debat-ke-2

Tadi malam sewaktu melihat debat, saya terenyuh sejenak dan bersamaan menyaksikan juga produktivitas yang tersaji dari para teoloh yang tampaknya merasa tetap dan agak sukar memang terhubungkan akan tetapi tak terelakan bahwa; mereka menyurut dalam kondisi yang gegap gempita, bahwa bahasan mereka hanya dalam kemunduran semata ? Betapa tidak sebuah variasi yang jauh sekalipun tidak dikatakan mulus dan ideal bahwa kontestasi pemikiran tampaknya tersaji. Yah debat cagub DKI Jakarta yang telah menyita dan menarik ruang-ruang bahasan, sementara para teoloh yang produktif juga di Amerika sana itu bisa berjarak dan abai ketika kualitas panutan mereka dalam kepemimpinan sipil dianggap kontroversi.

Para teoloh itu sungguh bernuansakan iman Evangelical, dengan tetap memang tidak menggubris apa yang berubah ketika nuansa kebencian memayungi kepemimpinan dalam tertib sipil—wow pemimpin sipil hasil pilihan itu serius mau membangun tembok pemisah, sebuah kecurigaan yang tidak dikenal dalam dunia diplomasi ?!

Jadi dan pasti saya harus menutup dan menggeser kalau tidak saya akan terlampau menjadi ‘saleh’nya. Dalam pilihan politik praktis, beberapa yang masih dalam ranah teoloh itu sebagai inidividu memang menjadi kontra dan bersiap meyakinkan bahwa tertib sipil dalam pilpres Negara “evangelical” itu sudah salah kaprah ketika warga berimannya memilih seorang bigot (baca: picik, tidak toleran) yang sangat primordial, tapi apa lacur yang bigot dan primordial itu menang dan meyakinkan pemilih beriman untuk ketakutan dan merasa “besar” yang selama ini telah “dikecilan”. Dimana para teoloh yang produktif dan pintar itu ? Haruskah bahasan pencarian kita mengikuti dan merujuki telaah-telaah mereka? Alhasil, kemuakan pada kemunduran dan surutnya para teoloh yang memproduksi banyak teks, buku itu memang menantang dan teramat sangat menantang setidaknya untuk tidak mengagunkan dan ‘merujuki’ dengan bahasa yang sangat kritis–emang sejauh ini ? Sesuatu yang agak keluar jalur jika masih menggagungkan dengan identitas “evangelical”nya itu

Dan dalam debat cagub DKI tersebut, sungguh tersaji pilihan yang bisa digali rekam jejak. Pilihan yang ingin membuat rasional, kembali lagi, bukankah ketika si bigot itu menang juga melalui debat sebagai prasyarat demokrasi dalam pilihan praktis yang… Tapi kenapa jadi ngomongin politik yang teramat praktis begini? Ayo bahas candu yang bernama keyakinan atau agama tersebut ? Sesuatu yang para teoloh itu bisa tetap terlibat, syukur-syukur dan berharap kalau Negara sudah tidak mengurusin agama atau keyakinan tersebut ? Sebagaimana katanya ditempatnya para teoloh tersebut Tetapi Dalam debat cagub DKI itu agama tidak dibahaskan ? Setidaknya memang debat ke-2 lebih maju dan tidak nampak,karena itu hidup Endonesaaaahhhhhhhhhh bodo amat sekalipun baru DKI jakarta, yaaah karena tahunya baru cuma itu yang nampak.

jangan kuatir bagi yang berminat jadi teoloh yang ‘saleh’, lapangan kerja tetap terbuka kok. Yeahhhh viva evangelical…

Allah Tritunggal Menyertai

—J.Pees —

Advertisements