Lagi, Membaca  ‘serapahan’   Atas Agama Pop-Injili Amerika .

Judul      : “Kekristenan Tanpa Kristus”,

                   (“Christless Christianity: The alternative gospel of American church”)

Penulis   : Michael Horton

Penerbit : Momentum 2012, (Baker Publishing Group 2008)

Hal : xi + 307

Apa perlunya membaca mengenai amerika yang kita sudah ketahui  ? Bisa juga, apa menariknya dari sebuah kedigdayaan ? untuk dimaksudkan digdaya bahwa isu utama seakan didapat. Akan tetapi itu yang ingin dihadirkan Horton ! maka jadilah sebuah tulisan yang tergarap dalam bab yang, untuk ini sekali lagi mencaci dengan agak sedikit tanggung sebuah laku beragama dalam frame protestan Amerika yang serba menunjang individualisme dan pemenuhan diri.

Menyerapahi yang sudah ditebak tentang kekristenan yang bercirikan nuansa kontemporer dari subyektivisme pemenuhan diri, mungkin akan membuat naiknya derajat seorang teolog sekolahan yang juga bisa disandingkan dengan kritikus kebudayaan. Potongan bernada serius untuk sedikit menghunjam, kekristenan-tanpa-kristuslantaran sebuah bangunan tema dan juga sebagai ulasan dengan judul yang memang menantang. Dimana dengan membuat kritik atas, lagi-lagi: Osteen, Meyer, Copeland,  Schuler (hal 64-104). Dengan  entah abai atau tidak tergarap tentang dimanakah ulasan bagi pengembangan diri seorang yang “menyimpang” Rick Warren  Tetapi punya ortopraksis bagi negara yang terjebak dengan HIV ?

Seberapa mengganggunya ini ? yang menarik dan sebenarnya sudah dilakukan adalah diagnosa terhadap kekeristenn amerika yang sebenarnya mempertautkan impian amerika yang asing dengan pengertian Kristus didalam kekristenan Alkitab. Kesimpulannya sebagai ajakan adalah menegaskan misinolitas gereja di bab akhir (hal 291-294). Hal yang perlu dicermati dan alpa adalah desakan spiritualitas yang memandang tidak hanya laku pemenuhan spiritualitas an sich atau pun ortodoksi yang dipulihkan. Akan tetapi, mengambil bagian pada tindakan, sekalipun disana-sini, dalam paparan halamannya mengingatkan akan andil yang diberikan dan pentingnya pelayanan yang menjunjung pada real kehidupan. Akan tetapi akhirannya  pada desakan misionalitas gereja, Horton  mengambil posisi ortodoksi dengan cukup melabelkan inerantisme potongan teks Alkitab, seakan –akan tidak ada masalah dan terselesaikan dengan kewibawaan. Padahal kita ketahui bahwa yang misonalpun kadang tidak berguna dinegara dunia ke-3 dan sekedar status quo dari kegemaran partikularitas khas Injili amerika yang doyan plesir.

 

Sebagai pembanding, saya bisa menghadirkan contoh yang bisa di puji (baca:dicermati). Misi kalangan reformed dari Calvin seminary yang berkolaborasi dengan apa yang perlu diserapahi dan bagian dari subyektifisme teologis dalam menebar “seed of justice” di Honduras, jika hanya mempertobatkan.  Justru yang terjadi kolaborasi penggiatan dengan kalangan neo-pentakosta dan katolik-roma dalam menghindari perangkap-perangkap missing-jesuspatologis sosial akan struktur yang berubah dimana pemberontakan dan perang saudara hingga pelecehan terhadap anak-anak pernah ada dan terjadi (lihat https://calvinseminary.edu/2012/05/15/seeds-of-justice-harvest-of-shalom/). Sehingga jalinan ortodoksi dan ortopraksis itu tetap ada, setidaknya diluar dari sekedar penegasan, hal yang memang diingatkan oleh Horton(hal. 137). Akan tetapi buku ini perlu diberi kredit, untuk mengijinkan bagian yang tidak utuhnya dan sebagai ulasan kebudayaan tentu lebih bernats dan menarik untuk mempelajari historiografi yang memang ‘kering’ dari mereka yang tepat menganalisis kondisi kontemporer amerika, tersebut lah orang-orang sperti Mark Noll, David wells, Nathan O hatch.

Horton yang mewarisi suksesi Machen sebagai penerus ‘klan’ ortodoksi reformed  dengan pelabelan profesorshipnya memproyeksikan atas tudingan Machen yang pada masanya bertarung dengan liberalisme—sekali lagi untuk identifikasi itu penting dan diteruskan, bahwa “orang-orang Amerika…memilki suatu ciri khas yang cukup menonjol yakni anti-intelektual. Kita adalah pelaku bukan penganut, para pragmatis bukan para pemikir (hal.280)” entah dalam hal ini adakah yang diwakili dari ortodoksi machen yang “intelektual dan pemikir” yang berharap pada konfesionalitas dan kredo ?

***

Ada banyak hal yang  terhubung secara literal dan dogmatis, baik mengukuhkan mengenai konfesionalitas reformed versus penentangya (pelagian, semi-pelagian &arminian, hingga Finey) juga  merujuk Bonhoefer yang sungguh menjadi punya tempatkah detil dari konfesionalitas dogmatis ?   Selain itu ada Harold Bloom yang dipinjam analisisnya, seorang scholar literacy critic yang kebetulan mengesankan Horton, yang sekalipun non-reformed tidak bisa main-main dan abai dengan kasus pelecehan sex yang pernah dilakukannya yang jika dibandingkan dengan Finey yang “bidat” akan tetapi mengesankan dalam sikapnya yang anti-perbudakan. Tentu hal ini merambah penalaran kita,  akan halnya pemosisian yang melibatkan dalam telaah tampilan kebudayaan yang memanusiakan dan gereja yang berperan dalam sejarah ketika konteks itu terjadi,  sekali lagi ortodoksi menjadi jaminan. praise-and-worship-dark Dengan sedikit melonggarkan untuk tidak melihat problem pribadi, jelas: pelecehan bukan problem pribadi ! Sekalipun tendensi yang utuh untuk memvonis, Horton patut dihargai yang memang berangkat dan berujung pada posisi dogmatis tersebut. Pun, jika john frame memperkarakannya dengan lebih dekat ke Lutheranisme di bandingkan Reformed, entah siapa yang ingin membangun dan gandrung terhadap pijakan Frame jikalau itu penunjukan ortodoksi ?

Alhasil penasaran saya yang berharap tidak sepicik van tilianisme, mendapati sesuatu yang mudah ditebak dan analisis yang menguras energi dari keprihatinan “Kekristenan tanpa Kristus” ini terasa biasa dengan penghindarannya, kecuali jika kita menganggap bahwa Amerika itu penting, atau teramat penting ! Sebuah sinisme memang !

 

1st edition komunitasinjili review, okotber 2012

Advertisements