Search

Jann'sektarian'__ nehh Blog

…sekedarnya, memorabilia yang tetap aktual, akan tetapi cukup intens…

Agama yang tanpa perayaan serta “Desember”nya Efek Rumah Kaca itu ! Puritanisme serta modifikasi Sensus Divinitatis* ?

Jelas itu adalah sebuah kesunyian ! Itu adalah sebentuk yang lain yang sungguh-sungguh memang lain. Maka menjadikannya sebuah getar beragama, semacam mungkin sensus divinitatis, menjadikan bahwa agama memang selalu punya peran…

Tapi bisakah, serta sungguhkah ini ? Disebuah masa, apa yang dikenal sebagai meriahnya dan juga melekatnya identitas dengan perayaan,

image_update_bda471bbd785dbb8_1356265243_9j-4aaqskjustru agama; tampilan umumnya kekristenan dengan semaraknya pernah dilarang. Sebuah pemutusan tradisi ? ingatan saya pada 1640-an jika tidak salah diawal-awal koloni Amerika.

Apa yang tercermin dari yang literal sebagaimana kitab memaksudkan harus mengalami modifikasi, juga ketika perayaan itu harus kembali ke yang pokok. Saya pikir, siapa yang sungguh ingin merayakan ? Tersebutlah bahwa apa yang religius itu bisa tampil dipasar. Semarak religius menjadi alat yang mengidentikan ketika pasar berespon, sebuah kedekatan yang membantu dalam unsur-unsur transaksi didalamnya.

Akan tetapi tidakkah ini justru kemunculan yang lain, sebuah kelompok kultik (cult) paska agama puritan yang menarik total dari khasanah berlakunya kehidupan umum, tepatnya sok menarik diri dengan ramalan dan pemenuhan akan akhir jaman, dimana logika perayaan juga menjadi ditarik–entah karena ingin terlihat beda atau ekses sosial ketika perayaan agama menjadi sangat dominan dan tidak bertekun dalam mencermati saat dan hari-hari akhir. Jelas bukan untuk kelompok kultik aneh yang mengharamkan transfusi darah dan bentuk keterlibatan dalam partisipasi dengan wadah negara; akan tetapi menjadi kerap dipersandingkan.

Ekspresi agama adalah juga didalamnya ekspresi perayaan, wikipedia mendaftarkan hal itu https://en.wikipedia.org/wiki/Religious_festival bahwa agama mencirikan juga festival perayaan dari tanda akan pengaruhnya, juga identitas dari pemeluk agama yang telah dipengaruhi tersebut. Jadi agama atau identitas keyakinan yang tanpa perayaan jelasnya tidak menunjukan bahwa ekspresi berkeyakinan itu penting, tidak menyelaraskan akan ‘getar’ agama, meminimalisir sensus divinitatis ?

Terkait dengan kekhawatiran, yang memunculkan taklimat atau arahan religius terkait simbol dan semarak dari perayaan ‘religius’ natal  memang menunculkan respon yang terpolarisasi. Terlalu dangkal memang jika hal berpakaian penutup kepala ala  natal, yang katanya simbol orang baik itu bisa menggeser keyakinan dari kebaikan seturut kitab yang diyakini semata-mata dengan perayaan religius sehingga bisa surut keyakinan dengan kitab yang diyakini tersebut. tapi memang simbol tetaplah penting sebagai ‘getar’ agama tersebut.

Terus apa yang harus dilakukan dibulan Desember. Momen pengingat apa yang menjadikan Desember semarak. Desember memang terasa syahdu  dan pas dengan senandung band indie “Efek Rumah Kaca”, masak sih ?!! “…karena aku selalu suka sehabis hujan dibulan Desember, seperti pelangi setia menunggu hujan reda…” Terus kalau seperti bulan Desember 2015 tahun lewat yang kemarau dan sangat minim hujan gimana ? Nah itu sedih memang! Huhfffff !!

Ecclesia Ut Quidam Folks Qui Lucem…

 

*Dengan tidak mengecilkan bahwa sensus Divinitatis yang dimaksud merujuk pada Reformator Yohanes Kalvin, tentang benih agama yang telah tercemar & rusak (corrupt) dari yang sejati dari persekutuan dengan sang Khalik. Dalam hal ini benih dosa yang juga didapat dalam beragama.

 

Kritisisme bagi hypermaskulinitas supremasi kulit putih…

Seakan berada dititik nadir, apa yang diandalkan menjadi bias. karena untuk kalah tidak dibawah 30% saja sudah kebangetan, ini sampai harus menang.

Maka, apa yang bisa dipelajari dari Amerika, menohoknya kita pada kampiun demokrasi ini. Sungguhkah hal ini dan masih belum terobati. berurusan dengan angle keagamaan, maka ketika tak terpisahkan bahwa ide-ide persamaan semakin menjauh ketika ada hal yang diluar dari ide-ide tersebut. Maksudnya ? Agak sukar mempercayai ketika dominansi syiar keyakinan ‘dikuasai’ maka sebenarnya sangat menjauh dari sebuah kelakuan yang sangat menjunjung tinggi tertib pada nilainya persamaan itu. Dominansi dan pobia pada yang lain, hanya menunjukan suatu kekhawatiran itulah yang khas dari wajah terpilihnya presiden ditempat dengan mana syiar dan pelayanan Kristen itu berada ditempat terdepan.

Hal yang sangat sukar, ketika yang seharusnya menang adalah menjauh dari sekadar makna agama atau sektarian, tapi hal itulah yang dipakai dan dipercayai. Karenanya ada baiknya untuk mencirikan, bilamana kepicikan ‘pejantan’ koboy kulit putih itu tersebar, juga untuk itu pada sebuah syiar keyakinan…

Literasi Suburban (baca: pinggiran) itu…Hal yang didapat dari kemelekan beraksara.

Eskalasi, ikutannya & Filipi 1:29…*Duka mendalam

intan-banjarnahorBisa ditebak akan ada eskalasi, jika ikutannya ada yang jadi korban maka memang rentan mengemukakan simbol-simbol agama tersebut. Sesuatu yang mencoba untuk ditenggarai dengan tidak bisa diterka, atau awas-awas diartikan jauh.

Jadi, yang koban anak & adik kita bersama; Intan Olivia Marbun diartikan sebagai sebuah eskalasi ? Ketika bermain & ‘mengikuti’ iman orang tuanya terkena lontaran material perkakas peledak asap atau molotov, untuk coba diperhalus tidak dikatakan bom pada minggu 13 Nopember lalu. Aarghhhh…Sudah cukup !

Termasuk untuk ini ketika yang disoal kemudian sayup-sayup masalah perijinan tempat ibadah ???  Hal yang ikutannya memangkelkan dan menimbulkan ‘kesepahaman’ yang sulit dipahami. Karena mengendap dan rasanya tidak nyambung. Kok bisa jadi ikutannya ini ? keasasian anak kecil bisa nyerempet ke arah hak asasi identitas, hal yang tidak selesai dan sukar dipahami ketika identitas ingin berkembang banyak.

***

Duka mendalam & penghiburan  bagi keluarga yang ditinggalkan, kasih Kristus sang Kalam menyertai “Sebab kepada kamu dikaruniakan   bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita   untuk Dia” (Filipi 1:29)…

 

Hoaaghhh, Gagap & Takjub Dengan yang Berjumlah Besar itu…

islam-love-peace

Beragama memang soal massa, soal jumlah, akhirnya !! Dan sungguhkah pernyataan ini ? Bagaimana meletakannya ? Setidaknya dengan pasti sotoy dalam menelaah itulah yang bisa dilihat. hingga sekarang adalah tetap ketakjuban dari massa demo jumat, 4 november lalu; bergerak dalam dalih keyakinan, maka solidaritas terpupuk karena sadar dalam negara hukum yang berdemokrasi itu atau sebaliknya, singgungan agama yang dengan sangat haruslah beroleh repson yang demokratis juga.

Sulit untuk tidak takjub, kagum sekaligus tercengang. Karena kesadaran dengan dalih agama tersebut telah menuai syakwasangka diawal sebelum aksi itu berlangsung. Akan tetapi justru himpunan massa damai yang sangat berupaya untuk aksi-damai-bela-islammenyampaikan pesan, menuai respon takjub, juga pertarungan media yang menuainya–hingga jikalau mau jujur, mencuatnya kekerasan diakhir adalah noda yang masih bisa dibersihkan jikalau bukan sentimen untuk dibesar-besarkan, tentunya bagi yang tidak punya masa konkret tersebut. Tidak ingin mengulas tentang pokok pribadi yang kadang, yaaaah dirasa sok “playing victim” itu dan menjadi sumber utama demo. Tetap ketakjuban dari menegaskan ide dari identitas yang harus terjaga, yakni identitas berkeyakinan, identitas beragama. Lagi-lagi dan ini harus dipahami betul, beragama memang soal massa !! Omong kosong soal ide kamandirian dan negosiasi pemikiran, yang terlalu elit yang seakan berkontribusi tanpa bisa menunjukan himpunan masa yang bisa dikelolanya; sekedar seleb medsos yang menjamur, dosen atau scholar tanggung yang punya follower banyak, itu jelas bukan kekuatan riel. bentang-bendera-2 Disamping perhitungan riel dalam ritual proes pemilihan, karenanya tetap takjub dengan himpunan masa yang kemaren. Karena nyatanya  sepanjang sejarah himpunan massa yang besar selalu punya motif religius adalah berada dalam list utama pemegang jumlah tertinggi hingga juta-jutaan https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_largest_peaceful_gatherings_in_historyMaka inilah ketakjuban terhadap jumlah yang besar itu dan sekali lagi motif religius memegang peranan.

Mau beragama (baca: menegaskan identitas agama) yakin  ngga perlu massa ?? Punya ide yang sangat mumpuni, tetap anda harus mendompleng agama ! Sungguhkah ? Sudah ah, takut kejauhan dan masih saja takjub. Hoagghhh…

Salam menjadi insan beragama untuk kita semua…

Cibinong, 8 nopember 2016

Pagi, “Reformasi” & Hal-Hal Yang Tidak Terlalu Dini…

Kesan tidak terbangun sesaat, tidak juga ‘riuh’ yang ditampilkan. Manakala ada yang melegenda, melekatkan kita pada rekonstruksi ketika yang bathil, mendominasi, bahkan kita tahu sekarang untuk diistilahkan bisa menghegemoni, perlahan kita rekam dan tidak sekedar untuk kita pertahankan.

Pergumulan pribadi Martin Luther, adalah tetap pergumulan pribadi. Hidup asketiknya yang mencari pelepasan seakan sebuah ekskresi yang didapat, “Hier stehe ich, ich kann nicht anders. Gott helfe mir. Amen” berhadapan dengan “tahta suci” dan perangai kooptasi,  biarawan Agustinian ini tidak salah berada dalam masa, dimana kehadiran Tuhan begitu lugas dijawab dengan hadirnya kekuasaan yang saat itu sulit dipisahkan dengan gereja. Maka peruntungan untuk tetap eksis dan Tuhan dimuliakan, hingga hidup pembenaran bersifat transaksional, gereja yang sudah selesai untuk hadir dan kesadaran akut untuk terhubung dengan itu. Bangunannya yang menjulang perlu sokongan. Tidak ada tafsiran yang baru ketika indulgence diedarkan dan kitab yang terkungkung membuat derma bagi bangunan yang menjulang tersebut. Simplistis untuk melihat kesalahan memang, akan tetapi kewenangan yang membenarkan, Iustificatio Dei tidak datang seturut kitab.

Luther bergelut dan mendapati, 31 oktober 1517 dengan kesimpulan yang sadar akan konsukuensinya 95 dalil dipakukan. Tapi Luther tetap datang dengan pergumulan pribadi. Dari surat Roma, paulus mengikhtiarkan sebuah risalah pokok ajaran yang berperan, kemudian dengan agak kini, seakan mendapat penyesuaiannya sekarang. Tapi persoalan iman yang dibenarkan, anugerah dan Kitab suci  yang mencukupkan menjadikan persoalan pribadi menjadi punya tempat. Lantas apakah sekarang yang pribadi itu ?

Yang pribadi harus diagungkan, gema yang kuat dari sekedar kicauan (twitter) anak tanggung dan terhubungnya ekspose diri pada jejaring sosial. Ketika kurun waktu dan pernah terjadi apa yang pribadi melibatkan banyak hal. Sesuatu yang pribadi tidak dihubungkan dengan identitas kebanyakan, tapi berperan bagi kebanyakan.

***

Pergumulan Luther menjadi sebab yang tidak akan dengan riskan kita menyemainya,   hanya setiap individu yang yakin dan iman selalu punya peran dalam hal yang sangka kita, sejarah menjadi sesuatu yang mengasingkan.

Hari ini ateisme kuat, orang juga atas nama pribadi tidak akan canggung dan malu, bahwa  keraguan akan Tuhan mendapat tempat yang utama; pun di wilayah reformasi itu terselenggara—juga eksesnya yang menguat dengan identitas. Sekarang keyakinan menjadi berbahaya ketika hanya terpolarisasi dan tampaknya memecah masyarakat.  Berlaku bagi mereka yang dahulu memasok para misionaris. Sebuah keadaban harus mengenal esensi kemanusiaan, dan era Luther tidak perlu direkonstruksi untuk mendapat tempatnya sekarang.

Apa yang didapat dari Reformasi selain keterpisahan? pembagian yang hanya menguatkan masih berkutatnya kita dengan (identitas) keyakinan. Tidakkah polarisasi semakin diabaikan ?

Martin Luther seorang   yang tidak terlalu pagi, juga dini; hingga asyiknya kita menikmati kebebasan dan infalibilitas, anugerah, iman, Alkitab yang menyatakan Kristus dengan tentu hormat kemuliaan bagi Allah. Atau lebih jauh sebuah era kebebasan, lepas dari kooptasi dan mistik tahyul yang membuat agama bisa memperdaya. Menyukai dari awal dengan dimulainya pagi, tidak terlalu dini untuk mengingatkan.

Saya pikir, kita  harus hati-hati dengan pergumulan pribadi !

Selamat Hari Reformasi,

Oktober 2013.

Dari Arsip Lama

Ironi persimpangan, sebuah siang disemarang…

Ini bukan sebuah scene dari para sutradara ‘pemberontak’ di perhelatan acara indie, sekedar mengapreseiasi kegetiran dunia ke-3. Ini sungguh terjadi—bersamaan saya mendengar hymn “Jesus, what a friend of sinners”, agak terhenti dan cukup rapat untuk mengingat kembali. Disebuah persimpangan semarang yang terlalu terik, mengantar seorang rekan untuk akses print berwarna. Tentunya ketidaksiapan dan daya adaptasi yang memang tidak berlanjut. Seakan ketidaksiapan saya menyaksikan anak perempuan kecil dan kakaknya, lebih tepat mas-nya memasuki rental warnet.

Sang adik menunjuk pada keinginan untuk segera mendapat akses global dari hanya sentuhan jari tersebut. Berdua mereka menyambangi dan terlibat percakapan dibalik partisi warnet; bersegera untuk mendapatkan info music dari mas-nya, lebih tepat meminta mas-nya untuk mencarikan.

Lalu, “ jalo iki Mas, ST-12 no”. Dengan dialek jawa yang kental untuk anak kecil yang saya bisa pastikan belum bersekolah. Anak perempuan dengan rambut yang cukup ‘benderang’ karena terbakar terik dan kulit cukup legam, berceloteh “ golek iki mau to mas” dan terus si anak perempuan ini berceloteh.

Saya tersenyum. Apakah pada masanya untuk mengenal genre music dewasa ? Atau apa benar sudah menjadi umum ? Apakah benar St-12 berada dalam top request saat ini ? Apa yang didapati untuk juga mendesakan sebuah kegelisahan dari akses global terhadap anak perempuan kecil ?

Percakapan mereka mengidentikan sebuah kekhasan local yang memang berjarak dengan aksen bahasa saya. Percaya atau tidak, saya terharu !

Saya lupa kapan saya mulai terharu hanya dengan gap bahasa, dan sinyal pelafalan bunyi yang justru kerap diartikan agak berbeda dan lucu. Anak perempuan kecil usia play-group dan mas-nya yang usianya berkisar 10 tahun ternyata kemudian selalu beraktifitas di lampu merah jalanan seberang warnet, ya, mereka berdua anak jalanan-menyambangi dunia informasi. Mungkin, sekedar mendapati info lagu.

Scene saya tidak berlanjut. Apalagi menghubungkan dengan, semacam kecemasan karena anak jalanan. Setidaknya rasa aman dari bocah perempuan cilik yang bertingkah pola ceria. Sinyal keceriaan yang umum pada masanya. Juga, menghubungkan dengan seting semarang. Mmmh “ Sri Mulyani kecil “, proyeksi yang cukup berjarak, tetapi tidak dimata penggiat dokumentasi.

Kesan-nya menurut saya setara, ketika Goenawan Mohammad kecil menangis, mendengar ketidakadilan yang dialami “si jamin dan si johan” disebuah sudut kota yang pongah; seraya kealpaan yang terlalu jauh bahwa sebenarnya hanya sebuah fiksi literature. “oliver twist”-nya Charles Dickens dalam kesenjangan revolusi industri inggris, latar yang muram untuk tumbuh kembangnya seorang anak yatim piatu. Mungkin keharuan adalah artificial dan sekedar menghinggapi dalam fase, dimana sejatinya rutinitas lebih mendesakan kita dalam menghargai waktu.

* * *

Kita butuh sesuatu yang, dalam memberi ‘sambutan penilaian’ kata Sophia Lauren kepada “Life is beautiful”nya Roberto Benigni, atau dalam tambahan saya dengan (tersenyum)-sebuah momen yang cukup membekas dalam ingatan saya“ …membuat kita tertawa (tersenyum) disaat seharusya kita menangis dan membuat kita menangis disaat seharusnya kita tertawa (tersenyum)”. Bersamaan dengan berakhirnya hymn “Jesus, what a friend of sinners” saya terlalu yakin; mendesakan kepedulian dengan hal kesenjangan, tentunya membuat tantangan. Seakan konservatisme keyakinan ditantang dan masihkan memberi jawaban ?

Kembali ke bocah perempuan jalanan dan mas-nya. Apa yang dikhawatirkan dari problematika social-semoga kita juga bisa menemukan keharuan, pengalihan media bermain menjadi bekerja. Tuntutan pengertian yang terlalu cepat ketika realiasme hidup harus dimengerti dari usia dini.

“Realitas itu perlu ditafsirkan” cetus Ricouer. Ironi persimpangan, jikalau bisa`disebut demikian. Anak jalanan yang berada dalam usia dini, mencari uang untuk mengakses internet ditafsirkan sebagai hal yang lucu hanya karena gap bahasa yang tidak biasa saya dengar. Saya percaya akan ada hal lain, membuat tidak berjarak problematika social itu.

Ironi persimpangan, membuat setarikan senyum; sungguh, saya melihatnya !

4 juni 2010

Lagi, Membaca ‘serapahan’ Atas Agama Pop-Injili Amerika .

Lagi, Membaca  ‘serapahan’   Atas Agama Pop-Injili Amerika .

Judul      : “Kekristenan Tanpa Kristus”,

                   (“Christless Christianity: The alternative gospel of American church”)

Penulis   : Michael Horton

Penerbit : Momentum 2012, (Baker Publishing Group 2008)

Hal : xi + 307

Apa perlunya membaca mengenai amerika yang kita sudah ketahui  ? Bisa juga, apa menariknya dari sebuah kedigdayaan ? untuk dimaksudkan digdaya bahwa isu utama seakan didapat. Akan tetapi itu yang ingin dihadirkan Horton ! maka jadilah sebuah tulisan yang tergarap dalam bab yang, untuk ini sekali lagi mencaci dengan agak sedikit tanggung sebuah laku beragama dalam frame protestan Amerika yang serba menunjang individualisme dan pemenuhan diri.

Menyerapahi yang sudah ditebak tentang kekristenan yang bercirikan nuansa kontemporer dari subyektivisme pemenuhan diri, mungkin akan membuat naiknya derajat seorang teolog sekolahan yang juga bisa disandingkan dengan kritikus kebudayaan. Potongan bernada serius untuk sedikit menghunjam, kekristenan-tanpa-kristuslantaran sebuah bangunan tema dan juga sebagai ulasan dengan judul yang memang menantang. Dimana dengan membuat kritik atas, lagi-lagi: Osteen, Meyer, Copeland,  Schuler (hal 64-104). Dengan  entah abai atau tidak tergarap tentang dimanakah ulasan bagi pengembangan diri seorang yang “menyimpang” Rick Warren  Tetapi punya ortopraksis bagi negara yang terjebak dengan HIV ?

Seberapa mengganggunya ini ? yang menarik dan sebenarnya sudah dilakukan adalah diagnosa terhadap kekeristenn amerika yang sebenarnya mempertautkan impian amerika yang asing dengan pengertian Kristus didalam kekristenan Alkitab. Kesimpulannya sebagai ajakan adalah menegaskan misinolitas gereja di bab akhir (hal 291-294). Hal yang perlu dicermati dan alpa adalah desakan spiritualitas yang memandang tidak hanya laku pemenuhan spiritualitas an sich atau pun ortodoksi yang dipulihkan. Akan tetapi, mengambil bagian pada tindakan, sekalipun disana-sini, dalam paparan halamannya mengingatkan akan andil yang diberikan dan pentingnya pelayanan yang menjunjung pada real kehidupan. Akan tetapi akhirannya  pada desakan misionalitas gereja, Horton  mengambil posisi ortodoksi dengan cukup melabelkan inerantisme potongan teks Alkitab, seakan –akan tidak ada masalah dan terselesaikan dengan kewibawaan. Padahal kita ketahui bahwa yang misonalpun kadang tidak berguna dinegara dunia ke-3 dan sekedar status quo dari kegemaran partikularitas khas Injili amerika yang doyan plesir.

 

Sebagai pembanding, saya bisa menghadirkan contoh yang bisa di puji (baca:dicermati). Misi kalangan reformed dari Calvin seminary yang berkolaborasi dengan apa yang perlu diserapahi dan bagian dari subyektifisme teologis dalam menebar “seed of justice” di Honduras, jika hanya mempertobatkan.  Justru yang terjadi kolaborasi penggiatan dengan kalangan neo-pentakosta dan katolik-roma dalam menghindari perangkap-perangkap missing-jesuspatologis sosial akan struktur yang berubah dimana pemberontakan dan perang saudara hingga pelecehan terhadap anak-anak pernah ada dan terjadi (lihat https://calvinseminary.edu/2012/05/15/seeds-of-justice-harvest-of-shalom/). Sehingga jalinan ortodoksi dan ortopraksis itu tetap ada, setidaknya diluar dari sekedar penegasan, hal yang memang diingatkan oleh Horton(hal. 137). Akan tetapi buku ini perlu diberi kredit, untuk mengijinkan bagian yang tidak utuhnya dan sebagai ulasan kebudayaan tentu lebih bernats dan menarik untuk mempelajari historiografi yang memang ‘kering’ dari mereka yang tepat menganalisis kondisi kontemporer amerika, tersebut lah orang-orang sperti Mark Noll, David wells, Nathan O hatch.

Horton yang mewarisi suksesi Machen sebagai penerus ‘klan’ ortodoksi reformed  dengan pelabelan profesorshipnya memproyeksikan atas tudingan Machen yang pada masanya bertarung dengan liberalisme—sekali lagi untuk identifikasi itu penting dan diteruskan, bahwa “orang-orang Amerika…memilki suatu ciri khas yang cukup menonjol yakni anti-intelektual. Kita adalah pelaku bukan penganut, para pragmatis bukan para pemikir (hal.280)” entah dalam hal ini adakah yang diwakili dari ortodoksi machen yang “intelektual dan pemikir” yang berharap pada konfesionalitas dan kredo ?

***

Ada banyak hal yang  terhubung secara literal dan dogmatis, baik mengukuhkan mengenai konfesionalitas reformed versus penentangya (pelagian, semi-pelagian &arminian, hingga Finey) juga  merujuk Bonhoefer yang sungguh menjadi punya tempatkah detil dari konfesionalitas dogmatis ?   Selain itu ada Harold Bloom yang dipinjam analisisnya, seorang scholar literacy critic yang kebetulan mengesankan Horton, yang sekalipun non-reformed tidak bisa main-main dan abai dengan kasus pelecehan sex yang pernah dilakukannya yang jika dibandingkan dengan Finey yang “bidat” akan tetapi mengesankan dalam sikapnya yang anti-perbudakan. Tentu hal ini merambah penalaran kita,  akan halnya pemosisian yang melibatkan dalam telaah tampilan kebudayaan yang memanusiakan dan gereja yang berperan dalam sejarah ketika konteks itu terjadi,  sekali lagi ortodoksi menjadi jaminan. praise-and-worship-dark Dengan sedikit melonggarkan untuk tidak melihat problem pribadi, jelas: pelecehan bukan problem pribadi ! Sekalipun tendensi yang utuh untuk memvonis, Horton patut dihargai yang memang berangkat dan berujung pada posisi dogmatis tersebut. Pun, jika john frame memperkarakannya dengan lebih dekat ke Lutheranisme di bandingkan Reformed, entah siapa yang ingin membangun dan gandrung terhadap pijakan Frame jikalau itu penunjukan ortodoksi ?

Alhasil penasaran saya yang berharap tidak sepicik van tilianisme, mendapati sesuatu yang mudah ditebak dan analisis yang menguras energi dari keprihatinan “Kekristenan tanpa Kristus” ini terasa biasa dengan penghindarannya, kecuali jika kita menganggap bahwa Amerika itu penting, atau teramat penting ! Sebuah sinisme memang !

 

1st edition komunitasinjili review, okotber 2012

Tentunya memang bukan sesuatu yang baru ketika hadir dalam konteks keindonesiaan dan iman kristen dianggap hal yang luar dan bisa berhadapan dengan aqidah ajaran dalam rumusan yang bisa bertentangan. Sekedar menegaskan akan iman sebagai penyertaan pribadi ? Dan tentu pemulihan untuk percaya akan iman kepada sang Kalam, Kristus ! Sesuatu yang merasa memulihkan dengan ortodoksi ajaran itu memang harus berhadapan dengan kondisi yang ada.

Jann'sektarian'__ nehh Blog

Reformed yang selam ! Ngapain Lagi ?

dont hate me because Im Reformed baptist

Inisiasi Reformed sebagai penjelasan identitas adalah, laku keimanan yang memperbaharui kondisi diabad 16, sebuah masa dibelahan bumi sana; tepatnya di eropa, dimana agama yang mendominasi, yakni agama gereja yang dirasa dan dilihat ‘terlalu belok’ dan oleh para penginisiasi Reformasi–kerap disebut para “Reformator”,  diyakini perlu ada pembaharuan untuk sesuai dengan azas dari identitas dan kembali “lurus”.

Pembaharuan terkait dominasinya itu, semakin berkembang. Dan dalam prinsip “Sola Scriptura”, sebagai bagian dari sola-sola yang lain, kita mengenal dan mengetahuinya dengan 5 Sola. Adalah padanan dengan Alkitab.

Laku ‘agamanya’ terkait dengan sangat mendasar yakni salah satunya dari pangkal yang menunjukan tentang makna itu secara harafiah. Dasar dari tulisan ini mencoba menghadirkan dengan menguatkan sebuah identitas yang mendasar ketika tetap persoalan itu dianggap sebagai kebutuhan pokok, apa yang bisa disebut sebagai kebutuhan pokok dari masalah terkait dengan identitas ? Hal yang rasanya tidak aneh, ketika sekarang mencuat, yaah

View original post 744 more words

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑