simpang-kiara-dua 

Ayah muda yang terlihat sepintas membakar 3 ikan dengan tusuk ranting yang mungkin sudah disiapkannya, kelok jalan yang diambilnya memang pas untuk dia beristirahat bersisian dengan motor tunggangannya yang menjadikannya sama dengan kebanyakan orang. Tetapi tidak ketika hanya dirinya yang membakar ikan. Keasyikan yang membuat dia hirau dengan lalu lalang motor dan sesekali  mobil pada keramaian yang tidak berpihak pada gugusan bukit-bukit.

Dia tidak tahu bahwa dia terlihat keren, menyuguhkan pemandangan domestik. Sementara si ibu yang tidak bisa mengambil posisi, terduduk dengan berlawanan terik.

Ayah muda yang membakar ikan sadar ? Ataukah kesiapsediaan dengan hiraunya ? Enzim-enzim dari ikan bakar ini akan berguna bagi si kecilnya.  Omega 3 atau ptialin cukup membantu sikecilnya yang tertidur—ptialin ? Tidakkah itu enzim lazim untuk daya kecap biasa yang membantu melenturkan makanan ? Sudahlah !  Tumbuh kembangnya dan kelak dia akan masuk ke perguruan tinggi bersubsidi negara, ah siapa yang tahu. Hal yang memang dia siapkan atau memang sekedar terhenti pada kelokan jalan tanggung yang selepas ini adalah bukit-bukit dan curam.

Hari itu dan juga pada terik itu. Ayah muda itu tidak ingin lalai menyiapkan ikan bakar seadanya bagi istri dan si kecilnya. Sayangnya dia tidak tahu, atau sungguh sadar bahwa dia; terlihat keren !  Entahlah ?

23 September, 2015

Advertisements