Search

Jann'sektarian nehh'__ Indie Ripom Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Category

Perihal dan Cerita

Para misionaris yang hobi jalan-jalan itu dan sekolah warisan “Sang Pencerah”…

Pertarungan agama dakwah tampaknya ? ya dan ini terjadi bukan semata bahwa keyakinan untuk mendakwahkan tersebut terasa menggebu dan tanpa tedeng aling. Kerap kali persinggungan menjadi menebar ketakutan satu dengan yang lain dikalangan masing-masing mereka yang tetap yakin peran sertanya perlu.

Papua telah menjadi target tersebut, telah dicitrakan sebagaimana ketakutannya bahwa yang beralih dari pekerjaan misi zending sedang digerogoti oleh misi kontra. Maka semangat ketakutan ini masihkah layak untuk menjadi dasar?  setidaknya ketika diharapkan peran serta bukan sekedar status quo.

Apa artinya telah menjadi Kristen ketika hal mendasar dalam pengembangan kebudayaan dan sumberdaya manusianya justru terabaikan ? Maka organisasi kemasyarakatan yang berasal muhamadiyah serui 2dari niatan ulama yang maklum dengan mendapat label pop “sang pencerah”—karena telah di filmkan justru memuridkan dengan lembaga pendidikan para peserta ajar dengan tetap pada pangkal keyakinan mereka.

Sebuah smk di serui dan entah dibeberapa tempat di papua lain, sekolah organisasi muhamadiyah justru dibanjiri oleh siswa Kristen, lazimnya nasrani sebagai sapaan yang khas yang jelas sukar dipahami sapaan tersebut olh mereka yang total perikehidupan berbudayanya hanya dalam lingkungan Kristen. Alih-alih mengislamkan, hal yang kerap jadi salah satu atau salah banyak kesekian dari propaganda bahwa papua target islamisasi, smk tersebut justru menyediakan guru Kristen. wow kelaziman propaganda dakwah  yang justru melabelkan menjadi tidak terpenuhi, sehingga, apa yang dipropagandakan ? hal yang memantik semacam kekhawatiran bahwa rasanya identitas dalam keyakinan tersebut bisa berubah.

Rasanya sulit berharap pada para misionaris yang Cuma memindahkan kluster rumahnya dan punya agenda setahun 1 atau 2x atau lebih untuk meninggalkan daerah layanan yang bermalaria untuk sekedar plesir ke beberapa wilayah lain? smk muhamadiyah serui 2Jauh dan tetap lebih baik sang pencerah dari warga lokal yang jauh dari komoditas politik dan sekedar citraan pelayanan yang naïf dan celakanya bisa sinis terhadap apa yang dilakukan pemerintah.

Jadi kangen para misonaris diusir yang tidak meginfakan kemampuan lebihnya kepada warga aseli lokal. Penyediaan mereka pada akses pendidikan, atau semacam mental adaptasi untuk bergelut dengan problem sekitar.  Eh itu jaman orde baru dulu yah ? yaaaah !!!

Salam Indie Ripom

–Jann–

 

 

Advertisements

Berjejak pada lorong…

Apa yang bisa diharapkan ? Sebuah perubahan ! Pada lorong, sebagai tempat berteduh karena memang hujan yang terus datang dan orang-orang tepatnya mereka yang telah bekerja akan pulang.

Lorong didepan, arah masuk gereja Posko baru ada sekitar 1,5 tahun yang lewat. Akan berguna sebagai tempat berteduh. Ketika di jam-jam istirahat, lorong itu sebagai tempat untuk beristirahat makan. Hal yang tidak kalah penting dari waktu pulang.

Lantas yang dikemukakan sebagai pokok dalam berkeyakinan ? Seakan sekedar menangkap bergunanya disaat hujan.

Sebelum Simpang Kiara Dua…

simpang-kiara-dua 

Ayah muda yang terlihat sepintas membakar 3 ikan dengan tusuk ranting yang mungkin sudah disiapkannya, kelok jalan yang diambilnya memang pas untuk dia beristirahat bersisian dengan motor tunggangannya yang menjadikannya sama dengan kebanyakan orang. Tetapi tidak ketika hanya dirinya yang membakar ikan. Keasyikan yang membuat dia hirau dengan lalu lalang motor dan sesekali  mobil pada keramaian yang tidak berpihak pada gugusan bukit-bukit.

Dia tidak tahu bahwa dia terlihat keren, menyuguhkan pemandangan domestik. Sementara si ibu yang tidak bisa mengambil posisi, terduduk dengan berlawanan terik.

Ayah muda yang membakar ikan sadar ? Ataukah kesiapsediaan dengan hiraunya ? Enzim-enzim dari ikan bakar ini akan berguna bagi si kecilnya.  Omega 3 atau ptialin cukup membantu sikecilnya yang tertidur—ptialin ? Tidakkah itu enzim lazim untuk daya kecap biasa yang membantu melenturkan makanan ? Sudahlah !  Tumbuh kembangnya dan kelak dia akan masuk ke perguruan tinggi bersubsidi negara, ah siapa yang tahu. Hal yang memang dia siapkan atau memang sekedar terhenti pada kelokan jalan tanggung yang selepas ini adalah bukit-bukit dan curam.

Hari itu dan juga pada terik itu. Ayah muda itu tidak ingin lalai menyiapkan ikan bakar seadanya bagi istri dan si kecilnya. Sayangnya dia tidak tahu, atau sungguh sadar bahwa dia; terlihat keren !  Entahlah ?

23 September, 2015

Fiksi & Intensi iman percaya, sebuah undangan yang telah lewat…

fiksi-iman-percaya-sebuah-intensiSetelah Dostoevksy dengan eksistensialisme yang bergulat dengan pernyataan pokok iman percaya dalam realismenya atau, pengisahan alegoris John Bunyan yang mengisahkan kembali rencana keselamatan yang tertera di Alkitab, maka pengisahan fiksi membuat kita bertanya apa yang bisa didapat ? Bukankah sudah wajar dengan “kesaksian” ? roman yang sangat umum sebagai bentuk pengisahan fiksi panjang–yang bisa jadi tidak murni ‘rekaan’ telah menjadi identitas ide yang mempertautkan dengan iman percaya. terlepas pengisahan ataupun mempertanyakan yang hadir sebagai kisah, kita mengenal “rubuhnya surau kami” AA navis atau “tenggelamnya kapal van derwick” mubaligh terkemuka Hamka yang juga sangat fasih dalam dogmatika keislaman ahlul sunnah yang “puritan”. maka proyeksi kebudayaan dalam penulisan kreatif yang punya tajuk “keindahan” ataupun melabelkan sebagai “susastra”.

Sebuah realisme ‘rekaan’ menjadi menarik dan tentu menjadi tidak terkesan menggurui, sekalipun bisa dipertanyakan–bagi mereka yang skeptik dengan  iman percaya bahwa tetaplah ada motif ! ada pesan dan mungkin juga pertanyaan yang dituturkan dengan kisah, yang sekali lagi adalah rekaan atau fiksi tersebut.

Rasanya, berargumen paling pintar dengan pembelaan iman apologetika adalah hal paling mudah, lantas dengan intensi yang ada dalam fiksi dan pengisahannya jelas pergumulan baru bagi yang serius dengan pelayanan, mengingat betapa melekat dan majunya proyeksi kebudayaan yang berpengaruh ketika roman-roman Hamka & Navis, juga yang mashyur Pramudya ketika itu semua ada diperpustakaan atau taman bacaan kita sebagai fiksi dalam bentuknya novelet atau tetralogi yang dilabelkan sebagai bacaan yang menjelaskan pergolakan kebudayaan kita.

Sebuah kegelisahan yang lain…

Sila diunduh “penggalan” akan fiksi pendek http://j.peesfiksi.org/share-sebuah-fiksi-baik-saja-tidak-menyelamatkan-nababan/

Juga tersedia order indent & penggalan yang menemai musim hujan http://j.peesfiksi.org/sebuah-fiksi-sekelebat-dan-rintik-hujan-yang-berwarna-oren/

Proyek fiksi ditengah kefasihan doktrin yang tetap oleh karena Anugrah dari Tritunggal suci dikotbahkan…
J.Pees

Pagi, “Reformasi” & Hal-Hal Yang Tidak Terlalu Dini…

Kesan tidak terbangun sesaat, tidak juga ‘riuh’ yang ditampilkan. Manakala ada yang melegenda, melekatkan kita pada rekonstruksi ketika yang bathil, mendominasi, bahkan kita tahu sekarang untuk diistilahkan bisa menghegemoni, perlahan kita rekam dan tidak sekedar untuk kita pertahankan.

Pergumulan pribadi Martin Luther, adalah tetap pergumulan pribadi. Hidup asketiknya yang mencari pelepasan seakan sebuah ekskresi yang didapat, “Hier stehe ich, ich kann nicht anders. Gott helfe mir. Amen” berhadapan dengan “tahta suci” dan perangai kooptasi,  biarawan Agustinian ini tidak salah berada dalam masa, dimana kehadiran Tuhan begitu lugas dijawab dengan hadirnya kekuasaan yang saat itu sulit dipisahkan dengan gereja. Maka peruntungan untuk tetap eksis dan Tuhan dimuliakan, hingga hidup pembenaran bersifat transaksional, gereja yang sudah selesai untuk hadir dan kesadaran akut untuk terhubung dengan itu. Bangunannya yang menjulang perlu sokongan. Tidak ada tafsiran yang baru ketika indulgence diedarkan dan kitab yang terkungkung membuat derma bagi bangunan yang menjulang tersebut. Simplistis untuk melihat kesalahan memang, akan tetapi kewenangan yang membenarkan, Iustificatio Dei tidak datang seturut kitab.

Luther bergelut dan mendapati, 31 oktober 1517 dengan kesimpulan yang sadar akan konsukuensinya 95 dalil dipakukan. Tapi Luther tetap datang dengan pergumulan pribadi. Dari surat Roma, paulus mengikhtiarkan sebuah risalah pokok ajaran yang berperan, kemudian dengan agak kini, seakan mendapat penyesuaiannya sekarang. Tapi persoalan iman yang dibenarkan, anugerah dan Kitab suci  yang mencukupkan menjadikan persoalan pribadi menjadi punya tempat. Lantas apakah sekarang yang pribadi itu ?

Yang pribadi harus diagungkan, gema yang kuat dari sekedar kicauan (twitter) anak tanggung dan terhubungnya ekspose diri pada jejaring sosial. Ketika kurun waktu dan pernah terjadi apa yang pribadi melibatkan banyak hal. Sesuatu yang pribadi tidak dihubungkan dengan identitas kebanyakan, tapi berperan bagi kebanyakan.

***

Pergumulan Luther menjadi sebab yang tidak akan dengan riskan kita menyemainya,   hanya setiap individu yang yakin dan iman selalu punya peran dalam hal yang sangka kita, sejarah menjadi sesuatu yang mengasingkan.

Hari ini ateisme kuat, orang juga atas nama pribadi tidak akan canggung dan malu, bahwa  keraguan akan Tuhan mendapat tempat yang utama; pun di wilayah reformasi itu terselenggara—juga eksesnya yang menguat dengan identitas. Sekarang keyakinan menjadi berbahaya ketika hanya terpolarisasi dan tampaknya memecah masyarakat.  Berlaku bagi mereka yang dahulu memasok para misionaris. Sebuah keadaban harus mengenal esensi kemanusiaan, dan era Luther tidak perlu direkonstruksi untuk mendapat tempatnya sekarang.

Apa yang didapat dari Reformasi selain keterpisahan? pembagian yang hanya menguatkan masih berkutatnya kita dengan (identitas) keyakinan. Tidakkah polarisasi semakin diabaikan ?

Martin Luther seorang   yang tidak terlalu pagi, juga dini; hingga asyiknya kita menikmati kebebasan dan infalibilitas, anugerah, iman, Alkitab yang menyatakan Kristus dengan tentu hormat kemuliaan bagi Allah. Atau lebih jauh sebuah era kebebasan, lepas dari kooptasi dan mistik tahyul yang membuat agama bisa memperdaya. Menyukai dari awal dengan dimulainya pagi, tidak terlalu dini untuk mengingatkan.

Saya pikir, kita  harus hati-hati dengan pergumulan pribadi !

Selamat Hari Reformasi,

Oktober 2013.

Ortodoksi & pembiaran…

untitled-149

Hal yang telah terlewat. Mengapa ? Ada yang tidak disoal dengan penting . Berangkat dari akar kata, sejauh dari apa yang bisa kita lihat dan menemukan bahwa; orto & doksa, padanan yang pasnya memang bukan dari bahasa indonesia.

Sekarang dengan ajaran yang lurus tersebut, sesungguhnya apa yang ingin diketengahkan ?  Ortodoksi seakan hanya ingin mengetengahkan tentang keteguhan sikap. Maka, sebuah bagian lain dari sikap kisah  “Perumpamaan orang samaria yang baik hati” (Luk 10:25-37) tidak menyoal tentang ajaran, sebuah ketaatan yang memang tanggap. Belakangan ini menjadi menarik ketika kutipan seorang tokoh politik menyebutkan ‘artian’ dari  perumpamaan ini adalah negara yang menyediakan sebagaimana terwakili oleh orang samaria tersebut, tuntutannya pada entitas “negara”, entitas akan ‘state’, semacam kondisi baku dari kewilayahan yang terbentuk, dalamm hal ini mungkinkah administratif kekuasaan yang ada.

Pembahasan akan pengabaian seakan menarik, bahwa ada yang lain yang tersedia. Dengan deskripsi kecil bahwa program sosial bukan menjadi prioritas gereja, akan tetapi bukankah untuk  ini gereja itu hadir ?

Karenanya masih meyakinkan ketika suatu klaim berasal dengan ortodoksi, maka hal yang sekitar dalam perhatian dan kepedulian. Jadi ortodoksi tetap bisa berangkat dengan keteguhan sikap yang tidak mungkin dikontraskan dengan kepedulian kepada yang tersisih. Apa dasar ketika sebuah kesalehan social, hal yang menjadi moto wilayah administrative (baca: kekuasaan), secara khusus sebuah kutipan dari misi kabupaten bogor[1]. Dengan dipertanyakan tentu dasarnya ? Juga menjadi tantangan akan ortodoksi, atau keteguhan sikap akan keyakinan yang lain dalam hal ini gereja. Sebuah kehadiran yang kerap dipertentangkan dan dicurigai.

Ortodoksi menilik kepada hati, hati yang dipulihkan, sampai disini memang membutuhkan pengurain yang panjang juga hal yang terkait dengan ajaran yang diserap kedalam hati–waah bisa panjang memang! Jadi ortodoksi tetap bisa berangkat dengan keteguhan sikap yang tidak mungkin dikontraskan dengan kepedulian kepada yang tersisih. Apa dasar ketika sebuah kesalehan sosial tidak berangkat dari hati ? Tapi seyogyanya itu menjadi tanggung jawab “state”, akan tetapi soal “state” ini tidak berdasar pada keyakinan dan juga mengurusi dengan lebih jauh akan ortodoksinya.

Maka menjadi menggelisahkan ketika dua hal; negara atau “state”yang abai dan juga ortodoksi yang abai ? Ngeri memang !

 

Jann ‘sektarian’__nehh

 

 

 

[1] Hal yang mungkin menjadi terkait dengan kondisi sekitar dimana selalu didengungkan oleh Bupatinya https://www.bogorkab.go.id/index.php/post/detail/2837/bupati-bogor-ingin-peringatan-maulid-nabi-muhammad-harus-bisa-menghasilkan-dampak-signifikan#.V6c8ZxJ1TMw

 

 

Reformed yang selam ! Ngapain Lagi ?

 

dont hate me because Im Reformed baptist

Inisiasi Reformed sebagai penjelasan identitas adalah, laku keimanan yang memperbaharui kondisi diabad 16, sebuah masa dibelahan bumi sana; tepatnya di eropa, dimana agama yang mendominasi, yakni agama gereja yang dirasa dan dilihat ‘terlalu belok’ dan oleh para penginisiasi Reformasi–kerap disebut para “Reformator”,  diyakini perlu ada pembaharuan untuk sesuai dengan azas dari identitas dan kembali “lurus”.

Pembaharuan terkait dominasinya itu, semakin berkembang. Dan dalam prinsip “Sola Scriptura”, sebagai bagian dari sola-sola yang lain, kita mengenal dan mengetahuinya dengan 5 Sola. Adalah padanan dengan Alkitab.

Laku ‘agamanya’ terkait dengan sangat mendasar yakni salah satunya dari pangkal yang menunjukan tentang makna itu secara harafiah. Dasar dari tulisan ini mencoba menghadirkan dengan menguatkan sebuah identitas yang mendasar ketika tetap persoalan itu dianggap sebagai kebutuhan pokok, apa yang bisa disebut sebagai kebutuhan pokok dari masalah terkait dengan identitas ? Hal yang rasanya tidak aneh, ketika sekarang mencuat, yaah eksistensi akan identitas tersebut, tetap eksis yang penting dari siapa yang eksis tersebut. Sesuatu yang beroleh penyederhanaan memang, tetapi lazim ketika media sosial berkembang dan dianggap bukti dari eksistensi tersebut. Untuk bentuk keagamaan yang paling ekslusif pun tetap merasa perlu hadir dengan tampilan media sosial. Saksi Yehuwa yang suka menyimpangkan akhir jaman dan modofikasi dari Arianisme jadul yang anti Trinitarian pun eksis di facebook !

Tidakkah itu kemunculan disaat itu saja ?

Ini yang kerap jadi pertanyaan, pasalnya pembaharuan tindakan konversi keimanan (baca:pertobatan) dalam laku agamanya seturut dengan makna penyelaman diri yang harafiah, sesuatu yang dilakukan dan diniatkan sebagai baptisan selam (baptizein, baptis; tercelup) yang selalu bisa diperdebatkan dan kerap terpancing untuk itu.

Sebuah tindakan dalam iman percaya pribadi yang memang berakar, sementara  dalam pada itu, apa yang disebut sebagai tindakan radikal dalam gerakan Reformed atau pembaharuan tersebut. Adalah gerakan harafiah dari tindakan pembaptisan tersebut, sebagai tindakan konversi keimanan (baca:pertobatan). Karenanya sebagai sebuah tindakan radikal untuk tidak kompromi dengan ajaran lama.

Jadi Reformed selam semacam ingin kembali kepada ortodoksi ajaran yang bisa diketakan demikian ketika identitas menjadi penting, apa  yang dipahami sebagai identitas kewilayahan ketika periode setelah Reformasi, dimana setelah Martin Luther adalah Yohanes Kalvin, secuil gambaran dari beberapa tokoh terkemuka saja, dengan pelafalan yang jauh lebih pas dibanding lazim “John Calvin”  dalam rumusan keyakinan perihal Allah yang pribadi dalam pokoknya sebagai kemahakuasaan yang berdaulat. Hal mana terkait dengan pokok ajaran “predestinasi” penegasan ini memang yang lebih ketara oleh Yohanes Kalvin. Jadi sebatas cuma ini ? Ketika tendensinya hanya pada penegasan identitas dari ‘ritual’ keimanan penyertaan dengan secara harafiah wiliam carey baptismbaptisanpercaya ? Hal yang terkesan ingin me-mixkan 2 pokok prinsip ajaran. Sebagaimana diketahui seakan menjadi riwayat historis adalah identitas yang telah menjadi wilayah berkuasa dari saat itu, Reformed Geneva Kalvin dan beberapa wilayah lain, hal yang juga menyebabkan terjadinya pergolakan dan beberapa peperangan dalam kurun waktu itu.

Maka kemunculan pemberontakan kaum petani dalam kurun waktu setelah Luther yang justru tidak berbagian pandangan dengan Yohanes kalvin yang membakukan akan pokok ajaran tentang Reformasi dalam “institutio”, menjadi menarik akan Reformasi yang tidak utuh terkait dengan sisa warisan dari pemercikan bayi-bayi. akan tetapi jelas tidak dari sini itu dimulai, azas dari Reformed yang secara harafiah justru menjdi keniscayaan pada Reformasi kaum puritan Inggris raya terkait dominasi dalam wilayah publik karena pemberlakukan hukum agama.

Hal real yang telah dahulu dimunculkan terkait identitas dalam iman percaya ini karenanya dengan semangat akan pokok iman percaya yang pribadi dan tetap meyakini akan prisnip kedaulatan Allah menjadi pokok dalam persekutuan orang percaya. Landasan yang penting sebagai ‘separatis’, hal mana terpisah dari otoritas sipil baik juga otoritas kerajaan.

Jadi apa yang dilakukan oleh Reformed selam ketika memunculkan ini ? semakin membuat akan identitas menjadi urusan yang sangat kokoh dalam pertobatan pribadi untuk membangun jemaat bersama,  hal yang memang harafiah dari prinsip akan pemeliharaan Tuhan bagi umat pilihan dengan tanda penyataan diri akan baptisan percaya.

Hanya pada agenda ortodoksi ajaran atau adakah  yang lain ? 

Jadi apakah Reformed yang tidak selam kurang ortodoks ? menjadi tidak tegas akan pokok ajaran ? Disnilah menjadi kebergantungan pada pemeliharaan Tuhan oleh karena firmanNya, sebuah kebergantungan dan ketaatan untuk kita menjalankan. Disinilah menjadi menarik ketika menjalankan ajaran menjadi wakil Tuhan “terang dan garam” bagi realita sekitar. Sesuatu yang kembali berbagian dengan tugas seluruh orang percaya sebagai gereja yang kelihatan didunia ini–kutipan khas dari doktrin Kalvin tentang gereja.

Tidakkah prinsip kalvin untuk menegaskan akan pemercikan bayi sejalan sebagai kegenapan dari penggantian sunat ? pokok-pokok ini akan tetap bergulir dan kita bisa mendapati dengan lengkap dilaman ini http://www.reformedreader.org/history/list.htm. Sesuatu yang tetap beroleh penentangan dengan identitas dari Reformed Selam ini, yang selalu saja terkait dengan keabsahan sejarah dan penamaan beroleh respon balik. Reformed kok Baptis ? Hal yang sejalan dan kembali ke konteks saat itu ketika kalvin kurang tuntas.

Tentunya memang bukan sesuatu yang baru ketika hadir dalam konteks keindonesiaan dan iman kristen dianggap hal yang luar dan bisa berhadapan dengan aqidah ajaran dalam rumusan yang bisa bertentangan. Sekedar menegaskan akan iman sebagai penyertaan pribadi ? Dan tentu pemulihan untuk percaya akan iman kepada sang Kalam, Kristus ! Sesuatu yang merasa memulihkan dengan ortodoksi ajaran itu memang harus berhadapan dengan kondisi yang ada.

 

Jann’sektarian’__nehh

cat. sayangnya memang banyak situs dan laman yang tertulis dalam bahasa Inggris, sangat jarang dan agak sulit untuk dikatakan tidak ada yang berbahasa Indonesia. Beberapa ide, pemikiran (baca:teologia) dan identitas pelayanan yang terkait Teologia Perjanjian (Covenant Theologia). https://en.wikipedia.org/wiki/Covenant_theology

Entah penting atau tidak dan masih menyoal tentang identitas tersebut, menarik, sayang dalam bahasa inggris http://themelios.thegospelcoalition.org/article/the-abrahamic-covenant-in-reformed-baptist-perspective

 

 

 

 

 

Charles Spurgeon dan Secangkir Teh Sebagai Penghangat Siang yang singkat…

Charles SpurgeonSaya tidak ingin terlibat lebih banyak, tetapi ada yang tetap mendorong untuk diketahui. Percakapan yang mengetengahkan tentang identitas, sesuatu yang konon tetap menjadi penting.

Charles spuregon ?

“yeah, He is genius”

Melewatkan sebuah masa dan kurun waktu maka kita akan berkenalan dengan sosok yang menyertakan sebuah semangat yang menjadi banyak panutan. Siang itu tidak ada percakapan yang lain. Juga ketika tetap harus diketahui bahwa jaraknya sudah sangat terentang panjang.

Apa sebab ? disebuah kurun waktu keantusiasan untuk beribadah menjadi sangat kentara, hal yang tentu tidak didapati dalam kondisi sekarang ditempat spurgeon berada. Sebuah momen dari terbakarnya  gedung ibadah dimana spurgeon berkotbah, menajdi penjelasan akan keantusiasan dari orang-orang saat itu, bahwa Spurgeon lalai dalam memperhatikan keselamatan dari orang-orang yang entah pengunjung dari sebentuk penganan kerohanian dari mimbar dimana Spurgeon berkotbah, atau sungguh terlibat sebagaimana pelayanan yang berdedikasi. Bukankah di era sekarang lebih banyak pengunjung itu, bahkan menjadi sangat tidak penting untuk menyambangi ketika ‘hiburan’ dan pemenuhan akan yang rohani bisa didapatkan dengan diam ditempat.

Akan tetapi. Sebentar ! Tidakkah atau masakan spurgeon hanya berkotbah sendiri ? Bisa dipahami dengan keantusiasan yang tinggi  ketika memang dianggap tidak ada hiburan yang lain ? Maksudnya  ? Dengan jelas pada era spurgeon, pengkotbah yang dengan bulat-bulat diterjemahkan sebagai “pengkotbah rakyat” itu. Kerumunan masa yang mendatangi tersebut dianggap terjebak pada kondisi ketiadaan ‘hiburan’ ?

Kondisi dari wilayah dunia yang berbahasa inggris. Dimana iman Kristen dianggap telah banyak membantu dalam perubahan. Maka identitas iman menjadi kelayakan untuk spurgeon muda mengalami pergumulan yang sungguh total. Warisan anglo-saxon dan kemunculan gerakan kemurnian dalam warisan iman Kristen, telah membuat spurgeon dalam keresahannya menginginkan kemurnian tersebut. Pertobatan diusia belia dan jarak pendidikan yang membuatnya tidak masuk ke jenjang seminari. Membuat dia dengan keawamannya tersebut yang bukan rohaniawan menjadi sangat terdidik dan mumpuni untuk otodidak menjadi seorang komunikator.

Pesan yang sangat lugas dan kontribusi charity-nya mengalir. Pilihan sebagai warisan kemurnian non-comformist membuat spurgeon ikon dari keantusiasan rohani, sekaligus juga olok-olok dunia Kristen berbahasa inggris pada masanya yang dianggap sangat konservatif alias sangat kaku.

Beberapa buku spurgeon telah banyak diterbitkan kedalam bahasa Indonesia, juga sebuah seloroh yang pernah dilontarkan akan kerohanian spurgeon ketika foto dirinya, lebih tepat gambar visual dirinya yang sedang menghisap cangklong rokok. Tunggu-tunggu bukankah itu tanda ketidakrohanian ? Hal yang justru menambahi beban kesehatannya, spurgeon wafat diusia 57 tahun.

buku spurgeon 2

Dengan ribuan kotbah bertemakan dan berasaskan warisan Reformasi Calvin dari metropolitan tarbenacle-nya di pusat kota London dan juga dukungannya pada hampir semua misi yang tidak didanai anggaran Negara, mengingat era kolonialisme saat itu.  Menjadi manusiawi untuk mengenal spurgeon yang pernah mengalami depresi dan efek kebakaran hebat yang menghanguskan bagian gedung dari tempat dia rutin berkotbah.

Sebuah sisi manusiawi dari pengkotbah yang bergumul dan tidak menjadikan previlese khusus untuk dirinya, mengingat ada yang mengemukakan jika spurgeon sangat spesial. Karena hampir seminggu, menulis tema dan menyusunkotbah dan menerbitkannya dengan nyaris hampir 6 edisi bersamaan perminggu, kebayang sehari 1 dan membaca untuk berkorespondensi dengan banyak utusan misi.  Sebuah telaah yang berada dalam tingkatan akreditasi teologis yang suka meneliti dan mengkaji pernah dikemukakan terkait  makna ortodoksi teks Alkitab ? wow ?* bukan hanya pengkotbah rakyat akan tetapi juga cendekiawan yang berdiri atas pangkal doktrin anugerah tersebut. Sebuah kontribusi yang membuat spurgeon agak abai dengan kesehatan dirinya, tampaknya, juga jauh dari kesanggupan untuk memperkaya diri sendiri.

Apa yang jenius dari tokoh rohani tersebut ?

Jika bisa dipertegas sebagai sebuah pertanyaan untuk kemudian beroleh jawaban yang memuaskan, dan lagi dimana kejeniusan itu  jika dikaitkan dengan lagi-lagi hanya soal iman percaya ?

Tersiar kabar juga untuk dipahami bahwa pengkotbah spurgeon ini melawan perbudakan. Kepemilikan budak dikalangan rohaniawan Baptis selatan, kalangan yang tentunya berbahasa inggris juga, membuat spurgeon kehilangan simpatik dan dukungan. Hal yang memang cukup pelik, mengingat hak asasi yang mendasar dan selalu terpikir dalam kondisi kita, kok bisa ada perbudakan ? menjangkiti para rohaniawan kristen kulit putih ini, hal yang tidak bisa bahkan sukar untuk diperhalus; meskipun dianggap sekedar pekerja domestik tetap keasasiannya yang mendasar telah dilanggar. Karenanya Spurgeon sangat mendukung Reformator sosial dari william wilberforce yang sangat moncer dan intens untuk hal yang dianggap sangat tidak memadai untuk iman percaya yang bukan hanya dimasa mereka.

buku spurgeon 3

Kita bisa mendapati kotbah-kotbahnya yang tertulis dengan sangat luas dari situs-situs ini http://www.spurgeon.org/, juga arsip dan tayangan video kisahnya, hingga film dokumenter tentang dirinya.

Kembali ke siang dengan pilihan untuk minum teh dengan seorang yang dari belahan bumi lain. Dibandingkan dengan kopi, jelasnya sebuah kejeniusan yang dimaksud juga adalah kelurusan sikap. Bagaimana spuregon pada era sekarang ? Ketika pilihan dan hiburan menjadi banyak. Baiknya kita siapkan minum teh yang lain !

 

JPS

*penjelasan  lanjut dari telaah krtis seorang pengkotbah sekaliber Charles Spurgeon yang harusnya hanya melayani tenang sebagai pendeta dengan ortodoksinya bisa dilihat disini http://www.standardbearers.net/uploads/New_Testament_Textual_Criticism_Ministry_CH_Spurgeon__JET__2014.pdf Hal yang menempatkan Spurgeon dalam telaah lanjut bahasan teologi dengan standar kritis dan tetap terkait dengan pelayanan penggembalaannya. Hal kritis yang tidak membuang iman injili dengan doktrin anugerahnya tersebut.

Blog at WordPress.com.

Up ↑