logo lpbs 2

 30 Tahun LPPBS (Lembaga Pengkajian & Penanaman Budaya Sunda)12 maret 1988-2018

Nuansa nya harus modern, yah kali ini karena memang ulang tahun yang ke-30, setidaknya tempat yang terjangkau untuk pertemuan. Berada di area serbaguna sebuah Mall di pinggir jalan dr. djunjunan (pasteur), Bandung. Sebuah khasanah perayaan yang tetap harus dimaknai dalam usia yang terus mematangkan dan berada sebagai organ “identitas” (baca: pelayanan) untuk tidak dikatakan syiar agama, bahwa tuturan bahasa tersebut menjadi sebuah keunikan identitas.

Anggapan bahasa aseli atau ethno-group akan memudar dalam pergeseran bahasa yang lebih umum ataupun perubahan  bahasa itu sendiri dari “kesepakatan laku sosial” para penuturnya, tetapi tidak demikian jika identitas itu dipertahankan dengan hal yang primordial, maksudnya; bahasa penuturan dalam mengungkap yang “utama” .

 

 

 

Dalam hal ini  Injil sebagai pemaknaan yang utama itu ! Harus disadari memang Primordial bisa diartikan agama, suka atau tidak suka juga kaitan dengan “Injil”, bahwa bukan semata-mata menjadi upaya yang tentunya menjadi sangat sensitif tersebut, karena ada ‘undang-undang’ yang memayunginya perihal (bisa) ternista dan ternodanya agama tersebut yang sayangnya telah gagal 2x diuji di MK !

Terkait dengan “Injil” Bisa dilihat   https://jann21.wordpress.com/2017/01/28/sesuatu-yang-lugas-jika-dimulai-dari-apakah-injil-itu/

Terasa sukar dan mungkinkah ada (penambahan) identitas penutur sunda “kresten”  paska-kolonial ini ? Hal yang dicermati bukan semata, organ gerejawi “pasundan” yang telah ada dan bersama dengan kolonialisme Belanda yang telah dimitoskan sampai tiga ratus tahunan lebih itu dalam menjajah ! Sukar karena harus berhadapan dengan anggapan ini, bahwa identitas aseli ethno-group berpaut dengan yang transenden sebagai identitas, dalam hal ini agama. Sunda atau penutur bahasa sunda pasti “identik” dengan agama yang mayoritas tersebut, tentunya bukan dengan yang kolonial tersebut”. Stereotipe yang mengikat dalam melihat identitas, dengan tentu sebuah tantangan dan telah menjdi lazim. Inilah pemaknaan yang harus dilakukan, IMG_20180314_142228[1]ketika cahaya terang Injil sanggup mengejawantahkan tuturan bahasa, karena tidak ada superioritas bahasa dalam memuji sang juru slamat ! Pesan universal yang harus dibawa kesemua rumpun suku bahasa dan bangsa (Mat 28:19-20) tersebut !

Maka daripada itu, tetaplah semangat LPPBS.  Inisiasi yang biarlah  segala suku, kaum dan bahasa akan datang memuji Dia ” Dan dengan suara nyaring mereka berseru: keselamatan bagi Allah kami yang duduk diatas tahta dan bagi anak Domba !” (wahyu 7:10) termasuk didalamnya petutur sunda bukan semata identitas, tetapi keberkahan dari sukacita “ngiring Gusti Yesus” sang Almasih. Sebuah pemertahanan budaya dengan rupa-rupa dan buah-buahnya yang tentu berakar dalam  terang Injil.

Dengan tidak bisa diabaikan tantangan dan kesempatan yang ada, tentu yang laten dan agak basi adalah anggapan kolonial. Bukankah dinegara-negara yang kolonial itu ekses kebebasan juga telah mengijinkan sebuah syiar keyakinan yang berlaku bagi semua, sekalipun beban harus dipikul bahwa di wilayah paska-kolonial, dalam hal ini indonesia didalamnya   anggapan itu tidak ada sebagaimana yang terjadi di kolonial dengan ‘memproteksi’ keyakinan yang dianggap khas (indigenous) yang sayangnya tidak benar-benar indigenous “pribumi”, sebuah tantangan untuk koreksi diri bagi iman kristen “evangelical” yang harus keluar dari bayang-bayang  sebagai non-indigenous tersebut ditengah kepongahan organ gerejawi yang mapan baik dalam laku organisasi dan hanya sebatas dengan itu saja, serta juga  penerimaan ‘rigid’ keukeuh-nya  berdiri gedung ibadah dalam hal yang kerap kali ditunjukan sebagai identitas dan menjadi pemantik dari menguatnya dicitrakan agama “mayoritas”  dijawa barat ini — mengingat kasusnya yang tinggi.  gereja berderet di pondok regensi bekasiEkses yang memang sulit dicari padanannya ini karena memang hak asasi bahwa, berdirinya gedung ibadah akan disertai gedung ibadah yang lain, sebuah kebebasan memang, masalah yang kerap ada justru oleh mereka yang “penuh dengan Roh Kudus” yang seakan memasuki tahapan kemapanan untuk berkembang ketika orientasi gedung ibadah baku dikejar, dimana menjadi mirip dengan organ gerejawi suku (primordial) lain yang telah identik mayoritas kristen. Mohon maaf untuk ini  !

Konsekuensi permasalahan yang terjadi untuk daya perubahan dan pemulihan Roh kudus guna  membawa petutur sunda memuji Tuhan dan juga menghidupi penebusan yang membawa keberkahan dan kebajikan bagi sesama pastilah terpanggil dalam iman Alkitab.  Berbuah-berbuah dalam pelayanan dimana LPPBS sebagai para -church,  bentukan organ pelayanan yang khas hadir untuk menjawa kebutuhan dan juga menyemangati akan pemberitaan Injil terlepas dari organ gerejawi yang kolonial, paska atau anti kolonial hingga kondisi kekinian milenial  (jikalau ada)! Dimana juga kehadiran yang mulia akan tuturan bahasa yang mulai tergerus tersebut.

***

Menyerap dan menyaksikan perayaan ulang tahun ke-30 LPPBS membuat impresi sumringah  sekaligus tertantang karena beban keberadaannya juga,  mengingat berada dalam satu provinsi yang cukup dalam dinamika pembangunan dan perubahannya–sebagai penyangga ibu kota sebuah negara yang pasti bukan negara agama. Akan tetapi resistensi (penolakan, perlawanan) terhadap Injil  tetap saja menjadi keniscayaan karena klaim yang selalu ditunjukan dengan identitas primordial agama tersebut, mengapa bisa dan hanya sebatas penolakan berdirinya gedung ibadah  ?  Sebuah tantangan yang lain untuk  menjadi ” Uyah jeung Caang dunya” ditengah populasi ethno-group yang   dianggap bersikeras menolak Injil , mungkin Injil kolonial yang terasa asing dan hanya motif penguasaan ekonomi silam tanpa benar motif pertobatan karena keinsyafan dari dosa. Sebuah pegumulan untu tetap terbuka ketika agama-agama lain juga ditantang.

Wilujeng teupang taun ka Tilupuluh LPPBS”  Pemeliharaan Allah Tritunggal menyertai selalu. Terima kasih atas media cetak dan traktatnya “Langlang Mitra“, “Gentra” dan kiranya terpancar luas siaran rohani “Gentra Kahuripan“.

JP. Sihombing

 

 

 

 

Advertisements