Search

Jann'sektarian nehh'__ Indie Ripom Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Month

January 2017

 

Apakah Injil Itu ?

Definisi: Injil berasal dari akar kata Yunani ευαγγέλιον (Euangelion), “Evangelion”,  إنجيل‎ ʾInǧīl yang artinya “Berita Sukacita” tentang kelahiran, kehidupan-kematian dan kebangkitan Yesus, Firman Allah yang manjadi manusia dalam rencana keselamatan dan penebusan dosa bagi setiap yang percaya ( Mat 1:21; Mrk 8:38; Luk 1:31; 4:18-19; Yoh 1: 1-16; 3:16; Rom 8:20-22). Itu sebabnya Injil yang ditulis oleh para Rasul disebut juga sebagai “Kabar Baik/Berita Sukacita” yang sebagaimana kita ketahui ditulis Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan tujuannya yang mendasar sekali supaya kita percaya akan kesaksian Kristus yang adalah Tuhan dan Juru S’lamat (Mrk 1:1 Luk 1: 4).

 

word
 

Injil yahya (Yohanes) 1:14*

 

Selain Itu Injil adalah :
Sesuatu yang harus diberitakan karena perintah ‘penugasan’/mandat Tuhan Yesus bagi murid-muridNya (Mat 28:19-20; Mrk 16:15-17; Luk 24:45-49). Kekristenan memiliki semacam mandate atau penugasan, Allah perjanjian yang telah-sedang dan akan menuntaskan segala rencanaNya menyertai sejarah manusia dengan Injil; dimana seharusnya manusia melihat kepada hal ini. Sifat terberitakan Injil ini berdasar kepada tergenapinya perjanjian Allah didalam Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia. Kemutlakan Allah yang mengatasi sejarah manusia dikaitkan kepada Injil. Percaya kepada Allah adalah percaya kepada Injil, hubungan kesesuaian didapat bahwa mengasihi Allah adalah juga disertai dengan tindakan pemberitaan Injil. Kontras yang berkesesuaian pun didapat bahwa, menolak Allah berarti juga menolak Injil dengan hakekatnya yang merupakan Firman dan kebenaran Allah.

Bagi setiap yang percaya, azas kemuridan pun berlaku, sehingga nyata-nyata bahwa perintah bagi murid jelas-jelas harus dijunjung tinggi; apalagi menjadi murid Tuhan Yesus berdasar untuk diakui bahwa akan halnya sama dengan menjadi

love
 

Rum (Roma) 5:8*

 

murid kebenaran. Mandat ‘penugasan’ Injil ini membuat kita yang percaya terikat kepada kebebasan yang dianugerahkan Allah. Perintah memang mengikat, memberitakan Injil mengaitkan selalu untuk keterikatan kita kepada Allah yang sebenarnya adalah sebuah kebebasan. Paradoks (keutuhan kebenaran yang sepertinya bertolak belakang dari fakta yang lebih dari satu) memang kita dapati.

Seluruh murid Tuhan Yesus yang menjadi rasul Kristus bagi pemberitaan Injil menemukan kebebasan disini dan tidak ingin menukar atau mengalihkan mandat ini bahkan untuk mengompromikannya, sehingga nyawa mereka pun mereka sertakan. Ikatan dengan Allah menunjang kepada pengupayaan Injil diberitakan. Ketika Injil tidak diberitakan dengan identitas sebagai orang percaya, tentu juga murid Kristus, maka bukan hanya identitas itu yang menjadi kabur dan tidak pantas untuk dikenakan; melainkan lebih lagi yakni terikat akan kebebasan yang tidak berada dalam pemeliharaan anugrah Allah. Kebebasan diluar Injil adalah kebebasan yang semu, mencobai dan tidak akan mendapati kebenaran Allah. Benarkah ? Jelas, dikarenakan Injil adalah identitas dari Allah dan merupakan perintahNya. Pemberitaan Injil adalah perintah Allah.

Adakah Perintah Lain ?
Kalau kemudian dikemukakan anggapan tentang ada atau tidaknya perintah lain, maka tentunya juga akan dikemukakan hubungannya dengan pemberitaan Injil. Keterkaitan yang berlaku di dalam perjanjian Lama & Perjanjian Baru ini adalah sebuah fakta yang tidak bisa diabaikan terkait juga dengan segala perintah Allah yang dinyatakan.
Sehingga semua perintah Allah terkait dengan Injil dan Injil tidak bertolak belakang dengan ketentuan Allah, dikarenakan tentu untuk mengembalikan semua kepada hormat kemuliaan Allah-dengan mendapatkan kejelasan mengenai identitas Allah.
Perintah mengasihi jelas terkait dengan Injil, bahkan diberi kerangka oleh Injil yang menjadi pembeda dari kasih yang lain. Mengupayakan keadilan terkait dengan Injil, karena Injil tidak menentang keadilan, bahkan sebenarnya menjadi garam keadilan atas kenyataan yang tidak adil. Injil dan pemberitaannya tidak menutup mata atas ketidakadilan yang ada, tetapi Injil menegakan ‘supremasi’ dan otoritas wibawa keadilan tertinggi.

Sehingga tidak ada pengharapan berlebihan kepada manusia, sebagaimana sekarang yang lazim terjadi dan mengakibatkan munculnya prasangka yang tidak terkait dengan kebenaran Allah, karena bobot utama adalah manusia.
Apa yang baik harus melihat kepada Injil, perintah Allah yang membawa kebaikan diterangi oleh Injil dikarenakan identitas Allah yang tegas dan nyata-nyata dalam Injil. Jadi Adakah Perintah Lain ? Ya jelas ada, mungkinkah bertolak belakang dengan Injil ? Tidak !

Sesuatu yang harus diberitakan bagi seluruh bangsa, dimana barulah tiba kesudahannya; menjadi penanda dari waktu. Injil dalam mandat ‘penugasan’dan fungsinya menjadi relasi (penghubung) dan proporsi (pernyataan) waktu. (Mat 24:14), yang terkait dengan sebelumnya-kesudahan (Mat 24:3-13; Mrk 13:3-13; Luk 21:7-9).

Ternyata Injil berurusan dengan waktu, bahkan menjadi penanda dari waktu itu sendiri. Kapan saudara pergi kepasar, bermain, istirahat, belajar di sekolah atau dirumah, bekerja, berekreasi; yang merupakan kebiasaan atau juga tambahan karena hal yang telah dijadwalkan. Injil berurusan dengan kesudahan. Sebuah kesudahan yang harus kita percayai, yakni mengenai keberadaan, realita dan dunia yang kita hidupi ini. Kapan detil waktunya dalam ukuran yang kita pakai, tentunya sebuah kepastian yang harus menggenapi segala sesuatu yang Alkitab katakan. Akan tetapi nyata dikaitkan dengan Injil yang terberitakan, bahwa meyakini kesudahan tanpa pemberitaan Injil adalah sesuatu yang mengerikan karena hanya diliputi perasaan menunggu yang skeptis terhadap kenyataan yang ada.

Pasalnya Alkitab (baik Perjanjian Lama, Pernyataan Tuhan Yesus dan juga wahyu Tuhan Yesus kepada Yohanes) tetap mengaitkannya dengan pemberitaan Injil.
Proporsi waktu ini selain sebagai tanda juga sesuatu yang bersifat pemberitaan. Sekalipun demikian sifat dari pernyataan ini bukan hanya untuk menakut-nakuti, karena kaitannya dengan kesudahan segala sesuatu.

Jadi berpedoman kepada pemberitaan Injil untuk digiatkan akan lebih kepada percaya akan otoritas yang menyudahi kehidupan ini dalam pemeliharaan Allah dan proporsi waktu nya adalah Injil yang diberitakan keseluruh bangsa. Memang ada tahapan dari sebuah kesudahan tetapi salah satunya adalah Injil yang terberitakan. Pengharapan kepada Allah yang memelihara dan juga menyudahi akan membuat kita bergiat dalam memberitakan Injil.

Kekuatan Allah bagi setiap yang percaya (Rom 1:16-17) Seberapa besar kekuatan Allah ? Bagaimana mengukurnya untuk mengetahui kekuatan Allah ? Kriteria dan disiplin apa yang bisa dipakai untuk mengukur hal ini ? Akan banyak pertimbangan dan juga pandangan mengenai Allah yang jika diperluas terkait dengan karakteristik kekuatanNya. Secara umum logika pengetahuan dan pemahaman kita mengamati alam raya tentunya akan menunjuk kepada penyebab keberadaan, iman Kristen yang memberitakan Injil percaya akan Allah yang menciptakan segala sesuatu yang teramati oleh kita maupun yang tidak teramati oleh kita, yang hidup dan tidak hidup; yang ada, akan ada dan tidak ada, yang besar dan tidak terukur sampai yang kecil dan sukar bahkan tidak terukur.

Akan tetapi iman percaya kita tidak hanya tertuju kepada materi dari buah ciptaan Allah, sehingga kita mematok ukuran dari obyek ciptaan Allah yang besar-terbesar, yang menjadi penanda dari kekuatan Allah. Ukuran itu bisa dipakai tetapi bisa tidak mempercayai Injil. Seberapa besar kekuatan saya mengangkat beban yang lebih dari 70 kg, maka itulah kekuatan saya. Seberapa besar daya ciptaan yang saya buat, itu menjelaskan otoritas saya. Jikalau dihubungkan dengan Injil, maka bagi kita yang percaya akan Allah yang maha kuasa dan juga meyertai kita adalah terletak kepada Injil-Nya.

Bagaimana bisa ? Jelas bisa dalam pengertian pertanyaan yang dimaksud maka penjelasan fungsi dikaitkan dengan Injil yang menjadi andalan dan kekuatan kita sebagai orang percaya. Kita bisa menolak Kristus dengan mempercayai kekuatan Allah yang sanggup menciptakan, akan tetapi berbeda jikalau kita mendahului percaya kepada Injil dengan inti kepada Kristus, Allah maha kuasa yang mengambil rupa manusia yang berada dalam kemahakuasaanNya.

Kepercayaan ini menyelaraskan kita dengan obyek kenyataan yang ada, dan sekalipun ada upaya mengurangi bobot Injil dalam mempercayai akan berkuasanya Allah atas penciptaan-sebagaimana yang diyakini oleh bentuk-bentuk kepercayaan yang menolak Injil, itu artinya sama dengan tidak mempercayai kekuatan Allah. Ya, seakan kita ingin mengatakan secara tidak langsung bahwa Injillah kekuatan Allah dalam ukuran kepercayaan kita. Tetapi sebenarnya lebih dari itu, karena bukan berarti untuk sesuatu diluar kepercayaan ada kekuatan lain yang bukan Injil.

Melainkan hal yang sulit untuk diukur dalam kebenaran mengenai Allah hanya dapat digenapkan didalam Injil yang merupakan kekuatan Allah bagi kita yang percaya, bahkan semua ukuran takluk kepada Injil. Karena iman percaya kita yang menyelamatkan, tentunya kepada Allah dan anugerahNya.

Kebodohan bagi dunia yang menolak hikmat Allah karena isinya mengenai Kristus yang tersalib (1 Kor 1: 18-24) Bagi dunia salib adalah kebodohan, tidak ada pemikiran yang dari berlangsungnya sejarah dunia ini yang bisa menerima Allah yang tersalib dalam penggenapan rencananya supaya setiap yang percaya tidak binasa.
Kalaupun ada jelas itu berasal dari Allah dan karena Injil berasal dari Allah maka jelas, anggapan dari dunia akan sulit menerima dengan pokok eksistensi yang menolak kepada pengenalan akan Allah.

Mengenal Allah dan hikmatNya bagi setiap orang yang rindu akan kebenaran hal ini, maka dapat diselami kedalam Injil dan pergumulan pemberitaanNya. Apakah Paulus sesumbar mengenai hal ini dengan mengaitkan hikmat kepada Injil ?

john3_16
 

Injil Yahya (Yohanes) 3:16*

 

 

Dan apakah ini adalah sebuah ketidaksanggupan yang terkesan tidak ilmiah atau kurangnya pengetahuan kepada penjelasan dari realita yang ada. Sebab sandaran mengenai hal ini adalah Allah yang menaklukan segala pengertian dan memberikan pengertian kebenaran kepada orang percaya
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu dalah kekuatan Allah…Dimanakah orang yang berhikmat ? Dimanakah ahli taurat ? Dimanakah pembantah dari dunia ini ? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan ? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatNya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya akan kebodohan pemberitaan Injil”(1 Kor 1: 18, 20-21)

Sebuah kebenaran mengenai hikmat dan pengertian, dimana hal tersebut terletak dalam Injil. Hikmat yang menuntun kepada keselamatan- ketidakbinasaan yang sekarang ini banyak mendapatkan lawan dikarenakan ide agama yang tidak modern, usang dan dianggap tidak nyambung dengan perubahan yang sekarang terjadi.

Tetapi kita diingatkan selalu bahwa Injil telah berhadapan dengan sikap antipati seperti itu, sehingga tetaplah untuk ditegakan bahwa hikmat yang berusaha menolak Injil dengan segala macam rumusan pengertiannya adalah sebuah kebinasaan dan sudah barang tentu adalah kebodohan bagi Allah. Jikalau selalu dimunculkan kontras, itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat dikarenakan fakta bahwa dunia dengan hikmatnya telah menyalibkan Kristus. Kristus telah dihukum oleh karena hikmat dunia, Dia yang tidak terhukum membuat dirinya sendiri menjadi terhukum yang dengan demikian Dia telah menegakan kuasa taklukannya atas hikmat dunia. Pengertian inilah yang tidak dapat diselami dan ditolak oleh pengertian yang tidak ingin mengenal Allah yang benar. Kita harus mengambil bagian dalam kebanggaan ini dikarenakan identitasnya yang mengaitkan kita dengan mengenal hikmat Allah.

Dimana semua itu ada dalam Injil dan pemberitaannya. Beban Pelayanan dan Keberadaan Paulus yang dia angap sebagai utang yang harus dibayar dengan pemberitaan Injil (Rom 1:13-15).

Kepada siapa kita berutang ? Jelas kepada siapa yang kita pernah meminjam dan terhitung masih meminjam untuk kewajiban kita mengembalikan. Kita meminjam sejumlah uang, jelas ketika kita serius untuk menganggap pinjaman itu sebgai utang yang harus dibayar, maka kita harus membayarnya juga dengan sejumlah uang yang kita pinjam, walaupun bisa juga ada konsekuensi lebih untuk membayar dikarenakan hal-hal yang menambah keuntungan peminjam-sebagaimana fakta umumnya.

Lantas sekarang dihubungkan dengan Injil, akan juga muncul pertanyaan “ Kepada siapa kita berutang yang harus kita bayar dengan Injil ? “ Belum lagi jika dikembangkan akan bermacam-macam pertanyaan yang intinya “utang yang harus kita bayar dengan Injil”. Mengerti hal ini, maka konteksnya adalah Rasul Paulus sendiri yang terus bergiat dalam pelayanan pemberitaan Injil dan alasan dia bergiat adalah karena utang yang ingin dia bayar
“Aku berutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma” (I Kor 1:14-15).

Penunjukan Roma terkait dengan keinginan untuk membayar utang dengan Injil yang diberitakan. Satu hal yang mejadi penjelas sederhana tanpa mengetahui detil konteksnya adalah sebuah beban yang disetarakan dengan utang, apa utangnya sampai harus dibayar dengan Injil ? Paulus tidak berutang uang, barang atau apapun yang lainnya, sebab dibagian surat lain dia tidak ingin menjadi beban ataupun merasa dipiutangi dengan pemberian jemaat. Jadi itulah sebuah beban pelayanan yang dia setarakan dengan keinginan membayar utang. Orang Yunani yang “berpengertian” dan orang non Yunani yang “tidak berpengertian” meyakinkan dia akan panggilan dan kerinduan pemberitaan Injil karena Rasul Paulus meyakini bahwa Injillah yang akan membayar “pengertian” dan “tidak pengertian” yang mereka banggakan untuk tidak mengenal Allah.

Jelas Rasul Paulus paham akan Injil dan hal diluar Injil sampai dalam upaya mengerti dan bahkan menolak mengerti. Rasul Paulus tahu dan sadar akan konsekuensi membayar beban utangnya dengana Injil kepada orang yang gemar mencari pengertian dan yang menolak pengertian, sekali lagi karena dia mrasa berutang yang tentunya utang adalah utang, dan untuk utang ini hanya Injil yang sangup membayar; berapapun hal dan harga yang dituntutnya, bahkan sebenarnya lebih tinggi dari apa yang dituntut.
Hal yang sama juga harus kita miliki dalam pelayanan kita, kita harus membaca dalam waktu dimana kita hidup apa yang sebenarnya menjadi tuntutan harga yang dimunculkan dan bagaimana Injil membayar tuntutan itu, beban dengan melihat hal ini akan membuat kita tergerak seperti yang
Rasul Paulus lakukan yakni membayar utang dengan Injil. Amin Injil sanggup membayar “pengertian” dan “bukan pengertian” yang dituntut.

Diambil dari teks “Penginjilan, Jelas Perlu ! Perihal Injil Yang Berdasar & Perlu” Komunitasinjili Press 2012.

*kutipan ayat kaligrafi dari Arabic Bible Outreach http://www.arabicbible.com/free-literature/calligraphies/old-bible-verses.html

 

Advertisements

Debat cagub DKI & para Teoloh “Evangelical” yang surut di negerinya si Bigot…

debat-ke-2

Tadi malam sewaktu melihat debat, saya terenyuh sejenak dan bersamaan menyaksikan juga produktivitas yang tersaji dari para teoloh yang tampaknya merasa tetap dan agak sukar memang terhubungkan akan tetapi tak terelakan bahwa; mereka menyurut dalam kondisi yang gegap gempita, bahwa bahasan mereka hanya dalam kemunduran semata ? Betapa tidak sebuah variasi yang jauh sekalipun tidak dikatakan mulus dan ideal bahwa kontestasi pemikiran tampaknya tersaji. Yah debat cagub DKI Jakarta yang telah menyita dan menarik ruang-ruang bahasan, sementara para teoloh yang produktif juga di Amerika sana itu bisa berjarak dan abai ketika kualitas panutan mereka dalam kepemimpinan sipil dianggap kontroversi.

Para teoloh itu sungguh bernuansakan iman Evangelical, dengan tetap memang tidak menggubris apa yang berubah ketika nuansa kebencian memayungi kepemimpinan dalam tertib sipil—wow pemimpin sipil hasil pilihan itu serius mau membangun tembok pemisah, sebuah kecurigaan yang tidak dikenal dalam dunia diplomasi ?!

Jadi dan pasti saya harus menutup dan menggeser kalau tidak saya akan terlampau menjadi ‘saleh’nya. Dalam pilihan politik praktis, beberapa yang masih dalam ranah teoloh itu sebagai inidividu memang menjadi kontra dan bersiap meyakinkan bahwa tertib sipil dalam pilpres Negara “evangelical” itu sudah salah kaprah ketika warga berimannya memilih seorang bigot (baca: picik, tidak toleran) yang sangat primordial, tapi apa lacur yang bigot dan primordial itu menang dan meyakinkan pemilih beriman untuk ketakutan dan merasa “besar” yang selama ini telah “dikecilan”. Dimana para teoloh yang produktif dan pintar itu ? Haruskah bahasan pencarian kita mengikuti dan merujuki telaah-telaah mereka? Alhasil, kemuakan pada kemunduran dan surutnya para teoloh yang memproduksi banyak teks, buku itu memang menantang dan teramat sangat menantang setidaknya untuk tidak mengagunkan dan ‘merujuki’ dengan bahasa yang sangat kritis–emang sejauh ini ? Sesuatu yang agak keluar jalur jika masih menggagungkan dengan identitas “evangelical”nya itu

Dan dalam debat cagub DKI tersebut, sungguh tersaji pilihan yang bisa digali rekam jejak. Pilihan yang ingin membuat rasional, kembali lagi, bukankah ketika si bigot itu menang juga melalui debat sebagai prasyarat demokrasi dalam pilihan praktis yang… Tapi kenapa jadi ngomongin politik yang teramat praktis begini? Ayo bahas candu yang bernama keyakinan atau agama tersebut ? Sesuatu yang para teoloh itu bisa tetap terlibat, syukur-syukur dan berharap kalau Negara sudah tidak mengurusin agama atau keyakinan tersebut ? Sebagaimana katanya ditempatnya para teoloh tersebut Tetapi Dalam debat cagub DKI itu agama tidak dibahaskan ? Setidaknya memang debat ke-2 lebih maju dan tidak nampak,karena itu hidup Endonesaaaahhhhhhhhhh bodo amat sekalipun baru DKI jakarta, yaaah karena tahunya baru cuma itu yang nampak.

jangan kuatir bagi yang berminat jadi teoloh yang ‘saleh’, lapangan kerja tetap terbuka kok. Yeahhhh viva evangelical…

Allah Tritunggal Menyertai

—J.Pees —

Sebelum Simpang Kiara Dua…

simpang-kiara-dua 

Ayah muda yang terlihat sepintas membakar 3 ikan dengan tusuk ranting yang mungkin sudah disiapkannya, kelok jalan yang diambilnya memang pas untuk dia beristirahat bersisian dengan motor tunggangannya yang menjadikannya sama dengan kebanyakan orang. Tetapi tidak ketika hanya dirinya yang membakar ikan. Keasyikan yang membuat dia hirau dengan lalu lalang motor dan sesekali  mobil pada keramaian yang tidak berpihak pada gugusan bukit-bukit.

Dia tidak tahu bahwa dia terlihat keren, menyuguhkan pemandangan domestik. Sementara si ibu yang tidak bisa mengambil posisi, terduduk dengan berlawanan terik.

Ayah muda yang membakar ikan sadar ? Ataukah kesiapsediaan dengan hiraunya ? Enzim-enzim dari ikan bakar ini akan berguna bagi si kecilnya.  Omega 3 atau ptialin cukup membantu sikecilnya yang tertidur—ptialin ? Tidakkah itu enzim lazim untuk daya kecap biasa yang membantu melenturkan makanan ? Sudahlah !  Tumbuh kembangnya dan kelak dia akan masuk ke perguruan tinggi bersubsidi negara, ah siapa yang tahu. Hal yang memang dia siapkan atau memang sekedar terhenti pada kelokan jalan tanggung yang selepas ini adalah bukit-bukit dan curam.

Hari itu dan juga pada terik itu. Ayah muda itu tidak ingin lalai menyiapkan ikan bakar seadanya bagi istri dan si kecilnya. Sayangnya dia tidak tahu, atau sungguh sadar bahwa dia; terlihat keren !  Entahlah ?

23 September, 2015

Fiksi & Intensi iman percaya, sebuah undangan yang telah lewat…

fiksi-iman-percaya-sebuah-intensiSetelah Dostoevksy dengan eksistensialisme yang bergulat dengan pernyataan pokok iman percaya dalam realismenya atau, pengisahan alegoris John Bunyan yang mengisahkan kembali rencana keselamatan yang tertera di Alkitab, maka pengisahan fiksi membuat kita bertanya apa yang bisa didapat ? Bukankah sudah wajar dengan “kesaksian” ? roman yang sangat umum sebagai bentuk pengisahan fiksi panjang–yang bisa jadi tidak murni ‘rekaan’ telah menjadi identitas ide yang mempertautkan dengan iman percaya. terlepas pengisahan ataupun mempertanyakan yang hadir sebagai kisah, kita mengenal “rubuhnya surau kami” AA navis atau “tenggelamnya kapal van derwick” mubaligh terkemuka Hamka yang juga sangat fasih dalam dogmatika keislaman ahlul sunnah yang “puritan”. maka proyeksi kebudayaan dalam penulisan kreatif yang punya tajuk “keindahan” ataupun melabelkan sebagai “susastra”.

Sebuah realisme ‘rekaan’ menjadi menarik dan tentu menjadi tidak terkesan menggurui, sekalipun bisa dipertanyakan–bagi mereka yang skeptik dengan  iman percaya bahwa tetaplah ada motif ! ada pesan dan mungkin juga pertanyaan yang dituturkan dengan kisah, yang sekali lagi adalah rekaan atau fiksi tersebut.

Rasanya, berargumen paling pintar dengan pembelaan iman apologetika adalah hal paling mudah, lantas dengan intensi yang ada dalam fiksi dan pengisahannya jelas pergumulan baru bagi yang serius dengan pelayanan, mengingat betapa melekat dan majunya proyeksi kebudayaan yang berpengaruh ketika roman-roman Hamka & Navis, juga yang mashyur Pramudya ketika itu semua ada diperpustakaan atau taman bacaan kita sebagai fiksi dalam bentuknya novelet atau tetralogi yang dilabelkan sebagai bacaan yang menjelaskan pergolakan kebudayaan kita.

Sebuah kegelisahan yang lain…

Sila diunduh “penggalan” akan fiksi pendek http://j.peesfiksi.org/share-sebuah-fiksi-baik-saja-tidak-menyelamatkan-nababan/

Juga tersedia order indent & penggalan yang menemai musim hujan http://j.peesfiksi.org/sebuah-fiksi-sekelebat-dan-rintik-hujan-yang-berwarna-oren/

Proyek fiksi ditengah kefasihan doktrin yang tetap oleh karena Anugrah dari Tritunggal suci dikotbahkan…
J.Pees

Agama yang tanpa perayaan serta “Desember”nya Efek Rumah Kaca itu ! Puritanisme serta modifikasi Sensus Divinitatis* ?

Jelas itu adalah sebuah kesunyian ! Itu adalah sebentuk yang lain yang sungguh-sungguh memang lain. Maka menjadikannya sebuah getar beragama, semacam mungkin sensus divinitatis, menjadikan bahwa agama memang selalu punya peran…

Tapi bisakah, serta sungguhkah ini ? Disebuah masa, apa yang dikenal sebagai meriahnya dan juga melekatnya identitas dengan perayaan,

image_update_bda471bbd785dbb8_1356265243_9j-4aaqskjustru agama; tampilan umumnya kekristenan dengan semaraknya pernah dilarang. Sebuah pemutusan tradisi ? ingatan saya pada 1640-an jika tidak salah diawal-awal koloni Amerika.

Apa yang tercermin dari yang literal sebagaimana kitab memaksudkan harus mengalami modifikasi, juga ketika perayaan itu harus kembali ke yang pokok. Saya pikir, siapa yang sungguh ingin merayakan ? Tersebutlah bahwa apa yang religius itu bisa tampil dipasar. Semarak religius menjadi alat yang mengidentikan ketika pasar berespon, sebuah kedekatan yang membantu dalam unsur-unsur transaksi didalamnya.

Akan tetapi tidakkah ini justru kemunculan yang lain, sebuah kelompok kultik (cult) paska agama puritan yang menarik total dari khasanah berlakunya kehidupan umum, tepatnya sok menarik diri dengan ramalan dan pemenuhan akan akhir jaman, dimana logika perayaan juga menjadi ditarik–entah karena ingin terlihat beda atau ekses sosial ketika perayaan agama menjadi sangat dominan dan tidak bertekun dalam mencermati saat dan hari-hari akhir. Jelas bukan untuk kelompok kultik aneh yang mengharamkan transfusi darah dan bentuk keterlibatan dalam partisipasi dengan wadah negara; akan tetapi menjadi kerap dipersandingkan.

Ekspresi agama adalah juga didalamnya ekspresi perayaan, wikipedia mendaftarkan hal itu https://en.wikipedia.org/wiki/Religious_festival bahwa agama mencirikan juga festival perayaan dari tanda akan pengaruhnya, juga identitas dari pemeluk agama yang telah dipengaruhi tersebut. Jadi agama atau identitas keyakinan yang tanpa perayaan jelasnya tidak menunjukan bahwa ekspresi berkeyakinan itu penting, tidak menyelaraskan akan ‘getar’ agama, meminimalisir sensus divinitatis ?

Terkait dengan kekhawatiran, yang memunculkan taklimat atau arahan religius terkait simbol dan semarak dari perayaan ‘religius’ natal  memang menunculkan respon yang terpolarisasi. Terlalu dangkal memang jika hal berpakaian penutup kepala ala  natal, yang katanya simbol orang baik itu bisa menggeser keyakinan dari kebaikan seturut kitab yang diyakini semata-mata dengan perayaan religius sehingga bisa surut keyakinan dengan kitab yang diyakini tersebut. tapi memang simbol tetaplah penting sebagai ‘getar’ agama tersebut.

Terus apa yang harus dilakukan dibulan Desember. Momen pengingat apa yang menjadikan Desember semarak. Desember memang terasa syahdu  dan pas dengan senandung band indie “Efek Rumah Kaca”, masak sih ?!! “…karena aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember, seperti pelangi setia menunggu hujan reda…” Terus kalau seperti bulan Desember 2015 tahun lewat yang kemarau dan sangat minim hujan gimana ? Nah itu sedih memang! Huhfffff !!

Ecclesia Ut Quidam Folks Qui Lucem…

 

*Dengan tidak mengecilkan bahwa sensus Divinitatis yang dimaksud merujuk pada Reformator Yohanes Kalvin, tentang benih agama yang telah tercemar & rusak (corrupt) dari yang sejati dari persekutuan dengan sang Khalik. Dalam hal ini benih dosa yang juga didapat dalam beragama.

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑