Dia menyebut dirinya aktivis dengan tetap menjadi pusat perhatian. Dengan rokok kretek beraroma keras  dan kesukaan pada kopi pahit.

culture_edited-1

Senantiasa untuk dijumpai di pojok gedung bersama dengan beberapa orang, dimana dia selalu hadir untuk menceritakan banyak hal; kisah lelucon dengan selera porno, sanggahan-sanggahan akan banyak hal dan dominansi-dominansi yang lain yang berharap semua ‘audiens’-nya mendengarkan dia.

Tapi apa yang bisa didapati dari figur eksentrik ini ?

Berharap suatu pemikiran yang tidak skeptis dan konstrukstif jelas tidak didapat. Seakan itu yang kita dapati dari jagat aktivisme, keterlanjuran bahwa tidak ada yang bisa berubah.

Suatu ketika saya meminta nasehat akan niat pemberontakan yang saya ingin lakukan.  Si aktivis yang berkediaman di salah satu kawasan pinggir yang sebenarnya cukup menjauh dari kawasan publik seumum kampung-layaknya kelas menengah dengan mimpi kawasan nyaman, tidak memberikan sebuah tahapan konkrit manakala kondisi real pemberontakan membutuhkan “asupan”. Sebuah bantahan dan sanggahan yang ingin mendominasi, alhasil saya yang mendengar curhatnya.

Apa dinyana ? ide perlawanan yang tidak menemukan jawaban.

Lantas bisakah si aktivis ini merambah pemikirannya secara umum. Saya tidak ingin berkomentar secara akademis, maklum dalam jagat aktivisme kerap pendidikan menjadi hal yang elitis. Walaupun tersirat kabar si aktivis ini keluaran luar negeri. Pastinya bukan Princeton “almamater” saya yang ngga kesampaian. Katakanlah sertifkasi magister, ples pelibatan yang menjadi momok bagi kekuasaan dominasi militer era suharto yang penggiatnya cukup riuh berkicau diluar sana. Tapi tidak ada, setidaknya untuk santer dikenal pernah mengenyam penjara atau daftar yang diwaspadai untuk masuk dalam top list yang jadi korban penculikan pasukan elite demi kemanan negara.

Jadi apa yang bisa dilakukan siaktivis ini ?

Agak sumir, tapi jelas bahwa dia cukup menggeluti beberapa kegiatan di korporasi NGO internasional. Setidaknya, terkait dengan rekan dan koleganya yang cukup santer sebagai penggiat lingkungan.

Rekan aktivis yang sangat over kritis ini, bukan dalam kategori aktivis yang berbalut ideologi untuk selanjutnya bergulat dengan kelaparan. Dalam berbagai cerita, dia bukan anak tongkrongan yang suka “nembrakin” rokok, layaknya “table manner”  kaum abangan dan dunia informal indonesia.

Kenyentrikannnya selalu terlihat dari beberapa kali dia terlihat tidak tersentuh hukum dan ketentuan. Ketentuan-ketentuan yang memagari, jelas hanya dalam kondisi umum, pun ketika melanggar tidak terlihat kesan pemberontakan yang berarti. Merokok dalam ruangan jelas bukan pemberontakan. Juga ketika koneksi-koneksi dalam korporasi NGO, seakan mudah didapat.  Maka petualangan aktivisme yang untuk itu term korporasi menjadi tidak berlebihan.

Mungkin aktivisme adalah kenyentrikan. Seakan dalam kenyentrikan eksis menjadi penting, mengomentari dan mendominasi jelas bukan patologi akut dari gangguan kepribadian yang harus digolongkan. Walaupun bisa jadi pertanyaannya kok bisa ada orang seperti ini ? juga lebih jauh lembaga yang ‘menghidupkan’ orang-orang sperti ini  ? apa esensi dari aktivisme itu jika masih dengan gamblang dan mulia kita mempertanyakan sambil setengah berharap.

Ketika taraf kehidupan kelas menengah bisa didapat ? ketika kelusuhan adalah fakta penampilan semata, sementara jaminan penghidupan dengan minimnya tuntuntatn pekerjaan yang “terakreditasi” sambil terus menjaga sinisme terhadap yang berkuasa. Sebuah tanggungan sosial yang harus membiayai . banyak hal yang bisa dipelajari dari rekan aktivis tersebut, sekalipun ada miris yang tidak bisa disembunyikan.

Dan yang menarik, dia merasa layak untuk mendapatkan ini semua karena pengorbanan yang telah dia lakukan.

 

Advertisements