Search

Jann'sektarian nehh'__ Indie Ripom Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Category

literal

Pagi, “Reformasi” & Hal-hal yang tidak terlalu dini…

Catatan Awal : Bisa juga nulis dengan angle kebarangkalian ala ‘Begawan Nasional’ susastra  & pemilik media berpengaruh itu ! Tapi itu  inisiasi beliau apa Nyoto, fungsionaris polit biro CC-PKI yang terlarang itu sih ?

 

Kesan tidak terbangun sesaat, tidak juga ‘riuh’ yang ditampilkan. Manakala ada yang melegenda, melekatkan kita pada rekonstruksi ketika yang bathil, mendominasi,bahkan kita tahu sekarang untuk diistilahkan bisa menghegemoni,perlahan kita rekam dan tidak sekedar untuk kita pertahankan.

***

Pergumulan pribadi Martin Luther, adalah tetap pergumulan pribadi. Hidup asketiknya yang mencari pelepasan seakan sebuah ekskresi yang didapat, “Hier stehe ich, ich kann nicht anders. Gott helfe mir. Amen” berhadapan dengan “tahta suci” dan perangai kooptasi, biarawan Agustinian ini tidak salah berada dalam masa, dimana kehadiran Tuhan begitu lugas dijawab dengan hadirnya kekuasaan yang saat itu sulit dipisahkan dengan gereja. Maka peruntungan untuk tetap eksis dan Tuhan dimuliakan, hingga hidup pembenaran bersifat transaksional, gereja yang sudah selesai untuk hadir dan kesadaran akut untuk terhubung dengan itu.

Bangunannya yang menjulang perlu sokongan, tidak ada tafsiran yang baru ketika indulgence diedarkan dan kitab yang terkungkung membuat derma bagi bangunan yang menjulang tersebut. Simplistis untuk melihat kesalahan memang, akan tetapi kewenangan yang membenarkan, Iustificatio Dei tidak datang seturut kitab.

Luther bergelut dan mendapati, 31 oktober 1517 dengan kesimpulan yang sadar akan konsukuensinya 95 dalil dipakukan. Tapi Luther tetap datang dengan pergumulan pribadi. Dari surat Roma, Paulus mengikhtiarkan sebuah risalah pokok ajaran yang berperan, kemudian dengan agak kini, seakan mendapat penyesuaiannya sekarang. Tapi persoalan iman yang dibenarkan, anugerah dan Kitab suci yang mencukupkan menjadikan persoalan pribadi menjadi punya tempat. Lantas apakah sekarang yang pribadi harus diagungkan, gema yang kuat dari sekedar kicauan (twitter) anak tanggung dan terhubungnya ekspose diri pada jejaring sosial. Ketika kurun waktu dan pernah terjadi apa yang pribadi melibatkan banyak hal. Sesuatu yang pribadi tidak dihubungkan dengan identitas kebanyakan, tapi berperan bagi kebanyakan.

***

Pergumulan Luther menjadi sebab yang tidak akan dengan riskan kita menyemainya, hanya setiap individu yang yakin dan iman selalu punya peran dalam hal yang sangka kita, sejarah menjadi sesuatu yang mengasingkan.

Hari ini Ateisme kuat, orang juga atas nama pribadi tidak akan canggung dan malu, bahwa keraguan akan Tuhan mendapat tempat yang utama; pun di wilayah reformasi itu terselenggara—juga eksesnya yang menguat dengan identitas. Sekarang keyakinan menjadi berbahaya ketika hanya terpolarisasi dan tampaknya memecah masyarakat. Berlaku bagi mereka yang dahulu memasok para misionaris. Sebuah keadaban harus mengenal esensi kemanusiaan, dan era Luther tidak perlu direkonstruksi untuk mendapat tempatnya sekarang.

Apa yang didapat dari Reformasi selain keterpisahan? pembagian yang hanya menguatkan masih berkutatnya kita dengan (identitas) keyakinan. Tidakkah polarisasi semakin diabaikan ?

Martin Luther seorang yang tidak terlalu pagi, juga dini; hingga asyiknya kita menikmati kebebasan dan infalibilitas, anugerah, iman, Alkitab yang menyatakan Kristus dengan tentu hormat kemuliaan bagi Allah. Atau lebih jauh sebuah era kebebasan, lepas dari kooptasi dan mistik tahyul yang membuat agama bisa memperdaya. Menyukai dari awal dengan dimulainya pagi, tidak terlalu dini untuk mengingatkan.

Saya pikir, kita harus hati-hati dengan pergumulan pribadi !

Selamat Hari Reformasi 31 Oktober 2013 

  

Advertisements

Fiksi & Intensi iman percaya, sebuah undangan yang telah lewat…

fiksi-iman-percaya-sebuah-intensiSetelah Dostoevksy dengan eksistensialisme yang bergulat dengan pernyataan pokok iman percaya dalam realismenya atau, pengisahan alegoris John Bunyan yang mengisahkan kembali rencana keselamatan yang tertera di Alkitab, maka pengisahan fiksi membuat kita bertanya apa yang bisa didapat ? Bukankah sudah wajar dengan “kesaksian” ? roman yang sangat umum sebagai bentuk pengisahan fiksi panjang–yang bisa jadi tidak murni ‘rekaan’ telah menjadi identitas ide yang mempertautkan dengan iman percaya. terlepas pengisahan ataupun mempertanyakan yang hadir sebagai kisah, kita mengenal “rubuhnya surau kami” AA navis atau “tenggelamnya kapal van derwick” mubaligh terkemuka Hamka yang juga sangat fasih dalam dogmatika keislaman ahlul sunnah yang “puritan”. maka proyeksi kebudayaan dalam penulisan kreatif yang punya tajuk “keindahan” ataupun melabelkan sebagai “susastra”.

Sebuah realisme ‘rekaan’ menjadi menarik dan tentu menjadi tidak terkesan menggurui, sekalipun bisa dipertanyakan–bagi mereka yang skeptik dengan  iman percaya bahwa tetaplah ada motif ! ada pesan dan mungkin juga pertanyaan yang dituturkan dengan kisah, yang sekali lagi adalah rekaan atau fiksi tersebut.

Rasanya, berargumen paling pintar dengan pembelaan iman apologetika adalah hal paling mudah, lantas dengan intensi yang ada dalam fiksi dan pengisahannya jelas pergumulan baru bagi yang serius dengan pelayanan, mengingat betapa melekat dan majunya proyeksi kebudayaan yang berpengaruh ketika roman-roman Hamka & Navis, juga yang mashyur Pramudya ketika itu semua ada diperpustakaan atau taman bacaan kita sebagai fiksi dalam bentuknya novelet atau tetralogi yang dilabelkan sebagai bacaan yang menjelaskan pergolakan kebudayaan kita.

Sebuah kegelisahan yang lain…

Sila diunduh “penggalan” akan fiksi pendek http://j.peesfiksi.org/share-sebuah-fiksi-baik-saja-tidak-menyelamatkan-nababan/

Juga tersedia order indent & penggalan yang menemai musim hujan http://j.peesfiksi.org/sebuah-fiksi-sekelebat-dan-rintik-hujan-yang-berwarna-oren/

Proyek fiksi ditengah kefasihan doktrin yang tetap oleh karena Anugrah dari Tritunggal suci dikotbahkan…
J.Pees

Blog at WordPress.com.

Up ↑