bukan sebuah scene dari para sutradara ‘pemberontak’ di perhelatan acara indie, sekedar mengapreseiasi kegetiran dunia ke-3. Ini sungguh terjadi—bersamaan saya mendengar hymn “Jesus, what a friend of sinners”, agak terhenti dan cukup rapat untuk mengingat kembali. Disebuah persimpangan semarang yang terlalu terik, mengantar seorang rekan untuk akses print berwarna. Tentunya ketidaksiapan dan daya adaptasi yang memang tidak berlanjut. Seakan ketidaksiapan saya menyaksikan anak perempuan kecil dan kakaknya, lebih tepat mas-nya memasuki rental warnet.

Sang adik menunjuk pada keinginan untuk segera mendapat akses global dari hanya sentuhan jari tersebut. Berdua mereka menyambangi dan terlibat percakapan dibalik partisi warnet; bersegera untuk mendapatkan info music dari mas-nya, lebih tepat meminta mas-nya untuk mencarikan.

Lalu, “ jalo iki Mas, ST-12 no”. Dengan dialek jawa yang kental untuk anak kecil yang saya bisa pastikan belum bersekolah. Anak perempuan dengan rambut yang cukup ‘benderang’ karena terbakar terik dan kulit cukup legam, berceloteh “ golek iki mau to mas” dan terus si anak perempuan ini berceloteh.

Saya tersenyum. Apakah pada masanya untuk mengenal genre music dewasa ? Atau apa benar sudah menjadi umum ? Apakah benar St-12 berada dalam top request saat ini ? Apa yang didapati untuk juga mendesakan sebuah kegelisahan dari akses global terhadap anak perempuan kecil ?

Percakapan mereka mengidentikan sebuah kekhasan local yang memang berjarak dengan aksen bahasa saya. Percaya atau tidak, saya terharu !

Saya lupa kapan saya mulai terharu hanya dengan gap bahasa, dan sinyal pelafalan bunyi yang justru kerap diartikan agak berbeda dan lucu. Anak perempuan kecil usia play-group dan mas-nya yang usianya berkisar 10 tahun ternyata kemudian selalu beraktifitas di lampu merah jalanan seberang warnet, ya, mereka berdua anak jalanan-menyambangi dunia informasi. Mungkin, sekedar mendapati info lagu.

Scene saya tidak berlanjut. Apalagi menghubungkan dengan, semacam kecemasan karena anak jalanan. Setidaknya rasa aman dari bocah perempuan cilik yang bertingkah pola ceria. Sinyal keceriaan yang umum pada masanya. Juga, menghubungkan dengan seting semarang. Mmmh “ Sri Mulyani kecil “, proyeksi yang cukup berjarak, tetapi tidak dimata penggiat dokumentasi.

Kesan-nya menurut saya setara, ketika Goenawan Mohammad kecil menangis, mendengar ketidakadilan yang dialami “si jamin dan si johan” disebuah sudut kota yang pongah; seraya kealpaan yang terlalu jauh bahwa sebenarnya hanya sebuah fiksi literature. “oliver twist”-nya Charles Dickens dalam kesenjangan revolusi industri inggris, latar yang muram untuk tumbuh kembangnya seorang anak yatim piatu. Mungkin keharuan adalah artificial dan sekedar menghinggapi dalam fase, dimana sejatinya rutinitas lebih mendesakan kita dalam menghargai waktu.

* * *

Kita butuh sesuatu yang, dalam memberi ‘sambutan penilaian’ kata Sophia Lauren kepada “Life is beautiful”nya Roberto Benigni, atau dalam tambahan saya dengan (tersenyum)-sebuah momen yang cukup membekas dalam ingatan saya“ …membuat kita tertawa (tersenyum) disaat seharusya kita menangis dan membuat kita menangis disaat seharusnya kita tertawa (tersenyum)”. Bersamaan dengan berakhirnya hymn “Jesus, what a friend of sinners” saya terlalu yakin; mendesakan kepedulian dengan hal kesenjangan, tentunya membuat tantangan. Seakan konservatisme keyakinan ditantang dan masihkan memberi jawaban ?

Kembali ke bocah perempuan jalanan dan mas-nya. Apa yang dikhawatirkan dari problematika social-semoga kita juga bisa menemukan keharuan, pengalihan media bermain menjadi bekerja. Tuntutan pengertian yang terlalu cepat ketika realiasme hidup harus dimengerti dari usia dini.

“Realitas itu perlu ditafsirkan” cetus Ricouer. Ironi persimpangan, jikalau bisa`disebut demikian. Anak jalanan yang berada dalam usia dini, mencari uang untuk mengakses internet ditafsirkan sebagai hal yang lucu hanya karena gap bahasa yang tidak biasa saya dengar. Saya percaya akan ada hal lain, membuat tidak berjarak problematika social itu.

Ironi persimpangan, membuat setarikan senyum; sungguh, saya melihatnya !

4 juni 2010

Advertisements