Agama yang tanpa perayaan serta “Desember”nya Efek Rumah Kaca itu ! Puritanisme serta modifikasi Sensus Divinitatis* ?

Jelas itu adalah sebuah kesunyian ! Itu adalah sebentuk yang lain yang sungguh-sungguh memang lain. Maka menjadikannya sebuah getar beragama, semacam mungkin sensus divinitatis, menjadikan bahwa agama memang selalu punya peran…

Tapi bisakah, serta sungguhkah ini ? Disebuah masa, apa yang dikenal sebagai meriahnya dan juga melekatnya identitas dengan perayaan,

image_update_bda471bbd785dbb8_1356265243_9j-4aaqskjustru agama; tampilan umumnya kekristenan dengan semaraknya pernah dilarang. Sebuah pemutusan tradisi ? ingatan saya pada 1640-an jika tidak salah diawal-awal koloni Amerika.

Apa yang tercermin dari yang literal sebagaimana kitab memaksudkan harus mengalami modifikasi, juga ketika perayaan itu harus kembali ke yang pokok. Saya pikir, siapa yang sungguh ingin merayakan ? Tersebutlah bahwa apa yang religius itu bisa tampil dipasar. Semarak religius menjadi alat yang mengidentikan ketika pasar berespon, sebuah kedekatan yang membantu dalam unsur-unsur transaksi didalamnya.

Akan tetapi tidakkah ini justru kemunculan yang lain, sebuah kelompok kultik (cult) paska agama puritan yang menarik total dari khasanah berlakunya kehidupan umum, tepatnya sok menarik diri dengan ramalan dan pemenuhan akan akhir jaman, dimana logika perayaan juga menjadi ditarik–entah karena ingin terlihat beda atau ekses sosial ketika perayaan agama menjadi sangat dominan dan tidak bertekun dalam mencermati saat dan hari-hari akhir. Jelas bukan untuk kelompok kultik aneh yang mengharamkan transfusi darah dan bentuk keterlibatan dalam partisipasi dengan wadah negara; akan tetapi menjadi kerap dipersandingkan.

Ekspresi agama adalah juga didalamnya ekspresi perayaan, wikipedia mendaftarkan hal itu https://en.wikipedia.org/wiki/Religious_festival bahwa agama mencirikan juga festival perayaan dari tanda akan pengaruhnya, juga identitas dari pemeluk agama yang telah dipengaruhi tersebut. Jadi agama atau identitas keyakinan yang tanpa perayaan jelasnya tidak menunjukan bahwa ekspresi berkeyakinan itu penting, tidak menyelaraskan akan ‘getar’ agama, meminimalisir sensus divinitatis ?

Terkait dengan kekhawatiran, yang memunculkan taklimat atau arahan religius terkait simbol dan semarak dari perayaan ‘religius’ natal  memang menunculkan respon yang terpolarisasi. Terlalu dangkal memang jika hal berpakaian penutup kepala ala  natal, yang katanya simbol orang baik itu bisa menggeser keyakinan dari kebaikan seturut kitab yang diyakini semata-mata dengan perayaan religius sehingga bisa surut keyakinan dengan kitab yang diyakini tersebut. tapi memang simbol tetaplah penting sebagai ‘getar’ agama tersebut.

Terus apa yang harus dilakukan dibulan Desember. Momen pengingat apa yang menjadikan Desember semarak. Desember memang terasa syahdu  dan pas dengan senandung band indie “Efek Rumah Kaca”, masak sih ?!! “…karena aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember, seperti pelangi setia menunggu hujan reda…” Terus kalau seperti bulan Desember 2015 tahun lewat yang kemarau dan sangat minim hujan gimana ? Nah itu sedih memang! Huhfffff !!

Ecclesia Ut Quidam Folks Qui Lucem…

 

*Dengan tidak mengecilkan bahwa sensus Divinitatis yang dimaksud merujuk pada Reformator Yohanes Kalvin, tentang benih agama yang telah tercemar & rusak (corrupt) dari yang sejati dari persekutuan dengan sang Khalik. Dalam hal ini benih dosa yang juga didapat dalam beragama.

 

Advertisements