Search

Jann'sektarian'__ nehh Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Category

Dari Arsip Lama

Pagi, “Reformasi” & Hal-Hal Yang Tidak Terlalu Dini…

Kesan tidak terbangun sesaat, tidak juga ‘riuh’ yang ditampilkan. Manakala ada yang melegenda, melekatkan kita pada rekonstruksi ketika yang bathil, mendominasi, bahkan kita tahu sekarang untuk diistilahkan bisa menghegemoni, perlahan kita rekam dan tidak sekedar untuk kita pertahankan.

Pergumulan pribadi Martin Luther, adalah tetap pergumulan pribadi. Hidup asketiknya yang mencari pelepasan seakan sebuah ekskresi yang didapat, “Hier stehe ich, ich kann nicht anders. Gott helfe mir. Amen” berhadapan dengan “tahta suci” dan perangai kooptasi,  biarawan Agustinian ini tidak salah berada dalam masa, dimana kehadiran Tuhan begitu lugas dijawab dengan hadirnya kekuasaan yang saat itu sulit dipisahkan dengan gereja. Maka peruntungan untuk tetap eksis dan Tuhan dimuliakan, hingga hidup pembenaran bersifat transaksional, gereja yang sudah selesai untuk hadir dan kesadaran akut untuk terhubung dengan itu. Bangunannya yang menjulang perlu sokongan. Tidak ada tafsiran yang baru ketika indulgence diedarkan dan kitab yang terkungkung membuat derma bagi bangunan yang menjulang tersebut. Simplistis untuk melihat kesalahan memang, akan tetapi kewenangan yang membenarkan, Iustificatio Dei tidak datang seturut kitab.

Luther bergelut dan mendapati, 31 oktober 1517 dengan kesimpulan yang sadar akan konsukuensinya 95 dalil dipakukan. Tapi Luther tetap datang dengan pergumulan pribadi. Dari surat Roma, paulus mengikhtiarkan sebuah risalah pokok ajaran yang berperan, kemudian dengan agak kini, seakan mendapat penyesuaiannya sekarang. Tapi persoalan iman yang dibenarkan, anugerah dan Kitab suci  yang mencukupkan menjadikan persoalan pribadi menjadi punya tempat. Lantas apakah sekarang yang pribadi itu ?

Yang pribadi harus diagungkan, gema yang kuat dari sekedar kicauan (twitter) anak tanggung dan terhubungnya ekspose diri pada jejaring sosial. Ketika kurun waktu dan pernah terjadi apa yang pribadi melibatkan banyak hal. Sesuatu yang pribadi tidak dihubungkan dengan identitas kebanyakan, tapi berperan bagi kebanyakan.

***

Pergumulan Luther menjadi sebab yang tidak akan dengan riskan kita menyemainya,   hanya setiap individu yang yakin dan iman selalu punya peran dalam hal yang sangka kita, sejarah menjadi sesuatu yang mengasingkan.

Hari ini ateisme kuat, orang juga atas nama pribadi tidak akan canggung dan malu, bahwa  keraguan akan Tuhan mendapat tempat yang utama; pun di wilayah reformasi itu terselenggara—juga eksesnya yang menguat dengan identitas. Sekarang keyakinan menjadi berbahaya ketika hanya terpolarisasi dan tampaknya memecah masyarakat.  Berlaku bagi mereka yang dahulu memasok para misionaris. Sebuah keadaban harus mengenal esensi kemanusiaan, dan era Luther tidak perlu direkonstruksi untuk mendapat tempatnya sekarang.

Apa yang didapat dari Reformasi selain keterpisahan? pembagian yang hanya menguatkan masih berkutatnya kita dengan (identitas) keyakinan. Tidakkah polarisasi semakin diabaikan ?

Martin Luther seorang   yang tidak terlalu pagi, juga dini; hingga asyiknya kita menikmati kebebasan dan infalibilitas, anugerah, iman, Alkitab yang menyatakan Kristus dengan tentu hormat kemuliaan bagi Allah. Atau lebih jauh sebuah era kebebasan, lepas dari kooptasi dan mistik tahyul yang membuat agama bisa memperdaya. Menyukai dari awal dengan dimulainya pagi, tidak terlalu dini untuk mengingatkan.

Saya pikir, kita  harus hati-hati dengan pergumulan pribadi !

Selamat Hari Reformasi,

Oktober 2013.

Lagi, Membaca ‘serapahan’ Atas Agama Pop-Injili Amerika .

Lagi, Membaca  ‘serapahan’   Atas Agama Pop-Injili Amerika .

Judul      : “Kekristenan Tanpa Kristus”,

                   (“Christless Christianity: The alternative gospel of American church”)

Penulis   : Michael Horton

Penerbit : Momentum 2012, (Baker Publishing Group 2008)

Hal : xi + 307

Apa perlunya membaca mengenai amerika yang kita sudah ketahui  ? Bisa juga, apa menariknya dari sebuah kedigdayaan ? untuk dimaksudkan digdaya bahwa isu utama seakan didapat. Akan tetapi itu yang ingin dihadirkan Horton ! maka jadilah sebuah tulisan yang tergarap dalam bab yang, untuk ini sekali lagi mencaci dengan agak sedikit tanggung sebuah laku beragama dalam frame protestan Amerika yang serba menunjang individualisme dan pemenuhan diri.

Menyerapahi yang sudah ditebak tentang kekristenan yang bercirikan nuansa kontemporer dari subyektivisme pemenuhan diri, mungkin akan membuat naiknya derajat seorang teolog sekolahan yang juga bisa disandingkan dengan kritikus kebudayaan. Potongan bernada serius untuk sedikit menghunjam, kekristenan-tanpa-kristuslantaran sebuah bangunan tema dan juga sebagai ulasan dengan judul yang memang menantang. Dimana dengan membuat kritik atas, lagi-lagi: Osteen, Meyer, Copeland,  Schuler (hal 64-104). Dengan  entah abai atau tidak tergarap tentang dimanakah ulasan bagi pengembangan diri seorang yang “menyimpang” Rick Warren  Tetapi punya ortopraksis bagi negara yang terjebak dengan HIV ?

Seberapa mengganggunya ini ? yang menarik dan sebenarnya sudah dilakukan adalah diagnosa terhadap kekeristenn amerika yang sebenarnya mempertautkan impian amerika yang asing dengan pengertian Kristus didalam kekristenan Alkitab. Kesimpulannya sebagai ajakan adalah menegaskan misinolitas gereja di bab akhir (hal 291-294). Hal yang perlu dicermati dan alpa adalah desakan spiritualitas yang memandang tidak hanya laku pemenuhan spiritualitas an sich atau pun ortodoksi yang dipulihkan. Akan tetapi, mengambil bagian pada tindakan, sekalipun disana-sini, dalam paparan halamannya mengingatkan akan andil yang diberikan dan pentingnya pelayanan yang menjunjung pada real kehidupan. Akan tetapi akhirannya  pada desakan misionalitas gereja, Horton  mengambil posisi ortodoksi dengan cukup melabelkan inerantisme potongan teks Alkitab, seakan –akan tidak ada masalah dan terselesaikan dengan kewibawaan. Padahal kita ketahui bahwa yang misonalpun kadang tidak berguna dinegara dunia ke-3 dan sekedar status quo dari kegemaran partikularitas khas Injili amerika yang doyan plesir.

 

Sebagai pembanding, saya bisa menghadirkan contoh yang bisa di puji (baca:dicermati). Misi kalangan reformed dari Calvin seminary yang berkolaborasi dengan apa yang perlu diserapahi dan bagian dari subyektifisme teologis dalam menebar “seed of justice” di Honduras, jika hanya mempertobatkan.  Justru yang terjadi kolaborasi penggiatan dengan kalangan neo-pentakosta dan katolik-roma dalam menghindari perangkap-perangkap missing-jesuspatologis sosial akan struktur yang berubah dimana pemberontakan dan perang saudara hingga pelecehan terhadap anak-anak pernah ada dan terjadi (lihat https://calvinseminary.edu/2012/05/15/seeds-of-justice-harvest-of-shalom/). Sehingga jalinan ortodoksi dan ortopraksis itu tetap ada, setidaknya diluar dari sekedar penegasan, hal yang memang diingatkan oleh Horton(hal. 137). Akan tetapi buku ini perlu diberi kredit, untuk mengijinkan bagian yang tidak utuhnya dan sebagai ulasan kebudayaan tentu lebih bernats dan menarik untuk mempelajari historiografi yang memang ‘kering’ dari mereka yang tepat menganalisis kondisi kontemporer amerika, tersebut lah orang-orang sperti Mark Noll, David wells, Nathan O hatch.

Horton yang mewarisi suksesi Machen sebagai penerus ‘klan’ ortodoksi reformed  dengan pelabelan profesorshipnya memproyeksikan atas tudingan Machen yang pada masanya bertarung dengan liberalisme—sekali lagi untuk identifikasi itu penting dan diteruskan, bahwa “orang-orang Amerika…memilki suatu ciri khas yang cukup menonjol yakni anti-intelektual. Kita adalah pelaku bukan penganut, para pragmatis bukan para pemikir (hal.280)” entah dalam hal ini adakah yang diwakili dari ortodoksi machen yang “intelektual dan pemikir” yang berharap pada konfesionalitas dan kredo ?

***

Ada banyak hal yang  terhubung secara literal dan dogmatis, baik mengukuhkan mengenai konfesionalitas reformed versus penentangya (pelagian, semi-pelagian &arminian, hingga Finey) juga  merujuk Bonhoefer yang sungguh menjadi punya tempatkah detil dari konfesionalitas dogmatis ?   Selain itu ada Harold Bloom yang dipinjam analisisnya, seorang scholar literacy critic yang kebetulan mengesankan Horton, yang sekalipun non-reformed tidak bisa main-main dan abai dengan kasus pelecehan sex yang pernah dilakukannya yang jika dibandingkan dengan Finey yang “bidat” akan tetapi mengesankan dalam sikapnya yang anti-perbudakan. Tentu hal ini merambah penalaran kita,  akan halnya pemosisian yang melibatkan dalam telaah tampilan kebudayaan yang memanusiakan dan gereja yang berperan dalam sejarah ketika konteks itu terjadi,  sekali lagi ortodoksi menjadi jaminan. praise-and-worship-dark Dengan sedikit melonggarkan untuk tidak melihat problem pribadi, jelas: pelecehan bukan problem pribadi ! Sekalipun tendensi yang utuh untuk memvonis, Horton patut dihargai yang memang berangkat dan berujung pada posisi dogmatis tersebut. Pun, jika john frame memperkarakannya dengan lebih dekat ke Lutheranisme di bandingkan Reformed, entah siapa yang ingin membangun dan gandrung terhadap pijakan Frame jikalau itu penunjukan ortodoksi ?

Alhasil penasaran saya yang berharap tidak sepicik van tilianisme, mendapati sesuatu yang mudah ditebak dan analisis yang menguras energi dari keprihatinan “Kekristenan tanpa Kristus” ini terasa biasa dengan penghindarannya, kecuali jika kita menganggap bahwa Amerika itu penting, atau teramat penting ! Sebuah sinisme memang !

 

1st edition komunitasinjili review, okotber 2012

Tentang Doktrin Anugerah yang Mengecilkan ?*

*uraian edisi Nopember 2013

(Hal yang didapat dari Roma 5:17)

Mengenal Allah melalui doktrin anugerah, seakan mengecilkan bahwa Allah yang melampaui dan biasanya kita mengenal sebagai wahyu dari Allah yang menyatakan diriNya dimengerti dari ketidakmampuan manusia. Maka sekarang hanya dengan pengertian ketidakmampuan manusia tersebut dianggap mencukupkan dan juga menjadi pembeda,  yang untuk dianggap menjelaskan secara keseluruhan sebagai Allah Alkitab ? Allah yang dinyatakan oleh Alkitab—sumber dari pengertian kita.  Ayat yang menegaskan, dan terkesan menjadi kecil ini  berasal dari ayat  Roma 5: 17 . Dimana  terkait sebagai penjelasan mengenai sejarah. Apa yang harus kita ketahui adalah tentang kita yang berdosa. Pengenalan Allah dalam hal ini dan sejarah kita yang terpisah karena dosa oleh Adam. Sejarah untuk kita mengenal maut dari dosa tersebut (Rm 5:12)

***

Prinisp anugerah adalah melihat hal ini, hal  yang sepertinya mengecilkan. Doktrin anugerah, kerap dikenal dalam istilah yang ‘import’ —terhubung dengan istilah yang merangkum akan 5 pokok calvinism, bukan tata pelayanan dengan model hervorm calvinis belanda yang menjadi ciri kekristenan kolonial yang justru dikaitkannya tidak esensial !? Maka dengan ini kesetiaan kita pada pengertian bukan pada istilah, karena semacam kekuatiran akan jejaknya yang ‘import’, apalagi dianggap terhubung dengan kolonial atau penjajahan. Sehingga penjelasan menjadi tertera nyata, kata anugerah dalam arti dan tertera literal adalah sangat sedikit didapati, akan tetapi jelas terhubung kepada pokok yang utama yakni; Kristus. Pokok  yang memegang peranan terutama dan terpenting dalam iman percaya—sesungguhnya karena membuat tidak ada yang bisa datang kepada Allah, kecuali Allah yang terlebih dahulu. Paulus menjelaskan hal yang jadi pembanding secara sejarah. Dan anugerah itu tertuju kepada Kristus. Hal yang dari Allah dan adalah Allah sendiri.

Dengan Doktrin anugerah kita melihat kepastian keselamatan yang membenarkan, dengan ini kepastian yang menuntut kita untuk “berbuat baik”. Prinsipnya “bukan perbuatan baik yang membenarkan kita, melainkan kita dibenarkan oleh iman  kepada Kristus untuk berbuat baik” sesuatu yang memandang pada korban Kristus dalam kematian dan kebangkitannya.(Rm 3:24,28; Gal 2:16-17)

***

Lalu kita harus serius menggumuli hal ini. Keselamatan dengan mengetahui keberdosaan, keselamatan yang dihinggapi dengan sadar akan kesia-siaan hidup yang dijalani (mzm 94:11;108:1;pkh 1:2;Rm1:21), “menjadikan maut telah berkuasa”  . Maka dalam Kristus, itu permulaan sebagai yang sulung (Rm 8:29; 1kor 15:20), Adam  yang ‘kemudian’ yang oleh-Nya kita diselamatkan dari kesia-siaan dan maut tersebut (Rm 5:14-15, 1 kor 15:45). Karenanya anugrah menjadi pemerolehan keselamatan dalam permulaanNya untuk hanya Kristus yang membenarkan, permulaan yang bersifat kekal, permulaan yang menghidupi dalam kenyataan kita hidup; permulaan dari kita sadar diciptakan sebagai manusia baru (Ef 2:15; 4:24) permulaan yang indah yang kita mendapati “selalu baru,..sebab itu aku berharap padaNya” (Rat 3:23-24). Sadar akan hal ini adalah kebenaran dalam dan hanya Kristus sebagai anugerah yang dari Allah. Apakah Kritus itu ? Anugerah ! siapakah Kristus ? Anugerah Allah.

Tidak ada kebenaran tanpa anugerah, tidak ada kebenaran tanpa mengenal sejarah untuk seharusnya kita mengetahui  kebenaran  akan keterpisahan dari Allah. Tidak ada kebenaran  tanpa dosa dan kesia-siaan hidup yang sadar itu diluar dari firman yang menjadi manusia, yakni Kristus (yoh 1:1,4,16) . “Kalam” sang khalik adalah Kristus, Dia terang yang dari Allah. Karena Allah yang berkehendak hadir.

Karenanya pengertian mengenai anugerah menegaskan akan Kristus. Sehingga pengertian anugerah diluar Kristus adalah sebuah kebohongan. Pengertian itu khusus dan hanya untuk Kristus. Berpaut hanya kepada Kristus untuk kita mengetahui bahwa diri kita beroleh pembenaran. Penjelasan dari yang ‘secuplik’ tersebut yang menegaskan akan pokok anugerah  adalah menjelaskan hal ini. Pengertian itu khusus dan hanya untuk Kristus. Berpaut hanya kepada Kristus untuk kita mengetahui bahwa diri kita beroleh pembenaran. Penjelasan dari yang ‘secuplik’ tersebut yang menegaskan akan pokok anugerah  untuk menjelaskan hal ini. Secuplik yang terlihat kecil.

Ketika sepertinya Kristus disederhanakan hanya pada pengenalan dan keselamatan dari dosa, sesungguhnya itu bukanlah hal yang sederhana. Itulah anugerah, seorang yang terlalu canggih dan yakin dengan perilakunya tidak akan bisa melihat ‘kesederhanaan’ ini. Iman percaya bukan masalah sederhana melainkan masalah anugerah. Sehingga makna yang didapat tentang “dibenarkan” dalam Kristus untuk ‘berbuat baik’ adalah melihat dalam keutuhan pengenalan  Allah yang agung, tetunya karena anugerah kita bisa mendapatiNya. Pengenalan akan Kristus dalam prinsip anugerah berbuah pada tindakan—disini hal tersebut dijelaskan. Tidak ada yang terputus dan memisahkan mengenai ini.  Kita menjadi bagian yang dalam Kristus kita dimampukan.

Terbesit selalu bahwa pembeda yang dalam Kristus adalah mengerti dari khususnya anugerah tersebut. Kristus yang ‘permulaan’ dan Kristus yang terutama harus menjadi yang mendasari pengertian kita. Adanya sebuah penambahan seakan membuat menjadi kesan, tapi  karena yang mendalam adalah tentang pengertian maka dengan Kristus adalah pengertian dan itu mencukupi untuk tidak adanya penambahan untuk membuat sesuatu yang menambahi kesan. Adalah terjadi karena tidak yakin dengan kecukupan berita Kristus yang ‘permulaan’ dan Kristus yang mendasari.

Dengan doktrin anugerah kita melihat dosa, adalah ketidakpercayaan yang diwariskan ?  Inilah hal mengenal Allah dan sungguhkah ketidakpercayaan ini melekat dalam diri kita ? sebuah pilihan dianggap bisa mengaburkan karena iman percaya kita yang tersisa. Seakan itu menjadi yang tersisa dan bisa diandalkan. Paulus sungguhpun sempat ragu, akan tetapi melihat yang utuh sebagai dirinya yang berdosa, “celakalah aku siapakah yang dapat menyelamatkan…” (1 Kor 9:16) dengan melihat adanya respon “syukur…” mengapa karena berbagian dalam surat ini.

Ketidakpercayaan tentunya menyangkali Allah. Ini bertumpu dan menjadi ringkasan dari begitulah kita membangun kehidupan dan menyatakan bahwa diri kita dengan yang ada selalu, jika ditegaskan adalah penyangkalan yang memang ada pada kita,  maka terlebih lagi berurusan dengan Allah adalah menjadikan ”…tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Rm 3:11b) dengan lebih lanjut berbuah kepada “keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan dijalan mereka”(Rm3:16); ditegaskan sebagai penjelasan mengenai dosa. Sebuah keberadaan kita dengan ketidakpercayaan yang sudah ada dan seumur dengan setiap kita yang pernah ada ini—hal yang bisa dibayangkan tentunya jika hal ini dianggap bodoh dengan memberi penilaian bahwa ketidakpercayaan dan penyangkalan menjadi ‘melekat’ dan diwariskan kepada kita. Karenanya apa yang diteguhkan sebagai kejatuhan kita adalah keterpisahan kita dengan Allah. Dimana ini juga dinyatakan, sebagai penyangkalan kita dapati  dalam banyak hal sebagai penjelasan dari keterpisahan tersebut, penjelasan akan kejatuhan kita. Kejatuhan yang karenanya kita menyangkal Allah.

Kita yang menyangkal Allah harus mau mengakui ini ! Kita, jika hidup dalam iman percaya sekarang, mengakui pernah berada dalam kondisi ini.  Betapa sulit mengakui dan tampaknya seperti menyederhanakan. Apa yang paling mengkhawatirkan adalah prinsip sederhana tentang kejatuhan yang seakan gagal dalam melihat permasalahan. Pokok dari kejatuhan tersebut dengan tetap menegaskan akan manusia yang tidak dengan sendirinya. Manusia yang harusnya bertanggung jawab kepada penciptaNya. Nilai manusia yang telah jatuh apa artinya ini ? Tidakkah dia bisa bangun lagi ? sebuah kemanusiaan yang diletakkan  mengapa harus melihat kejatuhan manusia? Banyak hal yang bisa dimunculkan dan menjadi pertanyaan mengenai hal ini.   Akan tetapi kedalaman pengertian kita biar bagaimanapun, dilatih dengan nalar yang paling kritis sekalipun, harusnya diletakkan dengan dasar ini. Akan sangat berbuah jika dibangun dengan dasar ini. Dengan dasar pengertian akan keterpisahan kita terhadap Allah pencipta kita.

***

Doktrin anugerah memiliki uraian untuk juga mengenal akan Allah yang menjadi khusus. Kekhususan untuk menjamin orang percaya didalam Kristus. Jadi akan halnya yang khusus sebagai dasar yang tidak didapati dari yang lain, ketika kita berupaya maka satu-satunya yang menjadi berita bukan warisan yang diimpor, hal yang terkait sebagai penjelasan mengenai sejarah  menjadi penjelasan yang khusus dan mencukupi mengenai Kristus, juga menyadarkan akan ketidak percayaa kita.

Doktrin anugerah memuliakan Allah. Jika ini menjadi penjelasannya maka pastilah kita akan selalu dan sedang dalam pengenalan akan Allah, mengapa ? karena  ketika kita percaya hanya melalui Kristus kita dibenarkan. Sebuah kutipan yang dengan sangat sembrono pernah diutarakan bahwa “…yang lama telah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang…” hal itu sungguh berani dikatakan ketika terhubung dengan sebuah partai politik yang beriklan. Mengapa berani memberikan penilaian sebagai penilaian yang sembrono ? karena pastilah menjauh dari pengertian yang dimaksud. Dalam pengertian dasarnya menjadi dikeruhkan, sebagaiman hal yang mengeruhkan dari pokok dasarnya akan doktrin anugerah yang bukan warisan kolonial.   Jadi, doktrin anugerah jelasnya mengecilkan ? kekeruhan dari warisan kolonial, menantang pergumulan untuk kembali kepada yang memurnikan, salah sangka yang sudah terlalu lama membutuhkan tuntunan Roh Kudus. Karena ada yang bukan warisan kolonial.   Pujian hanya bagi nama Allah dalam keagungannya karena kita mengenal dan bertumbuh dalam pokok ajaran anugerah.

JPS

Dari arsip lama (Bag. 2)…”Tuh kan bener ngga terjadi !”

Mengapa Saya Tidak Percaya Dengan Transformasi Indonesia 2005 !!!!!
(Mana Transformasinya ?)

Oleh : Jannus P. Sihombing
( Komunitasinjili Cibinong)

Suatu perubahan yang digerakan secara supranatural akan mengubah bangsa Indonesia. Momentum yang digunakan adalah Tahun 2005 yang entah dimaksud dari awal atau pertengahan, atau pada akhir. Mencontoh fakta yang ada dari negara yang konon juga mengalami kemujaraban perubahan dengan upaya ilahi(supranatural) ini, dapatlah dikatakan demikian, yakni; Uganda, tetapi akhir Maret lalu mengalami kerusuhan dan epidemi Aids konon juga tetap saja ada, padahal dengan Transformasi yang terjadi di negeri itu banyak mujizat yang menyembuhkan penderita Aids dan angkanya menjadi turun, untuk tidak dapat dikatakan lenyap sama sekali.

Mencontoh dari fakta yang ada, fakta yang mana ? Oh…Almolonga, sebuah wilayah di Amerika tengah. Sesuatu yang sedang terjadi atau bisa jadi dianggap pernah ? Dimana daerah agraris yang beroleh kemakmuran akibat kuasa doa dan kehidupan masyarakatnya diubahkan, akan tetapi tetap tidak tenar secara umum untuk mengakibatkan efek urbanisasi (daerah yang dituju kota) ataupun ruralisasi (daerah yang dituju desa) yah pokoknya migrasilah-pengertian bakunya, terjadi perpindahan menuju ke Almolonga tersebut; sebagai daerah tujuan hidup dari banyak orang yang tentunya ingin menetap disana. Dokumentasi dan publikasi ini ada dalam bentuk VCD yang menjadi sarana penggerak untuk mau berdoa dan dengan pertanyaan ” Mengapa dikita tidak bisa terjadi ?”.

Pendeknya miniatur surga dapat dibawa kebumi, yang secara lokal ‘percikan-percikannya’ ada didaerah dan beberapa negara tertentu; yang untuk itu dinamakan Transformasi. Sekalipun diupayaan untuk akademis dengan juga berwacana-karena ada buku yang juga mengupas hal ini, harus diakui ada kontribusi untuk mau menggali secara pengertian dan tetap bukan suatu penilaian pukul rata, tetap saja asumsi dasar untuk praktisnya adalah dengan menggerakan segala lapisan gereja untuk berdoa dan menjemput impian di tahun 2005, karena itu dinamakan gerakan Transformasi 2005.

Silahkan wujudkan segala impian yang bagus dan digabungkan menjadi sebuah motif bersama dengan mewujudkan negeri yang damai sejahtera-untuk hal ini juga ada partainya.
Gambaran yang motifnya kesejahteraan yang menyeluruh ini dapat dilihat dari beberapa sumber berikut :
” Dulu kita hanya mengenal mujizat “rohani”, sekarang kita sadar bahwa mujizat Allah dinyatakan untuk setiap bidang dimana kita butuh campurtanganNya. Ada mujizat bisnis bayangkan sebuah perusahaan berhutang 13 juta dolar bisa untung 13 juta dolar dalam waktu beberapa tahun. Ada mujizat politik bayangkan sebuah rancangan dasar negara diubah hanya dalam waktu 24 jam. Ada mujizat pertanian – bayangkan wortel sebesar betis di Almolonga.

acara transformasi 2005 hoax naif itu

Bayangkan mujizat lainnya… Indonesia ada diambang Transformasi. Anda percaya atau tidak, namun gelombangnya sudah beriak kedengaran. Nabi-nabi sudah bernubuat. Hamba-hamba Tuhan sedang bersatu menjadi bagian dalam pegelaran akbar rencana Allah ditengah negeri yang memang sangat butuh jawaban” (warta GKKD3/11/2002)
Untuk dianggap sebagai hal yang baru setelah dampaknya hanya berlaku kepada gereja, pertambahan jumlah, pengunjung kebaktian dan keantusiasan akan kerohanian seperti telah terjadi yang juga dapat diberi judul “Transformasi” yang dialami beberapa kota; pertumbuhan jemaat di Cali, Colombia yang entah kabar terbarunya dari kota yang dikuasai oleh peredaran narkotika ? Hemet, California kehadiran kebaktian meningkat pada tahun 1999 dan banyak anggota Gang yang bertobat, entah dengan dasar keimanan seperti apa ?

Dimana sayangnya tidak menjadi fenomena internasional untuk dikenal umum. Bandingkan dengan kota-kota Reformasi yang memberi sumbangan terhadap peradaban pendidikan dan industri; Geneva & Strasbourg di jaman Calvin, wilayah New England dijaman kaum Puritan yang menjadi cikal bakal kemakmuran Amerika Utara yang sampai dilema kebebasannya dalam kondisi sekarang tidak dapat dipungkiri peran religiusitas dari para pendahulu dan pendirinya yang menjadi peletak dasar tatanan masyarakat.

Akan tetapi tidakkah itu menjadi hal yang diinginkan untuk sesuatu yang nampak menjadi kenyataan, dimana masalah-masalah sosial dapat ditanggulangi. Terlepas dari sebuah perbandingan, inilah hal yang dinginkan untuk kesejahteraan dan kemakmuran terjadi.

Ajakan Yang Indah.
Sebuah ajakan yang indah tentunya yang “orang-orang yang tidak mengenal Allah Alkitab pun” sangat ingin mendapatkannya, pokoknya menyenangkan orang banyak. Oh..ya untuk tidak lupa dalam ‘petisi’ yang mengisyaratkan akan sebuah perubahan total yang akan melanda yang diupayakan dengan kemujaraban dengan doa dan hanya berdoa, ya kalaupun daya tentunya adalah mendayakan doa secara bersama-sama, tidak menegaskan akan konsepsi keimanan yang dipegang sehingga prinsip yang praktis mengurai dasar Alkitabnya pun sangat beragam. Jadi jangan coba-coba mempersoalkan dan mempertanyakan doktrin, dengan klise yang diutamakan adalah kesatuan untuk berdoa dan imbalannya Transformasi.

Tetapi dalam kurun waktu yang telah diupayakan mana Transformasi yang ilahi itu ? Mana perwujudan iman dari mereka yang percaya akan perubahan dengan kalkulasi yang tidak beda dengan cara menghitung togel perihal 2005 dan kesaktian kurun waktu selama 40 tahun ? Sebuah kurun waktu yang dianggap sakral yang juga tertulis di Alkitab yang menjelaskan sebuah kurun waktu tertentu, oleh salah satu pencetus ide Transformasi 2005. (Pdt. Rachmat manullang sering dalam beberapa kotbah)

Sampai dengan memasuki pertengahan tahun 2005 ini mana ? Dengan skeptis, karena memang tidak berdasar dengan keakuratan apa yang Alkitab nyatakan, saya termasuk ‘orang yang tidak punya iman’ untuk konstelasi alam dan fisik yang terlihat secara kasat mata akan diubahkan atau lebih tepatnya berubah dan lebih mengganggap sebagai kepalsuan berita yang dibungkus oleh pesan religius dengan memanfaatkan Alkitab.

Konsekuensinya sayapun harus keluar dari gereja yang getol dengan tersusupi materialisme-mistik seperti ini dan rawan ditunggangi berbagai kepentingan. Bersaamaan dengan ketimpangan yang ada dengan mengemban nama Allah Alkitab dalam penatalayanan, dimana segala kotbah menstimulus hal ini dan juga hal-hal yang lain yang tidak membuat kita bergantung kepada Allah dalam ketekunan pengucapan syukur untuk senantiasa menggurai Alkitab, firman Allah yang berotoritas. Lantaran bukan karena saat ini terjadi transformasinya ? Senantiasa untuk mengingatkan Transformasi apa yang telah terjadi, atau jangan-jangan diundur, bukankah belum habis tahun 2005-nya ???!! Sebuah pencocokan untuk hanya sekedar eksis dengan meminjam Alkitab, dikarenakan mungkin sudah tidak ada tema lagi yang spektakuler dan menjadikan eksis.

Sesuatu Yang Sedang Terjadi.
Diawal tahun tidak ada yang baru. Pagi yang biasa diawal tahun mungkin adalah sebuah keletihan setelah merayakan. Dalam suasana perayaan yang tidak umum sebagai sebuah perayaan pergantian tahun, yang terjadi adalah duka yang ukurannya nasional. Nuansa hedonis karena perayaan yang berkurang lebih dimaknai sebagai pemakluman, karena bencana tsunami yang luarbiasa di Aceh dan sekitarnya .

Berharap adanya Transformasi-tentunya bagi yang mengharapkan yang berdampak kepada mereka yang tidak mengharapkan. Tetapi tidak terjadi apa-apa dan biasa saja, tidak ada gerakan dari lapisan kerak bumi ataupun dari luar jagat bumi yang mengubah secara holistik untuk menjadi lebih baik sebagai mujizat, oh ya sampai lupa untuk yang dimaksud holistik adalah menyeluruh.

Tidak ada tanda-tanda krisis berakhir dengan sedemikian rupa, kalaupun ada hanya upaya pemerintah untuk menanggulangi bencana dan parahnya ditambah BBM naik yang oleh sebagian besar peminat Transformasi 2005 ini tidak didukung dalam kampanyenya yang lalu.

Malahan dukungan diupayakan untuk identitas yang konon membawa kekristenan yang juga peminat Transformasi ini yang tetap saja ada koalisi politik yang tidak diduga sebelumnya dengan kepolosan sikap kerohanian yang munafik, inilah kerawanannya untuk ditunggangi sampai ada yang mengampanyekan melalui kotbah yang tentunya peminat Transformasi 2005. Jadi sebuah gemah rupah lohjinawi yang tentunya semua manusia sangat menginginkan, tetapi mengapa belum terjadi ? Itulah karena salah memilih, oh maaf maksudnya karena kurang partisipasi dukungannya, untuk memilih…oh bukan melainkan untuk berdoa; ya bisa juga tindakan untuk memilih.

Dengan kemakmuran yang diupayakan dengan berdoa ini tentunya banyak yang menginginkan, jadilah sebuah kontribusi orang Kristen dan juga yang identik sebagai Allahnya orang Kristen, tapi mana ? Koq tidak terjadi, apa lantaran karena ada yang meragukan. Sebuah konsekuensi pembuktian yang lazim kalau mujizat terjadi karena iman, sehingga kalau sampai tidak terjadi masalah ada dalam iman yang mengharapkan muzizat tersebut.

Kalaupun itu terjadi tidak menjelaskan akan hekekat dari keberdosaan manusiayang menjadi pemisah dengan Allah yang kudus dan mulia, peradaban yang berubah dan menghasilkan tatanan masyarakat yang baik tetap tidak menjadikan bumi ini sebagai surga. Sekalipun demikian panggilan untuk mengupayakan yang baik bagi keadilan, ketertiban dan kesejahteraan masyarakat luas dengan keberagaman dan keberbedaan agama tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan yang tidak perlu diiming-imingi oleh sebuah kurun waktu.

Jikalau konon katanya ada ‘nubuat’ mengenai pertobatan besar untuk berubah iman percayanya dengan konversi keimanan untuk kuantitas menjadi Kristen yang banyak, jelas sangat asing jikalau iming-iming beritanya tidak menjelaskan hakekat keberdosaan manusia secara individual kepadaAllah.
Pengupayaan yang tidak ada atau tidak terjadi bisa dikarenakan kurang berdoa, yang dengan gampang dapat dikatakan juga mungkin kurang masif dan atraktif. Jadi supaya Transformasi yang wah itu terjadi bagaimana kalau lebih aktraktif lagi ?

Transformasi Itu.
Kita butuh transformasi, memberikan citra yang baik untuk hal yang bernama perubahan, jelas ! Akan tetapi pengertian yang membawa kepada pengupayaannya yang harus dicermati. Hukum positif yang menjadi penopang dalam keberlangsungan kehidupan bermasyarakat perlu dicitrakan dalam suatu kewibawaan dimana keterpurukan karena korupsi yang dianggap sudah merejalela harus disudahi, pengupayaan kepada arah ini dapat menjadi sebuah seruan yang proyeksinya tidak mistik dan momentumnya pada satu kurun waktu. Inilah Transformasi masyarakat-setidaknya kekristenan, dimana manusia-manusia yang diperbaharui oleh Allah Alkitab yang sejati dapat mengupayakan dan berbeperan serta dalam takut kepada Allah untuk menegakan tatanan masyarakat yang hanya diakui berada dalam pemeliharaan Allah.

Transendensi agama melengkapi dalam partisipasi bukan sebagai candu yang memabukan dan memelihara mimpi yang utopis dan tidak realis,sebagaimana kritik klasik dari Karl Marx, melainkan memampukan untuk mau menghadapi kenyataan. Agama yang sejati yang hanya muncul dari kematian dan kebangkitan Kristus memberikan sumbangsih dalam kerelaan untuk mau berkorban dan menghadapai kenyataan yang ada karena pertanggungjawabannya kepada Allah dalam penyertaan dan firmanNya, sementara tidak ada yang berarti yang dapat dianggap mengubah kondisi saat itu, jaman dimana Kristus ada. Akankah diartikan tidak ada peran serta dan pengabaian terhadap kondisi yang ada ? Penelaahan firman yang bertanggungjawab diperlukan dengan keteruraian dari konteks dan bukan memasukan unsur kemujaraban, menjadikan beritanya diminati oleh banyak orang.

Semoga dapat mengupayakan sesuatu yang bertanggungjawab. Menjadi dewasa dengan berputar haluan kepada mandat yang semestinya membuat mau menggunakan momen, karena konon tetap akan ada ‘kumpul-kumpul’ dalam skala nasional, untuk suatu komitmen dengan mengakui kesalahan proyeksi kita terhadap sesuatu yang tidak berdasar.
Seyogyanya hal ini dipakai untuk mengakui kesalahan tafsiran dan ajaran, merumuskan kembali dari hakekat dasar yang kita gunakan dalam panggilan kita mengupayakan hal yang baik dalam tatanan bermasyarakatkita. Sumber yang seyogyanya kita bisa dan tidak akan pernah habis karena pemeliharaan Allah Tritunggal dalam rumusan Alkitab. Semoga yang mengupayakan Transformasi 2005 (karena akan ada ‘kumpul’ nasional akhir Mei 2005) mengakui hal ini, jikalau tidak cermati dan wasapadai bahaya latent (baca: tersembunyi) yang lain dari mereka yang terlibat mengupayakan hal ini, senantiasa berdoa untuk mau mengakui kebergantungan kita kepada Allah. Terpujilah Allah Bapa, Putera & Roh Kudus yang memelihara iman umat pilihanNya.

Jannus P. sihombing
9 Mei 2005.

Blog at WordPress.com.

Up ↑