Search

Jann'sektarian'__ nehh Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Category

Isu-isu Lokal

Berjejak pada lorong…

Apa yang bisa diharapkan ? Sebuah perubahan ! Pada lorong, sebagai tempat berteduh karena memang hujan yang terus datang dan orang-orang tepatnya mereka yang telah bekerja akan pulang.

Lorong didepan, arah masuk gereja Posko baru ada sekitar 1,5 tahun yang lewat. Akan berguna sebagai tempat berteduh. Ketika di jam-jam istirahat, lorong itu sebagai tempat untuk beristirahat makan. Hal yang tidak kalah penting dari waktu pulang.

Lantas yang dikemukakan sebagai pokok dalam berkeyakinan ? Seakan sekedar menangkap bergunanya disaat hujan.

Debat cagub DKI & para Teoloh “Evangelical” yang surut di negerinya si Bigot…

debat-ke-2

Tadi malam sewaktu melihat debat, saya terenyuh sejenak dan bersamaan menyaksikan juga produktivitas yang tersaji dari para teoloh yang tampaknya merasa tetap dan agak sukar memang terhubungkan akan tetapi tak terelakan bahwa; mereka menyurut dalam kondisi yang gegap gempita, bahwa bahasan mereka hanya dalam kemunduran semata ? Betapa tidak sebuah variasi yang jauh sekalipun tidak dikatakan mulus dan ideal bahwa kontestasi pemikiran tampaknya tersaji. Yah debat cagub DKI Jakarta yang telah menyita dan menarik ruang-ruang bahasan, sementara para teoloh yang produktif juga di Amerika sana itu bisa berjarak dan abai ketika kualitas panutan mereka dalam kepemimpinan sipil dianggap kontroversi.

Para teoloh itu sungguh bernuansakan iman Evangelical, dengan tetap memang tidak menggubris apa yang berubah ketika nuansa kebencian memayungi kepemimpinan dalam tertib sipil—wow pemimpin sipil hasil pilihan itu serius mau membangun tembok pemisah, sebuah kecurigaan yang tidak dikenal dalam dunia diplomasi ?!

Jadi dan pasti saya harus menutup dan menggeser kalau tidak saya akan terlampau menjadi ‘saleh’nya. Dalam pilihan politik praktis, beberapa yang masih dalam ranah teoloh itu sebagai inidividu memang menjadi kontra dan bersiap meyakinkan bahwa tertib sipil dalam pilpres Negara “evangelical” itu sudah salah kaprah ketika warga berimannya memilih seorang bigot (baca: picik, tidak toleran) yang sangat primordial, tapi apa lacur yang bigot dan primordial itu menang dan meyakinkan pemilih beriman untuk ketakutan dan merasa “besar” yang selama ini telah “dikecilan”. Dimana para teoloh yang produktif dan pintar itu ? Haruskah bahasan pencarian kita mengikuti dan merujuki telaah-telaah mereka? Alhasil, kemuakan pada kemunduran dan surutnya para teoloh yang memproduksi banyak teks, buku itu memang menantang dan teramat sangat menantang setidaknya untuk tidak mengagunkan dan ‘merujuki’ dengan bahasa yang sangat kritis–emang sejauh ini ? Sesuatu yang agak keluar jalur jika masih menggagungkan dengan identitas “evangelical”nya itu

Dan dalam debat cagub DKI tersebut, sungguh tersaji pilihan yang bisa digali rekam jejak. Pilihan yang ingin membuat rasional, kembali lagi, bukankah ketika si bigot itu menang juga melalui debat sebagai prasyarat demokrasi dalam pilihan praktis yang… Tapi kenapa jadi ngomongin politik yang teramat praktis begini? Ayo bahas candu yang bernama keyakinan atau agama tersebut ? Sesuatu yang para teoloh itu bisa tetap terlibat, syukur-syukur dan berharap kalau Negara sudah tidak mengurusin agama atau keyakinan tersebut ? Sebagaimana katanya ditempatnya para teoloh tersebut Tetapi Dalam debat cagub DKI itu agama tidak dibahaskan ? Setidaknya memang debat ke-2 lebih maju dan tidak nampak,karena itu hidup Endonesaaaahhhhhhhhhh bodo amat sekalipun baru DKI jakarta, yaaah karena tahunya baru cuma itu yang nampak.

jangan kuatir bagi yang berminat jadi teoloh yang ‘saleh’, lapangan kerja tetap terbuka kok. Yeahhhh viva evangelical…

Allah Tritunggal Menyertai

—J.Pees —

Literasi Suburban (baca: pinggiran) itu…Hal yang didapat dari kemelekan beraksara.

948192_10264907062015_ruangpublik160911-1

Secuil ruang publik yang sedikit maksa. 

Ruang publik (public space) meminjam pengistilahan dengan penjelasan Wikipedia ini adalah ruang sosial yang terbuka dan terakses untuk orang. Karenanya juga menjadi bahasa yang umum dan meluas, dengan lebih lagi Wikipedia ini menjelaskan bahwa ruang publik bukanlah tempat kumpul  (gathering place).

Maka apa yang ‘diatur’ wikipedia dengan bahasan yang cukup luas tersebut  menjelaskan definisi-definisi yang lain. Setidaknya ketika sadar kita ada dan perlu bukan semata dari individu-individu.Maka ruang terbuka yang tanggung tersebut, mengingat tidak ada ukuran yang pasti akan ruang yang terbuka dan terakses, menjadi perlu untuk ‘dipaksa’. Yaah bisa lapangan olah raga, yaah bisa sekedar kumpul melingkar. Unsur pemaksaan inilah yang bisa menjadikan dua hal; baik pemaksaan dengan ‘otoritas’ warga sendiri atau otoritas ‘penguasa’ secara lokal.

Mempertahankan ruang terbuka dan terakses itulah yang dirasa sebagai basa-basi terlebih jika dianggap sebagai dan sekedar fungsi sosial. Akan tetapi ruang publik sangat berperan dalam identitas yang lain, selain yang utama 1470202983253memang fungsi sosial. Berfungsi apa ? mmmhhh bagaimana jika ruang publik tersebut berfungsi sebagai penunjukan identitas. Terutama untuk identitas olah raga yang memang sekedarnya ini ? Maka inilah yang dirasa perlu. Kekuasaan untuk menghadiran ruang publik tersebut. Sebenarnya tidak terlalu baru dan bisa jadi sesuatu yang latah untuk warga bisa terlibat. Ruang  terbuka, yang selalu ditandai dengan ruang yang juga asri dan outdoor kerap melabelkan sebagai “ruang terbuka hijau”. Sebagai yang lazim akan tetapi niat yang tanpa pamrih ini yang seharusnya juga lazim.

Hal yang privat–sesuatu yang berlawanan dengan publik ketika dikembalikan kepada ruang terbuka tentu menjadi tidak lazim dan membutuhkan kesediaan dari yang berotoritas. Atas nama ruang basa basi ini, kita memberi kerelaan untuk senggang. Akan jauh ketika hal ini berhubungan dengan beberapa bahasan filsafat sekaliber Harbermas dengan teori “public sphere”, hal yang lebih dari sekedar konstruksi bangunan atau fisik. Tapi percayalah ini cuma soal petakan yang secuil dan berharap bisa menjadi ruang publik, ruang bersama yang basa-basi itu.

 

JPS

 

Lapangan Tanggung “Palamanis Serong”…

1470202983253

Lapangan itu, eks-anggota DPR yang menohok, Gerbang kota kabupaten dan  siapa yang menginisiasinya ?

*Tentang pemugaran lapangan warga dan mempertahankan ruang publik

Lapangan adalah sarana kewargaan dan bukti bahwa itu diperuntukan dan dalam kesediaan warga untuk beraktifitas, yang standar tentu sepakbola dengan agak menciut menjadi futsal, juga yang telah lama adalah bola volley. Maka ketika itu tidak ada bisa menjadi pertanyaan juga apakah warga dan penghuninya ada ? wow kasar sekali ?! Akan tetapi penanda ini menjadi penting,    setidaknya sudah tergantikan dengan anak-anak yang akan memfungsikannya.

Inilah yang terjadi, sebuah niat untuk memfungsikan kembali lapangan warga .’Petakan’ tanah kosong yang terletak di jalan sena V dan jalan yang tidak terlalu diakui tapi tertera dengan wisnumurti I lingkungan palamanis dan komplek Bekang 1469841798588tersebut mengalami pengalihan fungsi untuk dikatakan tidak hilang sebagai lazimnya lapangan tanggung.  Maka niat gotong royong warga, juga kenangan sebagian dari penghuni disekitaran lapangan harus diwujudkan, manakala lapangan adalah berfungsi kembali sebagai lapangan.  Karena itu kenangan dan niat bertemu dengan panitia yang berharap bisa mengerjakan dengan rampung, cepat dan difungsikan. Alhasil agak lama dan tetap saja bisa rampung yang sungguh sayangnya tidak difungsikan ketika sarana warga dalam perayaannya yang sangat ketahuan yakni; tujuh belasan, dimana hal ini justru tidak terselanggara. Venue yang ada untuk hajat meriah bersama malah tidak terjadi, seputar event-event ‘kolosal’ dari jatuh-jatuhan dikarung, hingga kita tahu bahwa kelereng masih berfungsi juga kerupuk terasa lain jika terhidang dengan tali. Sesuatu yang memang ‘baku’ khas perayaan warga, akan tapi justru alpa bersama lapangan yang telah terwujud tersebut.

Kembali ke lapangan yang terwujud tersebut. Tak ada korporasi (baca: perusahaan) yang terlibat ketika ketahanan warga sanggup memberdayakan. Ancang-ancang yang besar ketika korporasi yang sedianya bisa memberi bantuan agak sulit dan kehilangan daya untuk warga berharap. Maka inisiasi lapangan itu menjadi menarik, mengapa menarik ? Karena kesanggupan untuk menunjukan identitas dari warga yang tentu membutuhkan ruang rehat bersama.  1469848602762Dengan sangat paham ketika 1469849291971sarana warga, tentunya juga lapangan  bisa diklaim. Siapa yang mau mengklaim sarana warga ? Berada disebuah wilayah dan juga ibukota kabupaten tentu, sekalipun tidak terlalu kerasa, menjadikan hiruk pikuk yang lumayan. Salah diantaranya adalah hiruk pikuk politik. Agak  silam memang, ketika janji-janji dalam kampanye telah diniatkan. Janji yang memang tidak besar, akan tetapi harapan untuk terlibat membantu lapangan tidak tersedia; akan halnya berbeda dengan janji yang dahulu, ini tentunya lebih kecil.  Bahkan untuk sekedar paham sedikit, juga agak menjauh.

“Tahu ngga gajinya sebagian besar para penghuni komplek itu berapa sekarang ? ”

Demikian diketuskan oleh seseorang eks anggota DPRD yang gagal jadi caleg level nasional. Ketika disodorkan proposal awal.   Maka lapangan yang telah menjadi identitas ini tetap menjadi dan bahkan telah berlangsung untuk warga, perihal keberlangsungan ini yang memang tersembunyi akan tetapi cukup ketara sebagai niat warga. Bahwa mantan anggota DPR lokal  yang menohok tersebut menjadikan selalu pertanyaan apa yang diupayakan dalam sarana kewargaan ? Hal yang memang dirasa terlalu kecil, setidaknya fungsi legislasinya dulu ketika seharusnya memfungsikan dan mempertahankan ikon-ikon ruang terbuka, sarana ‘rekreasi’ umum atau ruang rehat bersama tersedia pada land mark kota kabupetan, seharusnya ! 18072_photo Ini yang terjadi justru Mall premium yang berbarengan dengan Gerbang kabupaten pemda. Hal yang diidentikan dengan sentra niaga untuk menjadi penanda ? sebuah sarana yang memang tetap berfungsi juga untuk jalan-jalan dengan berpendingin ruangan. Maka disinilah kita mendapati sarana kewargaan yang kecil tetap perlu, hal yang sejatinya memang diupayakan oleh warga dengan minus pendingin ruangan tersebut.

Tersebut kisah mantan anggota DPR tersebut pernah berjanji lebih dengan tak terpenuhinya akan janji tersebut. Juga sedikit penurunan fisik yang membuat keengganan jauh apakah si mantan anggota DPR yang gagal untuk level yang lebih itu, acapkali menjadi sukar dipahami dalam tuturan katanya yang sewenang-wenang. Bahwa lapangan itu mendekati rampung, adalah inisiasi warga, 1470202966898hal yang menguatkan juga kesukaran dipahami; ketika sejatinya lapangan yang untuk warga memang untuk warga semata.

Jadi kalau eks anggota Dewan itu datang dengan janji dan ruang terbuka semakin tergerus, karena pemdanya yang abai dan tergantikan oleh sentra niaga nan megah berpendingan ruangan yang mungkin dianggap sebagai ciri khas kemajuan, kami tahu betul akan konsekuensinya untuk tetap punya kebanggan akan lapangan yang tanggung ini. Semoga kebanggan kami akan lapangan dan secuil taman sisa yang rencana  akan dipugar ini bisa menular kepada komunitas warga yang lain, dengan tambahan yang meramaikan mantan anggota DPRD yang gagal jadi caleg ke nasional dan dimaklumi ketika kata-katanya menohok. Serta tetap bertanya kebanggaan apa dengan sentra niaga premium digerbang kabupaten ketika DPRD dan pemetintah periode lalu terlibat ? sekali lagi sesuatu yang diinisiasi warga dan untuk warga semata. Hidup warga.  Titik !

Jann Pees

Cat.

Penamaan “Palamanis Serong” adalah sebutan dan inisiasi penulis sendiri dengan kontribusi total warga RT setempat. Tertarik dukungan untuk rencana lanjutan  pemugaran taman yang tanggung dari lapangan palamanis serong ini  hub. 0838-9495-4900

 

 

 

 

 

Tumpahan Ciliwung & Jogging Track  Buat Si Kurwo ?

 

1471305767220

BPLS ciliwung dan cisadane yang menggawangi perairan darat dengan 2 aliran sungai yang menggenangi bagian Jakarta. Jelasnya ada pasokan dengan situ-situ atau resapan. Akan tetapi apa hubungannya dengan situ gedong diwilayah bagian bekang antara kelurahan cibinong dan cirimekar ? Tapi itu tentu lain soal, mengapa dan harus ditilik dengan jelas bahwa aliran dari arusnya yang menetap, jelasnya tidak terhubung dengan brand nama yang menjadi unit pengelolaan sentra dari alat negara yang berurusan dengan 2 sungai yang kerap harus diperhatikan karena debitnya yang bisa menjadi masalah dimusim hujan, secara khusus tentu ciliwung. Akan tetapi tidak tersambung dan tetap tidak ada titik temunya dengan situ Gedong yang dipugar.

Kurwo tidak menganggap seuatu yang special, sekalipun Situ Gedong ada tempat berlari dengan paving block nyata-nyata dari beberapa hari setelah peresmian, tetap terkelupas bagian pasir pengerasnya, sekalipun tentu uji ketahanannya akan tetap berlangsung lama. Apa yang menarik dari sarana kewargaan yang kerap justru menjadi fasilitas yang menarik untuk pemasaran hunian mewah ? jogging track ! Ketersediaan tempat bejalan dan berlari santai, segera juga pemangsa jalanan; motor akan menggunakan. Apa artinya itu bagi kurwo warga di kampung dekat situ gedong yang lebih suka berenang dengan teman tetangganya yang tetap saja takut akan ular.

“Awas-awas ada ula lu “

“Iya yang ngeri ma ula welang”

Kurwo menyahut setelah sedikit terbawa arus.

Akan tetapi apakah pemugaran situ gedong hanya untuk bocah yang kerap kali ingusan sesudah berenang dibagian aliran Dam bawah situ gedong ? Jelas harus dipikirkan yang lain, dipikirkan kedepan. Betapa butuhnya akan ruang terbuka hijau ! Tentunya akan dihaturkan terima kasih, sarana eksresi dan rekreasi kewargaan yang sudah semakin sedkit dan kerap kali tidak murah untuk dikatakan tidak gratis ! Akan tetapi mengapa sub direktorat setingkat nasional berlabel dua sungai yang rasanya juga dibagian mana bertemu dengan aliran sungai ciliwung ?

“Wo cepet pulang wo, ngga hujan juga basah-basahan, ketahuan mandi di situ lu”

Kata seorang teman kurwo yang sudah cukup lama menjagai sendalnya kurwo yang berserakan diatas Dam. Bisa ditebak, kurwo pun ngacir !

JPS

Ortodoksi & pembiaran…

untitled-149

Hal yang telah terlewat. Mengapa ? Ada yang tidak disoal dengan penting . Berangkat dari akar kata, sejauh dari apa yang bisa kita lihat dan menemukan bahwa; orto & doksa, padanan yang pasnya memang bukan dari bahasa indonesia.

Sekarang dengan ajaran yang lurus tersebut, sesungguhnya apa yang ingin diketengahkan ?  Ortodoksi seakan hanya ingin mengetengahkan tentang keteguhan sikap. Maka, sebuah bagian lain dari sikap kisah  “Perumpamaan orang samaria yang baik hati” (Luk 10:25-37) tidak menyoal tentang ajaran, sebuah ketaatan yang memang tanggap. Belakangan ini menjadi menarik ketika kutipan seorang tokoh politik menyebutkan ‘artian’ dari  perumpamaan ini adalah negara yang menyediakan sebagaimana terwakili oleh orang samaria tersebut, tuntutannya pada entitas “negara”, entitas akan ‘state’, semacam kondisi baku dari kewilayahan yang terbentuk, dalamm hal ini mungkinkah administratif kekuasaan yang ada.

Pembahasan akan pengabaian seakan menarik, bahwa ada yang lain yang tersedia. Dengan deskripsi kecil bahwa program sosial bukan menjadi prioritas gereja, akan tetapi bukankah untuk  ini gereja itu hadir ?

Karenanya masih meyakinkan ketika suatu klaim berasal dengan ortodoksi, maka hal yang sekitar dalam perhatian dan kepedulian. Jadi ortodoksi tetap bisa berangkat dengan keteguhan sikap yang tidak mungkin dikontraskan dengan kepedulian kepada yang tersisih. Apa dasar ketika sebuah kesalehan social, hal yang menjadi moto wilayah administrative (baca: kekuasaan), secara khusus sebuah kutipan dari misi kabupaten bogor[1]. Dengan dipertanyakan tentu dasarnya ? Juga menjadi tantangan akan ortodoksi, atau keteguhan sikap akan keyakinan yang lain dalam hal ini gereja. Sebuah kehadiran yang kerap dipertentangkan dan dicurigai.

Ortodoksi menilik kepada hati, hati yang dipulihkan, sampai disini memang membutuhkan pengurain yang panjang juga hal yang terkait dengan ajaran yang diserap kedalam hati–waah bisa panjang memang! Jadi ortodoksi tetap bisa berangkat dengan keteguhan sikap yang tidak mungkin dikontraskan dengan kepedulian kepada yang tersisih. Apa dasar ketika sebuah kesalehan sosial tidak berangkat dari hati ? Tapi seyogyanya itu menjadi tanggung jawab “state”, akan tetapi soal “state” ini tidak berdasar pada keyakinan dan juga mengurusi dengan lebih jauh akan ortodoksinya.

Maka menjadi menggelisahkan ketika dua hal; negara atau “state”yang abai dan juga ortodoksi yang abai ? Ngeri memang !

 

Jann ‘sektarian’__nehh

 

 

 

[1] Hal yang mungkin menjadi terkait dengan kondisi sekitar dimana selalu didengungkan oleh Bupatinya https://www.bogorkab.go.id/index.php/post/detail/2837/bupati-bogor-ingin-peringatan-maulid-nabi-muhammad-harus-bisa-menghasilkan-dampak-signifikan#.V6c8ZxJ1TMw

 

 

Namanya Rachel Corrie, pastilah kita sulit melewatkannya…

Muram

Bisa jadi masalah pengenalan, masalah dari tidak mengetahui dengan persis.

Saya agak muram jadinya, ketika menyaksikan ajakan membantu personil yang akan terlibat dalam keantusiasan akan misi–muram dengan bayangan keantusiasannya adalah juga mungkin penyaluran akan adventurisme.

Muram dalam pengertian dan mengingat misi dengan persebaran keyakinan, berpokok pada pengakuan akan Injil, sesuatu yang mulia dan luhur sebagaimana saya juga melibatkan diri; tak ubahnya dan nyaris seperti sebuah proyeksi dari aktualisasi kegemaran bertualang. Kultur pelibatan Misi yang diwariskan dari “luar sono” menjadikan koneksi yang sangat umum untuk mengajak, seakan seorang yang berpindah dari kehidupan umumnya telah berkorban. Keluhuran  Injil yang disertakan dengan pengorbanan.

Tersebar dengan daya publikasi yang ada dan berharap dukungan serta sokongan demi panggilan yang mulia ini. Semarak publikasi dan media membuat bertambah terserapnya imaginasi untuk membantu–daya publikasi yang menunjukan akan beban dari kehidupan di lingkungan baru. Saya pikir turis juga gemar melakukan ini !

Dengan lugas apa yang membedakan Misi mulia injil dengan adventurisme, bukan hanya masalah jangka waktu. Akan tetapi menyeluruh dalam melihat dan melibatkan, sesuatu yang bukan hanya adaptasi sosial, tetapi tantangan pengakuan iman akan “Degradasi ciptaan” untuk dipertanggungjawabkan kepada pencipta dalam realitas sosial lingkungan yang baru.

Jadi, lupakan eksotisme pegunungan tengah jaya wijaya, dapati dan kembangkan modal sosial yang berkelanjutan setelah iman percaya tersemai secara kuantitas. Berpikir keras untuk pendidikan ethno-cultural dalam penyelarasan–ketika harus pendidikan itu selaras dengan ketentuan penyelenggaraan kekuasaan yang ada, lokal dan nasional; atau mungkin bersifat non-coperative, perlawanan. Minimaliasasi kemapanan yang membuat keekslusifan sebagai “tamu”, setelah penyesuaian hidup dengan  standar hidup umumnya masyarakat perihal kesehatan dan masyarakat. Lupakan, refreshing tahunan untuk mengunjungi Bali. Melebur dalam kesepahaman yang menyeluruh akan kasih yang besar terhadap masyarakat yang ditinggali, jika memungkinkan dan sangat jarang tentunya, pindah kewarga negaraan di negara yang ditinggali yang hampir tidak ada jaminan sosial masa tua. Proyek panjang dengan membangun identitas kultural melampaui mirisnya keterisoliran dan kesendirian.

Saya pikir, era-nya Wiliiam carey yang turut mengembangkan percetakan, micro-agriculture dengan pengelompokan tanaman (Carey dikenal perintis dan “ahli” Botani awal di India), college hingga konfrontasi terhadap budaya biadab “satii”, pembakaran janda bersama dengan mayat suaminya yang dikremasi. Juga, David livingstone yang ingin memutus rantai perdagangan budak dengan merintis penjelajahan bagi akses perdangan komoditi yang lain–sekalipun ada tudingan dari sekularis skeptis sebagai pembuka jalan kolonialisme baru. Tetap merupakan sebuah era, dengan pemberlakukan dan panggilan kepada obyek masyarakat yang dilayani.

Sehingga ‘kemapanan’ dan “habit” dari gaya hidup di tempat terdahulu  berangsur-angsur punah. Berpikir untuk mandiri dengan tidak bergantung pada sokongan dana dari gereja atau lembaga pengutus–sehingga bisa merasakan dan empati dengan melimpahnya angkatan kerja yang masih mengganggur yang mungkin jauh dari amatan secara lokal.

Sehingga dengan aksen agak muram, maaf, saya memberi penilaian sinis terhadap publikasi “seorang yang terpanggil untuk misi” dalam menyebarkan undangan dukungan, dengan selalu menyadari dan mewapadai adventurisme. Hal yang mungkin agak tidak lazim kalau dukungannya, bahkan terakses dan terpublikasi jejaring sosial umum, juga perihal nominal yang sepertinya memaklumi besaran sebagai orang dari “luar sono”.

Mohon maaf kalau saya tidak terbeban bahkan sinis, termasuk dengan publikasi pencitraannya, ketika memang kita dapati fakta epidemi HIV terjangkiti sebagai dampak gaya hidup yang tidak dalam disiplin murid kristus di wilayah yang cukup berjarak dengan keterisoliran dan sulit untuk dihindari jika diidentikan dengan wilayah misionaris bekerja.

Teringat sinisme Langdon Gilkey yang bertahun-tahun mengamati di Shanghai dan telah beralih haluan dari konservativ menjadi liberal “kita punya banyak guru, tenaga kesehatan, perawat dan pengembang jalan. Tapi  dalam masyarakat kita ada status sosial dari kelompok orang yang rasanya tidak berguna, dan apa yang dilakukan tidaklah lebih dari pemuasan hobi semata, yakni : mereka para utusan misi ” (Langdon Gilkey, “Shantung Compound”)

Tentunya ada pembeda yang tegas dari apa yang saya utarakan dan Gilkey keluhkan. Pembeda dari haluan dasar keyakinan saya akan Injil sendiri, terkait juga dengan fakta historis William carey dan David livingstone– pahlawan anti-perbudakan saya.

Saya percaya Injil punya daya yang kuat untuk mengubahkan masyarakat, dengan terserapnya sebuah korban untuk tidak gemar terakses secara publikasi dan terkikisnya gaya hidup yang ‘membedakan’ dengan masyarakat yang ditinggali, serta sekedar eksistensi adventurisme yang terselubung.

Saya agak muram, untuk diketahui sinisme liberal–tidak ada makna ekslusif injil dan hanya demi masyarakat saja– ‘menghigapi’ saya, untuk kemudian mempertanyakan apakah saya  injili atau liberal ? Allah Tritunggal kiranya memurnikan dan mengutus !

Cibinong yang mendung pada, 12 april 2011

Jann

Blog at WordPress.com.

Up ↑