Apakah Injil Itu ?

Definisi: Injil berasal dari akar kata Yunani ευαγγέλιον (Euangelion), “Evangelion”,  إنجيل‎ ʾInǧīl yang artinya “Berita Sukacita” tentang kelahiran, kehidupan-kematian dan kebangkitan Yesus, Firman Allah yang manjadi manusia dalam rencana keselamatan dan penebusan dosa bagi setiap yang percaya ( Mat 1:21; Mrk 8:38; Luk 1:31; 4:18-19; Yoh 1: 1-16; 3:16; Rom 8:20-22). Itu sebabnya Injil yang ditulis oleh para Rasul disebut juga sebagai “Kabar Baik/Berita Sukacita” yang sebagaimana kita ketahui ditulis Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan tujuannya yang mendasar sekali supaya kita percaya akan kesaksian Kristus yang adalah Tuhan dan Juru S’lamat (Mrk 1:1 Luk 1: 4).

 

word
 

Injil yahya (Yohanes) 1:14*

 

Selain Itu Injil adalah :
Sesuatu yang harus diberitakan karena perintah ‘penugasan’/mandat Tuhan Yesus bagi murid-muridNya (Mat 28:19-20; Mrk 16:15-17; Luk 24:45-49). Kekristenan memiliki semacam mandate atau penugasan, Allah perjanjian yang telah-sedang dan akan menuntaskan segala rencanaNya menyertai sejarah manusia dengan Injil; dimana seharusnya manusia melihat kepada hal ini. Sifat terberitakan Injil ini berdasar kepada tergenapinya perjanjian Allah didalam Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia. Kemutlakan Allah yang mengatasi sejarah manusia dikaitkan kepada Injil. Percaya kepada Allah adalah percaya kepada Injil, hubungan kesesuaian didapat bahwa mengasihi Allah adalah juga disertai dengan tindakan pemberitaan Injil. Kontras yang berkesesuaian pun didapat bahwa, menolak Allah berarti juga menolak Injil dengan hakekatnya yang merupakan Firman dan kebenaran Allah.

Bagi setiap yang percaya, azas kemuridan pun berlaku, sehingga nyata-nyata bahwa perintah bagi murid jelas-jelas harus dijunjung tinggi; apalagi menjadi murid Tuhan Yesus berdasar untuk diakui bahwa akan halnya sama dengan menjadi

love
 

Rum (Roma) 5:8*

 

murid kebenaran. Mandat ‘penugasan’ Injil ini membuat kita yang percaya terikat kepada kebebasan yang dianugerahkan Allah. Perintah memang mengikat, memberitakan Injil mengaitkan selalu untuk keterikatan kita kepada Allah yang sebenarnya adalah sebuah kebebasan. Paradoks (keutuhan kebenaran yang sepertinya bertolak belakang dari fakta yang lebih dari satu) memang kita dapati.

Seluruh murid Tuhan Yesus yang menjadi rasul Kristus bagi pemberitaan Injil menemukan kebebasan disini dan tidak ingin menukar atau mengalihkan mandat ini bahkan untuk mengompromikannya, sehingga nyawa mereka pun mereka sertakan. Ikatan dengan Allah menunjang kepada pengupayaan Injil diberitakan. Ketika Injil tidak diberitakan dengan identitas sebagai orang percaya, tentu juga murid Kristus, maka bukan hanya identitas itu yang menjadi kabur dan tidak pantas untuk dikenakan; melainkan lebih lagi yakni terikat akan kebebasan yang tidak berada dalam pemeliharaan anugrah Allah. Kebebasan diluar Injil adalah kebebasan yang semu, mencobai dan tidak akan mendapati kebenaran Allah. Benarkah ? Jelas, dikarenakan Injil adalah identitas dari Allah dan merupakan perintahNya. Pemberitaan Injil adalah perintah Allah.

Adakah Perintah Lain ?
Kalau kemudian dikemukakan anggapan tentang ada atau tidaknya perintah lain, maka tentunya juga akan dikemukakan hubungannya dengan pemberitaan Injil. Keterkaitan yang berlaku di dalam perjanjian Lama & Perjanjian Baru ini adalah sebuah fakta yang tidak bisa diabaikan terkait juga dengan segala perintah Allah yang dinyatakan.
Sehingga semua perintah Allah terkait dengan Injil dan Injil tidak bertolak belakang dengan ketentuan Allah, dikarenakan tentu untuk mengembalikan semua kepada hormat kemuliaan Allah-dengan mendapatkan kejelasan mengenai identitas Allah.
Perintah mengasihi jelas terkait dengan Injil, bahkan diberi kerangka oleh Injil yang menjadi pembeda dari kasih yang lain. Mengupayakan keadilan terkait dengan Injil, karena Injil tidak menentang keadilan, bahkan sebenarnya menjadi garam keadilan atas kenyataan yang tidak adil. Injil dan pemberitaannya tidak menutup mata atas ketidakadilan yang ada, tetapi Injil menegakan ‘supremasi’ dan otoritas wibawa keadilan tertinggi.

Sehingga tidak ada pengharapan berlebihan kepada manusia, sebagaimana sekarang yang lazim terjadi dan mengakibatkan munculnya prasangka yang tidak terkait dengan kebenaran Allah, karena bobot utama adalah manusia.
Apa yang baik harus melihat kepada Injil, perintah Allah yang membawa kebaikan diterangi oleh Injil dikarenakan identitas Allah yang tegas dan nyata-nyata dalam Injil. Jadi Adakah Perintah Lain ? Ya jelas ada, mungkinkah bertolak belakang dengan Injil ? Tidak !

Sesuatu yang harus diberitakan bagi seluruh bangsa, dimana barulah tiba kesudahannya; menjadi penanda dari waktu. Injil dalam mandat ‘penugasan’dan fungsinya menjadi relasi (penghubung) dan proporsi (pernyataan) waktu. (Mat 24:14), yang terkait dengan sebelumnya-kesudahan (Mat 24:3-13; Mrk 13:3-13; Luk 21:7-9).

Ternyata Injil berurusan dengan waktu, bahkan menjadi penanda dari waktu itu sendiri. Kapan saudara pergi kepasar, bermain, istirahat, belajar di sekolah atau dirumah, bekerja, berekreasi; yang merupakan kebiasaan atau juga tambahan karena hal yang telah dijadwalkan. Injil berurusan dengan kesudahan. Sebuah kesudahan yang harus kita percayai, yakni mengenai keberadaan, realita dan dunia yang kita hidupi ini. Kapan detil waktunya dalam ukuran yang kita pakai, tentunya sebuah kepastian yang harus menggenapi segala sesuatu yang Alkitab katakan. Akan tetapi nyata dikaitkan dengan Injil yang terberitakan, bahwa meyakini kesudahan tanpa pemberitaan Injil adalah sesuatu yang mengerikan karena hanya diliputi perasaan menunggu yang skeptis terhadap kenyataan yang ada.

Pasalnya Alkitab (baik Perjanjian Lama, Pernyataan Tuhan Yesus dan juga wahyu Tuhan Yesus kepada Yohanes) tetap mengaitkannya dengan pemberitaan Injil.
Proporsi waktu ini selain sebagai tanda juga sesuatu yang bersifat pemberitaan. Sekalipun demikian sifat dari pernyataan ini bukan hanya untuk menakut-nakuti, karena kaitannya dengan kesudahan segala sesuatu.

Jadi berpedoman kepada pemberitaan Injil untuk digiatkan akan lebih kepada percaya akan otoritas yang menyudahi kehidupan ini dalam pemeliharaan Allah dan proporsi waktu nya adalah Injil yang diberitakan keseluruh bangsa. Memang ada tahapan dari sebuah kesudahan tetapi salah satunya adalah Injil yang terberitakan. Pengharapan kepada Allah yang memelihara dan juga menyudahi akan membuat kita bergiat dalam memberitakan Injil.

Kekuatan Allah bagi setiap yang percaya (Rom 1:16-17) Seberapa besar kekuatan Allah ? Bagaimana mengukurnya untuk mengetahui kekuatan Allah ? Kriteria dan disiplin apa yang bisa dipakai untuk mengukur hal ini ? Akan banyak pertimbangan dan juga pandangan mengenai Allah yang jika diperluas terkait dengan karakteristik kekuatanNya. Secara umum logika pengetahuan dan pemahaman kita mengamati alam raya tentunya akan menunjuk kepada penyebab keberadaan, iman Kristen yang memberitakan Injil percaya akan Allah yang menciptakan segala sesuatu yang teramati oleh kita maupun yang tidak teramati oleh kita, yang hidup dan tidak hidup; yang ada, akan ada dan tidak ada, yang besar dan tidak terukur sampai yang kecil dan sukar bahkan tidak terukur.

Akan tetapi iman percaya kita tidak hanya tertuju kepada materi dari buah ciptaan Allah, sehingga kita mematok ukuran dari obyek ciptaan Allah yang besar-terbesar, yang menjadi penanda dari kekuatan Allah. Ukuran itu bisa dipakai tetapi bisa tidak mempercayai Injil. Seberapa besar kekuatan saya mengangkat beban yang lebih dari 70 kg, maka itulah kekuatan saya. Seberapa besar daya ciptaan yang saya buat, itu menjelaskan otoritas saya. Jikalau dihubungkan dengan Injil, maka bagi kita yang percaya akan Allah yang maha kuasa dan juga meyertai kita adalah terletak kepada Injil-Nya.

Bagaimana bisa ? Jelas bisa dalam pengertian pertanyaan yang dimaksud maka penjelasan fungsi dikaitkan dengan Injil yang menjadi andalan dan kekuatan kita sebagai orang percaya. Kita bisa menolak Kristus dengan mempercayai kekuatan Allah yang sanggup menciptakan, akan tetapi berbeda jikalau kita mendahului percaya kepada Injil dengan inti kepada Kristus, Allah maha kuasa yang mengambil rupa manusia yang berada dalam kemahakuasaanNya.

Kepercayaan ini menyelaraskan kita dengan obyek kenyataan yang ada, dan sekalipun ada upaya mengurangi bobot Injil dalam mempercayai akan berkuasanya Allah atas penciptaan-sebagaimana yang diyakini oleh bentuk-bentuk kepercayaan yang menolak Injil, itu artinya sama dengan tidak mempercayai kekuatan Allah. Ya, seakan kita ingin mengatakan secara tidak langsung bahwa Injillah kekuatan Allah dalam ukuran kepercayaan kita. Tetapi sebenarnya lebih dari itu, karena bukan berarti untuk sesuatu diluar kepercayaan ada kekuatan lain yang bukan Injil.

Melainkan hal yang sulit untuk diukur dalam kebenaran mengenai Allah hanya dapat digenapkan didalam Injil yang merupakan kekuatan Allah bagi kita yang percaya, bahkan semua ukuran takluk kepada Injil. Karena iman percaya kita yang menyelamatkan, tentunya kepada Allah dan anugerahNya.

Kebodohan bagi dunia yang menolak hikmat Allah karena isinya mengenai Kristus yang tersalib (1 Kor 1: 18-24) Bagi dunia salib adalah kebodohan, tidak ada pemikiran yang dari berlangsungnya sejarah dunia ini yang bisa menerima Allah yang tersalib dalam penggenapan rencananya supaya setiap yang percaya tidak binasa.
Kalaupun ada jelas itu berasal dari Allah dan karena Injil berasal dari Allah maka jelas, anggapan dari dunia akan sulit menerima dengan pokok eksistensi yang menolak kepada pengenalan akan Allah.

Mengenal Allah dan hikmatNya bagi setiap orang yang rindu akan kebenaran hal ini, maka dapat diselami kedalam Injil dan pergumulan pemberitaanNya. Apakah Paulus sesumbar mengenai hal ini dengan mengaitkan hikmat kepada Injil ?

john3_16
 

Injil Yahya (Yohanes) 3:16*

 

 

Dan apakah ini adalah sebuah ketidaksanggupan yang terkesan tidak ilmiah atau kurangnya pengetahuan kepada penjelasan dari realita yang ada. Sebab sandaran mengenai hal ini adalah Allah yang menaklukan segala pengertian dan memberikan pengertian kebenaran kepada orang percaya
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu dalah kekuatan Allah…Dimanakah orang yang berhikmat ? Dimanakah ahli taurat ? Dimanakah pembantah dari dunia ini ? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan ? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatNya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya akan kebodohan pemberitaan Injil”(1 Kor 1: 18, 20-21)

Sebuah kebenaran mengenai hikmat dan pengertian, dimana hal tersebut terletak dalam Injil. Hikmat yang menuntun kepada keselamatan- ketidakbinasaan yang sekarang ini banyak mendapatkan lawan dikarenakan ide agama yang tidak modern, usang dan dianggap tidak nyambung dengan perubahan yang sekarang terjadi.

Tetapi kita diingatkan selalu bahwa Injil telah berhadapan dengan sikap antipati seperti itu, sehingga tetaplah untuk ditegakan bahwa hikmat yang berusaha menolak Injil dengan segala macam rumusan pengertiannya adalah sebuah kebinasaan dan sudah barang tentu adalah kebodohan bagi Allah. Jikalau selalu dimunculkan kontras, itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat dikarenakan fakta bahwa dunia dengan hikmatnya telah menyalibkan Kristus. Kristus telah dihukum oleh karena hikmat dunia, Dia yang tidak terhukum membuat dirinya sendiri menjadi terhukum yang dengan demikian Dia telah menegakan kuasa taklukannya atas hikmat dunia. Pengertian inilah yang tidak dapat diselami dan ditolak oleh pengertian yang tidak ingin mengenal Allah yang benar. Kita harus mengambil bagian dalam kebanggaan ini dikarenakan identitasnya yang mengaitkan kita dengan mengenal hikmat Allah.

Dimana semua itu ada dalam Injil dan pemberitaannya. Beban Pelayanan dan Keberadaan Paulus yang dia angap sebagai utang yang harus dibayar dengan pemberitaan Injil (Rom 1:13-15).

Kepada siapa kita berutang ? Jelas kepada siapa yang kita pernah meminjam dan terhitung masih meminjam untuk kewajiban kita mengembalikan. Kita meminjam sejumlah uang, jelas ketika kita serius untuk menganggap pinjaman itu sebgai utang yang harus dibayar, maka kita harus membayarnya juga dengan sejumlah uang yang kita pinjam, walaupun bisa juga ada konsekuensi lebih untuk membayar dikarenakan hal-hal yang menambah keuntungan peminjam-sebagaimana fakta umumnya.

Lantas sekarang dihubungkan dengan Injil, akan juga muncul pertanyaan “ Kepada siapa kita berutang yang harus kita bayar dengan Injil ? “ Belum lagi jika dikembangkan akan bermacam-macam pertanyaan yang intinya “utang yang harus kita bayar dengan Injil”. Mengerti hal ini, maka konteksnya adalah Rasul Paulus sendiri yang terus bergiat dalam pelayanan pemberitaan Injil dan alasan dia bergiat adalah karena utang yang ingin dia bayar
“Aku berutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma” (I Kor 1:14-15).

Penunjukan Roma terkait dengan keinginan untuk membayar utang dengan Injil yang diberitakan. Satu hal yang mejadi penjelas sederhana tanpa mengetahui detil konteksnya adalah sebuah beban yang disetarakan dengan utang, apa utangnya sampai harus dibayar dengan Injil ? Paulus tidak berutang uang, barang atau apapun yang lainnya, sebab dibagian surat lain dia tidak ingin menjadi beban ataupun merasa dipiutangi dengan pemberian jemaat. Jadi itulah sebuah beban pelayanan yang dia setarakan dengan keinginan membayar utang. Orang Yunani yang “berpengertian” dan orang non Yunani yang “tidak berpengertian” meyakinkan dia akan panggilan dan kerinduan pemberitaan Injil karena Rasul Paulus meyakini bahwa Injillah yang akan membayar “pengertian” dan “tidak pengertian” yang mereka banggakan untuk tidak mengenal Allah.

Jelas Rasul Paulus paham akan Injil dan hal diluar Injil sampai dalam upaya mengerti dan bahkan menolak mengerti. Rasul Paulus tahu dan sadar akan konsekuensi membayar beban utangnya dengana Injil kepada orang yang gemar mencari pengertian dan yang menolak pengertian, sekali lagi karena dia mrasa berutang yang tentunya utang adalah utang, dan untuk utang ini hanya Injil yang sangup membayar; berapapun hal dan harga yang dituntutnya, bahkan sebenarnya lebih tinggi dari apa yang dituntut.
Hal yang sama juga harus kita miliki dalam pelayanan kita, kita harus membaca dalam waktu dimana kita hidup apa yang sebenarnya menjadi tuntutan harga yang dimunculkan dan bagaimana Injil membayar tuntutan itu, beban dengan melihat hal ini akan membuat kita tergerak seperti yang
Rasul Paulus lakukan yakni membayar utang dengan Injil. Amin Injil sanggup membayar “pengertian” dan “bukan pengertian” yang dituntut.

Diambil dari teks “Penginjilan, Jelas Perlu ! Perihal Injil Yang Berdasar & Perlu” Komunitasinjili Press 2012.

*kutipan ayat kaligrafi dari Arabic Bible Outreach http://www.arabicbible.com/free-literature/calligraphies/old-bible-verses.html

 

Advertisements