Search

Jann'sektarian'__ nehh Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Category

Proposisi Ajaran neeh…

 

Apakah Injil Itu ?

Definisi: Injil berasal dari akar kata Yunani ευαγγέλιον (Euangelion), “Evangelion”,  إنجيل‎ ʾInǧīl yang artinya “Berita Sukacita” tentang kelahiran, kehidupan-kematian dan kebangkitan Yesus, Firman Allah yang manjadi manusia dalam rencana keselamatan dan penebusan dosa bagi setiap yang percaya ( Mat 1:21; Mrk 8:38; Luk 1:31; 4:18-19; Yoh 1: 1-16; 3:16; Rom 8:20-22). Itu sebabnya Injil yang ditulis oleh para Rasul disebut juga sebagai “Kabar Baik/Berita Sukacita” yang sebagaimana kita ketahui ditulis Matius, Markus, Lukas dan Yohanes dengan tujuannya yang mendasar sekali supaya kita percaya akan kesaksian Kristus yang adalah Tuhan dan Juru S’lamat (Mrk 1:1 Luk 1: 4).

 

word
 

Injil yahya (Yohanes) 1:14*

 

Selain Itu Injil adalah :
Sesuatu yang harus diberitakan karena perintah ‘penugasan’/mandat Tuhan Yesus bagi murid-muridNya (Mat 28:19-20; Mrk 16:15-17; Luk 24:45-49). Kekristenan memiliki semacam mandate atau penugasan, Allah perjanjian yang telah-sedang dan akan menuntaskan segala rencanaNya menyertai sejarah manusia dengan Injil; dimana seharusnya manusia melihat kepada hal ini. Sifat terberitakan Injil ini berdasar kepada tergenapinya perjanjian Allah didalam Kristus, Firman Allah yang menjadi manusia. Kemutlakan Allah yang mengatasi sejarah manusia dikaitkan kepada Injil. Percaya kepada Allah adalah percaya kepada Injil, hubungan kesesuaian didapat bahwa mengasihi Allah adalah juga disertai dengan tindakan pemberitaan Injil. Kontras yang berkesesuaian pun didapat bahwa, menolak Allah berarti juga menolak Injil dengan hakekatnya yang merupakan Firman dan kebenaran Allah.

Bagi setiap yang percaya, azas kemuridan pun berlaku, sehingga nyata-nyata bahwa perintah bagi murid jelas-jelas harus dijunjung tinggi; apalagi menjadi murid Tuhan Yesus berdasar untuk diakui bahwa akan halnya sama dengan menjadi

love
 

Rum (Roma) 5:8*

 

murid kebenaran. Mandat ‘penugasan’ Injil ini membuat kita yang percaya terikat kepada kebebasan yang dianugerahkan Allah. Perintah memang mengikat, memberitakan Injil mengaitkan selalu untuk keterikatan kita kepada Allah yang sebenarnya adalah sebuah kebebasan. Paradoks (keutuhan kebenaran yang sepertinya bertolak belakang dari fakta yang lebih dari satu) memang kita dapati.

Seluruh murid Tuhan Yesus yang menjadi rasul Kristus bagi pemberitaan Injil menemukan kebebasan disini dan tidak ingin menukar atau mengalihkan mandat ini bahkan untuk mengompromikannya, sehingga nyawa mereka pun mereka sertakan. Ikatan dengan Allah menunjang kepada pengupayaan Injil diberitakan. Ketika Injil tidak diberitakan dengan identitas sebagai orang percaya, tentu juga murid Kristus, maka bukan hanya identitas itu yang menjadi kabur dan tidak pantas untuk dikenakan; melainkan lebih lagi yakni terikat akan kebebasan yang tidak berada dalam pemeliharaan anugrah Allah. Kebebasan diluar Injil adalah kebebasan yang semu, mencobai dan tidak akan mendapati kebenaran Allah. Benarkah ? Jelas, dikarenakan Injil adalah identitas dari Allah dan merupakan perintahNya. Pemberitaan Injil adalah perintah Allah.

Adakah Perintah Lain ?
Kalau kemudian dikemukakan anggapan tentang ada atau tidaknya perintah lain, maka tentunya juga akan dikemukakan hubungannya dengan pemberitaan Injil. Keterkaitan yang berlaku di dalam perjanjian Lama & Perjanjian Baru ini adalah sebuah fakta yang tidak bisa diabaikan terkait juga dengan segala perintah Allah yang dinyatakan.
Sehingga semua perintah Allah terkait dengan Injil dan Injil tidak bertolak belakang dengan ketentuan Allah, dikarenakan tentu untuk mengembalikan semua kepada hormat kemuliaan Allah-dengan mendapatkan kejelasan mengenai identitas Allah.
Perintah mengasihi jelas terkait dengan Injil, bahkan diberi kerangka oleh Injil yang menjadi pembeda dari kasih yang lain. Mengupayakan keadilan terkait dengan Injil, karena Injil tidak menentang keadilan, bahkan sebenarnya menjadi garam keadilan atas kenyataan yang tidak adil. Injil dan pemberitaannya tidak menutup mata atas ketidakadilan yang ada, tetapi Injil menegakan ‘supremasi’ dan otoritas wibawa keadilan tertinggi.

Sehingga tidak ada pengharapan berlebihan kepada manusia, sebagaimana sekarang yang lazim terjadi dan mengakibatkan munculnya prasangka yang tidak terkait dengan kebenaran Allah, karena bobot utama adalah manusia.
Apa yang baik harus melihat kepada Injil, perintah Allah yang membawa kebaikan diterangi oleh Injil dikarenakan identitas Allah yang tegas dan nyata-nyata dalam Injil. Jadi Adakah Perintah Lain ? Ya jelas ada, mungkinkah bertolak belakang dengan Injil ? Tidak !

Sesuatu yang harus diberitakan bagi seluruh bangsa, dimana barulah tiba kesudahannya; menjadi penanda dari waktu. Injil dalam mandat ‘penugasan’dan fungsinya menjadi relasi (penghubung) dan proporsi (pernyataan) waktu. (Mat 24:14), yang terkait dengan sebelumnya-kesudahan (Mat 24:3-13; Mrk 13:3-13; Luk 21:7-9).

Ternyata Injil berurusan dengan waktu, bahkan menjadi penanda dari waktu itu sendiri. Kapan saudara pergi kepasar, bermain, istirahat, belajar di sekolah atau dirumah, bekerja, berekreasi; yang merupakan kebiasaan atau juga tambahan karena hal yang telah dijadwalkan. Injil berurusan dengan kesudahan. Sebuah kesudahan yang harus kita percayai, yakni mengenai keberadaan, realita dan dunia yang kita hidupi ini. Kapan detil waktunya dalam ukuran yang kita pakai, tentunya sebuah kepastian yang harus menggenapi segala sesuatu yang Alkitab katakan. Akan tetapi nyata dikaitkan dengan Injil yang terberitakan, bahwa meyakini kesudahan tanpa pemberitaan Injil adalah sesuatu yang mengerikan karena hanya diliputi perasaan menunggu yang skeptis terhadap kenyataan yang ada.

Pasalnya Alkitab (baik Perjanjian Lama, Pernyataan Tuhan Yesus dan juga wahyu Tuhan Yesus kepada Yohanes) tetap mengaitkannya dengan pemberitaan Injil.
Proporsi waktu ini selain sebagai tanda juga sesuatu yang bersifat pemberitaan. Sekalipun demikian sifat dari pernyataan ini bukan hanya untuk menakut-nakuti, karena kaitannya dengan kesudahan segala sesuatu.

Jadi berpedoman kepada pemberitaan Injil untuk digiatkan akan lebih kepada percaya akan otoritas yang menyudahi kehidupan ini dalam pemeliharaan Allah dan proporsi waktu nya adalah Injil yang diberitakan keseluruh bangsa. Memang ada tahapan dari sebuah kesudahan tetapi salah satunya adalah Injil yang terberitakan. Pengharapan kepada Allah yang memelihara dan juga menyudahi akan membuat kita bergiat dalam memberitakan Injil.

Kekuatan Allah bagi setiap yang percaya (Rom 1:16-17) Seberapa besar kekuatan Allah ? Bagaimana mengukurnya untuk mengetahui kekuatan Allah ? Kriteria dan disiplin apa yang bisa dipakai untuk mengukur hal ini ? Akan banyak pertimbangan dan juga pandangan mengenai Allah yang jika diperluas terkait dengan karakteristik kekuatanNya. Secara umum logika pengetahuan dan pemahaman kita mengamati alam raya tentunya akan menunjuk kepada penyebab keberadaan, iman Kristen yang memberitakan Injil percaya akan Allah yang menciptakan segala sesuatu yang teramati oleh kita maupun yang tidak teramati oleh kita, yang hidup dan tidak hidup; yang ada, akan ada dan tidak ada, yang besar dan tidak terukur sampai yang kecil dan sukar bahkan tidak terukur.

Akan tetapi iman percaya kita tidak hanya tertuju kepada materi dari buah ciptaan Allah, sehingga kita mematok ukuran dari obyek ciptaan Allah yang besar-terbesar, yang menjadi penanda dari kekuatan Allah. Ukuran itu bisa dipakai tetapi bisa tidak mempercayai Injil. Seberapa besar kekuatan saya mengangkat beban yang lebih dari 70 kg, maka itulah kekuatan saya. Seberapa besar daya ciptaan yang saya buat, itu menjelaskan otoritas saya. Jikalau dihubungkan dengan Injil, maka bagi kita yang percaya akan Allah yang maha kuasa dan juga meyertai kita adalah terletak kepada Injil-Nya.

Bagaimana bisa ? Jelas bisa dalam pengertian pertanyaan yang dimaksud maka penjelasan fungsi dikaitkan dengan Injil yang menjadi andalan dan kekuatan kita sebagai orang percaya. Kita bisa menolak Kristus dengan mempercayai kekuatan Allah yang sanggup menciptakan, akan tetapi berbeda jikalau kita mendahului percaya kepada Injil dengan inti kepada Kristus, Allah maha kuasa yang mengambil rupa manusia yang berada dalam kemahakuasaanNya.

Kepercayaan ini menyelaraskan kita dengan obyek kenyataan yang ada, dan sekalipun ada upaya mengurangi bobot Injil dalam mempercayai akan berkuasanya Allah atas penciptaan-sebagaimana yang diyakini oleh bentuk-bentuk kepercayaan yang menolak Injil, itu artinya sama dengan tidak mempercayai kekuatan Allah. Ya, seakan kita ingin mengatakan secara tidak langsung bahwa Injillah kekuatan Allah dalam ukuran kepercayaan kita. Tetapi sebenarnya lebih dari itu, karena bukan berarti untuk sesuatu diluar kepercayaan ada kekuatan lain yang bukan Injil.

Melainkan hal yang sulit untuk diukur dalam kebenaran mengenai Allah hanya dapat digenapkan didalam Injil yang merupakan kekuatan Allah bagi kita yang percaya, bahkan semua ukuran takluk kepada Injil. Karena iman percaya kita yang menyelamatkan, tentunya kepada Allah dan anugerahNya.

Kebodohan bagi dunia yang menolak hikmat Allah karena isinya mengenai Kristus yang tersalib (1 Kor 1: 18-24) Bagi dunia salib adalah kebodohan, tidak ada pemikiran yang dari berlangsungnya sejarah dunia ini yang bisa menerima Allah yang tersalib dalam penggenapan rencananya supaya setiap yang percaya tidak binasa.
Kalaupun ada jelas itu berasal dari Allah dan karena Injil berasal dari Allah maka jelas, anggapan dari dunia akan sulit menerima dengan pokok eksistensi yang menolak kepada pengenalan akan Allah.

Mengenal Allah dan hikmatNya bagi setiap orang yang rindu akan kebenaran hal ini, maka dapat diselami kedalam Injil dan pergumulan pemberitaanNya. Apakah Paulus sesumbar mengenai hal ini dengan mengaitkan hikmat kepada Injil ?

john3_16
 

Injil Yahya (Yohanes) 3:16*

 

 

Dan apakah ini adalah sebuah ketidaksanggupan yang terkesan tidak ilmiah atau kurangnya pengetahuan kepada penjelasan dari realita yang ada. Sebab sandaran mengenai hal ini adalah Allah yang menaklukan segala pengertian dan memberikan pengertian kebenaran kepada orang percaya
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu dalah kekuatan Allah…Dimanakah orang yang berhikmat ? Dimanakah ahli taurat ? Dimanakah pembantah dari dunia ini ? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan ? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatNya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya akan kebodohan pemberitaan Injil”(1 Kor 1: 18, 20-21)

Sebuah kebenaran mengenai hikmat dan pengertian, dimana hal tersebut terletak dalam Injil. Hikmat yang menuntun kepada keselamatan- ketidakbinasaan yang sekarang ini banyak mendapatkan lawan dikarenakan ide agama yang tidak modern, usang dan dianggap tidak nyambung dengan perubahan yang sekarang terjadi.

Tetapi kita diingatkan selalu bahwa Injil telah berhadapan dengan sikap antipati seperti itu, sehingga tetaplah untuk ditegakan bahwa hikmat yang berusaha menolak Injil dengan segala macam rumusan pengertiannya adalah sebuah kebinasaan dan sudah barang tentu adalah kebodohan bagi Allah. Jikalau selalu dimunculkan kontras, itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat dikarenakan fakta bahwa dunia dengan hikmatnya telah menyalibkan Kristus. Kristus telah dihukum oleh karena hikmat dunia, Dia yang tidak terhukum membuat dirinya sendiri menjadi terhukum yang dengan demikian Dia telah menegakan kuasa taklukannya atas hikmat dunia. Pengertian inilah yang tidak dapat diselami dan ditolak oleh pengertian yang tidak ingin mengenal Allah yang benar. Kita harus mengambil bagian dalam kebanggaan ini dikarenakan identitasnya yang mengaitkan kita dengan mengenal hikmat Allah.

Dimana semua itu ada dalam Injil dan pemberitaannya. Beban Pelayanan dan Keberadaan Paulus yang dia angap sebagai utang yang harus dibayar dengan pemberitaan Injil (Rom 1:13-15).

Kepada siapa kita berutang ? Jelas kepada siapa yang kita pernah meminjam dan terhitung masih meminjam untuk kewajiban kita mengembalikan. Kita meminjam sejumlah uang, jelas ketika kita serius untuk menganggap pinjaman itu sebgai utang yang harus dibayar, maka kita harus membayarnya juga dengan sejumlah uang yang kita pinjam, walaupun bisa juga ada konsekuensi lebih untuk membayar dikarenakan hal-hal yang menambah keuntungan peminjam-sebagaimana fakta umumnya.

Lantas sekarang dihubungkan dengan Injil, akan juga muncul pertanyaan “ Kepada siapa kita berutang yang harus kita bayar dengan Injil ? “ Belum lagi jika dikembangkan akan bermacam-macam pertanyaan yang intinya “utang yang harus kita bayar dengan Injil”. Mengerti hal ini, maka konteksnya adalah Rasul Paulus sendiri yang terus bergiat dalam pelayanan pemberitaan Injil dan alasan dia bergiat adalah karena utang yang ingin dia bayar
“Aku berutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma” (I Kor 1:14-15).

Penunjukan Roma terkait dengan keinginan untuk membayar utang dengan Injil yang diberitakan. Satu hal yang mejadi penjelas sederhana tanpa mengetahui detil konteksnya adalah sebuah beban yang disetarakan dengan utang, apa utangnya sampai harus dibayar dengan Injil ? Paulus tidak berutang uang, barang atau apapun yang lainnya, sebab dibagian surat lain dia tidak ingin menjadi beban ataupun merasa dipiutangi dengan pemberian jemaat. Jadi itulah sebuah beban pelayanan yang dia setarakan dengan keinginan membayar utang. Orang Yunani yang “berpengertian” dan orang non Yunani yang “tidak berpengertian” meyakinkan dia akan panggilan dan kerinduan pemberitaan Injil karena Rasul Paulus meyakini bahwa Injillah yang akan membayar “pengertian” dan “tidak pengertian” yang mereka banggakan untuk tidak mengenal Allah.

Jelas Rasul Paulus paham akan Injil dan hal diluar Injil sampai dalam upaya mengerti dan bahkan menolak mengerti. Rasul Paulus tahu dan sadar akan konsekuensi membayar beban utangnya dengana Injil kepada orang yang gemar mencari pengertian dan yang menolak pengertian, sekali lagi karena dia mrasa berutang yang tentunya utang adalah utang, dan untuk utang ini hanya Injil yang sangup membayar; berapapun hal dan harga yang dituntutnya, bahkan sebenarnya lebih tinggi dari apa yang dituntut.
Hal yang sama juga harus kita miliki dalam pelayanan kita, kita harus membaca dalam waktu dimana kita hidup apa yang sebenarnya menjadi tuntutan harga yang dimunculkan dan bagaimana Injil membayar tuntutan itu, beban dengan melihat hal ini akan membuat kita tergerak seperti yang
Rasul Paulus lakukan yakni membayar utang dengan Injil. Amin Injil sanggup membayar “pengertian” dan “bukan pengertian” yang dituntut.

Diambil dari teks “Penginjilan, Jelas Perlu ! Perihal Injil Yang Berdasar & Perlu” Komunitasinjili Press 2012.

*kutipan ayat kaligrafi dari Arabic Bible Outreach http://www.arabicbible.com/free-literature/calligraphies/old-bible-verses.html

 

Pagi, “Reformasi” & Hal-Hal Yang Tidak Terlalu Dini…

Kesan tidak terbangun sesaat, tidak juga ‘riuh’ yang ditampilkan. Manakala ada yang melegenda, melekatkan kita pada rekonstruksi ketika yang bathil, mendominasi, bahkan kita tahu sekarang untuk diistilahkan bisa menghegemoni, perlahan kita rekam dan tidak sekedar untuk kita pertahankan.

Pergumulan pribadi Martin Luther, adalah tetap pergumulan pribadi. Hidup asketiknya yang mencari pelepasan seakan sebuah ekskresi yang didapat, “Hier stehe ich, ich kann nicht anders. Gott helfe mir. Amen” berhadapan dengan “tahta suci” dan perangai kooptasi,  biarawan Agustinian ini tidak salah berada dalam masa, dimana kehadiran Tuhan begitu lugas dijawab dengan hadirnya kekuasaan yang saat itu sulit dipisahkan dengan gereja. Maka peruntungan untuk tetap eksis dan Tuhan dimuliakan, hingga hidup pembenaran bersifat transaksional, gereja yang sudah selesai untuk hadir dan kesadaran akut untuk terhubung dengan itu. Bangunannya yang menjulang perlu sokongan. Tidak ada tafsiran yang baru ketika indulgence diedarkan dan kitab yang terkungkung membuat derma bagi bangunan yang menjulang tersebut. Simplistis untuk melihat kesalahan memang, akan tetapi kewenangan yang membenarkan, Iustificatio Dei tidak datang seturut kitab.

Luther bergelut dan mendapati, 31 oktober 1517 dengan kesimpulan yang sadar akan konsukuensinya 95 dalil dipakukan. Tapi Luther tetap datang dengan pergumulan pribadi. Dari surat Roma, paulus mengikhtiarkan sebuah risalah pokok ajaran yang berperan, kemudian dengan agak kini, seakan mendapat penyesuaiannya sekarang. Tapi persoalan iman yang dibenarkan, anugerah dan Kitab suci  yang mencukupkan menjadikan persoalan pribadi menjadi punya tempat. Lantas apakah sekarang yang pribadi itu ?

Yang pribadi harus diagungkan, gema yang kuat dari sekedar kicauan (twitter) anak tanggung dan terhubungnya ekspose diri pada jejaring sosial. Ketika kurun waktu dan pernah terjadi apa yang pribadi melibatkan banyak hal. Sesuatu yang pribadi tidak dihubungkan dengan identitas kebanyakan, tapi berperan bagi kebanyakan.

***

Pergumulan Luther menjadi sebab yang tidak akan dengan riskan kita menyemainya,   hanya setiap individu yang yakin dan iman selalu punya peran dalam hal yang sangka kita, sejarah menjadi sesuatu yang mengasingkan.

Hari ini ateisme kuat, orang juga atas nama pribadi tidak akan canggung dan malu, bahwa  keraguan akan Tuhan mendapat tempat yang utama; pun di wilayah reformasi itu terselenggara—juga eksesnya yang menguat dengan identitas. Sekarang keyakinan menjadi berbahaya ketika hanya terpolarisasi dan tampaknya memecah masyarakat.  Berlaku bagi mereka yang dahulu memasok para misionaris. Sebuah keadaban harus mengenal esensi kemanusiaan, dan era Luther tidak perlu direkonstruksi untuk mendapat tempatnya sekarang.

Apa yang didapat dari Reformasi selain keterpisahan? pembagian yang hanya menguatkan masih berkutatnya kita dengan (identitas) keyakinan. Tidakkah polarisasi semakin diabaikan ?

Martin Luther seorang   yang tidak terlalu pagi, juga dini; hingga asyiknya kita menikmati kebebasan dan infalibilitas, anugerah, iman, Alkitab yang menyatakan Kristus dengan tentu hormat kemuliaan bagi Allah. Atau lebih jauh sebuah era kebebasan, lepas dari kooptasi dan mistik tahyul yang membuat agama bisa memperdaya. Menyukai dari awal dengan dimulainya pagi, tidak terlalu dini untuk mengingatkan.

Saya pikir, kita  harus hati-hati dengan pergumulan pribadi !

Selamat Hari Reformasi,

Oktober 2013.

Reformed yang selam ! Ngapain Lagi ?

 

dont hate me because Im Reformed baptist

Inisiasi Reformed sebagai penjelasan identitas adalah, laku keimanan yang memperbaharui kondisi diabad 16, sebuah masa dibelahan bumi sana; tepatnya di eropa, dimana agama yang mendominasi, yakni agama gereja yang dirasa dan dilihat ‘terlalu belok’ dan oleh para penginisiasi Reformasi–kerap disebut para “Reformator”,  diyakini perlu ada pembaharuan untuk sesuai dengan azas dari identitas dan kembali “lurus”.

Pembaharuan terkait dominasinya itu, semakin berkembang. Dan dalam prinsip “Sola Scriptura”, sebagai bagian dari sola-sola yang lain, kita mengenal dan mengetahuinya dengan 5 Sola. Adalah padanan dengan Alkitab.

Laku ‘agamanya’ terkait dengan sangat mendasar yakni salah satunya dari pangkal yang menunjukan tentang makna itu secara harafiah. Dasar dari tulisan ini mencoba menghadirkan dengan menguatkan sebuah identitas yang mendasar ketika tetap persoalan itu dianggap sebagai kebutuhan pokok, apa yang bisa disebut sebagai kebutuhan pokok dari masalah terkait dengan identitas ? Hal yang rasanya tidak aneh, ketika sekarang mencuat, yaah eksistensi akan identitas tersebut, tetap eksis yang penting dari siapa yang eksis tersebut. Sesuatu yang beroleh penyederhanaan memang, tetapi lazim ketika media sosial berkembang dan dianggap bukti dari eksistensi tersebut. Untuk bentuk keagamaan yang paling ekslusif pun tetap merasa perlu hadir dengan tampilan media sosial. Saksi Yehuwa yang suka menyimpangkan akhir jaman dan modofikasi dari Arianisme jadul yang anti Trinitarian pun eksis di facebook !

Tidakkah itu kemunculan disaat itu saja ?

Ini yang kerap jadi pertanyaan, pasalnya pembaharuan tindakan konversi keimanan (baca:pertobatan) dalam laku agamanya seturut dengan makna penyelaman diri yang harafiah, sesuatu yang dilakukan dan diniatkan sebagai baptisan selam (baptizein, baptis; tercelup) yang selalu bisa diperdebatkan dan kerap terpancing untuk itu.

Sebuah tindakan dalam iman percaya pribadi yang memang berakar, sementara  dalam pada itu, apa yang disebut sebagai tindakan radikal dalam gerakan Reformed atau pembaharuan tersebut. Adalah gerakan harafiah dari tindakan pembaptisan tersebut, sebagai tindakan konversi keimanan (baca:pertobatan). Karenanya sebagai sebuah tindakan radikal untuk tidak kompromi dengan ajaran lama.

Jadi Reformed selam semacam ingin kembali kepada ortodoksi ajaran yang bisa diketakan demikian ketika identitas menjadi penting, apa  yang dipahami sebagai identitas kewilayahan ketika periode setelah Reformasi, dimana setelah Martin Luther adalah Yohanes Kalvin, secuil gambaran dari beberapa tokoh terkemuka saja, dengan pelafalan yang jauh lebih pas dibanding lazim “John Calvin”  dalam rumusan keyakinan perihal Allah yang pribadi dalam pokoknya sebagai kemahakuasaan yang berdaulat. Hal mana terkait dengan pokok ajaran “predestinasi” penegasan ini memang yang lebih ketara oleh Yohanes Kalvin. Jadi sebatas cuma ini ? Ketika tendensinya hanya pada penegasan identitas dari ‘ritual’ keimanan penyertaan dengan secara harafiah wiliam carey baptismbaptisanpercaya ? Hal yang terkesan ingin me-mixkan 2 pokok prinsip ajaran. Sebagaimana diketahui seakan menjadi riwayat historis adalah identitas yang telah menjadi wilayah berkuasa dari saat itu, Reformed Geneva Kalvin dan beberapa wilayah lain, hal yang juga menyebabkan terjadinya pergolakan dan beberapa peperangan dalam kurun waktu itu.

Maka kemunculan pemberontakan kaum petani dalam kurun waktu setelah Luther yang justru tidak berbagian pandangan dengan Yohanes kalvin yang membakukan akan pokok ajaran tentang Reformasi dalam “institutio”, menjadi menarik akan Reformasi yang tidak utuh terkait dengan sisa warisan dari pemercikan bayi-bayi. akan tetapi jelas tidak dari sini itu dimulai, azas dari Reformed yang secara harafiah justru menjdi keniscayaan pada Reformasi kaum puritan Inggris raya terkait dominasi dalam wilayah publik karena pemberlakukan hukum agama.

Hal real yang telah dahulu dimunculkan terkait identitas dalam iman percaya ini karenanya dengan semangat akan pokok iman percaya yang pribadi dan tetap meyakini akan prisnip kedaulatan Allah menjadi pokok dalam persekutuan orang percaya. Landasan yang penting sebagai ‘separatis’, hal mana terpisah dari otoritas sipil baik juga otoritas kerajaan.

Jadi apa yang dilakukan oleh Reformed selam ketika memunculkan ini ? semakin membuat akan identitas menjadi urusan yang sangat kokoh dalam pertobatan pribadi untuk membangun jemaat bersama,  hal yang memang harafiah dari prinsip akan pemeliharaan Tuhan bagi umat pilihan dengan tanda penyataan diri akan baptisan percaya.

Hanya pada agenda ortodoksi ajaran atau adakah  yang lain ? 

Jadi apakah Reformed yang tidak selam kurang ortodoks ? menjadi tidak tegas akan pokok ajaran ? Disnilah menjadi kebergantungan pada pemeliharaan Tuhan oleh karena firmanNya, sebuah kebergantungan dan ketaatan untuk kita menjalankan. Disinilah menjadi menarik ketika menjalankan ajaran menjadi wakil Tuhan “terang dan garam” bagi realita sekitar. Sesuatu yang kembali berbagian dengan tugas seluruh orang percaya sebagai gereja yang kelihatan didunia ini–kutipan khas dari doktrin Kalvin tentang gereja.

Tidakkah prinsip kalvin untuk menegaskan akan pemercikan bayi sejalan sebagai kegenapan dari penggantian sunat ? pokok-pokok ini akan tetap bergulir dan kita bisa mendapati dengan lengkap dilaman ini http://www.reformedreader.org/history/list.htm. Sesuatu yang tetap beroleh penentangan dengan identitas dari Reformed Selam ini, yang selalu saja terkait dengan keabsahan sejarah dan penamaan beroleh respon balik. Reformed kok Baptis ? Hal yang sejalan dan kembali ke konteks saat itu ketika kalvin kurang tuntas.

Tentunya memang bukan sesuatu yang baru ketika hadir dalam konteks keindonesiaan dan iman kristen dianggap hal yang luar dan bisa berhadapan dengan aqidah ajaran dalam rumusan yang bisa bertentangan. Sekedar menegaskan akan iman sebagai penyertaan pribadi ? Dan tentu pemulihan untuk percaya akan iman kepada sang Kalam, Kristus ! Sesuatu yang merasa memulihkan dengan ortodoksi ajaran itu memang harus berhadapan dengan kondisi yang ada.

 

Jann’sektarian’__nehh

cat. sayangnya memang banyak situs dan laman yang tertulis dalam bahasa Inggris, sangat jarang dan agak sulit untuk dikatakan tidak ada yang berbahasa Indonesia. Beberapa ide, pemikiran (baca:teologia) dan identitas pelayanan yang terkait Teologia Perjanjian (Covenant Theologia). https://en.wikipedia.org/wiki/Covenant_theology

Entah penting atau tidak dan masih menyoal tentang identitas tersebut, menarik, sayang dalam bahasa inggris http://themelios.thegospelcoalition.org/article/the-abrahamic-covenant-in-reformed-baptist-perspective

 

 

 

 

 

Sangat Secuil Tentang Cessationist dan Continuanist itu…

Terkait sebagai praktek dan laku tindakan, maka kekristenan yang ngeroh itu, harus mengejawantahkan akan kerohaniannya tersebut.  Dan menjadi tidak mudah dan tidak sederhana memang. Apa maksudnya ngeroh ? yaah menegaskan akan aspek rohaninya yang terlihat.

Dalam pengertian umumnya “cessationist dan continuanist” adalah pembeda tentang karunia-karunia Roh, kuasa spesifik tentang kesembuhan dan mujizat-mujizat hanya menjadi kekushusan pada kurun waktu tertentu atau hal yang tetap berlangsung. singkatnya memang menjadi identitas juga. Terkait yang terutama tentu dengan identitas “Doktrin anugerah”

Maka, apa yang terjadi dengan kepenuhan Roh kudus ? Terus terang sebuah pengalaman yang tentu harus beroleh kesesuaianya. Dimulai dari pengalaman yang memang sudah lazim bahwa pelayanan dari identitas pengalaman kharismatik ini, sudah sangat lazim bukan ? Adalah sebuah tahapan yang sangat rohani.

Hal ini menjadi menarik dalam pengertian akan doktrin anugerah tersebut, pokok ajaran akan Allah yang berdaulat akan keselamatan dan pemeliharaan bagi  orang percaya. Doktrin anugerah bagi calvinist basah, yang rumusan pengakuan iman bukan hanya pokok yang kecil akan tetapi rumusan dasar tentang pokok Allah yang berdaulat dan wahyu mengenai Allah—sangat lazim dengan 3 rumusan dasar pokok pengakuan iman yakni; Heidelberg, Belgic dan Doordrecht serta 1 pengajaran yang cukup lengkap untuk wilayah anglo-saxon yang berbahasa inggris yakni westminster, kekhasan rumusan pengakuan iman dalam wilayah yang ada. Dimana azas sola scriptura menegaskan akan landasan dari tanda-tanda yang menyertai orang percaya (Luk 24: 47-49) dianggap telah terhenti (Cease), istilah yang bisa dipakai juga untuk cease-fire ketika saya mengidentikannya dengan genjatan senjata, seakan penghentian sementara, juga yang memulai untuk tidak berlakunya gencatan bersenjata tersebut dianggap musuh bersama !?

Lantas jika cesationist ini apa yang tergencat dari karunia dan tanda mujizat yang supra natural jika digunakan untuk peperangan, semacam mesiu yang memang penting. Ini memang penggambaran sesaat ketika menjelaskan bahwa respon yang ada justru adalah bersifat keberlangsungan. Disinilah muara dari perdebatan tersebut. Menjadi monoton dan tidak seru jika terhenti memang ? Akan tetapi bukankah justru seru, jika kecukupan Alkitab tetap ditegaskan. Menjadi tetap dengan sola scriptura itu, begitu bukan ?

JPS

 

Tentang Doktrin Anugerah yang Mengecilkan ?*

*uraian edisi Nopember 2013

(Hal yang didapat dari Roma 5:17)

Mengenal Allah melalui doktrin anugerah, seakan mengecilkan bahwa Allah yang melampaui dan biasanya kita mengenal sebagai wahyu dari Allah yang menyatakan diriNya dimengerti dari ketidakmampuan manusia. Maka sekarang hanya dengan pengertian ketidakmampuan manusia tersebut dianggap mencukupkan dan juga menjadi pembeda,  yang untuk dianggap menjelaskan secara keseluruhan sebagai Allah Alkitab ? Allah yang dinyatakan oleh Alkitab—sumber dari pengertian kita.  Ayat yang menegaskan, dan terkesan menjadi kecil ini  berasal dari ayat  Roma 5: 17 . Dimana  terkait sebagai penjelasan mengenai sejarah. Apa yang harus kita ketahui adalah tentang kita yang berdosa. Pengenalan Allah dalam hal ini dan sejarah kita yang terpisah karena dosa oleh Adam. Sejarah untuk kita mengenal maut dari dosa tersebut (Rm 5:12)

***

Prinisp anugerah adalah melihat hal ini, hal  yang sepertinya mengecilkan. Doktrin anugerah, kerap dikenal dalam istilah yang ‘import’ —terhubung dengan istilah yang merangkum akan 5 pokok calvinism, bukan tata pelayanan dengan model hervorm calvinis belanda yang menjadi ciri kekristenan kolonial yang justru dikaitkannya tidak esensial !? Maka dengan ini kesetiaan kita pada pengertian bukan pada istilah, karena semacam kekuatiran akan jejaknya yang ‘import’, apalagi dianggap terhubung dengan kolonial atau penjajahan. Sehingga penjelasan menjadi tertera nyata, kata anugerah dalam arti dan tertera literal adalah sangat sedikit didapati, akan tetapi jelas terhubung kepada pokok yang utama yakni; Kristus. Pokok  yang memegang peranan terutama dan terpenting dalam iman percaya—sesungguhnya karena membuat tidak ada yang bisa datang kepada Allah, kecuali Allah yang terlebih dahulu. Paulus menjelaskan hal yang jadi pembanding secara sejarah. Dan anugerah itu tertuju kepada Kristus. Hal yang dari Allah dan adalah Allah sendiri.

Dengan Doktrin anugerah kita melihat kepastian keselamatan yang membenarkan, dengan ini kepastian yang menuntut kita untuk “berbuat baik”. Prinsipnya “bukan perbuatan baik yang membenarkan kita, melainkan kita dibenarkan oleh iman  kepada Kristus untuk berbuat baik” sesuatu yang memandang pada korban Kristus dalam kematian dan kebangkitannya.(Rm 3:24,28; Gal 2:16-17)

***

Lalu kita harus serius menggumuli hal ini. Keselamatan dengan mengetahui keberdosaan, keselamatan yang dihinggapi dengan sadar akan kesia-siaan hidup yang dijalani (mzm 94:11;108:1;pkh 1:2;Rm1:21), “menjadikan maut telah berkuasa”  . Maka dalam Kristus, itu permulaan sebagai yang sulung (Rm 8:29; 1kor 15:20), Adam  yang ‘kemudian’ yang oleh-Nya kita diselamatkan dari kesia-siaan dan maut tersebut (Rm 5:14-15, 1 kor 15:45). Karenanya anugrah menjadi pemerolehan keselamatan dalam permulaanNya untuk hanya Kristus yang membenarkan, permulaan yang bersifat kekal, permulaan yang menghidupi dalam kenyataan kita hidup; permulaan dari kita sadar diciptakan sebagai manusia baru (Ef 2:15; 4:24) permulaan yang indah yang kita mendapati “selalu baru,..sebab itu aku berharap padaNya” (Rat 3:23-24). Sadar akan hal ini adalah kebenaran dalam dan hanya Kristus sebagai anugerah yang dari Allah. Apakah Kritus itu ? Anugerah ! siapakah Kristus ? Anugerah Allah.

Tidak ada kebenaran tanpa anugerah, tidak ada kebenaran tanpa mengenal sejarah untuk seharusnya kita mengetahui  kebenaran  akan keterpisahan dari Allah. Tidak ada kebenaran  tanpa dosa dan kesia-siaan hidup yang sadar itu diluar dari firman yang menjadi manusia, yakni Kristus (yoh 1:1,4,16) . “Kalam” sang khalik adalah Kristus, Dia terang yang dari Allah. Karena Allah yang berkehendak hadir.

Karenanya pengertian mengenai anugerah menegaskan akan Kristus. Sehingga pengertian anugerah diluar Kristus adalah sebuah kebohongan. Pengertian itu khusus dan hanya untuk Kristus. Berpaut hanya kepada Kristus untuk kita mengetahui bahwa diri kita beroleh pembenaran. Penjelasan dari yang ‘secuplik’ tersebut yang menegaskan akan pokok anugerah  adalah menjelaskan hal ini. Pengertian itu khusus dan hanya untuk Kristus. Berpaut hanya kepada Kristus untuk kita mengetahui bahwa diri kita beroleh pembenaran. Penjelasan dari yang ‘secuplik’ tersebut yang menegaskan akan pokok anugerah  untuk menjelaskan hal ini. Secuplik yang terlihat kecil.

Ketika sepertinya Kristus disederhanakan hanya pada pengenalan dan keselamatan dari dosa, sesungguhnya itu bukanlah hal yang sederhana. Itulah anugerah, seorang yang terlalu canggih dan yakin dengan perilakunya tidak akan bisa melihat ‘kesederhanaan’ ini. Iman percaya bukan masalah sederhana melainkan masalah anugerah. Sehingga makna yang didapat tentang “dibenarkan” dalam Kristus untuk ‘berbuat baik’ adalah melihat dalam keutuhan pengenalan  Allah yang agung, tetunya karena anugerah kita bisa mendapatiNya. Pengenalan akan Kristus dalam prinsip anugerah berbuah pada tindakan—disini hal tersebut dijelaskan. Tidak ada yang terputus dan memisahkan mengenai ini.  Kita menjadi bagian yang dalam Kristus kita dimampukan.

Terbesit selalu bahwa pembeda yang dalam Kristus adalah mengerti dari khususnya anugerah tersebut. Kristus yang ‘permulaan’ dan Kristus yang terutama harus menjadi yang mendasari pengertian kita. Adanya sebuah penambahan seakan membuat menjadi kesan, tapi  karena yang mendalam adalah tentang pengertian maka dengan Kristus adalah pengertian dan itu mencukupi untuk tidak adanya penambahan untuk membuat sesuatu yang menambahi kesan. Adalah terjadi karena tidak yakin dengan kecukupan berita Kristus yang ‘permulaan’ dan Kristus yang mendasari.

Dengan doktrin anugerah kita melihat dosa, adalah ketidakpercayaan yang diwariskan ?  Inilah hal mengenal Allah dan sungguhkah ketidakpercayaan ini melekat dalam diri kita ? sebuah pilihan dianggap bisa mengaburkan karena iman percaya kita yang tersisa. Seakan itu menjadi yang tersisa dan bisa diandalkan. Paulus sungguhpun sempat ragu, akan tetapi melihat yang utuh sebagai dirinya yang berdosa, “celakalah aku siapakah yang dapat menyelamatkan…” (1 Kor 9:16) dengan melihat adanya respon “syukur…” mengapa karena berbagian dalam surat ini.

Ketidakpercayaan tentunya menyangkali Allah. Ini bertumpu dan menjadi ringkasan dari begitulah kita membangun kehidupan dan menyatakan bahwa diri kita dengan yang ada selalu, jika ditegaskan adalah penyangkalan yang memang ada pada kita,  maka terlebih lagi berurusan dengan Allah adalah menjadikan ”…tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Rm 3:11b) dengan lebih lanjut berbuah kepada “keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan dijalan mereka”(Rm3:16); ditegaskan sebagai penjelasan mengenai dosa. Sebuah keberadaan kita dengan ketidakpercayaan yang sudah ada dan seumur dengan setiap kita yang pernah ada ini—hal yang bisa dibayangkan tentunya jika hal ini dianggap bodoh dengan memberi penilaian bahwa ketidakpercayaan dan penyangkalan menjadi ‘melekat’ dan diwariskan kepada kita. Karenanya apa yang diteguhkan sebagai kejatuhan kita adalah keterpisahan kita dengan Allah. Dimana ini juga dinyatakan, sebagai penyangkalan kita dapati  dalam banyak hal sebagai penjelasan dari keterpisahan tersebut, penjelasan akan kejatuhan kita. Kejatuhan yang karenanya kita menyangkal Allah.

Kita yang menyangkal Allah harus mau mengakui ini ! Kita, jika hidup dalam iman percaya sekarang, mengakui pernah berada dalam kondisi ini.  Betapa sulit mengakui dan tampaknya seperti menyederhanakan. Apa yang paling mengkhawatirkan adalah prinsip sederhana tentang kejatuhan yang seakan gagal dalam melihat permasalahan. Pokok dari kejatuhan tersebut dengan tetap menegaskan akan manusia yang tidak dengan sendirinya. Manusia yang harusnya bertanggung jawab kepada penciptaNya. Nilai manusia yang telah jatuh apa artinya ini ? Tidakkah dia bisa bangun lagi ? sebuah kemanusiaan yang diletakkan  mengapa harus melihat kejatuhan manusia? Banyak hal yang bisa dimunculkan dan menjadi pertanyaan mengenai hal ini.   Akan tetapi kedalaman pengertian kita biar bagaimanapun, dilatih dengan nalar yang paling kritis sekalipun, harusnya diletakkan dengan dasar ini. Akan sangat berbuah jika dibangun dengan dasar ini. Dengan dasar pengertian akan keterpisahan kita terhadap Allah pencipta kita.

***

Doktrin anugerah memiliki uraian untuk juga mengenal akan Allah yang menjadi khusus. Kekhususan untuk menjamin orang percaya didalam Kristus. Jadi akan halnya yang khusus sebagai dasar yang tidak didapati dari yang lain, ketika kita berupaya maka satu-satunya yang menjadi berita bukan warisan yang diimpor, hal yang terkait sebagai penjelasan mengenai sejarah  menjadi penjelasan yang khusus dan mencukupi mengenai Kristus, juga menyadarkan akan ketidak percayaa kita.

Doktrin anugerah memuliakan Allah. Jika ini menjadi penjelasannya maka pastilah kita akan selalu dan sedang dalam pengenalan akan Allah, mengapa ? karena  ketika kita percaya hanya melalui Kristus kita dibenarkan. Sebuah kutipan yang dengan sangat sembrono pernah diutarakan bahwa “…yang lama telah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang…” hal itu sungguh berani dikatakan ketika terhubung dengan sebuah partai politik yang beriklan. Mengapa berani memberikan penilaian sebagai penilaian yang sembrono ? karena pastilah menjauh dari pengertian yang dimaksud. Dalam pengertian dasarnya menjadi dikeruhkan, sebagaiman hal yang mengeruhkan dari pokok dasarnya akan doktrin anugerah yang bukan warisan kolonial.   Jadi, doktrin anugerah jelasnya mengecilkan ? kekeruhan dari warisan kolonial, menantang pergumulan untuk kembali kepada yang memurnikan, salah sangka yang sudah terlalu lama membutuhkan tuntunan Roh Kudus. Karena ada yang bukan warisan kolonial.   Pujian hanya bagi nama Allah dalam keagungannya karena kita mengenal dan bertumbuh dalam pokok ajaran anugerah.

JPS

Charles Spurgeon dan Secangkir Teh Sebagai Penghangat Siang yang singkat…

Charles SpurgeonSaya tidak ingin terlibat lebih banyak, tetapi ada yang tetap mendorong untuk diketahui. Percakapan yang mengetengahkan tentang identitas, sesuatu yang konon tetap menjadi penting.

Charles spuregon ?

“yeah, He is genius”

Melewatkan sebuah masa dan kurun waktu maka kita akan berkenalan dengan sosok yang menyertakan sebuah semangat yang menjadi banyak panutan. Siang itu tidak ada percakapan yang lain. Juga ketika tetap harus diketahui bahwa jaraknya sudah sangat terentang panjang.

Apa sebab ? disebuah kurun waktu keantusiasan untuk beribadah menjadi sangat kentara, hal yang tentu tidak didapati dalam kondisi sekarang ditempat spurgeon berada. Sebuah momen dari terbakarnya  gedung ibadah dimana spurgeon berkotbah, menajdi penjelasan akan keantusiasan dari orang-orang saat itu, bahwa Spurgeon lalai dalam memperhatikan keselamatan dari orang-orang yang entah pengunjung dari sebentuk penganan kerohanian dari mimbar dimana Spurgeon berkotbah, atau sungguh terlibat sebagaimana pelayanan yang berdedikasi. Bukankah di era sekarang lebih banyak pengunjung itu, bahkan menjadi sangat tidak penting untuk menyambangi ketika ‘hiburan’ dan pemenuhan akan yang rohani bisa didapatkan dengan diam ditempat.

Akan tetapi. Sebentar ! Tidakkah atau masakan spurgeon hanya berkotbah sendiri ? Bisa dipahami dengan keantusiasan yang tinggi  ketika memang dianggap tidak ada hiburan yang lain ? Maksudnya  ? Dengan jelas pada era spurgeon, pengkotbah yang dengan bulat-bulat diterjemahkan sebagai “pengkotbah rakyat” itu. Kerumunan masa yang mendatangi tersebut dianggap terjebak pada kondisi ketiadaan ‘hiburan’ ?

Kondisi dari wilayah dunia yang berbahasa inggris. Dimana iman Kristen dianggap telah banyak membantu dalam perubahan. Maka identitas iman menjadi kelayakan untuk spurgeon muda mengalami pergumulan yang sungguh total. Warisan anglo-saxon dan kemunculan gerakan kemurnian dalam warisan iman Kristen, telah membuat spurgeon dalam keresahannya menginginkan kemurnian tersebut. Pertobatan diusia belia dan jarak pendidikan yang membuatnya tidak masuk ke jenjang seminari. Membuat dia dengan keawamannya tersebut yang bukan rohaniawan menjadi sangat terdidik dan mumpuni untuk otodidak menjadi seorang komunikator.

Pesan yang sangat lugas dan kontribusi charity-nya mengalir. Pilihan sebagai warisan kemurnian non-comformist membuat spurgeon ikon dari keantusiasan rohani, sekaligus juga olok-olok dunia Kristen berbahasa inggris pada masanya yang dianggap sangat konservatif alias sangat kaku.

Beberapa buku spurgeon telah banyak diterbitkan kedalam bahasa Indonesia, juga sebuah seloroh yang pernah dilontarkan akan kerohanian spurgeon ketika foto dirinya, lebih tepat gambar visual dirinya yang sedang menghisap cangklong rokok. Tunggu-tunggu bukankah itu tanda ketidakrohanian ? Hal yang justru menambahi beban kesehatannya, spurgeon wafat diusia 57 tahun.

buku spurgeon 2

Dengan ribuan kotbah bertemakan dan berasaskan warisan Reformasi Calvin dari metropolitan tarbenacle-nya di pusat kota London dan juga dukungannya pada hampir semua misi yang tidak didanai anggaran Negara, mengingat era kolonialisme saat itu.  Menjadi manusiawi untuk mengenal spurgeon yang pernah mengalami depresi dan efek kebakaran hebat yang menghanguskan bagian gedung dari tempat dia rutin berkotbah.

Sebuah sisi manusiawi dari pengkotbah yang bergumul dan tidak menjadikan previlese khusus untuk dirinya, mengingat ada yang mengemukakan jika spurgeon sangat spesial. Karena hampir seminggu, menulis tema dan menyusunkotbah dan menerbitkannya dengan nyaris hampir 6 edisi bersamaan perminggu, kebayang sehari 1 dan membaca untuk berkorespondensi dengan banyak utusan misi.  Sebuah telaah yang berada dalam tingkatan akreditasi teologis yang suka meneliti dan mengkaji pernah dikemukakan terkait  makna ortodoksi teks Alkitab ? wow ?* bukan hanya pengkotbah rakyat akan tetapi juga cendekiawan yang berdiri atas pangkal doktrin anugerah tersebut. Sebuah kontribusi yang membuat spurgeon agak abai dengan kesehatan dirinya, tampaknya, juga jauh dari kesanggupan untuk memperkaya diri sendiri.

Apa yang jenius dari tokoh rohani tersebut ?

Jika bisa dipertegas sebagai sebuah pertanyaan untuk kemudian beroleh jawaban yang memuaskan, dan lagi dimana kejeniusan itu  jika dikaitkan dengan lagi-lagi hanya soal iman percaya ?

Tersiar kabar juga untuk dipahami bahwa pengkotbah spurgeon ini melawan perbudakan. Kepemilikan budak dikalangan rohaniawan Baptis selatan, kalangan yang tentunya berbahasa inggris juga, membuat spurgeon kehilangan simpatik dan dukungan. Hal yang memang cukup pelik, mengingat hak asasi yang mendasar dan selalu terpikir dalam kondisi kita, kok bisa ada perbudakan ? menjangkiti para rohaniawan kristen kulit putih ini, hal yang tidak bisa bahkan sukar untuk diperhalus; meskipun dianggap sekedar pekerja domestik tetap keasasiannya yang mendasar telah dilanggar. Karenanya Spurgeon sangat mendukung Reformator sosial dari william wilberforce yang sangat moncer dan intens untuk hal yang dianggap sangat tidak memadai untuk iman percaya yang bukan hanya dimasa mereka.

buku spurgeon 3

Kita bisa mendapati kotbah-kotbahnya yang tertulis dengan sangat luas dari situs-situs ini http://www.spurgeon.org/, juga arsip dan tayangan video kisahnya, hingga film dokumenter tentang dirinya.

Kembali ke siang dengan pilihan untuk minum teh dengan seorang yang dari belahan bumi lain. Dibandingkan dengan kopi, jelasnya sebuah kejeniusan yang dimaksud juga adalah kelurusan sikap. Bagaimana spuregon pada era sekarang ? Ketika pilihan dan hiburan menjadi banyak. Baiknya kita siapkan minum teh yang lain !

 

JPS

*penjelasan  lanjut dari telaah krtis seorang pengkotbah sekaliber Charles Spurgeon yang harusnya hanya melayani tenang sebagai pendeta dengan ortodoksinya bisa dilihat disini http://www.standardbearers.net/uploads/New_Testament_Textual_Criticism_Ministry_CH_Spurgeon__JET__2014.pdf Hal yang menempatkan Spurgeon dalam telaah lanjut bahasan teologi dengan standar kritis dan tetap terkait dengan pelayanan penggembalaannya. Hal kritis yang tidak membuang iman injili dengan doktrin anugerahnya tersebut.

easter03

(seri eksposisi terkait “Getsemani” Mt 26:36-46, Yh 14:15-31,  16:4b-15)

 

Pengajaran dalam iman percaya kita adalah mengenai Allah, perihal mengenai Allah adalah berada dalam pengertian yang harus diajarkan dan bersifat pokok. Pengajaran itu didapat dalam salah satunya yang mengajarkan ketika saatnya adalah Kristus akan menyudahi, maksudnya ? kristus akan menuntaskan dengan kematian di kayu salib dan juga kebangkitanNya,  akan tetapi justru para muridnya tetap tidak paham. Menarik dan sangat pokok bahwa bagian dari pengajaran ini ketika kita membaca berurutan justru berada ditengah (Yoh 14), bahkan berada diakhir (Mat26:36-46;Mrk14:32-42;Lk22:39-46). Tidakkah seharusnya bersifat pengajaran awal ? karena bersifat pengenalan, bersifat pokok sekali untuk mengenal Allah. Akan tetapi itulah pegajaran ini sebagai sebuah kisah dan pengajaran ini menyentuh hal yang sangat mendalam, menyentuh hal yang bersifat pribadi dari Allah yang berkenan hadir.

Saat terakhir inilah yang justru dipakai. Padanan yang kita ambil dari Yohanes ini tidak kita dapatkan dalam penjelasan di injil sinoptik lain, injil yang menjadi kisah hidup Kristus yakni matius, markus dan Lukas. Hal yang menjadi jelas adalah; bahwa murid tidak akan ditinggalkan ada  yang tetap bersama dengan para murid tersebut. Hal ini yang membuat kita bisa bertanya, Pertama kita bisa membaca bahwa secara keseluruhan mengapa tema ini justru berada dibagian agak akhir ketika justru menyatakan dari Allah sendiri. Sebagian kita menjadi sudah mengenal dengan pengertian akan Roh Kudus. Lazimnya tentu sebagai sebuah kelanjutan dari Allah yang harus menyatakan diriNya, menyatakan pribadiNya (Kel 14:4, 17, Mzm 77:14, Yoh1:18;2:11).

 

Kedua, dengan sangat luas kita bisa terhubung dengan kondisi yang sudah lazim dari pengenalan kepada kristus, dengan terbiasa kita sudah melihat dalam kenyataan bahwa Roh Kudus adalah Roh yang ‘menjiwai’ para murid dan seterusnya para murid itu menjadi lazim untuk dikenal akan yang menjadi sumber utamanya, perihal Kristus dan pengenalan kepadaNya sebagai sumber utama. Roh kudus membuat orang sadar siapa murid Kristus yang dijiwainya itu.

Mengapa lazim ? karena yang dikaitkan selalu dengan Roh kudus ini adalah; keramaian dan keriuhan. Karena seakan bagian dari momen ini yang harus menjadi tanda. Maksudnya jelas tanda dari Roh kudus ini menjadi tanda yang dikedepankan. Seakan tanpa tanda ini dianggap tidak ada Roh kudus. Maka ketika Roh kudus adalah perihal ‘menjiwai’ para muridNya Kristus memaklumatkan pengenalan kepada Kristus. Hal itu dianggap terlalu ‘mendasar’ dan lazim. Maskudnya ? hal yang dianggap mengecilkan, karena haruslah disertai kuasa. Perihal kuasa ini yang selalu dikedepankan, maksud dari kuasa yang dikedepankan menjadi jelas dan terlihat sangat demonstrativ, sangat dikedepankan dan dinampakan. Karena dengan jelas-jelas bahwa itu tertulis.

Maka, ketika membawa  pengenalan yang sesungguhnya kepada Allah, kita justru mendapati pengenalan yang sangat pribadi. Jadi apa yang paling pribadi jika tidak melalui hal  ini ? penelusuran-penelusuran yang lain diluar wahyu Alkitab—sebagaimana Roh kudus yang mengingatkan akan perkataan Yesus, untuk juga dipakai  (Yoh 14:26).sesuatu yang pribadi yang diwahyukan adalah sesuatu yang mengingatkan, maksudnya kita menerima begitu saja akan hal yang diingatkan kepada kita ? perkataan yesus menjadi otoritas untuk kita tidak bisa melalaikan.  Maka dengan perkataan ini kita mengenal siapa yang mengatakannya. Sesuatu yang tetap dan akan sangat pribadi.

***

Sekarang adalah tema tentang “perjanjian baru” ketika pribadi, yang dalam hal ini akan sifat dan kerja dari Roh Kudus adalah “penghibur” (Yoh 14:26;15:26; 16:7). Apa gerangan selanjutnya yang seakan menjadi cerita duka ? menjadi sesuatu yang sangat membutuhkan penghiburan, karena keadaan apa yang membutuhkan penghiburan ini ?  Menjadi menarik bagi kita,  seakan kebutuhan penghiburan adalah kebutuhan pokok yang berada dalam situasi yang tidak mengenakan, tapi apakah itu akan berlangsung terus ?

***

Hal yang justru nyata-nyata dalam perikop ini adalah “damai sejahtera” (Yoh 14:27-31) sesuatu yang terkait ketika Kristus menjelaskan; kata ini kalau coba-coba ditelusuri memang menjadi perlambang dari hadirnya Roh kudus tersebut. Mengenai yang ini tentu berdasar dengan  ini “damai sejahtera kutinggalkan kepadaMu”( yoh 14:27), saat yang memang tidak terpisahkan akan tetapi justru seakan dalam perpisahan bahwa para murid ditinggalkan dengan damai sejahtera, bagaimana bisa ? ini jelas menjadi sebuah cerita pribadi yang membawa pengertian.

Jadi roh kudus adalah roh damai sejahtera. Sangat pribadi sekali akan makna yang didapat. Menjadi pribadi adalah sosok pembawa damai sejahtera tersebut. Kata damai sejahtera adalah “erirene” hal yang memang melekat dengan pengertian ini adalah tentang firman (kis 10:34) dan firman itu bersumber dan adalah pribadi melampaui permulaan karena berkenan telah menjadi manusia—selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh justru penolakan kepada firman. Kita haruslah paham disini sebuah “eirene” yang bersumber kepada Kristus. Bersumber karena berasal dari firman tersebut.  Damai sejahtera itu yang selalu diingatkan dalam surat-surat pengembalaan. Bersifat pribadi dari damai sejahtera yang ditinggalkan Allah, dengan maksud bahwa Allah tetap menyertai.

Adakah makna yang berubah dari penghibur ? sang penghibur sejati justru mengingatkan akan perkataan kristus. Ketika berbicara mengenai penebusan sangat jelas, penggenapan bagi kristus. Terang injil dalam kristus. Sementara seakan ‘mengecilkan’ kita bisa tahu kelanjutan karya penebusan adalah Kristus akan tetapi ‘penghibur” ini , maka seakan kita jadi paham akan berita dan kondisi yang  mengakibatkannya, yakni  kondisi duka yang dialami.  Penghibur ada karena adanya kedukaan. Bagian yang dengan sangat lugasnya berada dalam pengertian akan “penghibur” yang juga “menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:7-11). Inilah penghiburan itu.

Gereja yang mengaku percaya sejatinya dituntun oleh kemutlakan Roh penghibur ini, ada banyak kaitannya dengan perkataan kristus. Disaat itu para murid tidak paham, karena kita membacanya dari matius 26 dan penjelasan yohanes 14 ini adalah penjelasan yang justru ‘pribadi’. Hal yang pribadi menjadi sangat mulia karena menjelaskan mengenai Kristus sebagai pribadi dan kelanjutannya. Sebuah kelanjutan karena sesuai dengan hakekatnya kristus kemudian yang dinayatakan akan “menyertai sampai akhir jaman” (mat 28:20).

Jadi penghiburan menjadi pokok karena penyertaan sang Kristus dan Roh kudus dalam memuliakan Bapa disorga sebagaimana diingatkan kembali bahwa Kristus yang tuntas memuliakan Allah. Sebagaimana dimengerti Allah memuliakan diriNya dan berkenan memakai diri kita yang disertai Roh kudus Allah. Teologi mendasar sebagai pengetahuan tentang Allah yang menuntun kita dari pribadi Allah penghibur yang menyertai kita. Orang percaya menjadi tergugah dengan pengetahuan ini. Pengetahuan mengenai Tuhan Allah yang menuntun dan memerdekakan (Rm8:2)

Sekarang dimana “kuasa” itu menjadi bagian dari penjelasan akan Roh penghibur (parakletos), kita sadar sekali ini berbagian dan pokok dalam mengenal Allah. Garis besarnya tetaplah Allah yang akan menyertai kita. Penghibur seakan itu menjadi hal yan primer. Hal yang memang sangat pokok. Apa yang pokok untuk kita ketahui sebagai kebutuhan ? itu mnjadi terpinggirkan. Kita jadi trcegang seberapa butuh kita pnghiburan ini.

Makna “dunamis” sangat  melekat ketika kita mengetahui, bahwa ini bersoal tentang mujizat, hal yang dijanjika sebagai kuasa oleh Kristus sendiri. aKan tetapi kita mengenalnya sebagai “dinamis” dan “dinamika” atau sesuatu yang ‘meledak’ untuk artian dari dunamis  yakni benda “dinamit”

Menjadikan  Roh kudus hanya sebatas kuasa

Membuat Roh Kudus yang justru adalah esensi dari pengenalan kepada Allah sendiri menjadi hanya sebatas kuasa, justru mengecilkan ketika hanya “dinamit” yang dimaksud adalah letupan dan ledakan. Daya tarik kepada kuasa inilah adalah  bukan “aliran dari air hidup…”(Yoh7:38) sesuatu yang berdasar dari iman percaya kita, karena dikerjakan Allah.

Sekarang kita menerimanya sebuah pengajaran yang harusnya membawa pengealan kepada Kristus, ayat pengenalan ini yang sebenarnya sangat jelas. Akan tetapi lazimnya kuasa akan terus dan tidak terhenti. Pengajaran Roh kudus yang justru membukakan adalah kekuatan atau kuasa. Tidakkah seharunya berbicara tentang kuasa pengenalan ?

Tulisan dan petunjuk pengenalan kepada Kristus yang tidak mengenal Dia sebagaimana maksudnya semula, terkait dosa dan penginsafan kita, jelasnya tidak berasal dari Roh Kudus. Pengajaran yang sangat pribadi dari kristus kepada muridnya ini seakan tertutupi. Kemeriahan sebagai tanda roh pertobatan dan Kristus dalam maksudnya yang semula jelas menjadi berbeda dan bisa jadi asing.

Kita seakan telah membuat ini menjadi lain, karena otoritas wahyu itu adalah karena Roh kudus, kehadiran Allah yang tetap menyertai kita. Menjadi jelas bahwa otoritas itu bagi kita. Jadi apa yang memang sungguh-snggug menjadi pertanyaan ? sungguh-sungguh membuat kita ingin mencari tahu.

Berharap roh kudus mempertobatkan, menjadi sangat rohani memang. Dalam setiap detil  dan pokok yang kita bisa baca, kita menemukan dengan sangat prinsip sekali. Saat-saat pribadi bersama para murid adalah saat-saat yang bersifat pengajaran. Saat yang menyatakan kepada pengenalan akan Allah sendiri. Kita akan diberkati dengan ini.

***

Perenungan kita menjadi semakin dalam, setidaknya saya mengajak untuk itu. Karena berkenalan dengan pribadi adalah mengenal pribadi itu sendiri. Pribadi yang membawa kita untuk mengenal pribadi, kita menjadi mengenali pribadi tersebut. Memang seakan menjadi ‘pelik’ karena selalu untuk diingatkan bahwa ini adalah membawa pengenalan kepada Allah. Dan sepertinya menjadi teramat sangat bertele-tele, mengingat rumusan pengenalan kepada Allah dalam kesatuannya adalah firman. Lantas bagaimana dengan ketritunggalan ? sekedar rumusan keyakinan ?   Kita berkeyakinan tentang ketritunggalan Allah karena itu diwahyukan oleh Rohkudus, jadi sungguhkah pengenalan ini yang dinyatakan kepada kita ? lantaran kuasa justru menyatakan kepada Allah yang sesungguhnya harus dikenal. Yang terjadi dan sangat pokok adalah pengenalan kepada Allah tersebut. Pengenalan akan pribadi ketritunggalan Allah yan suci dan seturut wahyu yang kudus.  Roh kudus yang penghibur memberi wahyu dan pengenalanNya. Roh kudus pribadi Allah yang menyatakan kekudusan Allah. Kekudusan dari sang Firman, Kristus anak Allah.

Apa yang terjadi sekarang dengan ketiadaan kuasa ? sebuah buku menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah Roh pemberitaan Injil, kuasa itu adalah susah dan senang dalam pemberitaan Injil, ketika saya bisa mengartikannya lebih. Ketika kita dalam segala kondisi memang selayaknya menggunakan secara verbal, sesuatu yang diutarakan, sesuatu yang dikomunikasikan.  Bahkan sekarang sudah menjadi lazim akan kata-kata yang bertuah dan kuasa. Tanpa kuasa Roh kudus jelas ketiadaan pengenalan itu akan mendera kita.  Jadi semakin berbobotkah makna Injil yang harus disertai dengan kuasa ? secara lebih hal yang terkait dengan kemujaraban. Segala kuasa merujuk kepada kuasa kebangkitan, hal yang diingatkan secara tertulis dan penggenapan mujizat ini yang harus diberitakan (Fil 3:10). Akan kuasa kebangkitan, kuasa pemberita Injil dan kuasa pertobatan inilah yang menyertai orang percaya setelah dengan kuasa yang tertulis itu menjadi genap. Wahyu Alkitab adalah kuasa dari pekerjaan Roh kudus yang sepertinya menjadikan iman Kristen sama dengan iman agama lain ? Sebuah penjelasan menjadi jelas dalam menuntun kita keyakinan dari yang bersumber dari Roh Kudus Allah perihal wahyu tertulis  sebagaimana tertera dalam pengakuan iman  baptis 1689  “Hakim tertinggi  dimana semua perselisihan agama (keyakinan) harus diputuskan  dan semua keputusan dewan,  pendapat para penulis kuno, ajaran manusia , dan ucapan-ucapan Roh melaui orang perseorangan, harus diperiksa , dan dengan patuh keputusanNya wajib kita terima, tidak lain adalah Roh kudus, yang bersabda dalam Alkitab(Mat 22:29, 31, 32; Ef 2:20, Kis 28:23) .

Kuasa dalam susah dan senang, apakah maksudnya itu ?

Maka sekarang terkait dengan makna kuasa, yang bisa jadi menjauh dari pengenalan pribadi guna menjadi murid, jelasnya sukar untuk dipahami. Problem kita dalam merenungkan ini adalah gagal untuk memahami. Jadi inilah ketiadaan kuasa itu. Dengan ini kuasa menjadi melekat, bahwa kesaksian itu adalah tentang Kristus. Rupa-rupa mujizat yang saat itu, memang menjadi penggenapan. Sekarang adalah kuasa itu, yang dalam segala keadaan itu meneguhkan Kristus sebagai sumber utama. Penyataan Allah berkenan karena kuasa Roh kudus. Jadi memang bisa ditebak, bahwa sepertinya kuasa hanya pada saat itu ? hal yang sepertinya menjadi sangat mengecilkan karena terjadi pada suatu masa saja. Akan tetapi kita paham betul dan seturut kehendak Roh kudus, mengingat perkataan kristus menjadi kesaksian. (kol 3:16)

Kita menjadi paham dengan sumber pengetahuan Alkitab, keseluruhan tulisan yang diilhamkan Allah (2 Tim3:16) dan otoritas kuasa tersebut mencukupkan sebagai pengetahuan. Jadi kuasa menjadi pengetahuan ? jelas bukan kesitu. Ada sebuah ketidaksanggupan untuk mengetahui dan mengenal Allah yang ada pada diri manusia, maksudnya ini jelas pengetahuan yang diwahyukan Roh Kudus seturut kesaksian fiman yang ‘mengikatnya’ dan ketidaksanggupan itu adalah ketiadaan kuasa. Masak sih ? ketiadaan kuasa adalah ketiadaan mujizat ? ketiadaan aksi-aksi yang mujarab dan spektakuler tersebut. Allah sanggup dan bukankah klaim yang ada “oleh-oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” pengenalan kepada Allah tentu disertai dengan penunjukan yang spektakuler tersebut.

Maka baiknya kita juga membaca dari keseluruhan kisah itu ada. Menjadi sangat-sangat spesifik ketika kuasa Roh kudus itu, selalu memberi pengetahuan tantang Allah akan karya-karya mujizat yang dibuatnya. Akan tetapi ketika justru ada kesusahan dan penindasan, apakah diartikan ketiadaan kuasa dan kalaupun dianggap sebagai pribadi tentu menjadi pribadi yang tidak berkuasa. Karena sungguhpun menjadi sebuah perenungan untuk mengenal Allah dalam sebuah pengecualian.

Perihal yang ditegaskan sebagai pengetahuan terlebih lagi dengan sangat intens. Tapi justru aspek itu yang diabaikan, maksudnya diabaikan ? tidak ketara sebagai penegasan yang seharusnya. Kuasa menjadi penyertaan Allah dan bentuk lain dari yang serupa sebagai bergantung dan berserah kepada Allah.

Jadi adakah susah juga dalam apa yang dialami Paulus , petrus dan rasul-rasul lain adalah kuasa Allah juga (kis 9:16; Rm2:9) ? tidakkah ini justru menjadi berbeda dengan yang sekarang kita hadapi ? pribadi Roh kudus yang mengingatkan akan pribadi Kristus dalam penyertaan pribadi Bapa. Sebuah pokok dari hal yang pribadi. Hal yang tidak mungkin bisa dipahami oleh iman agama yang mati.

Dalam pengertian akan Roh Kudus sebagai pribadi, dengan sangat khas sebagai wahyu Allah yang dinyatakan kepada kita, dinyatakan untuk kita selalu menjadi murid yang bergantung kepada Allah. Maka tidak ada penjelasan untuk doa dan percakapan pribadi yang ditujukan kepada Roh kudus. Dengan sesadar-sadarnya ini bukan pengabaian akan yang pribadi. Sebagaimana pernah sebuah buku seakan menjadi sebuah wahyu yang mencengangkan.  Mengapa mencengangkan ? karena sanggup bercakap-cakap dengan Roh kudus sebagai sungguh dalam itikad dan kelakuan yang manusiawi. Hal yang justru lebih banyak dengan pemaksaan penglihatan dan kesan positif. Sangat jauh untuk menegaskan akan pemberitaan Injil yang mengalami penderitaan (2 kor 6:4;7:4; Fil 3:10;Kol 1:24)

Pokok yang bisa disimpulkan:

Pertama, Mempelajari Roh kudus adalah mengenal Allah sendiri betapa jelasnya menjadi sebuah pengajaran. Mengenal akan Allah yang pribadi adalah juga mengingat akan perkataanNya (Yoh16:13).  Dengan ini perihal Roh kudus yang pribadi membawa pengenalan yang pribadi bagi diri kita secara pribadi, melalui firman Kristus. Menjadi tertulisnya kesaksian perkataan kristus bagi kita.

 

Kelanjutannya dari mengenal Allah ketika menyusuri bukit-bukit dan tempat-tempat guna Injil terberitakan untuk tempat-temat yang rasanya sukar. Maksud yang selalu ingin bergegas untuk Allah dimuliakan, dengan ini InjilNya terberitakan, semoga. Tidak ada pengupayaan dan kebajikan tertinggi yang bisa diupayakan manusia. Jadi yang membawa pengenalan adalah seturut wahyu. Mungkinkah tanpa Allah sendiri ? sebuah kepribadian untuk menyatakan akan Allah yang pribadi tersebut. Injil yang memang dan tetap harus diberitakan dari penyataan akan pribadi Allah. Tindakan ini, sesuangguhnya dalam iman menarik kita untuk mengenal Allah. Termasuk ketika kesungguhannya dalam melihat, meyakini dan mempermasalahkan untuk upaya Injil yang terberitakan yang rasanya sukar untuk beberapa tempat tertentu. Dalam kondisi dan masanya benarkah ini sebuah bagian dari rencana Allah dimana pengenalan juga adalah pemberitaan ?  masa yang sangat pribadi sekali untuk dijalani.

 

Bayangkan penggenapan dari pengenalan Kristus tanpa pribadi Roh kudus yang menginsafkan dan menyertai kita ? menjadi jatuh  hanya pada sebuah agama yang yakin penginsafan itu tanpa korban yang dari Allah. Pokok-pokok ini menjadi khas dan dituliskan dalam ilham Roh kudus, dituliskan kemudian untuk kita. Karena penggenapan dan iman percaya kita bagi Kristus. Menuliskannya secara tuntas dan memberitakan apa yang tertulis tersebut. Mnjadi bagian dari ini adalah sebuah ajakan untuk semakin memuliakan Dia. Kita tidak melihat kristus akan tetapi karya iman dari Roh kudus yang membuat kita percaya.

 

Sebuah masa yang sebenarnya dipenuhi oleh “kemudahan”. Ketika tidak lagi sendirian, karena pengenalan kepada Allah dengan umatNya yang juga terlibat dalam pemberitaan Injil tersebut. Maka kemudahan itu juga disertai dengan kesusahan-kesusahan. Pribadi yang mengungkap Kristus, lebih dari sekedar hembusan angin yang menjadi ciri dari apa yang namanya ruach tersebut—lafal yang digunakan oleh akar keyakinan yudaisme yang pasti menyangkali kemesiasan Kristus.

 

Kedua, Dinamika Roh kudus adalah ‘kuasa’ yang sekalipun tidak dikecilkan membuat kehendak dan kebebasan Allah, karena penyertaan Allah ini kita mengalami hal yang paling tidak mengenakan pun tetap dalam rencana Allah. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm8:28). Jadi kekristenan itu menjadi kecil ketika kita tidak mengecap segala sesuatunya dalam penyertaan dan pemeliharaan Allah. Tidakah pokok-pokok ini  ditegaskan sebagaimana lazimnya hanya sebagai ‘berkat biasa’. Karenanya kita menjadi sadar betul, betapa berbicaranya pokok-pokok ayat menjadi penegasan pengajaran bagi kita. Maksudnya ? ada sesuatu yang otentik yang mencirikan pribadi Allah. Allah yang harus dimuliakan dalam segnap hidup kita. Dinamika Roh kudus adalah pemeliharaan yang ilahi dari Allah untuk Allah dimuliakan. Kita menjalaninya untuk Allah dimuliakan !

 

***

Menangkap pesan ini membuat kita paham akan kesedihan Kristus (mat 26) Saat-saat terakhir yang justru mengungkap banyak hal dan kelanjutan dari Kristus yang memang akan terus menyertai, sekalipun ada kesedihan dan berbagi dukacita, karenaNya Roh kudus menyertai kita.

Perihal yang pribadi tentang murid-murid bersama dengan Dia, justru mengungkap akan pengenalan kepada Allah. Adalah pertolongan dari Roh Kudus, sebagaimana hakekatNya dan kita dianugrahi pengertian akan hal ini yang membawa kepada pengenalan yang pribadi kepada Kristus. Kita diingatkan selalu akan perkataan sang Firman, Kristus. Dengan penjelasan yang sangat pribadi ini justru pengenalan kepada Allah menjadi terang. Terang yang sungguh bahwa kita disertai oleh karena penyertaan Allah Tritunggal.

 

Akhir April, 2016

JPS

1689, Pengakuan Iman Baptis London Kedua

1689Confess.gif 2

I Kitab Suci Alkitab Continue reading “1689, Pengakuan Iman Baptis London Kedua”

Muram

Bisa jadi masalah pengenalan, masalah dari tidak mengetahui dengan persis.

Saya agak muram jadinya, ketika menyaksikan ajakan membantu personil yang akan terlibat dalam keantusiasan akan misi–muram dengan bayangan keantusiasannya adalah juga mungkin penyaluran akan adventurisme.

Muram dalam pengertian dan mengingat misi dengan persebaran keyakinan, berpokok pada pengakuan akan Injil, sesuatu yang mulia dan luhur sebagaimana saya juga melibatkan diri; tak ubahnya dan nyaris seperti sebuah proyeksi dari aktualisasi kegemaran bertualang. Kultur pelibatan Misi yang diwariskan dari “luar sono” menjadikan koneksi yang sangat umum untuk mengajak, seakan seorang yang berpindah dari kehidupan umumnya telah berkorban. Keluhuran  Injil yang disertakan dengan pengorbanan.

Tersebar dengan daya publikasi yang ada dan berharap dukungan serta sokongan demi panggilan yang mulia ini. Semarak publikasi dan media membuat bertambah terserapnya imaginasi untuk membantu–daya publikasi yang menunjukan akan beban dari kehidupan di lingkungan baru. Saya pikir turis juga gemar melakukan ini !

Dengan lugas apa yang membedakan Misi mulia injil dengan adventurisme, bukan hanya masalah jangka waktu. Akan tetapi menyeluruh dalam melihat dan melibatkan, sesuatu yang bukan hanya adaptasi sosial, tetapi tantangan pengakuan iman akan “Degradasi ciptaan” untuk dipertanggungjawabkan kepada pencipta dalam realitas sosial lingkungan yang baru.

Jadi, lupakan eksotisme pegunungan tengah jaya wijaya, dapati dan kembangkan modal sosial yang berkelanjutan setelah iman percaya tersemai secara kuantitas. Berpikir keras untuk pendidikan ethno-cultural dalam penyelarasan–ketika harus pendidikan itu selaras dengan ketentuan penyelenggaraan kekuasaan yang ada, lokal dan nasional; atau mungkin bersifat non-coperative, perlawanan. Minimaliasasi kemapanan yang membuat keekslusifan sebagai “tamu”, setelah penyesuaian hidup dengan  standar hidup umumnya masyarakat perihal kesehatan dan masyarakat. Lupakan, refreshing tahunan untuk mengunjungi Bali. Melebur dalam kesepahaman yang menyeluruh akan kasih yang besar terhadap masyarakat yang ditinggali, jika memungkinkan dan sangat jarang tentunya, pindah kewarga negaraan di negara yang ditinggali yang hampir tidak ada jaminan sosial masa tua. Proyek panjang dengan membangun identitas kultural melampaui mirisnya keterisoliran dan kesendirian.

Saya pikir, era-nya Wiliiam carey yang turut mengembangkan percetakan, micro-agriculture dengan pengelompokan tanaman (Carey dikenal perintis dan “ahli” Botani awal di India), college hingga konfrontasi terhadap budaya biadab “satii”, pembakaran janda bersama dengan mayat suaminya yang dikremasi. Juga, David livingstone yang ingin memutus rantai perdagangan budak dengan merintis penjelajahan bagi akses perdangan komoditi yang lain–sekalipun ada tudingan dari sekularis skeptis sebagai pembuka jalan kolonialisme baru. Tetap merupakan sebuah era, dengan pemberlakukan dan panggilan kepada obyek masyarakat yang dilayani.

Sehingga ‘kemapanan’ dan “habit” dari gaya hidup di tempat terdahulu  berangsur-angsur punah. Berpikir untuk mandiri dengan tidak bergantung pada sokongan dana dari gereja atau lembaga pengutus–sehingga bisa merasakan dan empati dengan melimpahnya angkatan kerja yang masih mengganggur yang mungkin jauh dari amatan secara lokal.

Sehingga dengan aksen agak muram, maaf, saya memberi penilaian sinis terhadap publikasi “seorang yang terpanggil untuk misi” dalam menyebarkan undangan dukungan, dengan selalu menyadari dan mewapadai adventurisme. Hal yang mungkin agak tidak lazim kalau dukungannya, bahkan terakses dan terpublikasi jejaring sosial umum, juga perihal nominal yang sepertinya memaklumi besaran sebagai orang dari “luar sono”.

Mohon maaf kalau saya tidak terbeban bahkan sinis, termasuk dengan publikasi pencitraannya, ketika memang kita dapati fakta epidemi HIV terjangkiti sebagai dampak gaya hidup yang tidak dalam disiplin murid kristus di wilayah yang cukup berjarak dengan keterisoliran dan sulit untuk dihindari jika diidentikan dengan wilayah misionaris bekerja.

Teringat sinisme Langdon Gilkey yang bertahun-tahun mengamati di Shanghai dan telah beralih haluan dari konservativ menjadi liberal “kita punya banyak guru, tenaga kesehatan, perawat dan pengembang jalan. Tapi  dalam masyarakat kita ada status sosial dari kelompok orang yang rasanya tidak berguna, dan apa yang dilakukan tidaklah lebih dari pemuasan hobi semata, yakni : mereka para utusan misi ” (Langdon Gilkey, “Shantung Compound”)

Tentunya ada pembeda yang tegas dari apa yang saya utarakan dan Gilkey keluhkan. Pembeda dari haluan dasar keyakinan saya akan Injil sendiri, terkait juga dengan fakta historis William carey dan David livingstone– pahlawan anti-perbudakan saya.

Saya percaya Injil punya daya yang kuat untuk mengubahkan masyarakat, dengan terserapnya sebuah korban untuk tidak gemar terakses secara publikasi dan terkikisnya gaya hidup yang ‘membedakan’ dengan masyarakat yang ditinggali, serta sekedar eksistensi adventurisme yang terselubung.

Saya agak muram, untuk diketahui sinisme liberal–tidak ada makna ekslusif injil dan hanya demi masyarakat saja– ‘menghigapi’ saya, untuk kemudian mempertanyakan apakah saya  injili atau liberal ? Allah Tritunggal kiranya memurnikan dan mengutus !

Cibinong yang mendung pada, 12 april 2011

Jann

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑