Literasi Suburban (baca: pinggiran) itu…Hal yang didapat dari kemelekan beraksara, membaca perihalnya dengan bacaan dan bahannya, maka terbentuklah hal membaca itu, akan halnya dengan; kisah, cerita yang harus tersusun dengan bacaan tersebut. Maka sudut pandang sebagai wilayah memang menjadi sebuah pertanyaan. Sungguhkah itu bisa diwakili dengan kewilayahan.

Literasi memang menjadi keniscayaan, serba bahan bacaan ini tampak menjadi tak dipahami sebagai mendasar, maka yang berniat dengan intens pada hal ini pun seakan agak meraba-raba atau sesungguhnya tidak utuh dalam melihat ini. Maksud tidak utuh adalah sungguhkah keberaksaraan dalam wacana berwujud itu, dalam hal ini teks sangat ingin dihadirkan.

Tapi sungguhkah kita harus niat dengan hal ini ? Dengan menjadi agak terang & baku National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” http://wikipendidikan.blogspot.co.id/2016/03/pengertian-definisi-makna-literasi.html

Maka, keberaksaran dalam teks dan perluasannya mengaitkan juga akan konteks; khalayak pembaca & kepenulisannya yang pangkal sebabnya untuk membuat tidak adanya dikotomi antara teks yang tentunya sangat mendasar ini  & perangkat ‘diluar’ teks semisal media bergerak audio visual. Menjadi mahfum bahwa keberaksaraan dari teks menjadi awalan. Maka awalan dalam konteks pinggiran ini–adakah sesuatu yag disengitkan sebagai berbeda bahkan perlawanan dengan term “pinggiran”.

Menonton menghasilkan imitasi, membaca menguatkan imajinasi” benarkah ? Maka imajinasi apa yang ingin dihasilkan dari pinggir ? Bersifat gagap, sekedar keisengan & kelatahan sosial, katakanlah juga sebagai pendirian tempat/taman baca.

Lebih lagi,  beberapa definisi yang perlu diikutkan disini bahwa juga, Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Versi yang sangat segar dari pelembagaan dunia dalam hal ini Unesco, literasi adalah:  seperangkat keterampilan nyata – khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis – yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya.

 

Dengan lebih lagi, UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang “multiple Effect”atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.

Dan kembali lagi sekarang dalam merapatkannya sesuai konteks, siapa yang merasa yakin dan fasih menjelaskan dan menerjemahkan konteks tersebut ? Tidak terlalu yakin akan tetapi kita bisa melihat pada taman baca, kesediaan susunan rak-rak yang dipajang, ide yang memang tidak ekslusif dan bahkan terlalu umum, sambil melihat konteks atau menandakan akan konteks tersebut.

Dalihnya itu seakan untuk “Masyarakat yang Terbuka”…

Apa maksudnya dengan ini ? sudah terbuka dengan infrastruktur yang tertanda, maka dengan sangat mendasar adakah yang diperlukan yang lain. Titik persebaran pinggir hanyalah masalah geografis ataupun ekonomi ? Apa yang menandakan sebagai sebuah pinggir tersebut, ketika memang ada yang dituju dan (telah) menjadi pusat.word-cloud-literasi-dan-kehidupan-660x552

Jikalau dikaitkan dengan keterbukaan, maka masalah akses hanyalah masalah waktu. Terlalu banyak yang harus dikonfirmasi mengenai ini. Apalagi jika pendasaran secara teoritis, seakan ingin dalam kehendaknya untuk menjadi pusat atau tengah.

Jadi yang ditukas dalam keserbabacaan yang dipinggir tersebut  adalah keinginan dengan tiada batasnya untuk masyarakat menjadi terbuka ? Akan halnya keterbukaan tersebut dengan tema ‘sektarian’, maksudnya ? sebuah persebaran ide dalam mengkritis keyakinan. Akan halnya ini diletakan dalam subyek individu, yang merekatkannya sekalipun berada di pinggiran tersebut untuk semakin minimnya kesenjangan dan memupuk kepedulian, menjadi soal individu ketika yang mengabaikan dalam sisi kebersamaan tidak bisa ditampik, bahwa memang akan semakin berubah. Akan tetapi keserbabacaan atau literasi itu semakin menarik untuk menandai sebagai identitas. Keterkaiatan dengan keterbukaan ini memang menjadi luas. Juga soal keyakinan yang memandang untuk tetap terjaganya kondisi lingkungan.

Maka menjadi penting untuk kembali ke referensi yang membantu bahwa sejauh mana jika berada dipinggir untuk menjelaskan, mengabarkan dan keterbukaan untuk tetap terjaganya lingkungan. Jelas tidak terkait dengan tema sektarian bukan ?   Sungguhkah ?

 

 

 

Advertisements