Search

Jann'sektarian'__ nehh Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Category

Uncategorized

Kegelisahan sebagai sebuah penanda…

Bagaimana menangkap ini ? Tuntutan kegelisahan itu dengan tetap dikemukakan. Apaka sekarang kegelisahan itu yang menjelaskan penanda ? gelisah itu sebagai ada  itu sendiri.

***

Kesadaran identitas yang memang menuntut. Dengam sesadar-sadarnya akan tuntutan itu, akan tetapi dimana itu berbagian ? Semacam kesamaankah antara kecemasan dengan kegeliahan, ataupun juga dengan kekuatiran. Dimana kekuatiran tersebut adalah soal makan dan minum, menjadi semacam dikecilkan perihal makan dan minum ini.

Dikatakan jikalau beriringan maka, kegelisahan yang lain tetaplah harus dipupuk. Tersebutlah kegelisahan terkait identitas dan pelayanan…

Advertisements

indie reformed lecturer series 3

The Misionarism refer from moderate Moslem scholar, why he care and return to criticize the Christianity after idolizing secularism ? Huhhhhhffffffff….

africa colonial

Its pushing back, some like the pendulum Contrary? when we praise and respect the equality and modern civilize that western heir and still leave and give critical for non-western, we applaud and respect for human rights, emancipation better than women discrimination in sharia law.

We were impressed for respect to human, but somehow in other hand we got some human values that Christianity was participate without denial for many claims, especially claims from ‘anti-Christian and secularist’.

When Woodberry  (2012) says  many western missionaries give support  thing for the goodness of society and well-impact, even  colonialism as a real historical fact and we know that. But now, why the openness, freedom of belief and democratization for getting impact from narrow-minded; Trump elected, “Brexit”.

One of moslem scholar in Indonesia that recently  became participant in political  it so interesting, when he back again defend the value of sound like humanity in teaching religion. Response for narrow-minded phenomena in the political condition in the anglo-american, through his social media twitter, he says some worries and put the defensive like sublimation that he still defend the moderation of Islamic view.

 “Theologically, ISIS caliphate ideas clearly chaotic and inconsequential. But ISIS will not be born if America had invaded Iraq.

“Therefore, the teachings of the Quran are: summons to the path of God Reviews those ways “wisdom”, wise. Sabili Ud’u rabbika bil Ila wisdom”.

“Misionarism that aggressive and arrogant, both in the name of religion or secular ideology, Contrary to the ethics of the newspaper-style propaganda. “

He used the term “Misionarism” as disseminated and shared or spread religion or secular ideology with arrogant and aggressive? Wow, how come?

“Something we think is right, if disseminated / dakwah (misionarism) by means of the which an aggressive and arrogant can turn”.

He usual joint and involve; for freedom of religion activities and reject the sharia law, even controversies in moslem context impact. We know there is no connecting and still divide, but this is claim of openness like our country open for missionaries in some area—it should be all of area but there are one sharia law area  as challenge and also getting  contra is mostly in national area that refer for moslem identity  so refer for those  and whose  that against of  the narrow-minded , hidebound and isolated with religion or any ideology claim.

So, we agree? we worry for misionarism too with arrogance! which one most of there, ideology or religion ? does christianity involve ? Huhffffffff

 

Just sighs Cibinong, 8 April 2017

JPS

 

 

Teks: “Repetisi & Memang Ada Yang Salah ! …”

repetisi blog

Berjejak pada lorong…

Apa yang bisa diharapkan ? Sebuah perubahan ! Pada lorong, sebagai tempat berteduh karena memang hujan yang terus datang dan orang-orang tepatnya mereka yang telah bekerja akan pulang.

Lorong didepan, arah masuk gereja Posko baru ada sekitar 1,5 tahun yang lewat. Akan berguna sebagai tempat berteduh. Ketika di jam-jam istirahat, lorong itu sebagai tempat untuk beristirahat makan. Hal yang tidak kalah penting dari waktu pulang.

Lantas yang dikemukakan sebagai pokok dalam berkeyakinan ? Seakan sekedar menangkap bergunanya disaat hujan.

Fiksi & Intensi iman percaya, sebuah undangan yang telah lewat…

fiksi-iman-percaya-sebuah-intensiSetelah Dostoevksy dengan eksistensialisme yang bergulat dengan pernyataan pokok iman percaya dalam realismenya atau, pengisahan alegoris John Bunyan yang mengisahkan kembali rencana keselamatan yang tertera di Alkitab, maka pengisahan fiksi membuat kita bertanya apa yang bisa didapat ? Bukankah sudah wajar dengan “kesaksian” ? roman yang sangat umum sebagai bentuk pengisahan fiksi panjang–yang bisa jadi tidak murni ‘rekaan’ telah menjadi identitas ide yang mempertautkan dengan iman percaya. terlepas pengisahan ataupun mempertanyakan yang hadir sebagai kisah, kita mengenal “rubuhnya surau kami” AA navis atau “tenggelamnya kapal van derwick” mubaligh terkemuka Hamka yang juga sangat fasih dalam dogmatika keislaman ahlul sunnah yang “puritan”. maka proyeksi kebudayaan dalam penulisan kreatif yang punya tajuk “keindahan” ataupun melabelkan sebagai “susastra”.

Sebuah realisme ‘rekaan’ menjadi menarik dan tentu menjadi tidak terkesan menggurui, sekalipun bisa dipertanyakan–bagi mereka yang skeptik dengan  iman percaya bahwa tetaplah ada motif ! ada pesan dan mungkin juga pertanyaan yang dituturkan dengan kisah, yang sekali lagi adalah rekaan atau fiksi tersebut.

Rasanya, berargumen paling pintar dengan pembelaan iman apologetika adalah hal paling mudah, lantas dengan intensi yang ada dalam fiksi dan pengisahannya jelas pergumulan baru bagi yang serius dengan pelayanan, mengingat betapa melekat dan majunya proyeksi kebudayaan yang berpengaruh ketika roman-roman Hamka & Navis, juga yang mashyur Pramudya ketika itu semua ada diperpustakaan atau taman bacaan kita sebagai fiksi dalam bentuknya novelet atau tetralogi yang dilabelkan sebagai bacaan yang menjelaskan pergolakan kebudayaan kita.

Sebuah kegelisahan yang lain…

Sila diunduh “penggalan” akan fiksi pendek http://j.peesfiksi.org/share-sebuah-fiksi-baik-saja-tidak-menyelamatkan-nababan/

Juga tersedia order indent & penggalan yang menemai musim hujan http://j.peesfiksi.org/sebuah-fiksi-sekelebat-dan-rintik-hujan-yang-berwarna-oren/

Proyek fiksi ditengah kefasihan doktrin yang tetap oleh karena Anugrah dari Tritunggal suci dikotbahkan…
J.Pees

Agama yang tanpa perayaan serta “Desember”nya Efek Rumah Kaca itu ! Puritanisme serta modifikasi Sensus Divinitatis* ?

Jelas itu adalah sebuah kesunyian ! Itu adalah sebentuk yang lain yang sungguh-sungguh memang lain. Maka menjadikannya sebuah getar beragama, semacam mungkin sensus divinitatis, menjadikan bahwa agama memang selalu punya peran…

Tapi bisakah, serta sungguhkah ini ? Disebuah masa, apa yang dikenal sebagai meriahnya dan juga melekatnya identitas dengan perayaan,

image_update_bda471bbd785dbb8_1356265243_9j-4aaqskjustru agama; tampilan umumnya kekristenan dengan semaraknya pernah dilarang. Sebuah pemutusan tradisi ? ingatan saya pada 1640-an jika tidak salah diawal-awal koloni Amerika.

Apa yang tercermin dari yang literal sebagaimana kitab memaksudkan harus mengalami modifikasi, juga ketika perayaan itu harus kembali ke yang pokok. Saya pikir, siapa yang sungguh ingin merayakan ? Tersebutlah bahwa apa yang religius itu bisa tampil dipasar. Semarak religius menjadi alat yang mengidentikan ketika pasar berespon, sebuah kedekatan yang membantu dalam unsur-unsur transaksi didalamnya.

Akan tetapi tidakkah ini justru kemunculan yang lain, sebuah kelompok kultik (cult) paska agama puritan yang menarik total dari khasanah berlakunya kehidupan umum, tepatnya sok menarik diri dengan ramalan dan pemenuhan akan akhir jaman, dimana logika perayaan juga menjadi ditarik–entah karena ingin terlihat beda atau ekses sosial ketika perayaan agama menjadi sangat dominan dan tidak bertekun dalam mencermati saat dan hari-hari akhir. Jelas bukan untuk kelompok kultik aneh yang mengharamkan transfusi darah dan bentuk keterlibatan dalam partisipasi dengan wadah negara; akan tetapi menjadi kerap dipersandingkan.

Ekspresi agama adalah juga didalamnya ekspresi perayaan, wikipedia mendaftarkan hal itu https://en.wikipedia.org/wiki/Religious_festival bahwa agama mencirikan juga festival perayaan dari tanda akan pengaruhnya, juga identitas dari pemeluk agama yang telah dipengaruhi tersebut. Jadi agama atau identitas keyakinan yang tanpa perayaan jelasnya tidak menunjukan bahwa ekspresi berkeyakinan itu penting, tidak menyelaraskan akan ‘getar’ agama, meminimalisir sensus divinitatis ?

Terkait dengan kekhawatiran, yang memunculkan taklimat atau arahan religius terkait simbol dan semarak dari perayaan ‘religius’ natal  memang menunculkan respon yang terpolarisasi. Terlalu dangkal memang jika hal berpakaian penutup kepala ala  natal, yang katanya simbol orang baik itu bisa menggeser keyakinan dari kebaikan seturut kitab yang diyakini semata-mata dengan perayaan religius sehingga bisa surut keyakinan dengan kitab yang diyakini tersebut. tapi memang simbol tetaplah penting sebagai ‘getar’ agama tersebut.

Terus apa yang harus dilakukan dibulan Desember. Momen pengingat apa yang menjadikan Desember semarak. Desember memang terasa syahdu  dan pas dengan senandung band indie “Efek Rumah Kaca”, masak sih ?!! “…karena aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember, seperti pelangi setia menunggu hujan reda…” Terus kalau seperti bulan Desember 2015 tahun lewat yang kemarau dan sangat minim hujan gimana ? Nah itu sedih memang! Huhfffff !!

Ecclesia Ut Quidam Folks Qui Lucem…

 

*Dengan tidak mengecilkan bahwa sensus Divinitatis yang dimaksud merujuk pada Reformator Yohanes Kalvin, tentang benih agama yang telah tercemar & rusak (corrupt) dari yang sejati dari persekutuan dengan sang Khalik. Dalam hal ini benih dosa yang juga didapat dalam beragama.

 

Kritisisme bagi hypermaskulinitas supremasi kulit putih…

Seakan berada dititik nadir, apa yang diandalkan menjadi bias. karena untuk kalah tidak dibawah 30% saja sudah kebangetan, ini sampai harus menang.

Maka, apa yang bisa dipelajari dari Amerika, menohoknya kita pada kampiun demokrasi ini. Sungguhkah hal ini dan masih belum terobati. berurusan dengan angle keagamaan, maka ketika tak terpisahkan bahwa ide-ide persamaan semakin menjauh ketika ada hal yang diluar dari ide-ide tersebut. Maksudnya ? Agak sukar mempercayai ketika dominansi syiar keyakinan ‘dikuasai’ maka sebenarnya sangat menjauh dari sebuah kelakuan yang sangat menjunjung tinggi tertib pada nilainya persamaan itu. Dominansi dan pobia pada yang lain, hanya menunjukan suatu kekhawatiran itulah yang khas dari wajah terpilihnya presiden ditempat dengan mana syiar dan pelayanan Kristen itu berada ditempat terdepan.

Hal yang sangat sukar, ketika yang seharusnya menang adalah menjauh dari sekadar makna agama atau sektarian, tapi hal itulah yang dipakai dan dipercayai. Karenanya ada baiknya untuk mencirikan, bilamana kepicikan ‘pejantan’ koboy kulit putih itu tersebar, juga untuk itu pada sebuah syiar keyakinan…

Eskalasi, ikutannya & Filipi 1:29…*Duka mendalam

intan-banjarnahorBisa ditebak akan ada eskalasi, jika ikutannya ada yang jadi korban maka memang rentan mengemukakan simbol-simbol agama tersebut. Sesuatu yang mencoba untuk ditenggarai dengan tidak bisa diterka, atau awas-awas diartikan jauh.

Jadi, yang koban anak & adik kita bersama; Intan Olivia Marbun diartikan sebagai sebuah eskalasi ? Ketika bermain & ‘mengikuti’ iman orang tuanya terkena lontaran material perkakas peledak asap atau molotov, untuk coba diperhalus tidak dikatakan bom pada minggu 13 Nopember lalu. Aarghhhh…Sudah cukup !

Termasuk untuk ini ketika yang disoal kemudian sayup-sayup masalah perijinan tempat ibadah ???  Hal yang ikutannya memangkelkan dan menimbulkan ‘kesepahaman’ yang sulit dipahami. Karena mengendap dan rasanya tidak nyambung. Kok bisa jadi ikutannya ini ? keasasian anak kecil bisa nyerempet ke arah hak asasi identitas, hal yang tidak selesai dan sukar dipahami ketika identitas ingin berkembang banyak.

***

Duka mendalam & penghiburan  bagi keluarga yang ditinggalkan, kasih Kristus sang Kalam menyertai “Sebab kepada kamu dikaruniakan   bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita   untuk Dia” (Filipi 1:29)…

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑